Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
128


__ADS_3

Tiba di rumah


Aura tertidur di pangkuan Zian, dia segera keluar menggendong Aura.


Sheril menyusul dari belakang. Membawa tas yang berisi keperluan Aura.


"Tasnya langsung bawa ke atas."


Zian memberi tahu Sheril agar langsung pergi ke atas. Tetapi Sheril seperti ragu, tapi akhirnya dia juga nurut. Pergi ke atas dengan tas di tangannya.


Zian membuka pintu kamar Aura, dan membaringkannya di atas tempat tidur. Lalu berbalik memutar badannya, menatap Sheril yang berdiri terpaku.


Zian mengambil tas di tangan Sheril, dan meletakkannya di atas meja.


Sheril ingin melangkah keluar, namun Zian menahan tangannya.


Menatap Sheril dalam-dalam. Begitu pula dengan Sheril, mereka saling pandang. Tidak lama Sheril mengalihkan pandangannya, ia merasa kaku dan malu-malu.


"Aku. Aku ke bawah dulu." Ucap Sheril terbata-bata sambil melepaskan tangannya Zian. Zian bukannya melepaskan, malah memeluknya dengan erat.


Sheril merasa ada kehangatan dari pelukan Zian. Membiarkan dia memeluknya erat, kemudian mencium bibir Sheril dengan lembut. Sheril perlahan melepaskan diri. Dia merasa tidak enak.


"Baiklah, jika kamu tidak mau, aku juga tidak akan memaksa mu, istrahat dan tidurlah."


Zian melepaskan pelukannya. Sementara hati Sheril merasa terhenyak sesak.


Langkah kakinya berat. Lalu menoleh Zian yang menutup pintu kamar Aura.


Di kamar, Zian tidak dapat memejamkan matanya, pikirannya melayang entah kemana. Kebahagiaan yang dia inginkan sulit sekali dia dapatkan.


Kenapa semua wanita tidak ingin mengerti akan dirinya? Atau mungkin dia yang terlalu egois?


Zian mengusap wajahnya beberapa kali, hingga dia memutuskan untuk pergi malam ini juga, mencari penginapan di sekitar bandara, agar mempermudah dirinya untuk terbang besok pagi.


Dengan keputusannya yang sudah bulat, Zian segera mengemasi pakaiannya, memasukkan beberapa setel pakaian ke dalam koper kecil dan menariknya ke luar.


Zian di antar oleh supir ke hotel dekat bandara.


Sheril terbangun dari tidurnya tepat pukul dua dini hari. Dia merasa haus dan lupa membawa air minum, hingga dia terpaksa keluar menuju dapur.


Saat mengambil air minum, dia berpapasan dengan supir pribadi keluarga Zian.


"Nona, ada pesan dari Tuan, katanya dia akan pergi jam empat nanti."


Pergi?


Sheril mengingat ucapan Zian waktu di pantai, bahwa dia akan pergi ke luar negri jam tiga ini. Teringat itu, Sheril membulatkan matanya.


"Pak, kalau boleh tau, di mana Zian sekarang?" tanya Sheril dengan tidak sabar.


"Tuan sudah pergi, Non."


"Apa ...?"


Sheril tercengang. Secepat itukah? Sheril memotong kalimat supir pribadi keluarga Zian, sebelum dia menyelesaikannya.


"Iya, tadi saya mengantarnya ke hotel, jam tiga nanti dia akan terbang."


"Antar aku menyusul ke bandara sekarang juga pak."


"Tapi, Non."


Sheril setengah berlari menuju kamarnya, tidak menghiraukan ucapan bapak setengah tua itu.


"Ayo pak, cepat. Sebelum jam tiga kita sudah sampai di bandara." Sheril berjalan menuju ke luar. Sementara pak supir tampak ragu-ragu.


Dia segera menyusul Sheril keluar.


"Nona, apakah kamu yakin? Bagaimana jika Tuan marah? Atau ...."

__ADS_1


"Tidak pak. Aku mohon antar aku, dia tidak akan marah, ada sesuatu yang ingin aku berikan, maka dari itu aku menyusulnya," Sheril sengaja berbohong, agar bapak itu segera mengantarnya.


"Baiklah."


Sheril merasa lega, akhirnya supir pribadi Zian percaya dengannya, dan langsung mengantarnya ke bandara.


Sesampainya di bandara Sheril langsung keluar dari mobil, mengedarkan pandangannya ke sekeliling area bandara. Dia melihat orang-orang yang berlalu lalang, mungkin mereka check-in atau pengantar saja.


"Non, apakah perlu saya antar?"


"Tidak perlu pak."


"Baik. Hati-hati ya, Non."


Sheril melangkah lebar menuju area check-in, tanpa menghiraukan ucapan bapak itu. Ia takut akan terlambat.


Sampai di sana, Sheril di cegat. Tidak boleh masuk. kalaupun mau masuk, harus bagi pengunjung atau pengantar yang membawa tas, maka harus memasukkan tas ke mesin pemeriksaan. Sheril setengah berlari menuju mesin pemeriksaan, setelah aman, dia segera masuk. Berharap masih bertemu dengan suaminya.


Sheril mencari kesana kemari, tapi hasilnya nihil.


Mas, kamu di mana?


Matanya hampir menangis, melihat di area sana, tidak menemukan Zian.


Apakah dia sudah pergi?


Sheril melangkah dengan putus asa. Saat dia menundukkan wajahnya, tiba-tiba dia mendengar suara yang familiar, yang sedang memanggil seseorang di seberangnya. Sheril langsung mengangkat kepalanya, dan benar saja itu suaminya.


Bibirnya melebar menampilkan senyumannya. Ia melangkah maju, tapi langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita cantik setengah berlari dan memeluk suaminya dengan erat.


Sepertinya wanita itu lebih muda darinya, pakaiannya menunjukkan, bahwa dia bukanlah wanita yang biasa-biasa saja, tentu saja dia terlahir dari keluarga yang kaya raya.


Sheril terkejut, seketika wajah Sheril berubah, rasa kecewanya terukir jelas di wajahnya. Matanya berkaca-kaca menahan tangis.


Dia sadar, wanita itu bukanlah tandingannya, dia terlihat sangat manja padanya.


Sheril langsung memutar tubuhnya dan berlari, seketika itu pula Zian sadar kalau itu benar-benar Sheril. Dia langsung mengejarnya.


"Sheril. sheril ..., tunggu!"


Dengan cepat Zian memegang pergelangan tangan Sheril.


"Kamu ...."


Zian tampak terengah-engah, dia mengatur napasnya terlebih dahulu, mengejar Sheril membuat napasnya tidak beraturan.


"Kenapa kau ada di sini? Kau bersama siapa?" Zian melanjutkan pertanyaannya, menatap Sheril penuh tanda tanya.


"Tidak. Aku mau pulang!"


Zian tidak melepaskan tangan Sheril.


"Lepaskan tanganmu!"


Zian tau mengapa Sheril seperti itu, dia yakin, karena melihatnya memeluk seorang wanita, dua cemburu! Zian tersenyum senang. Lalu bukanya melepaskan tangannya, melainkan membawanya dalam pelukannya.


"Kau cemburu melihatku di peluk seorang wanita?"


Pertanyaan Zian membuat jantung Sheril langsung berdetak. Tantu saja dia cemburu. Tapi Sheril tidak ingin mengakuinya.


"Jangan sok tau."


Zian tersenyum kecil, lalu merenggangkan pelukannya, menatap wajah istrinya yang malu-malu.


"Katakan kenapa kau ada di bandara? Kau mau pergi? Atau memang mau menyusul ku?"


"Menurut mu?"


Zian menatap Sheril serta memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Menurutku kau sengaja menyusul ku? Ada apa katakan?"


Sheril mengangkat kepalanya, menatap Zian yang menjulang tinggi di atasnya.


"Menurutmu kenapa aku menyusul mu? Karena aku mau menyaksikan kau di peluk dengan wanita kaya itu!"


Zian tertawa sambil menatap Sheril dengan aneh. Tetapi Zian sangat senang dengan kecemburuannya itu. Dia mencubit hidung Sheril, lalu memeluknya kembali.


"Terima kasih. Kau sudah cemburu pada ku, itu tandanya kau masih memiliki rasa peduli mu dengan suami mu ini. Lalu ada apa kau ke bandara?"


Zian mengulangi pertanyaannya yang belum Sheril jawab.


Sheril menatap malu, pipinya memerah seperti stroberi, bibirnya bergetar, lalu mengatakan sesuatu: "Mas, Kau benar-benar akan pergi meninggalkan aku?"


Zian menatapnya dalam. Bola mata mereka menyatu, mencari apa yang di pikiran pasangannya.


"Apakah kau berharap aku kembali?"


Pertanyaan Zian membuat mata Sheril berkabut dan mulai berembun.


Melihat itu, Zian kembali memeluknya erat, tak peduli seberapa banyak orang-orang melihat mereka.


"Jika kau yang menginginkan, aku pergi akan kembali. Jika tidak, aku pun tidak akan kembali."


Zian sengaja bicara seperti itu, agar Sheril mengakui apa yang dia rasakan. Lalu dia melepaskan pelukannya.


Sheril menangis, dan memeluknya dengan erat.


"Aku tidak ingi kau pergi, Mas. Jangan pergi ..., jangan tinggalkan aku, mas."


Sheril terisak, sambil mengeratkan pelukannya lebih erat dari sebelumnya.


Zian mengelus rambutnya, bibirnya tersenyum kecil.


Zian melepaskan pelukannya, memegang kedua sisi pipinya, menghapus air matanya yang mengalir.


"Aku tidak akan meninggalkan mu."


Mendengar itu, Sheril menatapnya.


"Lalu ini, kamu mau kemana?"


"Ayo kita duduk di sana, ibu hamil tidak boleh terlalu lama berdiri."


Zian menggandeng bahu Sheril, kemudian duduk bersama.


Zian mengeluarkan ponselnya, memesan satu tiket pesawat lagi dan langsung mengurusnya.


"Kita akan keluar kota bersama, sebentar lagi kita akan terbang."


"Apa?"


Author sudah update ya


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


kalian wahai para pembaca:


Wajib likeβ˜‘οΈ


klik bintang lima di penilaian β˜‘οΈ


tap love β˜‘οΈ


vote setiap akhir pekan β˜‘οΈ


komen jika ada kritik dan saranβ˜‘οΈ


dan jangan lupa follow akun author β˜‘οΈ

__ADS_1


__ADS_2