
"Nyonya, setelah masak, apakah akan dihidangkan langsung?"
Sheril bertanya.
Wanita ini cukup banyak bicara?
"Nanti saja. Dan sebelum di hidangkan nanti, kau panaskan dahulu, agar dihidangkan dalam keadaan masih panas."
"Baik nyonya."
Setelah bicara, Serena mencuci tangannya, lalu melangkah pergi menuju ke luar.
Malamnya
Sheril menghidangkan makanan, sebelumnya ia sudah memanaskan makanannya. Merasa sudah selesai, Sheril dengan ragu menuju ruang tamu, terdengar suara Zian yang sedang bicara dengan seseorang. Sepertinya bukan cuma dua orang saja, tetapi ada orang lainnya juga. Tapi siapa?
Sheril tampak penasaran.
Sheril melihat seorang laki-laki muda, duduk di samping Serena, disini dia mengerti mengapa Serena memasak berbagai makanan seafood, mungkin karena mau menyambut laki-laki muda itu.
Kebetulan saat itu Reza tidak sengaja menatap Sheril yang berdiri di sana, ia mengernyit, menatap Sheril dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, seperti serena yang waktu pertama kali Sheril datang kesini.
"Em ..., Nyonya, Mas, silahkan. Makan malamnya sudah siap."
Mas, Nyonya?
Reza tampak bingung.
"Dia ...,"
"Ayo, nanti saja kita lanjutkan ngobrolnya, sekarang kita makan dahulu, mama sudah memasak seafood kesukaan kalian."
Reza tidak melanjutkan pertanyaannya yang menggantung di udara. Sementara Sheril sudah masuk kembali. Ia tidak terlalu memikirkan laki-laki muda itu, hanya terlintas di hatinya, mungkinkah dia adalah adiknya Zian? Tetapi kenapa baru terlihat sekarang?
Saat mereka ingin bangkit, terdengar suara bocah: "Oma ..., Mama ...,"
Seketika tatapan mereka tertuju ke atas, seorang baby sister turun dengan menggendong seorang gadis kecil.
"Gadis kecil, ponaan ku?"
"Iya, dia adalah Aura, ponaan kamu," ujar Serena.
"Oh tapi ..., perasaan ibunya tidak seperti tadi! Wanita tadi dia bukan ...,"
"Ayolah kita langsung makan, nanti keburu dingin lo, ngk enak." ucap Serena. Ia menggendong Aura dan berjalan ke arah ruangan makan di iringi oleh Zian dan juga Reza.
"Aku penasaran, siapa wanita hami itu?" Reza berbisik di telinga Zian.
__ADS_1
Zian mengerutkan dahinya, melirik Reza yang bertanya dengan serius.
"Kau itu mau tau segalanya, urus saja dirimu."
"Tapi dia cantik, bahkan lebih cantik dari istrimu." Ucap Reza yang membuat Zian langsung menatapnya dengan tatapan tajam. Setelah di meja makan, Reza kembali bertemu dengan wanita yang ia katakan cantik itu, Reza menatapnya dalam, hingga tatapan Reza di ketahui oleh Zian.
"Hem ...," Zian sengaja seperti itu, agar reza sadar dengan apa yang ia lihat.
Dia benar-benar cantik. Sayang sekali dia sudah hamil, tentu saja dia sudah bersuami? Pikir reza, di dalam hatinya.
Melihat Reza tidak menyadari itu, Zian sengaja menginjak kaki Reza dengan kuat.
"Au ..., siapa yang menginjak kaki ku," Reza mengeluh. Otomatis semua mengalihkan perhatiannya pada Reza. Zian pura-pura tidak tau, ia mengernyit mantap Reza.
"Kau kenapa sayang?"
Ini pasti ulahnya kakak?
"Ma, kak Zian menginjak kaki ku!"
Serena mengernyit lalu menatap Zian.
"Asal tuduh aja kamu, aku kan tidak sengaja, lagi pula siapa yang melihat kaki-kaki di bawa sana, tentu itu tak ku sengaja."
Reza mencibir kan bibirnya menatap Zian. ia tau ini memang di sengaja oleh kakaknya, Tetapi apa salahnya?
Mama ...,
Tiba-tiba Aura memanggil mamanya dan turun dari kursi makan khusus balita.
"Aura mau kemana? Makan dulu." Suara Serena menggema memanggil Aura yang berlari ke arah ruang keluarga.
Baby sister mengejar Aura, tidak begitu lama, terlihat Aura kembali berlari ke ruang meja makan, seperti mencari sesuatu. Baby sister tampak mengikutinya dari belakang.
"Ayah ..., Mama ...,"
Zian menatap putrinya yang berlari ke arahnya, Zian mengulurkan tangannya ingin menggendong, tetapi bocah itu menyingkirkannya dengan cepat.
Tiba-tiba, ia melihat Sheril keluar dari dapur, bocah itu langsung berlari menghampirinya, dan menarik tangannya.
Melihat itu, semua mata teralih pada Sheril dan Aura.
Sheril merasa canggung di tatap mereka. "Em ..., Aura mau apa? Kenapa menarik tangan tante?"
Bocah itu tidak menjawab, hanya menarik-narik tangan Sheril menuju ke sesuatu tempat. Sheril mengikut kemana bocah itu akan membawanya, ia berhenti dekat kursi makannya, serta mendongak ke atas menatap Sheril.
"Papa ...," ucapnya
__ADS_1
"Papa?" Sheril tidak mengerti, ia berjongkok melipat kedua kakinya dan menekankan lututnya di atas lantai.
Semua yang ada di meja makan pun hening, melihat apa yang akan di katakan bocah itu barusan. Serena pun tampak aneh. Apa lagi Reza, dia tidak mengerti dan merasa bingung, kesempatannya untuk melihat wanita itu, ia tanpa berkedip menatap wanita hamil itu, hanya sesekali melirik Aura.
Aura kembali mengatakan papa, kali ini dengan mengangkat jari telunjuknya ke arah Zian. lebih tepatnya menunjuk ke arah Zian. Zian bangkit dan menghampiri Sheril dan Aura.
"Aura, kenapa mengganggu tante? Aura mau makan tidak?" Tanya Zian.
Bocah itu langsung mengangguk sambil menggaruk kepala kecilnya.
"Papa suapi ya?"
"Tidak!"
Bocah itu menggeleng, dengan menatap Sheril sambil memegang tangan nya.
"Aura mau Tante yang menyuapi?"
Bocah itu mengangguk.
"Tapi ...." Sheril melirik Serena sekilas.
"Tidak apa-apa, jika dia meminta mu."
Serena mengerti arti tatapan Sheril, wanita itu pasti meragukannya. Makanya Serena langsung berkata seperti itu.
Zian kembali duduk di kursinya, Berharap Sheril duduk di sampingnya. Tetapi untuk mengatakan itu, Zian sangat berat dan gengsi.
"Kak, sebenarnya dia siapa? Dan kakak ipar kemana? Kok aku dari tadi tidak melihatnya?"
Zian terdiam mendengar pertanyaan Reza.
"Sudahlah, jangan banyak bicara di meja makan."
Serena menyendok makanan kedalam piring kemudian memberikannya kepada Zian, setelah itu menyendok makanan khusus untuk Reza. Mereka makan dalam diam, tidak ada yang berbicara lagi, termasuk Reza. Walaupun begitu banyak pertanyaan di hatinya, sekali ia melirik wanita hamil yang menyuapi keponakannya itu.
Serena juga melirik Sheril yang begitu telaten menyuapi cucunya, Aura terlihat lahap makan sayur bening jagung di campur bakso dan juga ada brokoli. Serena tidak tau apa rasanya, karena ia tidak pernah memasak sayur bening seperti itu. Tetapi, melihat Aura memakannya begitu enak, Serena ingin mencobanya.
Serena tertegun sejenak setelah mencicipinya. Ini benar-benar enak dan gurih, rasanya segar sekali, manis rasa jagungnya, kuahnya juga enak sekali.
Sepertinya Wanita ini, memang pintar memasak?
Zian melirik Sheril yang menyuapi Aura, ia ingin cepat-cepat selesai makannya, agar bisa menyuapi Aura, dan Sheril bisa makan. Ia khwatir dia sudah sangat lapar.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
author sudah update lagi ya, Jangan lupa untuk like dan komentarnya setelah membaca,.
__ADS_1
...****************...