
Dalam perjalanan, Sheril hanya diam saja, pandangannya menatap kosong kedepan.
"Sheril, kamu tinggal di rumahku saja, tidak perlu mencari kosan. Nanti aku akan membicarakan ini pada mama dan papa ku, mereka pasti akan mengerti kok," ujar Elian melirik Sheril sekilas. Kemudian pandangannya kembali pokus menatap jalanan.
"Iya Elian, terimakasih ya, sudah mau menampung ku, aku janji akan secepatnya aku akan mencari kosan," ujar Sheril tidak enak hati, karena Sheril belum begitu mengenal orang tua Elian.
"Nanti saja di pikirkan masalah itu, yang penting sekarang tenangkan dirimu mu dulu, apa lagi kalau kamu lagi hamil, aku khwatir sama kamu," ujar Elian lirih. Ia merasa iba pada Sheril.
"Elian, hanya kamu yang peduli sama aku, hiks-hiks-hiks, yang lain pada menghina dan mencaciku," isak Sheril, ia kembali menangisi nasibnya. Bagaimana perasaan Sheril tidak akan hancur, sebentar lagi ia akan mulai menyusun skripsi. Sementara dirinya sudah resmi di keluarkan di pihak universitas UNIV.G.
"Sheril, aku janji akan tetap jadi sahabat terbaikmu, suka maupun duka aku akan selalu mendukung mu selagi itu baik menurutku," ujar Elian membelokkan mobilnya di halaman rumah besar milik keluarganya Elian.
"Sekarang, haruslah air mata mu, kita akan masuk," ujar Elian menatap Sheril yang masih terisak.
Sheril langsung menghapus air matanya. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Sebelum masuk, Sheril tampak ragu-ragu untuk melangkah kan kakinya, perasaanya tidak enak, ia takut akan merepotkan keluarga Sheril.
Sheril sudah beberapa kali bertemu dengan ke-dua orang tuanya Elian.
"Sheril, ayo, biar kamu cepat istirahat," ujar Elian menarik tangan Sheril, Elian langsung membawa sahabatnya masuk kedalam kamarnya.
"Bibi!" Teriak Elian.
"Iya, Non, ada apa?" Tanya bibi tergopoh-gopoh menghampiri Elian.
"Papa dan Mama kemana, Bi?" Tanya Elian, karena ia tidak melihat mamanya di rumah.
"Itu, Non, kalu Nyonya pergi, mungkin sebentar lagi pulang, kalu Tuan belum pulang, Non," ujar Bibi.
Elian menampilkan bibirnya membentuk huruf O tanda dia mengerti apa yang di katakan pembantu rumah tangga itu.
"Ya sudah, Bi, tolong buatkan minuman untuk sahabatku ya Bi, jangan lupa cemilannya," ujar Elian.
"Baik, Non,"
Elian kembali ke-kamar nya.
"Mandilah, aku sudah menyiapkan air untuk mu," ujar Elian sambil memberikan handuk pada Sheril.
"Terimakasih Elian," ucap Sheril.
"Sheril, berhentilah untuk berterimakasih padaku," ucap Elian menatap sahabatnya itu dengan memiringkan sudut bibirnya.
"Ya aku mau apa lagi, habis, kamu baik banget pada ku," ujar Sheril menatap sahabatnya dengan tatapan datar.
__ADS_1
"Kita itu sahabat, dalam persahabatan yang baik, kita akan saling mensuport apa pun itu baik suka maupun duka," ujar Elian membuat Sheril tersenyum samar.
"Ya sudah aku mandi dulu,"
Sheril pun pergi menuruti titah Elian. Ia menyegarkan tubuhnya di bathtub. Rasanya sangat segar dan sehat. Sheril sangat lama merendam tubuhnya, hingga membuat sahabatnya itu khwatir.
"Sheril! Kamu kok lama, kamu ngk kenapa-napa, kan?" Teriak Elian sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.
"Hem ... kamu kira aku akan bunuh diri di dalam?" Ujar Sheril setelah membuka pintu.
"Ya aku kira, mungkin saja begitu," ujar Elian merasa lega setelah sahabatnya itu keluar.
Sheril menampilkan senyuman manisnya. "Pikiranku masih normal Elian, ngk mungkin aku akan melakukan dosa besar itu."
"Syukurlah kalau kamu menjauhi pikiran syetan. Aku sangat takut kalu itu terjadi, karena banyak sekali kejadian, perempuan mengambil jalan pintas karena penat dengan pikirannya," ujar Elian bergidik ngeri.
Sheril pergi mengganti pakaiannya, sementara Elian mandi menggantikan posisinya.
...****************...
"Mama, Elian mau bicara sama mama," ujar Elian setelah mamanya pulang.
Mama Elian mengerutkan keningnya, ia merasa heran dengan anak tunggalnya itu. Biasanya, kalau Elian ingin bicara biasanya juga langsung di katakan.
"Ma, ada teman Elian, izinkan dia tinggal di sini ya, Ma," ujar Elian yang langsung dapat tatapan dalam dari mama Elian yang bernama Maria itu.
"Elian, apa yang kamu katakan itu," ujar mama Maria mengernyitkan dahinya.
Elian memegang kedua telapak tangan mama Maria. "Ma, sahabatku itu tidak ada tempat tinggal, dia di usir dari apartemennya, boleh ya ma," ujar Elian memelas.
"Tinggal di rumah kita, maksud kamu bagaimana Elian?" Ujar Maria tegang.
"Maksudku beri ia tumpangan untuk beberapa waktu saja Ma, Elian kasihan padanya," ujar Elian menampilkan waja sendunya.
"Elian, teman kamu yang mana, laki-laki atau perempuan?" tanya mama Maria.
"Perempuan, Ma," jawab Elian.
"Teman kamu yang mana? Dan kenapa dia sampai di usir dari apartemennya," ujar Maria ingin tahu.
"Sheril Ma, temanku yang beberapa kali pernah menginap disini," ujar Elian.
"Yang mana? Mama lupa," ujar Maria.
__ADS_1
"Ma, semenjak Elian kuliah, kan, cuma dia yang sering Elian ajak ke rumah kita. Masak Mama lupa," ujar Elian melipat dagunya.
Maria mencoba mengingatnya.
"Oh iya mama ingat, kenapa dengannya?" Selidik Maria.
Elian menceritakan segala kejadian yang menimpa sahabatnya Sheril. Mama Maria terkejut mendengar apa yang di ceritakan putrinya.
"Jadi kamu ingin dia tinggal disini?" Ujar mamanya tidak suka.
"Ma, Sheril kasihan padanya, lagian kejadian itu tidak ada yang mau menghendakinya, termasuk Sheril," ujar Elian sedih.
"Elian, kamu tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, kan? Jadi berhentilah menjadi pahlawan bagi orang lain," ujar Maria mengingatkan putrinya.
"Ma, Sheril itu orang baik, Elian ngk tega Ma, kasian dia. Dia mau mau tinggal dimana,"
"Elian, apa kata orang nanti jika dia tiggal di rumah kita, seharusnya kamu mikir dong, jangan asal bawa orang saja kerumah ini," ujar Maria.
"Mama kok begitu sih ma, kok ngk ada rasa kasihan sedikit saja sama orang lain, lagian dia disini ngk akan lama, hanya menumpang beberapa hari saja, setelah itu ia akan mencari tempat tinggal," ujar Elian.
"Baiklah, kalu hanya beberapa hari, mama izinkan," ujar Maria.
"Benarkah, Ma," ujar Elian penuh dengan senyum manisnya.
Maria langsung menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih mama ku sayang, setidaknya sahabatku ada tempat tinggal malam ini," ujar Elian memeluk mamanya dengan erat.
"Tapi ini harus di bicarakan dulu sama papa, mama tidak ingin mengambil resiko kemarahan papa kamu," ujar mama Maria.
Tapi Elian yakin, papanya akan menyetujuinya.
"Baiklah, Ma, nanti Elian akan mengatakannya pada papa," ujar Elian.
"Biar mama saja yang membicarakan ini pada papa," ujar Maria.
"Iya, Ma, kalu begitu Elian pamit dulu mau ke-kamar," ujar Elian ingin beranjak dari kamar orang tuanya.
"Suruh makan sahabat kamu itu," ujar Maria.
"Sudah, Ma," ujar Elian pergi dan menutup pintu kamar.
ikuti terus ceritanya reader.
__ADS_1
jangan lupa tekan vote dan like setelah membacanya.