
Zian mengetuk pintu kamar Sheril. Sesuai yang dia ucapkan tadi, dia mau bicara.
Sheril yang belum memejamkan matanya mendengar ketukan pintu. Dan dia langsung mengingat apa yang Zian ucapkan tadi.
Sheril bangkit dan membuka pintu. Terlihat wajah tampan di depan mata, dada Sheril langsung bergetar.
Cukup lama Sheril terpaku, hingga Zian berucap: "Buatkan aku teh, dan antar ke atas."
"A ..., apa? Antar ke atas?"
Sheril terkejut dengan kata-kata atas, itu berarti ke dalam kamarnya Zian. Tidak aku tidak mau.
"Ya, ke ruang kerja ku, aku menunggu mu di sana." Setelah berucap, Zian langsung pergi meninggalkan Sheril.
"Eh .., tunggu sebentar. Aku tidak tau ruangan kerja yang mana?" Sheril bertanya dengan gugup.
Zian menghentikan langkahnya, lalu memutar tubuhnya kembali mendekati Sheril, kali ini sangat dekat, hingga jantung mereka sama-sama berdetak kencang. Ia menatap wajah semu Sheril yang tertunduk, Zian sangat menyukai itu.
"Paling ujung sebelah kanan, kau pasti menemukannya." Zian sedikit berbisik, membuat bulu kuduk Sheril langsung meremang.
Setelah itu, Zian benar-benar pergi, dan Sheril menatap kepergian suaminya itu.
Ha ...,
Sheril mengambil napasnya kembali, tadi seperti napasnya sudah melayang. Kenapa pikiran ku sangat kacau, aku kira tadinya ..., ah dugaan ku salah. Sheril malu dengan dirinya sendiri, ia sudah memikirkan yang macam-macam.
...----------------...
Selesai membuat teh, Sheril tampak gelisah dan bimbing. bagaimana tidak gelisah, dia tidak pernah naik dan melihat lantai atas. Bagaimana jika dia salah masuk? dan bagaimana jika istri pertamanya ...,? Ah, Sheril tampak gusar sendiri memikirkan itu. Kenapa tadi aku tidak menolak saja? Sheril tampak menyesalinya.
Dengan dada yang bergetar-getar, akhirnya Sheril melangkahkan kakinya menuju lantai atas. Ia melihat sekeliling ruangan yang begitu mewah, dan terkesan sederhana, tentu saja semuanya perabotnya mahal.
Sheril tidak ingin berlama-lama memperhatikan ruangan demi ruangan, ia segera mencari ruang kerja Zian suaminya. Ia mengingat kalimat yang di bisikan Zian tadi.
"Paling ujung sebelah kanan, kau pasti menemukannya."
Sheril kembali merinding mengingatnya, lalu dengan mudahnya ia menemukan ruangan kerja Zian yang kebetulan ada tulisan 'Ruang Kerja' di depan pintunya.
Sheril langsung mengetuk pintunya.
Tok-tok-tok.
"Masuk."
Sheril langsung memutar kenop pintu setelah mendengar kata-kata masuk dari dalam. Pintu terbuka dan yang pertama kali Sheril lihat adalah Zian suaminya, yang juga memandangnya tidak berkedip, mereka saling tatap sejenak, lalu Sheril buru-buru mengalihkan pandangannya. Dia melangkah dengan ragu, suasana dingin sekali, karena ruang ber-AC.
Sheril mendekati meja kerja Zian, dan meletakkan cangkir teh di atasnya.
"Ini teh yang kamu pesan tadi."
__ADS_1
Sheril menundukkan wajahnya, dia terlihat sangat canggung.
Zian tersenyum. "Terimakasih. Duduklah." ucapnya begitu tegas.
Sheril meremas ujung bajunya, tentu saja hatinya saat ini berdebar-debar.
"Em ..., langsung saja katakan, apa yang ingin kamu katakan tadi? Aku tidak bisa lama-lama, aku ..., ngantuk."
Sheril berkata seperti ragu-ragu, membuat Zian menatapnya dengan cermat dengan mengerutkan keningnya. Dia tidak percaya kalau Sheril mengantuk.
"Duduklah, maka aku akan mengatakannya." Setelah Sheril duduk.
Zian bangkit dan berdiri, kemudian berjalan menuju pintu yang masih terbuka, lalu menutupnya dengan rapat serta menguncinya.
"Mengapa kamu menguncinya?" pertanyaan Sheril membuat Zian tertegun menatapnya dengan penuh arti.
"Kau kenapa? Seperti takut sekali dengan ku?" Zian mendekat, Sheril tidak bergeming, hanya menundukkan wajahnya.
"Aku ini suami kamu! Kita sah suami istri! Kenapa kamu harus canggung terhadapku? Apa kau tidak menganggap aku ini suami mu lagi?" Zian meluapkan kekesalannya.
Sheril mengangkat kepalanya menatap Zian dengan berani.
"Berarti aku ini istrimu?"
Ucap Sheril dengan lirih.
Zian menatap bola mata Sheril, mereka saling tatap.
Sheril tersenyum kecut.
"Aku kira kamu sudah melupakan aku sebagai istri mu, lalu menganggap dan menjadikan aku seorang pembantu," Sheril berucap sambil menurunkan matanya, dengan segera mengalihkan pandangannya.
Zian terdiam.
"Aku kesal dan marah. Kau pergi tanpa persetujuan dari ku, lalu kau bekerja di rumah makan kumuh itu! Sepertinya aku tidak bertanggung jawab terhadap kamu! seperti aku ini menelantarkan anak dan istriku! Dimana letak harga diriku sebagai suami mu? Aku sangat malu menjadi seorang laki-laki saat itu."
Zian terdiam sejenak. Matanya berkaca-kaca, suaranya bergetar dan serak. Sheril pun belum mengucapkan apa-apa, dua mencermati kalimat Zian.
"Dan apakah kau tau? Siang dan malam aku mencari mu tanpa lelah, berharap cepat menemukan mu dan membawamu kembali? Aku mengabaikan pekerjaan ku! Mengabaikan tidurku! Bahkan sulit untuk menelan sesuatu! Kau tidak tau betapa tersiksanya aku saat itu! Bahkan aku memutuskan bahwa wanita di dunia ini semua pembangkangan, sulit di atur dan tidak mau di pimpin oleh suaminya."
Zian kembali terdiam. Menyeka air matanya yang sudah menetes.
"Lalu, saat menemukan mu, aku merasa kau harus menebus dosa mu dengan cara ku menghukum mu seperti itu, walaupun hati ku tidak tega."
Sheril mendengarkan ucapan Zian yang sangat panjang, dan dia mencerna setiap kalimat yang diucapkannya
Sheril menangis dalam diam.
"Kamu tidak tau posisiku saat itu, Mas. aku tidak tau arah, aku serba salah. Mengingat istrimu yang kecewa, sebagai sesama wanita, aku merasakan perasaannya!"
__ADS_1
"Aku mengerti. Tetapi apa salahnya, sedikit saja mendengarkan aku. Aku ..., laki-laki yang brengsek ini adalah suami mu,
suami mu, Sheril.
Suami mu!"
Zian mengulangi kalimatnya berkali-kali.
Sheril terdiam, menangis menundukkan wajahnya.
"Maafkan aku, mas. Aku sudah merepotkan kamu."
"Aku tidak merasa direpotkan, hanya kecewa saja pada mu."
"Ya, maaf, aku minta maaf."
Zian memutar tubuhnya menghadap Sheril yang menundukkan wajahnya. Secara perlahan mendekat hingga sangat dekat.
Zian membungkuk sedikit, lalu mengangkat dagu Sheril, hingga kepalanya mendongak ke atas.
"Lihat pada ku."
Perlahan Sheril mengangkat matanya, menatap bola mata Zian yang membulat. Mereka saling tatap dengan pikiran masing-masing. Zian menatap Sheril dengan kerinduan yang teramat dalam. Sementara Sheril sudah tidak tentu, dadanya berdegup kencang. Kemungkinan Zian pun merasakan detak jantungnya yang berpacu dengan cepat.
Sama halnya dengan Zian, namun ia berkeringat dingin saat menyentuh dan menatap dekat istrinya, perasaan ini tidak pernah Zian alami sebelumnya, termasuk dengan istri pertamanya. Dia merasakan debaran yang sangat aneh.
"Apakah kau tidak merindukan suamimu ini?"
Zian menyela pembicaraan di saat jantungnya berdebar aneh. Seperti pengantin baru yang ingin memasuki malam pertama pengantinnya.
Sheril memejamkan matanya.
Melihat itu, Zian langsung membawa Sheril dalam pelukannya, tubuh mereka menempel, Zian merasakan sesuatu yang kenyal menghalangi dada bidangnya. Zian tidak dapat menahan perasaannya, Sesuatu di balik celananya bergerak-gerak. Dengan segera dia menyentuh bibir Sheril dengan lembut, melintir bibir manis Sheril.
Next ....
Penasaran?
Author harap jangan baper🙏🙏🙏
Adegan orang dewasa, hanya untuk orang dewasa yang sudah menikah. Bijaklah dalam membaca.
Kewajiban pembaca❗
Like wajib ❗
bintang lima di penilaian wajib❗
vote setiap akhir pekan.
__ADS_1
komentar harus, jika ingin author cepat update.