Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
tidur di sofa


__ADS_3

Zian menatap Sheril di tempat tidur yang sudah memejamkan matanya, Zian memilih tidur di sofa saja, ia tidak ingi juniornya menegang lagi saat tersentuh kulit dengan Sheril.


Pagi harinya.


Sheril menggeliat sambil matanya tertuju ke arah sofa, Sheril mengucek matanya yang masih redup karena baru saja bangun, jadi pengelihatannya masih buram.


"Mas, kenapa tidur di sofa," ujar Sheril sambil beranjak dari tempat tidurnya menghampiri Zian yang masih terlelap di atas sofa.


"Mas," Sheril mengguncangkan bahu Zian, berusaha membangunkannya.


Zian membuka matanya.


"Kenapa?" Ujar Zian.


"Kenapa kamu tidur disini?" Ucap Sheril memperhatikan Zian dengan seksama.


"Ah, iya, tadi malam aku ketiduran, karena keasyikan nonton, jadi aku tertidur disini, maafkan aku," bohong Zian yang tidak ingin menatap wajah istrinya.


"Kamu bohong mas, jika kamu ketiduran sambil nonton, tentu TV nya masih menyala," ucap Sheril dengan wajahnya yang masam.


Zian bangkit dari tidurnya.


"Benar sayang, kenapa aku harus berbohong, TV memang aku matikan, tapi aku masih mau menghabiskan kopi yang ku buat, akhirnya aku tertidur," elak Zian yang tidak masuk akal bagi Sheril.


"Aku mau mandi dulu," ucap Zian.

__ADS_1


Sheril merasa ada yang aneh, tidak biasanya Zian bersikap seperti itu, dada Sheril terasa nyeri.


Selesai mandi Zian segera memakai baju yang sudah di siapkan Sheril.


"Kamu tidak mandi?" Tanya Zian tanpa menoleh Sheril.


"Tidak, aku mau bicara sama kamu," ucap Sheril dengan tenang.


"Bicara saja, ucap Zian cuek," tentu saja Sheril merasa tidak enak di abaikan seperti ini.


Sheril mengatur napasnya, merasa cukup tenang, ia mulai bicara,


"mas, ada apa dengan mu, kenapa sikap kamu tidak seperti biasanya," ujar Sheril.


"Itu perasaan kamu saja," ucap Zian memunggungi Sheril.


"Sudah aku katakan, kamu itu salah paham, hanya perasaan kamu saja, aku tidak apa-apa," ucap Zian membalikkan badannya menghadap Sheril, ia menatap Sheril yang menundukkan wajahnya.


Sheril menengadahkan kepalanya melihat Zian yang menjulang tinggi.


"Aku mengenal mu bukan baru kemarin mas, sudah hampir 3 bulan aku mengenali sikap kamu, jadi kamu jangan bohongi aku," ucap Sheril mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Zian duduk di sofa sambil merapikan kancing baju kemejanya.


"Sudahlah, tidak usah kamu pikirkan, aku ngk apa-apa," ucap Zian.

__ADS_1


"Mas, gimana tidak aku pikirkan, dan sampai kapan aku begini," lirih Sheril yang hampir menangis.


Zian menghela napasnya dengan dalam menatap Sheril dingin. Zian menuntun Sheril untuk duduk di sisi tempat tidur.


"Dengarkan sayang, itu kita pikirkan seiring waktu berjalan ya, aku sudah mempersiapkan semuanya, kamu jangan khwatir, aku minta kamu bersabar, kita butuh waktu, aku tidak ingin kamu dan anak kita kenapa-napa," ujar Zian meyakinkan Sheril.


"Seiring waktu sampai kapan mas, waktu tidak akan habisnya, aku tidak ingin menjadi duri dalam rumah tangga kamu, terutama anak kamu, aku tidak ingin merusak kebahagiaannya," Sheril menangis, ia tidak bisa menahan air matanya lagi.


"Maksud kamu apa bicara seperti itu!" Zian emosi mendengar kata-kata Sheril, tatapannya menusuk tajam, dadanya terlihat naik turun. Zian berusaha mengatur napasnya kembali, dalam hatinya menyesal sudah membentak Sheril.


"Aku sudah berusaha semampuku, hargai dong suami mu, aku ini suami kamu Sheril, suami kamu! Aku menikah dengan mu itu tulus, bukan untuk main-main," jelas Zian dengan wajah yang masih merah padam. Zian tidak tau seperti apa rumah tangganya dengan Ririn, yang jelas ia tidak senyaman dulu, soal cinta, Zian juga tidak tau bagaimana perasaannya saat ini sama Ririn, ia juga bingung kenapa sikap Ririn berubah setelah menikah.


"Aku tidak tau harus bagaimana, yang jelas aku tidak ingin menghancurkan rumah tangga kalian mas," ungkap Sheril dengan suara yang hampir tidak terdengar, tapi Zian cukup jelas mendengarnya.


Zian terpaku dengan kata-kata Sheril, perempuan ini berhati mulia, tidak berniat memisahkan keluarga Zian, banyak perempuan di luar sana ingin menghancurkan rumah tangga nya, karena terobsesi dengan ketampanannya juga aura dan karismanya begitu memikat. Apa lagi tau Alzian seorang pengusaha yang semakin sukses dalam perusahaannya, banyak perempuan yang sengaja menggodanya hanya karena ingin mendapatkan perhatian dari seorang Zian walaupun mereka tau Zian sudah memiliki istri, namun mereka tetap diam-diam mengagumi Zian ingin memilikinya, meski menjadi pelayanan di ranjang, mereka mau. Walaupun Zian suka mabuk mabukan, namun Zian tidak lah mudah di taklukkan dengan perempuan.


Berbeda dengan Sheril yang jelas sudah mendapatkan Zian meski cuma nikah sirih, apa lagi mengandung anaknya, seharusnya Sheril sangat beruntung bukan, sama halnya dengan perempuan yang mengejar-ngejar Zian. Tapi Sheril bukanlah perempuan seperti itu, bahkan ia tidak akan pernah menerima pernikahannya dengan Zian kalu sebelumnya ia tau Zian sudah memiliki istri, masalah kandungnya, ia akan bertekad akan mengurusnya meski tanpa suami, tapi takdir berkata lain, Zian mengakuinya setelah menikahi Sheril beberapa minggu lalu, tentu saja Sheril shock, pikirannya penuh. Tak hentinya ia merutuk nasibnya.


"Maafkan aku sayang, takdir memang ingin menyatukan kita, walaupun keadaan rumit, kamu harus tetap sabar, biarkan waktu yang menjawab, aku tidak akan pernah meninggalkan kalian," Zian memeluk Sheril yang masih menangis tanpa suara.


"Aku akan berusaha menjaga kalian, bertanggung jawab sebagai mana mestinya," sambung Zian lagi.


Sebenarnya Sheril takut kehilangan Zian, ia pun sudah sangat mencintai suaminya, ia ingin menikah hanya satu kali dalam seumur hidupnya. Tapi, apakah Sheril sanggup dengan keadaan begini?


"Sudahlah, jangan mikir yang macem-macem, aku berangkat kerja dulu, jaga semuanya, dan jaga anak kita," ucap Zian lalu mencium kening istrinya. Zian memeluk istrinya.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


dukung terus karya author ya,


__ADS_2