Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
109


__ADS_3

"Apakah kamu sudah tidak waras, mas?"


Sheril menatapnya dengan sendu.


"Ya, aku sudah tidak waras!"


Setelah mengatakan itu, Zian melangkah pergi meninggalkan Sheril yang terpaku.


"Dan ini adalah hukuman untuk mu!" Zian menoleh menatap Sheril, lalu keluar melalui pintu yang ada di depannya dan menguncinya dari dalam.


Sheril membulatkan matanya. Dia masih ingin bicara, namun Zian sudah pergi meninggalkannya. Seketika ia menyadari kalau Zian mengunci pintu dan mengurungnya di sini.


"Mas! Buka pintunya! Kenapa kau mengurung ku disini! Mas ...! Aku masih mau bicara dengan mu!" Sheril berteriak sambil memutar-mutar kenop pintu, berharap pintu itu di buka dan dia bisa bicara dengan Zian kembali. Namun, Zian tidak mendengarkannya, sepertinya dia sudah pergi.


Sheril menghela napasnya yang lelah sambil bersandar di pintu yang tertutup dan terkunci dari luar.


"Tidak. tidak mungkin, tidak mungkin aku kerumahnya Zian, istrinya pasti akan membunuh ku, itu tidak mungkin, Zian tidak mungkin melakukannya. Ini pasti ancaman Zian saja."


Setelah berkata yakin seperti itu, Sheril berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Pikirannya sudah tidak karuan, sambil memegangi keningnya yang pusing, karena memikirkan masalahnya.


...----------------...


Zian pergi ke rumah Nino setelah mengurung Sheril. Ia akan menginap di rumah Nino malam ini, esok pagi barulah ia akan kembali kerumah, mengganti pakaiannya dengan pakaian kerjanya.


Pagi harinya.


Zian kembali ke rumah.

__ADS_1


Serena yang sudah bersiap akan pergi dengan urusannya, dua anak dan ibu itu berpapasan di ruang tamu.


Serena menatap Zian dengan malas.


"Ma, aku ingin bicara."


Serena menghela nafas berat.


Apa lagi yang ingin anak ini katan?


"Ma, aku sudah menemukan wanita itu, dia ada di apartemen sekarang," Zian menghentikan kalimatnya.


Serena mengernyit.


"Lalu, kenapa kau katakan ini padaku?" Ucap Serena seperti tidak peduli.


"Bukankah kemarin Mama menanyakannya?" Zian menatap ibunya. Tapi sepertinya Serena tidak berniat untuk menjawabnya.


"Ma, aku akan membawanya kemari, kebetulan pengurus rumah tangga kita sedang sakit, dia bisa menggantikannya!"


Serena terkejut dengan ucapan putranya barusan. Dia menatap Zian dengan menyipitkan kedua matanya.


"Kau sudah gila?"


Zian menundukkan wajahnya sebentar, lalu mengangkatnya kembali.


"Tidak. Aku hanya tidak ingin dia membawa anak ku kabur lagi, setelah anak itu lahir. Aku akan pikirkan lagi nanti."

__ADS_1


Bagaimana jika Ririn kembali?


"Kau jangan menambah masalah baru Zian, apakah kau tidak memikirkan konsekuensinya terlebih dahulu?" Serena memalingkan wajahnya, kurang setuju dengan ide gila Zian.


Ririn memang tidak kembali ke rumah, setelah ia pergi. Zian tidak menyusul ataupun mencarinya seperti dulu lagi. Mereka sudah tidak peduli, terserah Ririn mau melakukan apa.


"Aku sudah memikirkannya, dan aku jamin, dia tidak akan berani melakukan berbuat macam-macam."


"Terserah kamu saja Zian, Mama pusing memikirkan masalah kamu. Apa lagi adikmu akan datang beberapa hari lagi, aku tidak mau ikut campur lagi."


Apa?


"Reza akan kembali? Apakah dia sedang libur?"


Ada raut wajah yang senang di mata Zian yang redup. Ia sudah lama tidak bertemu dengan adiknya.


"Ya!" Serena menjawab dengan singkat, kemudian beranjak pergi melalui Zian, dia rasa, Zian sudah memahami kata-katanya barusan.


Yang sebenarnya adalah, Serena juga ingin melihat perempuan yang di katakan Zian itu. Dia penasaran, seperti apa wanita yang sudah mengubah pola pikir Zian, hingga dia tidak peduli dengan kepergian istrinya Ririn!


Yang Serena tau, dulu Zian seperti tidak ingin kehilangannya istrinya itu, bahkan ia seperti orang gila jika Ririn pergi meninggalkannya, seiring waktu berjalan, dengan tingkah Ririn yang tidak memperdulikan Zian, kemungkinan Zian sudah bosan dan lelah untuk mengalah.


Serena tau itu, karena setiap hari dia menyaksikannya. Jadi ibu mertuanya tidak bisa menyalahkan Zian begitu saja, dia tidak tau bagaimana yang sebenarnya.


Kepergian ibunya, Zian juga beranjak, melangkahkan kakinya menuju ke atas. Melihat putrinya yang masih tertidur pulas.


Setelah melihat putrinya, Zian langsung bergegas menuju kamarnya, mandi dan berganti pakaian kerjanya. Kemudian langsung pergi dengan tas kerja di tangannya.

__ADS_1


...****************...


Wajib like Setelah membaca.


__ADS_2