
"Sini, biar aku yang melanjutkan, kau makanlah," Zian melirik Sheril, Sheril pun meliriknya.
"Tidak apa-apa, aku bisa makan nanti."
Sheril menundukkan wajahnya, ia canggung ada di tengah-tengah keluarga ini, apa lagi ada mamanya Zian. Ia sungguh merasa tidak enak.
Reza yang melirik mereka, merasa sesuatu ada yang janggal, aneh. Reza bangkit dan meninggalkan meja.
"Kau. Siapa namamu? Aku tidak tau, makanlah, Aura biar Zian yang menyuapinya," ucap Serena.
Zian menatap mamanya.
"Sheril, Ma, namanya Sheril."
"Ya, duduk dan makanlah, kau pasti sudah sangat lapar."
Meski begitu Sheril masih merasa canggung, baru kali ini mamanya Zian memintanya untuk makan.
"Terimakasih nyonya, nanti saja." Ucap Sheril sambil menundukkan wajahnya.
"Tidak usah malu dan sungkan, walaupun kau menikah sirih dengan putraku, kau tetap saja istrinya."
Mendengar itu, Sheril tampak terkejut, wanita ini mengetahuinya? itu berarti Zian ..., Sheril menatap Zian, Zian tampak menganggukkan kepalanya, tanda ia sudah menjawab pertanyaan Sheril yang ada di dalam hatinya.
Sheril beranjak dari tempat duduknya, dan mengambil makanan, Serena menyodorkan piring yang berisi kepiting dan juga cumi-cumi.
"Ini untukmu, bagus untuk ibu hamil."
Sheril terpaku dan mengambilnya dengan rasa terimakasih yang dalam. Meski dia berkata dengan nada dingin dan cuek, tetapi ini perhatian yang luar biasa bagi Sheril.
"Terimakasih nyonya." Serena tidak menjawab. Dia menyudahi makanya. Lalu menatap Aura yang lagi makan bersama Zian. Serena tersenyum.
"Cucu Oma, makannya lahap sekali ya."
__ADS_1
"Iya, cuma lambat makanya." Jawab Zian.
Serena melotot menatap Zian. "Namanya anak kecil, dia makan tidak secepat kita."
Serena bangkit dan pergi, tinggal mereka bertiga di ruangan itu.
Zian menatap Sheril yang bersandar di kursi, duduk seperti itu karena ada yang mengganjal di depannya, ia ingat di kala Ririn lagi hamil Aura, ia sangat kesulitan jika makan, tidak bisa terlalu kenyang dan tidak bisa juga terlalu lapar. Jika duduk harus bersandar, Ririn manja sekali waktu itu, dan Zian pun menuruti setiap keinginannya. Dia berjalan pun terlihat sudah dan berat.
Zian menghela napasnya, menatap Sheril yang lagi memasukkan makanannya kedalam mulutnya, ia terlihat kesulitan membuka cangkang kepiting.
Zian pun segera bangkit, karena memang Aura sudah menyelesaikan makanya. Ia mengambil kepiting itu lalu menjepitnya dengan alat khusus tang yang sudah di sediakan. Ia memisahkan cangkang itu dan juga kulit kepiting yang lainya, meletakkan daging kepiting di piring Sheril. Sheril menatapnya dengan iba, merasa senang di perlakukan seperti ini.
"Hem ...,"
Tiba-tiba Reza masuk dan mengangetkan mereka, ia melipat kedua tangannya di dada.
"Sepertinya serius banget, lagi ngobrolin apa sih?" Reza tiba-tiba duduk di hadapan Sheril dan di samping Zian.
Zian menatap Reza dengan pandangan yang tajam. Anak ini benar-benar tidak berubah.
"Lebih baik kau istirahat dan tidur, bukankah perjalanan kau sangat jauh?"
Reza mengernyit.
"Emang aku anak kecil, tidur jam segini, Aura saja belum mengantuk." Ucap Reza melirik Aura sambil mencibir. Sementara Sheril tampak canggung memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Sudah, kau pergi saja."
"Kau itu kenapa sih kak, apa aku tidak boleh duduk di sini? Melihat wanita cantik yang lagi ...,"
Zian mencubit pinggang Reza.
Au ...,
__ADS_1
"Iya, ya aku pergi, pelit."
Reza pergi dengan wajah kesal. Sementara Sheril menatap Zian.
"Dia adik mu, Mas?"
"Ya."
"Oh. Dia Muda dan tampan, aku tidak melihatnya beberapa hari ini? Memangnya dia dari mana?"
Mendengar Sheril memujinya muda dan tampan, seketika wajah Zian berubah.
"Emang kenapa kalau dia tampan? Kau menyukainya?" Zian menatap tajam.
Sheril menatapnya dengan tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan Zian.
"Setelah ini aku ingin bicara dengan mu!"
Bicara?
Sheril tampak memikirkan sesuatu.
kemudian menganggukkan kepalanya.
Zian menatap Sheril. Besok ia tidak perlu ke dapur lagi, karena asisten rumah tangganya akan kembali.
Selesai makan, Sheril membereskan bekas makanan di meja. Zian berdiri ingin membantunya.
"Tidak perlu, Mas. Biar aku saja."
"Biar aku yang mengangkatnya, kau bersihkan itu saja." Zian mengangkat piring kotor dan membawanya ke dapur.
Like like like terus ya,
__ADS_1
Wahib like setelah membaca.
...****************...