
Sheril dan Zian baru saja tiba di rumah.
Mereka di sambut dengan tangisan Aura yang sedang di gendong oleh serena.
Serena tampak sibuk menenangkan Aura, tiba-tiba dia melihat kedatangan Zian.
"Ma, Aura kenapa? kamu kenapa sayang," Zian ingin mengambil Aura dari gendongan Serena, tapi bocah itu memalingkan wajahnya.
"Zian, kau sudah pulang? Wanita itu ...."
Kalimat Serena menggantung saat melihat Sheril yang tiba-tiba saja muncul di belakang Zian.
Dia menatap Sheril yang menundukkan wajahnya. Zian mengerti apa yang akan di katakan Mama saat mengucap kalimat wanita.
"Ma, maafkan aku, aku pergi bersamanya, dan tidak sempat untuk memberitahu Mama."
Serena mendengus tidak suka.
"Nyonya, maafkan aku, aku pergi tidak memberitahu mu."
Serena tidak menanggapi ucapan Sheril. Dia bahkan tidak peduli, hanya pokus menenangkan Aura yang masih menangis.
Melihat Aura menangis dengan sedih. Sheril merasa pilu.
"Aura, kenapa menangis? Sini gendong Tante ya?" Dia mengulurkan tangannya mau menggendong Aura.
"Tidak perlu, kau istirahat saja, bukankah kau baru saja datang!" Serena berucap seolah-olah tidak suka. Sheril menarik kembali tangannya yang terulur, lalu menarik napasnya.
"Tidak apa-apa Nyonya, aku sama sekali tidak capek."
"Aura, sama tante yuk main," Sheril kembali berkata dengan suara lembutnya serta mengelus tangan bocah yang memeluk leher Serena. Dia masih menangis dengan terisak.
Merasakan tangannya di sentuh, bocah itu mengangkat matanya melihat Sheril. Tanpa di sangka bocah itu mengulurkan tangannya sambil menangis.
"Aura mau sama tante?" Sheril kembali bertanya kepada bocah itu, yang langsung di anggukkin olehnya.
"Maaf nyonya, apa boleh aku menggendongnya?" Sheril bertanya sembari memegang jemari kecil Aura. Serena pun mengalah, membiarkan Sheril menggendongnya.
Hua ..., hua .... "Mama." Bocah itu masih menangis dalam gendongan Sheril. Sheril menghapus air matanya dengan sangat hati-hati.
"Sudah, jangan nangis lagi ya, kalo Aura mau main sama tante, Aura harus senyum dan tidak boleh nangis lagi, oke." Sepertinya gadis kecil itu mendengarkan apa yang di katakan nya, dia mengangguk dan sedikit memelankan suara tangisannya, meski dia masih terisak.
Zian menatap Serena kemudian beralih ke Sheril yang sibuk mengelap air mata putrinya. Serena tidak tau apa yang harus dia katakan. ibunya Aura pergi tidak kembali, Zian sibuk kerja, sementara Aura tidak ada yang memperdulikannya, dia juga kadang-kadang sibuk mengurus bisnisnya. Aura hanya bersama pengasuh setiap hari.
Dia hanya kesal dan sedih melihat penderitaan anak ini. Tidak tau harus marah dengan siapa, Yang jelas dia sangat marah pada Ririn, meski hatinya juga kesal dengan Sheril yang pergi diam-diam. Serena tau, dan dia memperhatikan dalam beberapa hari ini, dengan kehadiran wanita ini, Aura jarang menangis, dia juga tampaknya menyukai Sheril.
__ADS_1
Serena membalikkan tubuhnya dan ingin melangkah pergi. Tapi Zian menahan tangannya.
"Ma, aku ingin menyampaikan sesuatu." Zian menarik tangan ibunya ke ruang tamu.
Sementara Sheril sibuk menenangkan Aura, dia seperti tidak memperdulikan ibu dan anak itu pergi kemana dan akan membahas tentang apa.
Sheril merasa senang, setidaknya Aura sudah berhenti menangis meskipun sesekali dia masih terisak.
Sangat jelas kalau gadis kecil ini sudah terlalu lama menangis. Mengingat apa yang di katakan Zian waktu di kota itu, tiba-tiba hati Sheril sangat tersentuh melihat bocah ini. Masih sangat kecil, namun sudah di tinggalkan ibunya, ayahnya sibuk bekerja. Tentu dia kurang kasih dan sayang dari orang tua.
Tanpa Sheril rasa, air matanya menetes tanpa di pinta.
Dia merasa, bagaimana bisa seorang ibu tega meninggalkan anak sekecil ini? Dia menatap iba pada Aura.
Di sisi lain
Zian menghela napasnya.
"Ma, maafkan aku, aku sudah banyak merepotkan mu, terutama mengurus Aura. Aku harus bekerja, dan besok aku mau berangkat ke luar negri, aku titip Aura dan juga ...."
Zian terdiam beberapa sesaat, dan butuh beberapa waktu untuk melanjutkan kata-katanya.
Serena menatapnya. "Jujur saja, Mama tidak merasa berat mengurus Aura, hanya Mama merasa lelah jika Aura menangis seperti tadi. Ririn benar-benar keterlaluan, ibu macam apa dia!" Serena tampa kesal.
"Ma, mulai sekarang, jangan sebut-sebut nama perempuan itu lagi. Dia tidak pantas menjadi seorang ibu. Dia tidak pantas di pertahankan."
Serena tampak berpikir. Kemudian memegang pundak Zian.
"Sebenarnya Mama tidak suka dengan penceraian, tapi mungkin lebih baik begitu. Kamu bisa mencari kebahagiaan mu sendiri, dengan wanita yang lebih baik darinya."
"Ma, aku tidak akan mencari wanita lainnya. Walupun bagaimana Sheril adalah istriku, dia mengandung anak ku dan juga cucu Mama, kami sudah menikah walaupun sirih, hanya saja tidak memiliki sertifikat pernikahan. Besok aku akan pergi, aku titip dia dan juga Aura. Sepertinya Aura menyukainya."
Serena diam dengan menundukkan wajahnya.
"Segala keputusan ada di tangan mu, Mama tidak bisa mencegah jika kamu bahagia. Tapi masalah Aura, Mama belum yakin, yang namanya ibu tiri itu tidak ada yang lebih baik dari ibu kandung, kamu ingat itu."
"Iya, Ma. Aku mengerti, Mama bisa mengawasinya selama aku tidak ada di rumah. Tapi ..., aku yakin, dia tidak seperti itu."
"Ya sudah, Mama mau istirahat dulu."
"Oh ya ma, dia juga akan pindah ke kamar atas malam ini, aku sudah menyiapkan kamar untuknya." Zian bicara lagi setelah Serena bangkit dari duduknya.
"Terserah kamu!" Setelah itu Serena melangkah pergi, sesaat dia tidak mendengar Aura menangis lagi. Wanita itu memang pandai membujuk anak kecil.
Sheril terpaku saat melihat barang-barangnya di bawa bibi ke atas. Dia menghampiri Zian yang berdiri di sana.
__ADS_1
"Mas, bagaimana kalu aku tidak betah di atas?" Dia berkata sambil meremas jari-jari tangannya.
"Tidak apa-apa, hanya untuk sementara saja."
Mendengar itu Sheril diam, dan tidak berkata apa-apa lagi.
"Ayo kita ke atas melihat kamarmu, kau bisa istrahat di sana."
Sheril mengangguk. Lalu mau menggendong Aura.
"Biar aku saja yang menggendongnya."
Mereka melangkah naik ke atas, setelah di atas, Sheril tampak ragu untuk melangkahkan kakinya memasuki kamarnya.
"Ayo masuk!"
Sheril masuk dan melihat sekilas kamarnya. Kamar ini luas dan bersih, interiornya simpel dan sederhana namun sangat mewah bila di pandang mata sangat teduh dan damai.
"Bagaimana kau menyukainya?" Zian mendekat setelah meletakkan Aura di atas sofa.
Sheril menundukkan wajahnya lalu mengangguk.
Zian memeluknya dan mengecup dahinya. Sheril sangat canggung, wajahnya berubah pink.
"Semoga betah di sini," ucap Zian seraya tersenyum tipis.
"Sekarang mandilah, aku akan mengambil pakaian ku."
"Apa ...," Sheril tampak terkejut, dan itu membuat Zian berhenti melangkah dan menoleh padanya.
"Kenapa kamu terkejut seperti itu? Tidak boleh kah aku tidur dan istirahat di sini? Ini kan kamar istriku!"
"Em ..., iya maksud ku, ya tidak apa-apa," Sheril berkata malu-malu dan itu membuat Zian sangat menyukainya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Ikuti terus kisahnya ya.
Wajib like☑️
klik bintang lima di penilaian ☑️
tap love ☑️
vote setiap akhir pekan ☑️
__ADS_1
komen jika ada kritik dan saran☑️
dan jangan lupa follow akun author