
Pelayan toko itu tampak membungkus semua baju yang sheril coba waktu di kama pas. Pelayan itu memasukkan barang itu kedalam paper bag dan langsung memberikannya pada Zian.
Sheril merasa aneh, untuk apa Zian membeli baju mahal sebanyak itu, tapi menurut Zian itu tidaklah seberapa. Harga bajunya juga hanya standar bagi Zian.
Zian memberikan paper bag yang berisi tas yang baru saja di belinya di butik.
"Buang tas mu yang itu dan pakai yang ini," ujar Zian.
Sheril menatap Zian yang mengitari mobilnya, lalu Zian segera masuk dan duduk menghadap setir mobilnya.
"Apakah kamu tidak mendengar," ujar Zian.
"Iya, baiklah," ujar Sheril sambil membuka paper bag itu dan memasukkan semua isi dari dalam tasnya, kemudian Sheril memasukkan tas lamanya kedalam paper bag yang tadi.
Zian melirik Sheril sekilas, lalu kembali pokus kedepan.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Zian kemudian.
"Apa saja," ucap Sheril singkat.
Tidak begitu lama Zian kembali menepikan mobilnya di sebuah restoran besar.
"Ayo turun," ajak Zian setelah ia memarkirkan mobilnya.
Di dalam sana terdapat berbagai menu makanan, minuman dan cemilan lainnya. Sheril mengurangi Zian dari belakang. Ia tiba-tiba berhenti mendadak seperti yang ia lakukan di butik tadi. Untung saja Sheril langsung menahan langkahnya, kalu tidak, ia akan menabrak tiang listrik itu lagi.
Zian sengaja memilih tempat duduk yang paling pojok. Karena ia tidak ingin terganggu dengan kebisingan pengunjung lainnya.
pelayan restoran langsung memberikan pelayanan terbaik, ia segera menyodorkan daftar menu dan juga kertas untuk mencatat pesanannya.
Zian langsung mengambil menunya.
"Kamu mau minum apa? Ada ice cream, dalgona coffe, jus atau jus buah lainnya?" Tanya Zian.
"Ice cream saja," ujar Sheril.
Zian ingin mencatat ice cream yang di sebutkan Sheril.
"Tidak bukan ice cream, dalgona coffe saja," ujar Sheril masih nampak berpikir.
__ADS_1
"Bukan, bukan dalgona coffe, tapi jus buah, iya aku mau jus buah saja," ucap Sheril. Ia sadar dengan tingkahnya, Sheril langsung menundukkan wajahnya.
Zian tersenyum menatap Sheril yang merasa lucu menurutnya.
"Kamu boleh memesan semuanya," ujar Zian.
"Benarkah," ujar Sheril nampak senang sekali, ia tersenyum manis menatap Zian, sementara Zian langsung menganggukkan kepalanya.
"Aku mau jus buah dan juga ice cream," ujar Sheril berbinar. Zian langsung mencatatnya tidak lupa ia juga memesan mie ayam yang Sheril minta pagi tadi pada bibi Arum. Tidak itu saja Zian juga memesan berbagai menu yang enak dan lezat, termasuk cemilan.
Tidak begitu lama, pesanan makanan sudah di sajikan.
Sheril tidak sabaran, tanpa menghiraukan Zian, ia langsung menyeruput jus strawberry.
Zian menatap Sheril, Sheril pun menyadari itu. Ia langsung menundukkan kepalanya. Ia sadar kalau sikapnya tidak sopan, tapi bagaimana pum juga, ia ingin sekali menghabiskan minuman yang ada di depan matanya. Entah mengapa ia menjadi rakus seperti itu, mungkin saja karena bawaan bayinya.
"Makanlah dulu," ujar Zian menyodorkan semangkuk mie dengan taburan daging ayam di atasnya. Kemudian Zian juga mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Sheril langsung menyantap mie ayam nya seperti orang yang tergesa-gesa.
"Pelan-pelan makannya," ujar Zian melirik Sheril.
Tiba-tiba Sheril tersedak mendengar teguran dari Zian.
"Apa yang aku katakan, kamu tersedak akhirnya," ujar Zian panik sambil mengambil segelas air putih dan meminumkannya pada Sheril, kini posisi Zian duduk tepat di sebelah Sheril.
Zian mengelus belakang Sheril dengan lembut.
Wajah Sheril langsung memerah, telinganya panas menahan malu.
"Maaf, aku sudah membuat mu malu," ujar Sheril menundukkan wajahnya.
"Tidak perlu meminta maaf, aku hanya khwatir padamu, ayo habiskan makananmu, jangan tergesa-gesa seperti tadi," ujar Zian setelah Sheril sudah baikan lagi.
Entah apa yang Sheril rasakan, perasaannya sangat berbeda dari sebelumnya. Ia merasa dadanya berdebar.
Setelah selesai makan, mereka kembali kedalam mobilnya. Zian meluncurkan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Apa kamu menginginkan sesuatu?" Tanya Zian kemudian.
__ADS_1
"Tidak," ucap Sheril singkat. Ia tidak ingin merepotkan Zian lagi.
"Aku ingin bicara padamu," ujar Sheril melirik Zian sekilas.
Em ... ujar Zian dengan kebiasaannya.
"Kapan aku di perbolehkan pulang?" Tanya Sheril membuat Zian langsung menegang. Zian langsung menepikan mobilnya. Lalu menatap Sheril dengan seksama.
"Pulang kemana maksud kamu?" Ujar Zian.
"Apakah kamu lupa apa yang kamu katakan sebelum menikah," ucap Sheril datar.
"Menikah, menikah apa maksudnya? Kapan dan siapa yang menikah," ucap Zian.
Sheril melirik Zian. "Waktu itu kamu berjanji akan membebaskan aku, pulang dengan keluargaku setelah kita menikah," ujar Sheril menundukkan wajahnya.
Zian mengalihkan pandangannya.
"Maksud kamu pulang apa?" Tanya Zian.
"Ya aku ingin kembali dengan keluarga ku, keluarga ku pasti sangat kehilanganku selama ini," ujar Sheril.
"Kamu yakin, dan tidak ingin kembali lagi ke villa?" Tanya Zian.
"Aku tidak tau, di sini juga, apa yang harus aku lakukan," ujar Sheril.
"Jadi kamu menganggap aku ini siapa? Apakah suamimu ataukah orang lain?" Tanya Zian membuat Sheril langsung menatap wajahnya.
"Sudahlah, tidak usah membahas masalah ini, kita jalani saja. Yang aku bicarakan sekarang, aku ingin pulang dengan keluargaku," ujar Sheril membuat Zian terdiam.
"Baiklah, kalu itu benar keinginanmu, besok kamu bisa pulang," ujar Zian datar.
Sheril tidak menyahuti ucapan Zian, malahan ia memikirkan bagaimana sikap Kakek dan neneknya setelah ia pulang tanpa kabar selama ini.
vote dong kak, jangan diam diam wae.
**yuk vote lagi ya 😊
tekan 🌟🌟🌟🌟🌟 kalau kalian terkesan dengan karya author ini. dan jangan lupa dukung karya author mulai dari sekarang ya
__ADS_1