
Sheril membawa Zian kedalam kamar pribadinya Zian. Sheril membantu Zian naik keranjang king size. Lalu melepaskan sepatu milik Zian dan meletakkannya pada tempatnya.
Sementara Zian memukul-mukul kepalanya. Sheril yang melihat itu langsung menghentikannya.
"Hei Bear, apa yang kau lakukan," ujar Sheril memegangi tangan Zian.
"Kepalaku pusing sekali," ujar Zian dengan mata yang terpejam.
"Itu karena kesalahanmu, masalahmu tidak akan selesai dengan cara seperti ini," ucap Sheril langsung meninggalkan Zian di kamarnya.
"Bisakah kau memijat kepala ku sedikit," ucap Zian.
Hati Sheril langsung berdetak, napasnya menjadi tidak stabil.
"Tidak, aku bukan tukang urut, lagi pula siapa kamu menyuruhku memijat kepalamu," tukas Sheril.
Zian hanya diam saja, ia tidak menyahuti ucapan Sheril. Sheril pun beranjak dari tempat duduknya, ia ingin meninggalkan Zian, tapi sekali lagi ia menoleh dan menatap iba pada laki-laki itu. Seketika hati Sheril tergerak untuk memijat kepalanya.
Dengan hati yang berdebar-debar, Sheril mulai memijat kepala Zian dengan lembut. Perasaannya sudah tidak menentu saat ini, apa lagi setelah memperhatikan Zian dengan dekat, Sheril baru tau kalau laki-laki ini sangatlah tampan, bahkan lebih tampan dari mantan pacarnya. Selama ini Sheril menatap Zian dengan kebencian, makanya Sheril menutup matanya untuk tidak mengangumi laki-laki ini.
Zian terbuai dengan pijatan lembut Sheril, ia pun langsung tertidur.
"Hu ... dasar Bear," upat Sheril seraya ingin beranjak. Tapi sebuah tangan kekar menahannya.
"Jangan pergi, aku ingin kamu tetap disini," gumam Zian membuat Sheril membulatkan matanya.
"Apa yang kamu katakan, lepaskan tanganmu," tukas Sheril berusaha melepaskan tangan besar Zian. Bukanya Zian melepaskannya, tapi malahan ia menarik tangan Sheri, hingga tubuh Sheril pun terjatuh menindih tubuh Zian.
Zian langsung memeluknya dengan erat.
"Apa yang kamu lakukan, lepaskan aku!" Teriak Sheril ketakutan.
"Diamlah, aku hanya ingin seperti ini, aku tidak akan menyakitimu," ujar Zian membuat Sheril terdiam. Wangi segar di tubuh Zian sangat menyentuh perasaan Sheril.
Zian mengelus pucuk kepala Sheril, lalu memeluknya dengan erat.
"Lepaskan aku, aku ingin tidur di kamarku, aku tidak ingi orang-orang berprasangka buruk terhadap ku," ujar Sheril.
"Tidak akan ada yang berani macem-macem disini," Zian kemudian melepaskan pelukannya, lalu bangkit dan duduk.
__ADS_1
"Duduklah, aku ingin mengatakan sesuatu padamu," ujar Zian dengan kesadarannya.
Sheril pun duduk sesuai yang di katakan Zian. Sheril merasa penasaran, apa yang ingin di katakan pria ini? Apakah dia akan menyuruhnya pergi dari sini? Sheril berharap Zian akan mengizinkannya untuk meninggalkan tempat ini. Ia pun sudah hampir 1 bulan di kurung di villa ini.
"Katakan dengan jujur, apakah anak yang kamu kandungan itu adalah anakku?" Tanya Zian seraya menatap manik mata Sheril dengan seksama.
Sheril nampak terkejut dengan pertanyaan laki-laki di hadapannya ini.
"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu?" Ucap Sheril menatap Zian dengan mata sendunya.
"Aku ingin tau yang sebenarnya," ujar Zian tidak mengalihkan pandangannya.
Sheril memalingkan wajahnya.
"Dia anakku, bukan anak siapa-siapa," ujar Sheril berkaca-kaca.
"Sheril, jika dia benar darah daging ku, aku tidak ingin dia lahir tampa seorang ayah," ujar Zian membuat Sheril langsung menatap tajam kearah Zian. Sheril baru kali ini mendengar Zian memanggil namanya, dari mana ia tau namanya, mungkin dari bibi Arum.
"Apa maksudmu?" Ujar Sheril dengan suara seraknya karena menahan tangisnya.
Zian meraih kedua tangan Sheril, dan menggenggamnya dengan erat.
Sheril langsung melepaskan tangan Zian.
"Kamu jangan bercanda, Aku tidak akan pernah menikah dengan mu, lagi pula dia bukan anak kamu, dia hanya anakku," tukas Sheril sambil menyeka airmatanya, ia tidak dapat menahan air matanya lagi.
Sheril langsung berlari ingin keluar dari kamar Zian, tapi dengan cepat Zian menangkap tubuhnya dan langsung memeluknya.
"Tenangkan dirimu, aku belum selesai bicara," ujar Zian seraya merenggangkan pelukannya dan menghapus jejak air mata Sheril di pipinya.
Zian kembali mengajak Sheril duduk di atas ranjang. "Kalau dia buka darah daging ku, lalu siapa ayah nya? Dimana dia sekarang?" Tanya Zian mengintimidasi Sheril. Ia ingin mencari kebenarannya.
Sheril diam saja, ia tau Zian mengatakan itu karena dia dalam keadaan tidak sadar.
"Sheril, apakah kamu mendengar pertanyaan ku?" Tanya Zian.
"Tidak, aku tidak tahu siapa ayahnya, dan aku juga tidak ingin tau, aku bisa membesarkannya tanpa dia," ucap Sheril serak.
"Dia siapa?" Tanya Zian.
__ADS_1
"Aku tidak tau," ujar Sheril menundukkan wajahnya.
"Tapi aku yakin kalau anak yang ada di perutmu itu mengalir darahku," ucap Zian penuh keyakinan.
"Dia bukan anak mu, dia hanya anakku," ujar Sheril dengan suara sedikit meninggi.
"Tidak mungkin kamu bisa hamil tanpa laki-laki yang melakukannya," tukas Zian.
Sheril langsung berdiri, ia mengingat apa yang terjadi dengannya sebelum ini. Ia menatap Zian dengan bersimbah air mata.
"Iya, kamu melakukan semuanya, kamu menghancurkan hidupku, masa depanku! dan sekarang kamu menyekap ku di sini, kamu benar-benar pria tidak punya perasaan!" Maki Sheril.
Zian langsung berdiri dan memeluk Sheril. Sheril ingin meronta, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali.
"Aku akan bertanggung-jawab atas semuanya, aku tau aku salah, maka dari itu aku akan menebus kesalahan ku," ujar Zian dengan suara lembutnya, ia menciumi kepala Sheril.
Sheril diam saja, entah mengapa ia merasa nyaman di peluk seperti ini.
"Maafkan aku, waktu itu, aku juga dalam keadaan tidak sadar melakukanya, jadi mulai sekarang kalian adalah tanggung jawabku," ujar Zian seraya meraba perut Sheril yang masih kelihatan datar itu. Sheril langsung melangkah mundur.
"Apa yang kamu lakukan," ujar Sheril geram.
"Kamu kenapa? Bukankah lebih dari itu yang pernah kita lakukan," ujar Zian.
"Itu kamu yang melakukannya, bukan aku," ujar Sheril memalingkan wajahnya.
Zian mendekati Sheril, lalu memegang kedua pundaknya. "Sheril, jangan memikirkan ego mu, pikirkan anak mu, kasihan dia jika lahir tanpa nama ayahnya di belakang,"
Sheril kembali menangis, ia mengingat semuanya.
Zian menangkup kedua pipi Sheril dan menghapus cairan bening yang membasahi pipi mulus itu.
"Sudahlah. Tolong kamu pikirkan itu," ucap Zian seraya membawa Sheril dalam pelukannya.
"Ayo sekarang tidurlah di sini saja, aku tidak akan mengganggu mu, aku akan tidur di lantai," ujar Zian membimbing Sheril keatas tempat tidur. Setelah Sheril berbaring, Zian segera menyelimuti setengah tubuh Sheril kemudian mengelus pucuk kepala Sheril dan memberikan sebuah kecupan hangat di kening Sheril. Sheril langsung melebarkan matanya melihat sikap Zian memperlakukannya seperti itu. Rasanya ia ingin meledak sekarang juga, dadanya deg-degan. Sheril merasa selama ini ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini, walupun ia pernah menjalin hubungan pacaran.
Zian menggelar kasur tipis di lantai, ia akan tidur di lantai sesuai apa yang di ucapkan nya.
Sementara Sheril tidak bisa tidur walaupun matanya tertutup rapat. Otaknya penuh dengan pikiran yang bercabang cabang.
__ADS_1