Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
103


__ADS_3

Sheril merebahkan tubuhnya, matanya sulit terpejam, ia memandang langit-langit kamarnya.


Pikirannya menerawang. Zian pasti mencarinya, ada rasa sesak di dadanya saat memikirkan suaminya. Meski hatinya menolak untuk meninggalkan Zian. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.


Nasib hidupnya begitu buruk. Kenapa harus seperti ini?


Hidup yang tidak pernah terbayang sama sekali. Sejak remaja, dia punya impian tersendiri, tapi siapa sangka, dia harus menempuh perjalanan yang amat sulit, kenapa dia yang harus jadi korban?


Sheril menjadi serba salah, bertahan? Ia akan menjadi benalu dalam keluarganya Zian. Melarikan diri? tentu saja anaknya yang akan menjadi korban, lahir tanpa seorang ayah.


Tidak jadi masalah, aku akan berusaha, menjadi wanita yang kuat, wanita yang melawan dalam hal apa pun.


Air mata Sheril kembali menetes. Ia mengingat Nenek dan kakeknya di kampung, jika mereka tau, sudah pasti mereka ikut sedih.


"Maafkan Sheril kek. Nenek, Sheril rindu kalian."


Hik-hik-hik ....


Sheril menangis tersedu. Jika ia pulang kampung, orang orang kampung pasti akan mencibir dan menghinanya, maka, apa pun yang terjadi, aku akan tetap bertahan disini, besok, aku harus mencari pekerjaan.


Tapi ..., apa ada orang yang mau memperkerjakan seorang yang dalam keadaan hamil? Sheril mulai berpikir. Dalam pikirannya, akhirnya ia terlelap.


.


.


.


.


Di rumah Zian.


Sementara Zian, dia berjalan lunglai kearah mobil, membuka pintu mobil dan masuk. ia putus asa mencari Sheril kemana lagi.


Sedang apa dia sekarang?

__ADS_1


Sudah makan atau belum? Bagaimana dengan bayi mereka? Apakah dia baik-baik saja?


Pikiran demi pikiran memenuhi isi kepala Zian.


Dia juga serba salah, Ririn tidak begitu peduli terhadap suami, ia juga tidak mungkin menceraikan Ririn, karena berat memikirkan putrinya yang masih kecil.


Menceraikan Sheril? Ini hal yang paling berat dan sulit, Sepertinya hidup sempurna Zian tergantung dengan Sheril, Wanita itu, tidak pernah berkata kasar, suaranya yang lembut dan sedikit manja, tidak pernah mengabaikan aku, mudah memaafkan jika Zian bersalah, jika Zian marah, ia diam dan mendengarkannya, kalaupun sudah reda, barulah Sheril akan bicara. Zian sudah nyaman bersamanya.


Berbanding terbalik dengan Ririn, mungkin karena Ririn tidak pernah hidup susah, karena itu, ia tidak melakukan yang terbaik buat suaminya, bahkan tidak ingin di sentuh oleh suaminya sendiri. Oh tuhan ..., itu adalah kewajiban seorang istri, dan dosa besar jika menolaknya. Tapi Ririn tidak mau tau itu, jika dua tidak mau, ya tidak.


Walaupun Zian terkadang kesal dan marah, ia tetap berlapang dada selama ini, namanya laki-laki, ia tidak bisa menahan keinginannya, ia hanya melampiaskannya dengan sabun mandi. Tega sekali! Apakah Zian akan selalu sabar?


Mata Zian yang tajam, sudah mulai berembun. "Hidup seperti apa ini!" Ia memukul setir mobilnya dengan keras, kekesalan di wajahnya terlihat jelas, ia tidak tau harus marah dengan siapa?


Dengan Sheril?


"Kenapa dia tega meninggalkan aku! bukankah aku sudah mengatakan, tunggu kedatangan aku! Aku ini adalah suami mu! walaupun nikah sirih, aku tetaplah suami mu, sah dalam agama."


Zian kembali memukul setir mobilnya, meremas rambutnya dengan kasar, Suasana hatinya sangat dingin.


Iya Zian pulang kerumah, bukan ke villa.


Zian memejamkan matanya, bersandar di jok mobil, rasa engan untuk turun.


hua ..., hua ...,


terdengar suara balita menangis, Zian tersadar dan membuka matanya, ia menoleh ke samping, mencari suara tangis itu. Sepertinya dari dalam?


Zian segera membuka pintu mobilnya, keluar dan memutar kenop pintu rumahnya.


Terlihat Serena menggendong balita perempuan itu, berusaha menenangkan tangisannya.


Melihat itu, Zian memperlambat langkahnya.


"Mama, kenapa dengan Aura?"

__ADS_1


Serena menoleh dan menatap Zian dengan malas.


"Suami istri sama saja, kerjaan berantem mulu, anak yang jadi korban, bagai mana nasib Aura kalau aku tidak ada di sini? ayahnya pergi, mamanya juga pergi ngk tau kemana, anak kecil di abaikan!" Cerca Serena dengan kesal.


Mendengar itu, Zian terdiam sesaat.


"Sini gendong papa?"


Balita itu langsung mengulurkan tangannya pada Zian.


"Aura, Aura mau apa sayang?"


Balita itu langsung menggelengkan kepalanya, lalu, kepala kecilnya ia sandarkan di bahu Zian.


Sepertinya, Aura merindukannya.


Emangnya Ririn kemana?


Akan tetapi, Zian tidak berani bertanya pada ibunya.


"Sejak tadi istrimu pergi dan tidak kembali," Serena seakan tau apa yang di pikiran Zian.


Zian membawa Aura kelantai atas, bocah itu tertidur di bahunya. Setelah membaringkan Aura di kasurnya, Zian mencium kening kecil itu, lalu pergi ke lantai bawah, menemui di mana Serena berada.


.


.


.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Hai para pembaca, dukung terus karya author ya, author sangat mengharapkan dukungan kalian.


Ayo like dan vote setelah membaca.

__ADS_1


__ADS_2