
"Sayang, jaga dirimu baik-baik ya, aku pergi kerja dulu," ujar Zian berpamitan pada Sheril. Lalu Zian mencium perut Sheril yang mulai terlihat menonjol.
"Jaga mama kamu sayang, jangan nakal," ujar Zian lagi. Sheril terpaku melihat tingkah Zian seperti itu, perasaannya tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Zian mencium kening istrinya, lalu memeluknya kembali.
"Hati-hati di rumah," ucap Zian yang langsung di anggukkin oleh Sheril.
Sheril mengantarkan Zian sampai teras depan, ia juga mencium punggung telapak tangan Zian.
"Hati-hati ya," ucap Sheril seraya menampilkan sebuah senyuman indah yang tidak dapat Zian lupakan.
"Cuma gitu aja?" Ujar Zian.
"Terus gimana?" Ucap Sheril lagi.
"Cium dong," ucap Zian seraya menunjuk pipinya.
Sheril langsung bersemu, ia masi terlalu malu untuk hal seperti itu. Dengan wajah yang merah bak kepiting rebus, Sheril memberanikan dirinya untuk memenuhi permintaan suaminya. Zian tersenyum senang melihat Sheril tersipu malu seperti itu. Zian mencubit gemas pipi Sheril yang merona.
"bye see you again dear, i love you," ujar Zian sambil melangkah menuju ke mobil miliknya.
Sheril tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Zian meninggalkan Sheril dengan perasaan yang berbunga-bunga. Berat rasanya ia meninggalkan Sheril, kalau bukan karena banyak hal, mungkin Zian sudah membawa Sheril bersamanya.
Zian meluncurkan mobilnya dengan kecepatan tinggi. 45 menit menempuh jarak yang lumayan jauh, akhirnya Zian sampai di gedung yang menjulang tinggi, yang tidak lain adalah tempat ia mengais rezeki.
Semua sudah menunggu Zian untuk kegiatan meeting.
...****************...
"Zian benar-benar sudah keterlaluan, kemana saja dia, setiap di telpon tidak aktif, ponsel sengaja di matikan," tukas Ririn dengan wajah kesalnya, seraya pandangannya tetap pokus kedepan menatap jalan raya yang dilaluinya.
__ADS_1
Ririn akan menyusul Zian ke kantor, ia berharap Zian ada di sana.
Setelah memarkirkan mobilnya, Ririn turun dengan langkah yang sedikit lebar. Semua mata tertuju padanya. Bagaimana orang-orang tidak menatapnya, jika wajah Ririn seperti orang yang akan menghancurkan gedung ini.
Ririn melangkah menuju ruangan kerja Zian, tanpa memperdulikan orang yang menyapanya.
Brakk ....
Ririn membuka lebar pintu ruangan kerja Zian dengan keras.
Sekretaris Zian terkejut mendengar pintu ruangan kerja Zian di buka dengan tidak sopan dengan istrinya sendiri.
"Nyonya, ada apa? Apakah nyonya mencari pak Zian?" Tanya Susi dengan ekspresi wajah ramahnya. Ririn menatap Susi dari atas sampai ke bawah dengan rasa tidak sukanya.
"Iya, kemana suamiku," ujar Ririn sinis.
"Pak Zian lagi meeting nyonya, nyonya bisa menunggu pak Zian di dalam saja," ucap Susi memberitahu.
Sampai di depan pintu meeting, tidak segan-segan Ririn langsung membuka dan membanting pintunya dengan keras, hingga orang-orang yang ada di dalam sangat terkejut, sementara Zian langsung menghentikan presentasinya. Matanya langsung tertuju pada Ririn.
Ririn langsung menghampiri Zian dan menarik tangannya keluar ruangan meeting. Karena tidak ingin membuat keributan di dalam, Zian menuruti keinginan Ririn.
Sampai di suatu tempat, Zian langsung menghempaskan tanganya.
"Ada apa dengan mu Ririn! Apa kamu tidak melihat aku sedang apa! Sama sekali kamu tidak ada sopan santunnya di hadapan banyak orang! Memalukan sekali," tukas Zian menahan emosinya.
Ririn menatap Zian dengan mata yang penuh amarah.
"Kamu yang ada apa Zian! Kenapa kamu akhir-akhir ini jarang pulang! Ponsel sengaja kamu silent agar aku tidak bisa menghubungi kamu, kemana saja kamu!" Bentak Ririn.
Zian mencoba meredam emosinya. "Ririn, tolong pulanglah sekarang, kita bicarakan ini di rumah, aku masih banyak pekerjaan, presentasi ku juga belum kelar ... "
"Kenapa? Aku sengaja datang ke sini untuk mencari mu, aku ingin penjelasan dari kamu, kamu kemana saja," ujar Ririn memotong kalimat Zian sambil memegang kerah kemeja Zian, hingga membuat beberapa kancing baju Zian terlepas.
__ADS_1
Zian tidak dapat membendung emosinya lagi, ia segera menepiskan tangan Ririn hingga Ririn hampir saja tersungkur kelantai.
"Zian! Kamu benar-benar keterlaluan," tukas Ririn.
"Yang sudah keterlaluan itu kamu, kamu sama sekali tidak punya etika," ucapan Zian langsung terhenti.
Plak ....
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Zian.
"Kamu sudah berani sekali berbuat kasar dengan ku Zian, kamu sudah sangat berubah, lihat saja, aku akan pergi meninggalkan kamu," ujar Ririn dengan mata yang berkaca-kaca, lalu pergi meninggalkan Zian.
Zian mengelus pipinya yang panas akibat tamparan keras dari Ririn, ia menghela napasnya dalam-dalam. Sikap Ririn benar-benar membuat Zian tidak nyaman.
Sementara Ririn pergi dengan berurai air mata. Ia benar-benar marah dan kecewa dengan sikap Zian yang hampir 100 persen berubah dari sebelumnya. Biasanya Zian akan mengejar Ririn, membujuk dan meminta maaf walaupun bukan dari kesalahannya, tapi ini tidak, Zian sama sekali tidak gentar dengan ancaman Ririn yang akan pergi meninggalkannya. Bahkan Zian sudah mulai berkata kasar dengannya.
Ririn pergi kesebuah taman, ia menumpahkan tangisnya di sana. Ririn merenungkan segala ucapan Zian.
"Sebaiknya aku menenangkan diri dulu," pikir Ririn. Ia menghapus jejak air matanya sendiri.
Sementara Zian tidak bisa berpikir jernih. Ia memanggil Heru untuk melanjutkan meeting.
"Tolong kamu handel semuanya, saya pusing," ujar Zian memijat kepalanya sambil bersandar di ruang kerja miliknya.
"Baik tuan," ucap Heru asistennya Zian. Heru sangat mengerti keadaan tuanya itu sekarang. "Ririn sama sekali tidak menghargai suaminya," gumam Heru, ia kasihan melihat tuanya seperti itu.
Suasana hati Zian terlihat jelas di wajahnya kalau hatinya sedang kusut.
ayo vote lagi dong ....
jangan lupa like dan follow Author ya,
author sangat mengharapkan dukungan dari kalian, agar karya author meningkat dan update setiap hari.
__ADS_1