
Ririn merasa dirinya adalah korban perselingkuhan. Dia melangkahkan kakinya menuju rumah dimana dia di besarkan.
"Mama ...."
"Ririn ...!" Mamanya Ririn berseru saat mendengar suara putrinya.
Ririn langsung berlari dan memeluk Rosna, dengan air mata yang tidak terkendali lagi, Ririn menangis di pelukan ibunya.
"Ririn," Rosna mengelus pundak anaknya itu.
"Ma, Zian sudah benar-benar keterlaluan, dia selingkuh dan sampai menikahi wanita itu, kini dia membawa j**g itu kerumah, istri mana yang akan diam saja."
"Ririn, kenapa kau seperti menyesalinya? Bukankah kamu tidak mencintai Zian? Itu bagus, kamu bisa menuntut cerai ke Zian dan kamu akan mendapatkan sebagian besar hartanya."
"Mama! Untuk sekarang aku tidak mau bercerai dengan Zian. Aku tidak sudi melihat j***Ng itu menikmati harta suami ku, aku akan membuat perhitungan dengannya!"
Ririn berkata dengan matanya yang menyala, giginya mengeletuk menahan marah.
Rosna menghela nafas panjang, melihat Ririn seperti depresi.
"Ririn, dengarkan mama yah. Kamu tidak bisa berbuat seperti itu, Zian tidak mengusir mu dari rumah, kamu pergi sendiri meninggalkan rumah dan putrimu. Jelas saja mereka sepenuhnya akan menyalahkan kamu. Apa lagi wanita itu berada di sana sekarang, tentu saja dia berusaha meluluhkan hati semua penghuni rumah itu. Coba kau pikir ...." Rosna berusaha membuka jalan pikiran Ririn.
Sesaat Ririn terdiam, kurang setuju dengan pendapat mamanya.
"Mama, aku tidak mau melihat wajah p***r itu! Bagaimana mungkin aku membiarkan j***Ng itu tingal bersama ku! Aku akan mengusir wanita itu!" Ririn berkata dengan emosi yang meluap, tampak sekali kebencian di wajahnya.
"Ririn dengarin, mama selalu mendukung apa pun yang kamu inginkan. Jalan satu-satunya agar kamu bisa menyingkirkan wanita sialan itu kamu harus kembali ke rumah itu, kamu punyak anak dan kamu juga punya hak! Jangan bodoh membiarkan wanita itu merebut posisi mu. Perlahan-lahan kamu pasti bisa, kamu bisa mengusirnya secara perlahan, mama yakin sama kamu."
Ririn menghembuskan napas kasarnya, dia membayngkan ekspresi wajahnya saat bertemu dengan perempuan itu di rumahnya?
__ADS_1
Apakah dia bisa membiarkan wanita itu untuk sementara waktu?
Tinggal satu atap, bertemu setiap hari, apakah dia mampu menahan emosinya?
Ah ......!!!
Ririn melemparkan vas bunga keramik kesayangan mamanya ke lantai hingga pecahan vas bunga itu berhamburan di seluruh ruangan.
Rosna yang baru saja hendak melangkah kedapur seketika memutar membalikkan badannya lagi menuju ke luar, mendengar ada suara pecahan yang sengaja di banting, dia langsung khwatir dan mengurungkan niatnya untuk mengambil minum di dapur.
"Ririn ada apa, sayang!" Mata Rosna langsung tertuju kelantai, melihat lantai, kemudian kembali mengangkat kepalanya menatap Ririn.
Rosna melihat air mata Ririn mengalir seperti sungai kecil di sudut matanya.
"Ririn, kenapa kau terlihat sedih seperti ini, dulu kau mengatakan tidak benar-benar mencintai suami brengsek mu itu, sekarang kau seperti kehilangan laki-laki itu, ada apa dengan mu?"
Rosna memeluk Ririn.
"Ririn, jika kamu tidak bisa mengontrol emosimu, Mama tidak akan izinkan kamu kembali ke rumah itu, bisa-bisanya kau berbuat sesuatu yang akan merugikan diri mu sendiri, mama tidak ingin terjadi sesuatu pada mu."
"Ririn ngk sanggup, Ma! Ririn ngk sanggup pura-pura baik!" Ririn berteriak di dalam dekapan Mamanya.
Tangan mamanya mengelus-elus punggung anaknya, berusaha menenangkan putrinya.
"Tenang sayang, kamu bisa tenangkan diri mu dulu untuk beberapa hari ini, yah?"
Napas Ririn terlihat memburu, Rosna merasakan apa yang di rasakan putrinya.
"Sekarang istirahatlah, Mama akan membawa makanan ke kamar kamu." Rosna membimbing Ririn masuk ke kamarnya, setelah membantu membaringkan tubuh putrinya dia keluar lagi.
__ADS_1
"Bibi! Bereska ruang tamu!" Rosna berteriak memanggil pelayan rumah tangganya.
"Iya, Nya ada apa?"
Wanita paru baya itu tergopoh-gopoh menghampiri majikannya.
"Bersihkan ruang tamu." Ucap Rosna dingin.
"Baik, Nya."
Wanita paru baya itu bingung, padahal tadi dia sudah membersihkan ruang tamu? Tepi kenapa majikannya ini menyuruhnya untuk membersihkannya lagi? Sambil mengambil sapu, pikiran wanita itu bertanya-tanya?
Ha ....
"Ada apa ini? Kenapa vas bunga kesayangan Nyonya bisa pecah?" Tanpa pikir panjang lagi pelayan itu langsung berteriak memanggil Rosna.
"Nyonya! Nyonya! Ini pas bunga kesayangan Nyonya kenapa bisa pecah? Siapa yang memecahkannya?" Rosna yang waktu itu kebetulan lewat dan mendengar teriakan pelayanan rumah tangga itu memekakkan telingnya dia langsung marah.
"Bibi! Ada apa teriak-teriak seperti itu!" Rosna menatap tajam pelayan rumah tangganya itu.
"Ini .., Nya kenapa sampai ...." Sambil menunjuk vas bunga itu dengan gugup.
"Ya ampun bibi! Aku suruh segera membersihkannya bukan memandanginya! Bibi minta pecat apa?" Ancam Rosna terlihat sangat kesal.
"Tidak, tidak Nyonya, baik aku akan segera membersihkannya."
Ha ....
Rosna sangat geram, kemudian meninggalkan pelayan rumah tangganya itu.
__ADS_1