
Melihat tidak ada penolakan dari Sheril, Zian ingin lebih menyentuhnya. Merangkul erat pinggang Sheril, lalu menciumi leher jenjang istrinya. Sheril merasa tubuhnya gemetar hebat. Sebagai perempuan normal, tentu saja ia terbuai dengan sentuhan Zian.
Zian mengangkat tubuh Sheril dengan enteng, dan merebahkannya di atas sofa bet, yang bisa di jadikan kasur jika menginginkannya. Dengan tidak melepaskan Sheril, tangan Zian mencari tombol agar sandaran sofa itu merebah dan terbentang seperti tempat tidur.
Zian kembali menempelkan bibirnya dengan bibir Sheril yang manis seperti gula, mengelus perut buncit Sheril. Mencium pipinya berkali-kali. Kakinya membelit kaki Sheril yang terlentang. Tangannya yang nakal, mulai meraba ke atas.
Kancing baju yang di kenakan Sheril terbuka, dan menampakkan dua gundukan bukit yang terlihat putih dan mulus, membuat Zian tidak tahan untuk memegangnya.
Tangan Zian semakin meraba dan berpaut erat di sana. Kemudian, dia menundukkan kepalanya menyentuh puncak gunung kembar itu dengan bibirnya, Sheril menggeliat. Zian semakin panas bermain di puncak gunung itu, menghisap serta memainkan lidahnya yang semakin liar dan meninggalkan beberapa jejak di sana.
Dia menatap Sheril yang melihat kearah lain. menyentuh pipinya dengan telapak tangannya, lalu menciumnya dengan penuh kerinduan.
"Aku sangat merindukanmu?" Bisik nya ditelinga Sheril, seakan menyadarkan Sheril dari buaiannya.
Sheril menatap wajah Zian yang kemudian mendorong tubuh nya. Zian membulatkan matanya. Sheril langsung bangkit dan merapikan bajunya dengan cepat.
Jika istrinya ....
Sheril langsung melangkah menuju pintu keluar, meninggalkan Zian yang membeku.
Ah ..., "Sial. kenapa kau ...."
Zian mengepalkan tangannya dengan erat, keinginan yang tertunda seakan membuatnya gila. Wajahnya berubah dingin.
"Sial, sial, sial." Dia memukul sofa bed dengan
marah.
Beraninya kau? Kau lihat saja nanti! Aku akan membuat mu menginginkannya! Senyum licik terlihat jelas di wajah tampannya.
Kemudian keluar dengan langkah pasti, menyusul Sheril yang sudah sampai di lantai bawah.
Belum sempat Sheril membuka pintu kamarnya, Zian sudah mendahuluinya mendorongnya masuk kedalam kamar dan menguncinya.
__ADS_1
Dia mendekati Sheril dan menatapnya dengan tajam. Sheril melangkah mundur, ketakutan di wajahnya terlihat jelas, Zian melangkah maju hingga Sheril tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kecuali bersandar di tembok dengan bibir yang bergetar. Napas Zian memburu mengenai wajahnya.
"Mas, aku ...."
"Kau sungguh membuat ku penasaran!" bisik nya di telinga Sheril, terdengar giginya menggertak. Zian benar-benar marah.
Bagaimana ini, apakah dia akan membunuhku? Sheril berkeringat dingin, jantungnya berdebar keras.
Dengan kesal, Zian memegang pundak Sheril, menatapnya dengan jarak dekat sekali. Sheril memalingkan pandangannya, sementara Zian menyerigai seperti setan.
Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu? Bibir Zian melengkung keatas.
"Kau pintar sekali membangunkan junior ku!" Zian berbisik, bibirmnya menempel tepat di telinganya, membuat Sheril merinding seketika.
Zian langsung melancarkan aksinya, mencium Sheril dengan kasar, mengigit bibirnya sampai Sheril mengeluh sakit.
"Seperti ini yang kau inginkan?" Zian kembali bicara di belakang telinganya.
Lalu mengangkat Sheril ala bridal dan membaringkannya dengan pelan. Andai saja dia tidak sedang hamil, aku akan membanting tubuhnya.
Kemudian, ia melompat naik ke tempat tidur, melucuti pakaian Sheril dan membuangnya ke sembarang arah. Sheril melindungi dadanya dengan kedua tangannya.
Melihat itu, Zian semakin memanas, dia langsung menarik tubuh Sheril hingga jatuh di pelukannya. Getaran dada Sheril sangat terasa. Zian meraba seluruh tubuh Sheril, membuatnya menggelinjang geli.
Dengan lembut, dia menjelajahi tubuh Sheril. Meremas gunung kembar yang menantangnya, lalu menghisap puncak gunung itu. Tangannya meraba kebawah, berhenti di gundukan rambut yang menebal. Sheril menggeliat, membuat Zian semakin bersemangat.
Zian semakin mencari titik gairahnya, membuatnya mengeluh dan merintih. Tangan Zian semakin jauh menyentuh bagian sensitifnya, membuat area itu terasa lembab dan basah.
Dia melepas benda segitiga itu, merangkak di atas tubuh Sheril. Sheril merasa semakin panas, napasnya terengah-engah menahan sentuhannya. Zian merasa belum puas, ia membuka lebar paha Sheril, dan membungkuk menyentuh area sensitifnya dengan lidahnya yang lincah, hingga dia membelalakkan matanya. Sheril menggelinjang kesana kemari, sambil mengeluh dan merintih, tidak tahan seperti ingin segera menuntaskan gairahnya.
Melihat Sheril merintih seperti cacing kepanasan, Zian tersenyum licik. menatap Sheril yang menggelinjang dengan mata terpejam.
Zian tau, kalau dia sebenarnya memintanya untuk melakukan yang lebih dari itu, tetapi Zian bangkit, serta tersenyum dengan rasa puas.
__ADS_1
Rasakan bagaimana rasanya!
Zian memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu membawanya ke kamar mandi. Dia menuntaskan keinginannya bersama sabun mandi.
Sementara Sheril memejamkan matanya, menunggu Zian menyelesaikannya.
Mendengar suara pintu kamar mandi di buka, Sheril membuka matanya, dan melihat Zian yang masuk di dalam sana. Sheril mengambil selimut menutupi tubuhnya.
Tidak lama kemudian, Zian keluar dengan pakaian lengkap. Sheril meliriknya sekilas lalu membuang mukanya dengan rasa kesal yang amat dalam.
Zian tersenyum kecut.
"Maaf, tiba-tiba aku tidak bernafsu," ucap Zian, sekilas menatap Sheril, kemudian melangkah keluar meninggalkan kamar Sheril.
Rencananya untuk mengatakan sesuatu pada Sheril gagal, Zian sudah malas untuk mengatakannya lagi. Wanita itu membuatnya marah dan kesal.
Sheril mendengus kesal, berusaha menahan emosi. kepalanya berasa berat dan pusing. Ia malu, malu dengan dirinya sendiri. Bagaimana tidak, Zian membuka semua pakaiannya, memperlakukannya dengan lembut, hingga membuat Sheril tidak berdaya. Setelah itu pergi begitu saja.
Benar-benar ngesalin! Sheril mengacak-acak rambutnya dengan gusar.
Di lantai atas, di ruang kerja. Zian membayangkan bagaimana kekesalan dan kekecewaan Sheril, ia tersenyum kecut sambil meraba-raba dagunya yang tajam, karena bulu-bulu jenggotnya mulai tumbuh.
Selanjutnya, tunggu ya!
Wajib like☑️
klik bintang lima di penilaian ☑️
tap love ☑️
vote setiap akhir pekan ☑️
komen jika ada kritik dan saran☑️
__ADS_1
dan jangan lupa follow akun author ☑️