
PROLOG
"Entah sejak kapan aku sangat ingin selalu di dekatnya, ingin selalu melindunginya, bahkan aku ingin sekali kalau hanya akulah yang berada di sisinya baik itu dihidup maupun di pikirannya, hanya aku... hanya aku yang ada di hatinya.
Mungkin kedengerannya memang GILA!karena aku telah menyukai adikku sendiri. Aku yang sampai saat ini belum pernah mencintai wanita manapun, walau selama ini banyak wanita di sekelilingku. Tapi tidak tau kenapa, disaat aku berada bersamanya jantungku langsung berdebar debar, hatiku merasa nyaman dan bahagia, bahkan aku berharap kalau dia memang terlahir untukku.
Tadi, aku sudah mempertanyakan perasaanmu terhadapku, tapi sepertinya kamu tidak mengerti dan kamu benar-benar tidak sedikitpun tau apa yang sedang aku rasakan sekarang.
Huuuft... Dan kamu malah bilang muka ku layu?
Apa segitu nampaknya perasaan kecewaku ini?
Tapi, aku tidak ingin menangis dan tak boleh sampai menangis!
Kini, aku hanya ingin menatap ke atas langit yang penuh warna, supaya airmataku tidak terjatuh.
Terkadang aku bertanya pada diriku sendiri, mengapa setiap orang tidak bisa hidup seperti yang mereka inginkan?
Apa tidak ada satupun yang hidupnya sempurna?
Sejauh mataku memandangi langit, aku ingin mencari bintang jatuh untuk mencurahkan harapannku. Tapi, mengapa fajar datang terlalu cepat? hingga sebanyak apapun aku berdo'a, pada akhirnya aku tidak menemukan satu bintang pun untuk dilihat.
Andai saja kamu tau, bahwa tidak ada hari dimana aku tidak mengingatmu, karena aku tidak pernah sedetik pun melupakanmu. Senyuman diwajah manismu, selalu membayang dihadapanku.
Setiap kali aku merasa sedih, aku terbiasa berkata kalau aku baik-baik saja.
Andai waktu bisa di hentikan, aku ingin selalu bertemu denganmu, selalu bersamamu, selalu jadi bagian di hidupmu. Namun aku sadar, bahwa sekarang tidak ada apapun yang bisa aku lakukan untuk memiliki mu.
Wahai sang fajar, apakah benar-benar tidak ada yang bisa aku lakukan?
Kalau begitu biarlah sudah...
Walau hatiku sedih, tapi setidaknya diposisi ini sudah sangat aku syukuri, karena aku akan selalu dekat dengannya, dan kalau memang bisa seakrab ini sampai tua nanti, pastinya sudah sangat membahagiakan hidupku, jadi apalagi yang aku harapkan? mungkin Tuhan masih menyimpan jodohku disuatu tempat, aku percaya itu!
(Didalam kelas)
Hiks.. Hiks... Hiks...
Terlihat seseorang gadis yang sedang menangis duduk sendirian di kursi belakang kelas.
TAP TAP TAP!
Samar samar terdengar suara langkah kaki mendekatinya, namun gadis yang sedang duduk itu tidak sedikit pun menghiraukannya.
"Siapa itu? kenapa dia mendatangiku?" guman si gadis yang tambah rapat menutupi wajahnya dengan tangan. "Aku mohon, jangan dekati aku sekarang!" teriak dalam hatinya sambil menahan sesak didada.
TAP!
Suara langkah yang tidak diharap itu malah berhenti tepat disampingnya, lalu mengusap usap punggung si gadis dengan lembut.
"Hiks sniift.. Aa..apa kamu nggak tau kalau aku sedang seperti ini aku nggak akan mengangkat kepalaku, aku nggak akan membuka tanganku, dan aku juga nggak mau siapapun mendekatiku.. Aku cuma mau sendirian, jadi aku mohon pergilah!" pinta si gadis dalam kesedihannya.
"Sudah Ra, sudah... kamu jangan sedih lagi ya? orang kayak gitu nggak pantas kamu tangisi Ra..." ucapnya orang itu menasehati.
__ADS_1
Mendengar ucapan dan suara orang yang mengelus-elusnya, si gadis langsung berdiri kemudian memeluk erat orang tersebut.
Air mata yang mengalir tanpa bisa dikontrolnya membuat buram penglihatan matanya, belum lagi isak tangisnya semakin tersedu sedu, menambah rasa sesak napas didadanya. Jangankan untuk berbicara dengan lancar, hanya sekedar membuka mulut pun bibirnya sudah terasa berat.
"hikshiks..! Ki, aa..aku gak nyangka!
dia, dia tega banget! hiks.. Salahku aa..apa Ki?!" tanyanya terbata-bata.
"Nggak ada Dara, kamu nggak ada salah apa apa kok! kamu itu cuma terlalu polos, terlalu gampang percaya sama orang! jadinya mereka senang mempermainkan kamu!" Jawab Kiki sembari membelai rambut Dara.
"Sudah sudah..! buat apa kamu keluarin airmata buat cowok kayak gitu? Seharusnya, sekarang ini kamu justru jadi lega, soalnya kan sudah tahu sifat asli dia seperti apa? lagian juga ada aku disini, aku bakal selalu nememin kamu. Jadi, kamu nggak usah tergantung sama dia lagi, iya kan?!" ucap Kiki berusaha menenangkan.
Mendengar Kata-kata Kiki barusan, Dara pun langsung menyadari bahwa apa yang dikatakan sahabatnya memang ada benarnya.
Sekarang, gadis yang tadinya terlihat bagai awan mendung itu, kini mulai kembali cerah seperti mentari pagi. Perasaan gundahnya sudah lebih membaik dan lebih tenang walaupun masih menyisakan trauma yang berat, tetesan hangat juga sudah mulai berhenti mengalir dari mata indahnya.
Perlahan mereka berdua saling melepaskan pelukan. Sambil tersenyum, Kiki menyodorkan tisue kepada Dara agar segera menghapus sisa airmata dipipinya.
"Dara, kamu pasti kuat, kamu pasti bisa bertahan! (menyemangati) Hmm.. gimana kalau sekarang aku antar kamu ketoilet? kamu harus mencuci muka supaya segar kembali, aku nggak rela kalau muka kusut mu ini sampai dilihat sama ORANG itu, karena itu akan membuat dia merasa bangga saat dia tau kalau kamu menagis karena dia!" bujuk Kiki tambah menguatkan hati, kemudian Dara pun menganggukan kepala sambil mengambil sapu tangan didalam tas dan segera mengantonginya.
Dengan tisue ditangannya, Dara menutupi hidung dan bibirnya selama perjalanan menuju ke toilet. Karena baginya, menangis itu adalah sebuah penyakit yang sangat merepotkan! karena disaat sedang atau setelah menangis, gadis itu paling tidak suka dan bahkan tidak mau kalau sampai wajahnya terlihat oleh orang lain, sebab dalam keadaan seperti itu dirinya akan terlihat seperti sapi yang mata dan bibirnya jadi merah dan membengkak! Maka dari itu, dia selalu berusaha kuat menahan rasa sedihnya agar jangan sampai menangis ditempat umum.
Dan karena Kiki sudah sangat paham dengan kondisi Dara, dengan langkah terburu buru mengiringi dan melindungi sahabatnya itu sepanjang jalan, agar wajah Dara jangan sampai terlihat orang lain.
"Untung aja sekarang ini sekolah sudah agak sepi, jadi kita nggak harus kucing-kucingan (sembunyi/menyelinap) dari orang lain!" kata Kiki menepiskan cemasnya.
Sesampainya ditoilet, tujuan utama mereka tentunya adalah washtuple!
Dengan gerak cepat, Dara langsung memutar keran yang mengalirkan air dingin dari dalamnya, kesejukan air itu membuat wajahnya tidak lagi lengket dan panas lagi seperti tadi. Diresapi dengan seksama tetesan air yang menyapukan debu sekaligus melunturkan hawa gerahnya.
"Gimana, sudah lebih baik?" tanya Kiki sambil melempar senyum manis.
Setelah merasa agak segar, gadis itu mengeringkan wajah dan tangannya dengan sapu tangan yang tadi sudah kantonginya. Namun baru saja ingin bercermin mereka berdua mendengar suara sekumpulan cewek yang sedang tertawa nyaring mendekati pintu toilet tempat mereka berada.
"~Khahahahak!!! Hahaha!!!!~"
Seketika itu Dara yang mulai merasa gugup segera menatap Kiki dari pantulan cermin dihadapannya, sambil menunjuk-nunjuk wajah, dia memberi istrahat dengan maksudnya : "Apakah wajahku masih terlihat abis menangis?!" menatap melas
Kiki yang sudah paham dengan maksud Dara, dia pun segera mengacungkan jempol seolah membalas isyarat jawaban itu : "Sudah!".
Tapi entah mengapa, walaupun Kiki sudah mengatakan demikian, rasa percaya diri Dara belum seutuhnya pulih. Dia masih merasakan sembab dimatanya yang terlihat masih merah itu, "Aduh, mudah-mudahan tidak ada yang menyadarinya!" harap Dara dalam hati.
BRAK!!!
Suara gebrakan pintu yang terbuka cepat dan kuat membuat Dara jadi sangat terkejut mendengarnya,
"Aaah! ya ampun, sekalinya Amira dan kawan kawannya!" gumam kaget Dara dalam hatinya.
"Kyaaa Hahahaaa...!!
Kasihannya dia... Haha...!"
..~ups~..
Dalam sekejap tawa nyaring mereka langsung berhenti saat melihat Dara dan Kiki berada didalam, lalu ada beberapa pasang mata melirik sinis kearah mereka berdua. Tidak sampai disitu, saat lewat dibelakang Dara dan Kiki, bibir mereka juga mulai saling berbisik bisik sangat pelan, namun karena tidak tau apa yang sedang mereka katakan dan pikirkan, Dara pun brrpura-pura tidak melihat apalagi memperdulikan nya.
__ADS_1
"Eheeem!!" Tiba tiba Kiki mendekati Dara, kemudian dengan nyaring mengatakan :
"Makanya Dara, kan sudah aku bilangin kamu dari kemaren-kemaren! biarin aku aja yang ngajarin kamu pakai make-up, jadinya nggak bakalan deh mata mu sampe kelilipan eyersliner kayak gini, iya kan?! heheheee!!" ucapnya sambil senyum-senyum kearah Dara sembari mengedipkan mata.
Dara yang memiliki pemikiran sangat lambat dan polos, dari tadi cuma fokus dengan keadaan kelopak mata bengkaknya. Dia sama sekali tidak paham dengan ucapan Kiki barusan! Jadi, saat Kiki tiba-tiba bicara seperti iti barusan, si gadis polos malah kebingung untuk menjawabnya, ditambah lagi dengan keadaan Dara yang sedang patah hati, tentunya membuat dia sama sekali tidak bisa konsentrasi menanggapi apapun sekarang ini.
"Apa sih maksudnya Kiki?" tanya Dara dalam hati.
Namun saat Kiki memberi sedikit isyarat gerakan, akhirnya Dara pun paham maksud dari ucapannya barusan, yang ternyata Kiki sedang membantu Dara mencari alasan penyebab mata merah dan bengkaknya itu.
"Aa.. Iya iya! aku kan tadinya mau belajar sendiri Ki, aku berniat mau ngalahin kamu yang mendapat predikat putri make-up disekolah ini. Tapi ya sudahlah, sekarang aku ngaku kalah! Hmm... nanti pas pulang sekolah kita kerumahmu ya? ajarin aku memoles wajah sedikit-dikit!" Kata Dara sambil merengek manja bermaksud mengikuti alur drama yang dibuat Kiki.
"Iya Dara, pokoknya aku pasti ajarin kamu kok, dan buat acara kencan mu dihari minggu besok, kamu pasti bakal aku dandanin secantik mungkin! (tangannya menepuk bahu Dara)
tapi jangan lupa, kenalin juga aku sama cowok ganteng yang baru kamu kenal itu ya? Soalnya aku naksir juga sama temannya yang tinggi putih itu!!" sambung ucapannya sambil memainkan alisnya.
"Oo..oke! nanti aku bakal kenalin juga ke kamu!!" Jawab Dara sambil tersenyum kaku karena sebenarnya tidak paham.
"Aduh! apa lagi sih maksudnya Kiki barusan? kok segala ngomongin kenalan baru, cowok ganteng, kencan? apa-apaan dengan semua ini? kenapa dia terlalu banyak mengarang cerita untuk ku?" pikir Dara kebingungan
Tap! Tau-tau lengan Kiki merangkul pundak Dara,
"Ayo Dara!" ajaknya sambil menarik dan mengarahkan sahabatnya itu keluar dari toilet.
Kali ini, biarpun Dara sudah berusaha berpikir keras, tetapi tetap saja si gadis lugu itu benar benar masih bingung dengan ucapan Kiki barusan.
Dan setelah mereka sudah sampai didepan pintu kelas, Dara langsung celingak celinguk kearah sekelilingnya, dia memastikan tidak ada orang lain selain mereka berdua disitu, lalu dengan cepat menarik tangan Kiki kearah meja didalam kelasnya.
"Sini Ki, kamu duduk sini dulu!" pinta Dara mengajak Kiki supaya duduk kursinya, kemudian mereka duduk berdampingan.
"Kiki, tolong jelasin apa yang kamu maksud dengan kenalan baru, cowok ganteng dan kencan?!" tanya Dara dengan tatapan serius karena sangat penasaran.
"Hei, hei, hei.. kamu kenapa Dara? kok sampe serius banget sih nanggapin nya?! aku kan asal ngomong aja tadi, tujuan ku ngomong kayak gitu, supaya si Amira bakal mengira kalau kamu itu lagi deket sama cowok lain! dan siapa tau aja nanti dia bakalan ngadu sa Arga. Jadi, itu semua buat membalas Arga supaya dia cemburu ke kamu, baguskan ide ku?" Kiki menjelaskan dengan penuh rasa percaya diri. Namun Dara yang polos, malah berpikir sebaliknya :
"Balas bikin cemburu Arga? tapi, bukannya nanti malahan dia bakal menuduh aku yang selingkuh?" tanya Dara khawatir
"Ya enggak dong Ra, kan kamu baru sebatas kenalan aja nggak sampe berduaan seperti yang mereka lakukan tadi!" jawab Kiki dengan santai.
"Mmm.. Ngomong-ngomong, memangnya mereka tahu kalau tadi aku sudah memergoki mereka berduaan dibelakang kelas?" SRIINK!!..pertanyaan Dara barusan, langsung mengubah ekspresi percaya diri Kiki menjadi layu dalam sekejap.
"i..i,iya juga ya? hehee!..." jawabnya sambil menggaruk kepala karena malu.
"Tapi... siapa tahu aja Ra, besok kamu beneran dapet cowok baru yang lebih baik dari dia!!" sambungnya mengalih kan topik seraya menebar harapan. Namun Dara yang sudah terlanjur cemas karena takut dituduh balik, merespon kata-kata Kiki barusan dengan agak kaku.
"Mm.. Mudah-mudahan, dan aku harap kamu juga cepat dapat cowok ya?!" Sahut Dara sambil tersenyum memaksa.
"Huuuft.. Andai aja kalau mendapatkan pacar semudah memungut krikil dijalanan, pasti aku nggak akan menangis seperti tadi!" gumam Dara dalam hatinya.
Dalam lamunan, dia berpikir dan terus saja membayangkan apa yang sudah dilihatnya tadi. Dia masih tidak percaya kalau pacar yang selama ini selalu mengisi hari-harinya, tiba-tiba saja kepergok dia sedang berdua'an dengan wanita lain di belakang kelas kosong.
"Ya Tuhan... Kenapa jadi seperti ini? hubungan yang sudah terjalin selama hampir dua tahun, tiba-tiba saja hancur bagai remukkan kaca.
Aku yang selama ini sangat mempercayai ketulusan dan kesetiaannya dalam sekejap dia tumbangkan begitu saja.
Asmara yang kita jalani dan lewati selama ini apa tidak ada artinya?
__ADS_1
Kenapa? apa salah ku? kenapa dia tega pada ku? kenapa dia mendua kan cinta ku? apa ini balasan atas cinta ku? hiks...
Tapi, tidak tau kenapa, di lubuk hatiku yang terdalam, aku merasa seolah-olah ada yang berbisik-bisik, dia mengatakan kalau apa yang aku lihat tadi adalah sebuah kesalahan!"