Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
101


__ADS_3

Sampai di pekarangan rumah mewah. Ririn turun dengan membanting pintu mobil, keras sekali, sampai Zian kaget. Dia menggelengkan kepalanya.


Ririn menyeka air matanya sabil masuk melintasi ruang keluarga, lalu naik ke atas, ke kamarnya.


Serena yang sedang duduk di sofa, merasa heran. Tidak begitu lama, Zian pun datang, menyusul Ririn.


"Zian.., ada apa?"


Namun anak itu seakan tidak mendengarkan apa yang mamanya tanyakan, dia terus berjalan menyusuri tangga menuju lantai atas.


Serena memicingkan matanya, menatap punggung putranya naik dengan setengah berlari.


Kenapa dengan mereka?


Serena penasaran, pikiran pikiran buruk mulai terlintas di benaknya.


"Apa mereka ribut lagi?"


Serena menyusul ke atas, ingin tau apa yang terjadi, tidak biasanya Zian seperti itu, mengabaikan pertanyaan Serena.


"Ririn, aku mohon, bersabarlah apa pun yang terjadi, belajarlah ikhlas, pikiran putri kita, dia membutuhkan kita,"


"Kalau kamu memikirkan putri kita, kamu tidak akan menghianati aku, tega sekali kamu!"


"Ririn, aku tau perasaan kamu, tapi itu tidak sengaja terjadi, bukan aku sengaja!"


"Kalau tidak sengaja, tidak mungkin kamu sampai menikahinya, tidak mungkin perempuan itu sampai hamil,"


"Ririn, waktu itu aku mabuk dan terluka, dia berusaha menolong ku, aku tidak sadar melakukannya, aku ... "


"Jika kamu memang benar tidak sengaja, lalu kenapa kamu tidak memintanya untuk menggugurkan kandungannya, kenapa kamu justru menikahinya!" tandas Ririn.


"Aku sebagai laki-laki, harus bertanggung jawab atas apa yang aku perbuat dan...,"


"Kamu yakin itu adalah anak mu?" tanya Ririn sinis, membuat Zian mengangkat kepalanya yang tertunduk.


"Aku yakin," ucap Zian tegas.

__ADS_1


"Aku tidak yakin. Bisa jadi perempuan itu hanya untuk memanfaatkan kamu demi uang,"


Zian terdiam. Memang zaman sekarang apa pun demi uang akan mereka lakukan. Zian menjadi agak ragu mendengar ucapan Ririn. Tapi, anak itu tidak mungkin berencana seperti itu. Iya yakin Sheril tidak seperti wanita pada umumnya.


"Tidak, aku yakin dengannya, itu benar-benar anakku,"


Zian terdiam, sambil mengusap wajahnya dengan gusar.


"Kenapa kamu diam! Kamu memilih ku? atau lebih memilih perempuan itu?" Ucapan Ririn membuat Zian kehabisan kata-kata,


Zian bungkam.


"Zian ...! ceraikan perempuan itu, jika kamu ingin bersama ku!" Desak Ririn membuat Zian mengangkat matanya dan menatap Ririn tanpa ekspresi.


"Tidak ada yang bisa aku pilih, tidak akan ada yang aku ceraikan, termasuk kamu," ucap Zian dengan yang lantang dan tegas.


"Kamu kira aku sudi kau madu! Brengsek kamu! Beraninya kau mempermainkan perasaan ku!" Tandas Ririn dengan emosi.


"Jika kamu tidak mau, kamu bisa menggugatnya," ucap Zian santai.


"Itu adalah keputusan mu sendiri, aku tidak mengatakan ingin berpisah dengan mu," ucap Zian dingin.


Ririn terduduk, pikirannya berkecamuk.


"Pertimbangkan sebelum mengambil keputusan," ucap Zian seraya memutar tubuhnya melangkah pergi meninggalkan Ririn.


Ririn menggenggam erat tangannya, menatap punggung Zian yang pergi hendak membuka pintu kamar.


"Mama ..?"


Apakah mama sudah mendengar semuanya?


Zian sedikit kaget melihat Serena berdiri di ambang pintu sambil menatapnya dengan penuh pertanyaan.


"Apa yang terjadi?" Ucap Serena dengan tatapan matanya yang teduh.


Kalimat Serena membuat Zian gelagapan, ia mengusap belakang kepalanya, tidak tau harus mengatakan apa?

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa ma,"


Serena mengerutkan keningnya, matanya tajam menatap zian. "Bohong, Aku sudah mendengarnya," ucap Serena dengan nada yang pelan, namun membuat zian bergetar.


"Ma, maafkan Zian, aku hanya ..,"


Plak ....


Serena menampar pipi Zian dengan keras, hingga zian menoleh ke samping.


"Siapa yang mengajarkan kamu untuk berpoligami?" Ucap Serena.


Walaupun Serena tidak begitu menyukai Ririn, namun dia tidak menyukai Zian mempunyai istri dua sekaligus. Mereka tidak ada keturunan untuk berpoligami, akan tetapi, siapa yang di tiru Zian seperti ini?


Zian seperti ini juga karena ulahnya Ririn sendiri, tidak peduli dan sering mengabaikan suaminya, Serena tau itu. Namun entah mengapa, Serena merasa jijik mendengar kata poligami, apa lagi itu terjadi pada anaknya sendiri.


"Ma, Zian bisa jelaskan, Zian hanya ...." Serena langsung pergi meninggalkan Zian, tanpa menunggu Zian menyelesaikan kalimatnya terlebih dahulu.


Mama marah?


Zian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tidak tau harus bagaimana di rumah ini.


Ririn memandang ke arah Zian, bibirnya terangkat kesamping, hingga terlukis sebuah senyuman yang sinis.


Mendengar ekspresi mama mertua, Ririn seakan mendapatkan celah yang sangat besar, ini kesempatan untuk mendesak Zian.


.


.


.


.


.


Ikuti terus kisahnya ya, jangan lupa vote dan like ya, agar author semakin sering untuk update. Yuk komen yang banyak.

__ADS_1


__ADS_2