
Ririn sudah mendengar kabar burung tentang suaminya, meski ia belum begitu percaya, namun hatinya tetap merasa sakit. Ia belum begitu yakin jika belum melihatnya secara langsung. Ririn mengepalkan kedua tangannya, matanya menatap kosong ke arah jendela kamar. Tak terasa sebutir cairan bening lolos di pelupuk matanya.
Ririn merasa salah selama ini, salah sudah mengabaikan suaminya yang terlalu mencintainya menurutnya. Ia terlalu yakin kalau suaminya tidak akan pernah menghianatinya karena besarnya cinta suaminya terhadap dirinya.
Ririn tersenyum sinis.
.
.
.
Sheril turun setelah Heru membuka pintu mobil untuknya. Matanya langsung menatap rumah minimalis berbentuk modern yang ada di hadapannya, terlihat di matanya kalau ia sangat menyukai desain rumah ini. Namun ia tidak ingin bertanya rumah siapakah ini. Ia hanya menurut langkah Zian yang menarik tangannya.
"Kamu suka ngk rumah ini?" Tanya Zian setelah mereka berada di dalam.
Sheril mengedarkan pandangannya seraya menganggukkan kepalanya pelan.
"Suka," jawabannya singkat.
"Mau tinggal di sini?" Tanya Zian lagi yang langsung mendapatkan tatapan dari Sheril. Sheril menggelengkan kepala.
"Kenapa aku harus tinggal di sini?" Ucap Sheril menatap Zian tanpa ekspresi.
Zian menatap Sheril seraya tersenyum dengan lembut.
__ADS_1
"Heru, berikan," ucap Zian tanpa menoleh Heru, sementara ia terus tersenyum menatap Sheril yang tampak bingung.
Heru memberikan map ke tangan Zian.
"Ini untuk kamu sayang," zian tetap tersenyum sambil menyodorkan map warna coklat itu pada Sheril.
Sheril bertambah bingung, pikirannya tidak karuan lagi. Sementara ia ragu untuk mengambil apa yang di berikan Zian padanya. Pikirannya semakin berkecamuk.
"Kok ragu sayang, buka dan lihatlah," ucap Zian yang memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.
Dengan keraguan, perlahan-lahan Sheril membuka isi map itu, ia juga berpikir buruk, jika isi di dalamnya bukanlah yang ia inginkan. Namun matanya membulat seketika setelah membaca isi kertas tersebut. Ia tertegun tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Iya rumah minimalis ini tertera atas namanya. Iya yakin Zian akan menceraikannya setelah ini. Mata Sheril berkaca-kaca, jika Zian menceraikannya mungkin ini jalan yang terbaik menurutnya. Ia pun sebenarnya sangat berat menjadi istri kedua dari suaminya. Meski ia mencintai suaminya, ia harus rela melepaskannya. Pikir Sheril yang kini menyeka air matanya.
"Untuk apa kamu memberikan semua ini mas," pertanyaan Sheril membuat Zian lebih dalam lagi menatapnya.
Sheril bukanya senang, malahan ia merasa sedih.
"Sudah sepantasnya kamu memilikinya sayang, Ini rumah untuk kalian, sebentar lagi kita akan pindah kesini," ucap Zian menatap istrinya.
"Rumah klian .., berarti kamu tidak termasuk di dalamnya," lirih Sheril, dadanya sesak mendengar ucapan Zian. Ia berharap Zian akan tinggal bersamanya, mendampingi pertumbuhan anaknya nanti, meski itu hanya angannya saja. Akan sangat tidak mungkin pikir Sheril, karena waktu Zian yang terbagi. Wajah Sheril berubah menjadi sendu, Zian melihat itu.
"Bukan, bukan begitu sayang, maksudnya rumah itu atas nama kamu, kamu pasti akan lebih betah jika tinggal di sini, nanti bisa mengajak Kakek dan Nenek mu, apa lagi kalau anak kita sudah lahir nanti, mereka pasti akan sangat senang," ucap Zian.
Sheril menundukkan wajahnya, tidak ingin menatap mata Zian.
__ADS_1
Sementara itu mobil pick up datang membawa barang belanjaan mereka tadi.
"Apa tidak ingin melihat sekeliling rumah ini dulu sebelum kita pulang," ucap Zian seraya melirik jam tangannya.
Sheril mengangguk. Zian langsung menggandeng tangan Sheril, membawanya melihat sekeliling rumah. Rumah ini sudah memiliki perabot yang lengkap, dengan dapur yang juga minimalis, tidak terlalu luas dan tidak juga sempit, perlengkapan memasak sudah tertata lengkap dan rapi, dengan ruang keluarga yang jauh lebih besar dari ruang tamu rumah neneknya, di dinding sudah terpasang TV led seperti layar lebar. Seperti mimpi kalau rumah ini miliknya, Sheril tidak pernah membayangkan kalau ia akan memiliki rumah sebagus dan semewah ini. Di sebelah kiri ada tangga menuju ruang atas, dimana kamar tempat mereka istrahat ada di sana. Zian mengajak Sheril ke atas. Tidak ingin istrinya kecapean, Zian langsung mengangkat tubuh Sheril ala bridal.
"Mas, kamu apa-apaan sih, malu tau, turunkan aku, aku bisa jalan sendiri," Sheril setengah terkejut dengan interaksi suaminya yang tiba-tiba, ia sangat malu dan ingin turun, namun tangannya berpegang teguh di leher Zian, takut jatuh.
"Diam lah, atau kamu mau jatuh dari tangga ini," ancam Zian yang membuat Sheril langsung terdiam.
Zian menurunkan Sheril setelah berada di atas, wajahnya memerah bak kepiting rebus.
"Mari, kita melihat kamar putra kita," Zian menggenggam tangan Sheril, mereka berjalan menyusuri koridor.
Sheril tampak tertegun, tersenyum menatap sekeliling sudut kamar yang bernuansa biru. Juga semua tertata rapi.
"Mas, terimakasih sudah peduli dengan anakku," ucap Sheril girang.
"Eh jangan lupa, itu anakku juga," ujar Zian menoleh dan menatap wajah istrinya.
Sheril tersenyum menganggukkan kepalanya.
Setelah puas berkeliling rumah, Zian mengajak Sheril pulang, karena ia harus pergi mengurus pekerjaannya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1