Cinta Pria Beristri

Cinta Pria Beristri
ingin membuktikan


__ADS_3

Ririn menatap Zian dengan tubuh yang bergetar, ia memperhatikan Zian dari ujung kaki sampai ujung rambut. Mencari kebenaran di wajah suaminya. Perasaan hatinya tidak bisa di bendung.


"Kamu kenapa?" Tiba-tiba Zian bertanya menatap Ririn yang menatapnya tajam.


"Kenapa? Apakah kamu benar-benar tidak tau?" Ucap Ririn dingin.


Zian mengerutkan keningnya tidak mengerti apa yang di katakan Ririn lalu mengangkat kedua bahunya, menandakan ia benar tidak paham.


"Apa yang kamu sembunyikan dariku?" Ucap Ririn dingin, sedingin salju.


Zian menatap Ririn penuh.


"Ririn, coba katakan dengan jelas, jangan buat aku bingung dengan kata-kata kamu," ucap Zian menegaskan.


"Kamu jangan pura-pura begok Zian, kamu pasti tau apa yang kamu sembunyikan dari ku selama ini!" Ririn tidak bisa menahan emosinya lagi.


Deg ....


Jantung Zian seakan berhenti berdetak. "Pasti Ririn sudah mengetahui tentang dirinya dan Sheril," namun Zian berusaha untuk tenang.


"Ririn," Zian memegang kedua bahu istrinya.


"Duduk dulu, jangan bicara emosi kayak gini," ucap Zian menenangkan hati Ririn. Ririn melangkah mundur, menepis tangan suaminya yang memegang pundaknya.

__ADS_1


"Sekarang bicaralah, apa yang kamu tau dariku?" Ucap Zian setelah mereka duduk.


Ririn menatap Zian dengan masam. Bibirnya tersenyum kecut.


"Aku yang minta penjelasan dari kamu, apa yang kamu sembunyikan dariku selama ini," ucap Ririn dengan pertanyaan yang sama seperti tadi.


"Ririn, jika kamu tidak mengatakannya, aku tidak tau maksudnya kamu apa?" Ucap Zian dengan nada yang datar.


Ririn kesal dengan ucapan suaminya yang dari tadi seperti menghindar.


"Munafik kamu Zian, kamu tidak ingin mengakui kebohongan yang kamu buat, penghianat kamu!" Ucap Ririn dengan suara yang lantang. Ia menatap tajam Zian.


"Apa maksud kamu?" Ucap Zian.


"Ririn, apa yang kamu katakan, dari mana kamu tau? Jangan mudah percaya dengan apa yang belum kamu tau dengan pasti," Ucap Zian seraya ikut berdiri di samping Ririn.


Ririn memutar badannya, menatap Zian dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya, memang aku belum mengetahuinya dengan jelas, yang jelas, naluri seorang wanita itu sangat kuat, ngk mungkin ada asap ngk ada api, aku akan membuktikannya," ucap Ririn dengan tersenyum kecut.


"Silahkan, apa yang ingin kamu buktikan, aku siap menerima konsekuensinya," ucap Zian tenang, meski di hatinya gunda-gulana, memikirkan masa depan rumah tangganya, terutama buat putrinya.


"Iya oke," ucap Ririn menatap keluar jendela kamarnya. Sementara Zian berlalu pergi meninggalkan Ririn yang mematung menatap keluar.

__ADS_1


"Maafkan aku Ririn, aku tidak bermaksud menghianati kamu,"


Kalau bukan kejadian yang tidak di inginkan itu, itu tidak akan terjadi. Jujur ini bukan di sengaja, tuhan sudah menentukan takdir ku untuk mencintainya juga, aku sudah nyaman bersamanya. Bagaimana jika Ririn tidak mau menerima takdir ini? Pikiran Zian berkecamuk, ia meremas rambutnya dengan erat.


"Ah sudahlah, aku tidak mau pusing, jalani saja, biar waktu yang menentukan, yang jelas aku tidak akan pernah meninggalkan Sheril, dan juga tidak akan menceraikan Ririn. Tapi .., jika Ririn meminta memilih, ah .... "


Zian benar-benar memikirkan keadaan rumah tangganya. Ia tidak ingin menceraikan Ririn karena memikirkan masa depan Aura. Kasihan putrinya yang masih kecil, yang masih membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya, soal Perasaannya pada Ririn, Zian tidak tau, yang jelas hubungan mereka sudah tidak seperti dulu lagi, sering tidak akur, sering berantem, apa lagi Ririn yang suka marah-marah tidak jelas, tidak perhatian, tapi Zian sudah terbiasa, selama ini hidupnya seperti tidak berarti.


Tapi setelah mengenal Sheril, hidupnya yang sudah seperti mati, kini hidup kembali, Bekerja jadi semangat, bahkan yang tidak di sangka sangka perusahaannya yang selama ini tidak ada perkembangan sama sekali, kini semakin maju bahkan semakin berkembang pesat. Zian merasa tanggung jawabnya semakin besar. Zian tidak tau, apakah Sheril yang membawa berkah? atau memang sudah waktunya perusahaannya berkembang, Zian tidak mengerti, hanya ia berpikir semenjak menikahi Sheril, Zian bisa melakukan apa pun, termasuk membeli semua yang ia inginkan.


Bahkan mama Serena sempat takut melihat keberhasilan putranya. Mama Serena mengira Zian berbuat curang.


"Ma ini bukan hasil korupsi, Zian benar-benar bekerja dengan keras, mama jangan khwatir, tidak ada apa-apa dengan perusahaan Zian, ini murni Ma, bukan berbuat curang," jelas Zian setelah Serena mendesak Zian untuk menjelaskannya.


"Mama tidak ingin kamu berbuat macem-macem nak, bekerjalah dengan benar, mama tidak ingin kamu mendapatkan masalah besar," ucap Serena dengan wajah khwatir.


"Tidak ma, mama jangan khwatir, di balik kerja keras Zian, mungkin memang sudah seharusnya perusahaan ini berkembang. Zian akui, selama ini memang Zian bertekad dan berusaha keras, dan inilah hasilnya," ucap Zian.


Serena tersenyum sambil mengangguk membenarkan putranya. Zian langsung memeluk mamanya dengan erat.


"Mama percaya sama kamu sayang," ucap Serena membalas pelukan putranya.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


yuk like dan komen ya agar author update lagi


__ADS_2