
Ririn menatap Zian. "Kenapa kamu tidak mau mendukung ku, aku bosan di rumah," jawab Ririn setelah lama terdiam.
Zian menghembuskan napasnya. "Bukan aku tidak mendukung kamu, bahkan aku senang kalau kamu berkeinginan menyibukkan diri, baiklah, pikiran usaha apa yang kamu inginkan, nanti kita bicarakan di rumah, sekarang pulanglah, sebentar lagi aku ada rapat," ucap Zian seraya melirik jam tangannya yang mahal.
"Iya, aku dan Aura akan pergi ke mall dahulu, sudah lama aku tidak mengajaknya bermain," ucap Ririn sambil melirik Aura yang sibuk dengan cemilannya.
"Baiklah, hati-hati di jalan, jaga Aura baik-baik," ujar Zian seraya mendekati putrinya lalu mencium kedua pipi gadis kecil itu.
"Jangan nakal ya sayang," Zian mengelus puncak kepala putrinya.
"Kamu tidak mengantar kami kedepan," rengek Ririn.
"Baiklah ayo," Zian menggendong Aura, sementara Ririn mengekor di belakang menutup pintu ruang kerja Zian.
Setelah itu Ririn mengejar langkah Zian dan menggandeng tangan suaminya. Sekretaris Zian menatap Ririn sinis.
"Selamat menjelang siang pak, bapak mau kemana? Bukankah sebentar lagi kita mau rapat," tanya sekretarisnya.
"Aku tau itu, aku hanya mengantar mereka ke depan," ujar Zian datar.
"Baiklah pak," ucapannya.
Sementara Ririn memutar bola matanya mengejek perempuan itu.
"Menyebalkan sekali, awas kamu," geram sekretaris Zian kesal, ingin rasanya ia menjambak rambut istri bosnya itu.
Di dalam lift.
Tangan Ririn masih bergelayut di lengan Zian, Zian membiarkan sikap Ririn seperti itu.
"Sayang, uang belanjanya tambahin dong, kami juga mau shopping hari ini," rengek Ririn dengan manja.
"Bukannya tiga hari kemarin aku sudah memberikan uang belanja, bahkan lebih dari yang biasanya," ujar Zian.
"Iya sih, cuma aku ngk mau mengurangi uang itu," ucap Ririn.
"Baiklah, nanti akan aku transfer," ucap Zian lagi.
"Baiklah, awal yang baru," pikiran Ririn dalam sebuah senyuman manisnya.
Zian mengantar mereka sampai ke mobil di mana pak Yan menunggu.
"Kami pergi ya," pamit Ririn mengembangkan senyumannya menatap Zian.
Sementara Zian membalasnya dengan dingin seraya menganggukkan kepalanya. Sebelum masuk ke mobil, Ririn memeluk Zian. Tampak Zian terkejut, karena tidak biasanya Ririn seperti ini lagi. Sudah hampir tiga tahun Ririn bersikap cuek, semenjak kelahiran putri mereka.
.
.
__ADS_1
.
.
Ririn langsung menuju mall bersama putrinya.
"Ayo sayang, kita kesana," ajak Ririn pada putrinya setelah mereka sampai di Mall. Ia segera menuju fun city, dimana anak-anak sangat senang bermain di sana.
Aura tampak sangat gembira ia berlarian kesana kemari, naik kuda kuda'an dan juga jenis hewan lainya yang tanpa nyawa namun bisa bergerak jika di masukkan sebuah koin khusus di dalamnya.
Aura tampak tidak ingin pergi dari sana, ia sangat menikmati permainannya.
"Sayang, udah yah mainnya, kita kesana yok, beli ice cream," bujuk Ririn berjongkok agar setara dengan putrinya.
Aura tersenyum girang.
"Ayo, ayo, ayo ... " Ucap Aura seraya loncat-loncat di lantai.
Ririn menempelkan kacamata hitamnya, yang baru saja ia beli di toko khusus. Ia tidak peduli seberapa mahalnya harga kaca mata itu ia tetap akan membelinya. Uangnya banyak, Zian akan memberikan berapapun yang ia mau, pikir Ririn.
Setelah itu mereka pergi kesebuah toko pakaian, ia banyak membeli pakaian yang tidak murah harganya. Iya juga membeli beberapa lembar pakaian untuk Aura. Setelah puas, mereka berniat mencari makanan keluar
Saat ingin keluar dari dalam Mall, tiba-tiba Aura berlari dan menabrak seseorang. Tampak laki-laki yang Aura tabrakan itu berjongkok menatap Aura dengan senyuman manis.
"Anak cantik, kenapa berlarian, kalu jatuh bagaimana?" Celetuk laki-laki itu ramah.
"Sayang, makanya jangan berlian, tu kan nabrak om ini," ujar Ririn menghampirinya mereka berdua.
Laki-laki itu segera menoleh suara yang tidak asing baginya, tapi entah dimana ia mendengar suara itu. Ia lupa.
"Ririn! Kamu," ucap lelaki itu terperangah tidak percaya kalau mereka akan di pertemukan di sini.
"Rico!" Pekik Ririn tak kala terkejut. Ririn menatap Rico tanpa berkedip, banyak perubahan dalam diri Rico, terutama pakaiannya yang terlihat mahal dan mewah.
"Iya ini aku, apa kabar kamu, dan ini siapa?" Tanya Rico menatap Aura sekilas.
"Ini, dia adalah anak putriku Rico," ucap Ririn tertunduk.
"Putrimu? Anakmu?" Ujar Rico lagi.
Ririn menganggukkan kepalanya.
Seketika wajah Rico berubah.
"Aku kira kamu belum menikah. Dan mana suami kamu?" Tanya Rico.
"Dia lagi kerja," ucap Ririn tidak ingin menutupi kenyataannya.
"Oh, trus mau kemana setelah ini," tanya Rico lagi.
__ADS_1
"Mau pulang, tapi sebelumnya kami mau makna dulu," ucap Ririn.
"Oh gitu, bolehkah aku ikut makan bersama kalian?" Ujar Rico menatap Ririn ingin mendapatkan persetujuannya.
"Boleh," ujar Ririn sedikit tersenyum.
"Mau om gendong," ujar Rico pada Aura, gadis kecil itu menggeleng.
"kenapa?" tanya Rico.
"Aura bisa jalan sendiri," ucap Aura.
"Anak pintar," ayo om pegang tangannya.
Mereka akhirnya makan bersama, sesekali mereka tampak ngobrol serius.
Rico menceritakan kemana ia pergi selama ini. Ia sekarang sudah sukses.
"Tapi sayang sekali, kamu sudah menikah," ujar Rico dengan nada yang sedikit murung.
"Maafkan aku ya Rin, aku tidak bisa menghubungi kamu selama ini," ucap Rico.
"Iya ngk apa-apa Rico aku juga maklumi," ucap Ririn.
"Kamu semakin cantik setelah menikah," ucap Rico membuat Ririn batuk seketika.
Uhuk-uhuk ...
Rico langsung mengambil air minum, dan memberikannya pada Ririn.
Ririn merasa canggung dengan ucapan Rico.
"Rik, sepertinya aku harus pulang, putriku sudah mengantuk," pamit Ririn.
"Perlu saya antar," ujar Rico.
"Terimakasih Rico, tapi kami sudah di jemput supir," ucap Ririn.
"Oh iya, hati-hati ya," ucap Rico, Ririn hanya tersenyum kecil melirik Rico.
"Rin," Rico menahan tangan Ririn.
"Bolehkah aku bertemu dengan mu lagi setelah ini," ujar Rico penuh harap, Ririn pun menatap Rico, ia ragu akan jawabannya.
"Jika tuhan menghendaki, maka kita akan bertemu lagi setelah ini," ujar Ririn lalu meninggalkan Rico yang masih menatap kepergiannya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
yuk follow akun author ya.
__ADS_1