
Entah karena emosi atau memang karena dia benar benar ingin menjauhi Dara, Irvan yang baru sepuluh hari lalu mengalami kecelakaan dan ditambah lagi terpaksa harus mendonorkan darah untuk adiknya. Kemarin saat hendak pulang KeIndonesia ia sengaja berangkat lebih pagi dari rumah Dara karena memang sudah berencana akan kerumah sakit hanya untuk menyiapkan sekantong darah cadangan untuk Dara. Dengan ditemani Roy disampingnya, Irvan hanya berpesan agar Dara atau Arga jangan sampai tau hal itu kecuali memang darah itu akan digunakan.
"Irvan kamu kenapa... bangun nak....."
"Eeghh..." Irvan menyerengitkan dahinya berusaha menyadarkan diri saat mendengar panggilan ibunya.
Perlahan ia membuka mata dan samar samar terlihat ekspresi wajah ibu dihadapanya sudah panik,
"Ibu.... aku gak apa apa... cuma pusing...." bisiknya menenangkan ibu kemudian berusaha bangkit dari lantai
"Kuat gak? sini ibu bantu!" tanya ibu sambil membantu memapah dan membaringkannya keatas kasur. "Kamu sakit apa nak, kok bisa sampe pingsan gini?" tanya ibu cemas
"Aku gak apa apa buk, mungkin kecapean aja dari kemarin pagi kurang istirahat"
"Ibu antar kedokter yuk?"
"Gak usah buk aku beneran gak apa apa, paling istirahat sebentar aja sehat. Udah ibu gak usah cemas, lagian Indra bilang mau kesini pas pulang kerja!" sahut Irvan
"Kapan dia ngomong?"
"Kemaren pas aku mau pulang kesini!"
"Oooh, Kalau gitu ibu ambilkan sarapanmu kesini, tunggu sebentar ya!" kata ibu sambil beranjak mau kedapur
"Buk, (ibu menoleh) sama kopi ya?" pinta Irvan manja, ibu mengangguk dan tersenyum dalam ketidak tenangan dihatinya.
'Irvan ini kenapa lagi? dua kali sudah dia pulang pulang sakit begini, tahun lalu pas pulang dari bandung dengan alasan khawatir sama Dara dan sekarang malah pas pulang abis ketemu Dara. Ada apa sama dia dan Dara?" tanya ibu dalam hati
Sorenya Indra dan Rina yang baru pulang dari rumah sakit langsung datang menemui Irvan dikamarnya, tidak ketinggalan Indra yang selalu membawa alat kesehatan didalam tasnya segera memeriksa keadaan Irvan yang terlihat pucat. Kemudian Irvan menceritakan sedikit Kepada dua teman dokternya itu apa yang sudah dia lakukan sebelum pulang ke Indonesia.
"Kamu bener bener udah gak waras ya Van? mana boleh orang mendonorkan darah dua kali dalam seminggu, itu sama aja mau bunuh diri dengan cara mengurangkan darah!" Indra mengomelinya
"Van apapun masalahmu, jangan sesekali ngorbanin kesehatan! apa kamu bisa menjamin dengan sekantong darahmu bisa menyelamatkan Dara seumur hidup? yang ada malah bisa bisa dia duluan yang bakal sekarat kalau sampe tau kamu kenapa napa karena dia!" sambung Rina ikut memarahi. "Lagian untuk apa sih kamu menyiksa diri dengan berusaha menjauhinya, kan ujung ujungnya kamu nyiksa dia jugakan? apa kamu puas dengan akhir yang seperti ini?!" tanya Rina menekan
"Aa.. aku, aku...." ragu ragu ingin bercerita detail karna Indra belum tau kalau dia menyukai Dara.
Saat Rina melihat ekspresi Irvan menjadi gugup, dia langsung paham kalau Irvan sedang punya masalah pribadi dengan Dara yang tidak bisa ia ceritakan didepan Indra dan akhirnya Rina mengalihkan topik.
"Jadi hari apa kamu mau balik KeBandung?" tanya Rina yang berencana akan menanyakan masalah dia dengan Dara via telpon saja.
Tidak jauh berbeda dengan keadaan Dara yang saat ini sedang ditemani Arga makan siang, dia merasa tidak nyaman dalam hatinya namum tidak tau kenapa dan dari mana asal ketidak nyamanannya itu.
"Beib kok malah bengong? ayo dimakan baru tuh minum obat!" tegur Arga
"Aah, iya!" sahut Dara yang tersadar dari lamunannya.
"Kamu kenapa sih beb? apa yang kamu pikirkan atau masih ada pertanyaan dalam hatimu yang masih mengganjal?" tanya Arga sembari mengelus pipi Dara
"Gak ada, aku gak ada pertanyaan lagi. Kalau aku masih penasaran bisa aja aku tanya sama mamah atau ibunya kak Irvan, tapi buat apa? takutnya malah bikin mamah disana jadi khawatir sama aku. Lagian dengan seiringnya waktu berputar pasti akan terungkap juga dengan sendirinya, apa lagi kalau ingatanku sudah pulih semua, pasti aku nggak akan bertanya tentang masa laluku lagi kan? Cuma perasaanku dari tadi nggak enak, tapi nggak jelas kenapanya jadi aku bingung sendiri deh!" Jawab Dara apa adanya
"Mungkin kamu bosen karena sudah lebih seminggu dirumah sakit. Gimana kalau habis ini kita jalan jalan? kamu mau kemana ngomong aja, mau nonton atau makan eskrim yang dideket jembatan misalnya?" tawaran Arga berusaha menyenangkan pacarnya.
__ADS_1
"Iya, aku mau!" sahut Dara tersenyum walaupun masih sedih.
Setelah selesai makan dan minum obat Argapun mengajak Dara kerumahnya untuk menemaninya mengambil dompet dan mobil.
"Aku tunggu disini ya?" kata Dara yang langsung menuju sofa ruang tengah.
Dan Baru sampai depan pintu kamar, Arga kepapasan dengan ibu tirinya:
"Arga, nanti malam kamu harus tidur dirumah, nggak baik tidur dirumah perempuan yang belum ada ikatannya!" tegur ibu tirinya menahan Arga masuk kamar
"Ooh ya? gak boleh bermalam dirumah perempuan yang belum ada ikatannya? tapi menjebak suami orang supaya menghamilinya boleh?" sindiran pedas Arga langsung keintinya
"Ka,kamu!!" gregetan
"Kenapa, apa aku salah ngomong? lagian aku ini bukan suami siapa siapa jadi masih sah sah aja kalau mau berbuat apapun dengan pacarku!" BRAK!! langsung menutup pintu kamarnya
Dengan hati kesal ibu tirinya Arga pergi keruang tengah yang kebetulan bertemu Dara yang sedang duduk sendirian disofa.
"Eeh ada Dara sekalinya... rapih banget, mau jalan ya?" tanya ibu tiri Arga yang selalu berpura pura ramah didepan orang
"Iya tante, kami berdua mau jalan jalan!" jawab Dara tersenyum
"Berdua aja! nggak sama Sovia? kamu kan masih sakit nanti kalau tiba tiba kumat dijalan gimana?" sok perhatian
TAP TAP TAP!
"Beib ayo!" panggil Arga yang langsung berjalan cepat menuju pintu keluar
"Tunggu dulu sayang, masa pamitnya begitu aja sih? kan kamu disini jauh dari mamahmu jadi anggap aja mamahnya Arga ini yaa mamahmu juga, cium dulu!" pintanya
"ii,iya tante.." sahut Dara canggung lalu dengan polosnya cipika cipiki dengan ibu bermuka dua itu
"BEIIIIB??" Panggil Arga tidak sabaran membuat Dara kalang kabut berlari keluar menghampirinya. "Kamu ngapain dulu sih beib?" tanya Arga yang tidak suka melihat Dara dekat dengan ibu tiri nya.
Setelah masuk kedalam mobil Arga mendapati ada bekas lipstik dipipi Dara yang sontak membuat dia jadi jengkel.
"Apa apaan ini ada bekas lipstik dipipimu?" tanyanya emosi
"Barusan mamahmu......"
"Aaah... cepat hapus bekasnya!! (sambil menyodorkan tisue) aku gak suka ya ada yang mencium kamu selain aku dan keluargamu!" ucap Arga mengancam sambil mulai menginjak gas mobinya
"Ta,tapikan itu keluargamu beib?"
"Bukan!" jawab Arga cetus membuat mata polos Dara langsung berkedip kedip kebingungan.
"Kok sama mamah sendiri begitu beib? gak baik tau, nanti durhaka!" kata Dara yang lupa kalau itu bukan mamah kandung Arga
"Udah.. pokoknya aku gak rela kamu dicium sama orang lain!" tekannya
"Kalau gitu, kenapa kemaren kamu gak protes pas mas Irvan nyium jidatku didepanmu, kan kamu tau dia bukan saudaraku?"
__ADS_1
"Kalau dia yaa beda lagi, dari awal aku sudah menganggap dia itu sebagai kakak kandungmu. Lagian gimana aku bisa protes kalau mamahmu aja memang sudah terbiasa dengan sikapnya kekamu yang seperti itu dari kecil?!" jawab Arga tanpa ragu.
Lalu tiba tiba Arga teringat kata kata Edward didapur semalam, DEGDEG! DEGDEG! mendadak jantungnya berdebar debar dan timbul perasaan tidak nyaman dalam hati.
"Aduuuh... Kok aku malah jadi terus terusan kepikiran omongan Edward sih? Tapi kalau memang perhatian dan kecupan yang biasa Irvan lakukan kepadanya ternyata beneran karena cinta gimana?" tanya Arga dalam pikirannya,
"Eeemmm beib, apa boleh nanti malam aku nginep lagi dirumahmu?" tanya Arga tiba tiba
"Nginep?.. memangnya kamu gak takut nanti dimarahin?"
"Papahku masih lama beib di Indonesia, dia mau tunggu sampe malam 40 hari alm. kakekmu!"
"Ooh bukan sama papahmu, maksudku sama mamahmu?"
"Beib, aku minta jangan bahas mamahku lagi ya?"
"Memang ada apa sih, kok kayaknya kamu nggak suka sama mamahmu?"
"Maaf beib aku gak bisa cerita sekarang, aku lagi malas banget ngebahasnya, tapi pada saatnya kamu ingat lagi juga bakal tau yang sebenarnya, ya?" pinta Arga dengan serius lalu Dara melemparkan senyuman bermaksud memahaminya.
'Keadaanku yang seperti sekarang ini bagaikan ruh yang sedang masuk ketubuh orang lain. Jangankan kehidupan masa lalu, bahkan diriku ini sebenarnya siapapun aku nggak tau.
Dan sekarang aku mulai merasakan kalau begitu banyak rahasia yang sedang mereka tutupi dari aku, tapi hal itu justru malah membuat aku jadi semakin penasaran dari waktu kewaktu. Sejujurnya aku juga lelah dengan rasa kaget dari kebenaran yang tidak pernah aku duga sebelumnya, ya Tuhan aku ingin sekali ingatanku bisa pulih secepatnya agar aku tidak terus terusan bertanya seperti hari ini!' gumam Dara dalam lamunannya.
"Dah sampe, ayoo beb!" kata Arga sambil mematikan mesin mobilnya,
'kok dia malah melamun sih?' tanyanya dalam hati saat melihat pandangan kosong dimata Dara, kemudian Arga turun lebih dulu dan berniat membukakan pintu disebelah gadisnya itu,
JGLEK!
"Beib?... hey....?" sambil melambaikan tangan dihadapan wajah pacarnya yang tidak juga bergeming.
"Oooh kayaknya ada minta nih!!" ucap Arga mengancam gemas, kemudian,
"Emmpp!!..."
"Hmmmp??!!" DEGDEG! DEGDEG! mata Dara sontak terbelalak kaget saat mendapati wajah Arga sudah dihadapannya dengan hisapan kuat bibirnya.
Puk puk puk! Emmmm..!!! karena malu Darapun memukul mukul pelan bahu cowok didepannya itu sambil berusaha mendorong agar cepat terlepas.
"Aaaahh!!..." Akhirnya Argapun melepaskan bibir Dara dari hisapannya
"Gimana? masih mau melamun lagi hah?!!" tanya Arga gregetan karena tambah gemas melihat bibir Dara jadi merah karenanya
"Beib, ini kan ditempat umum! apa kamu nggak malu berbuat kayak gitu?!!" Dara mendumel dengan kedua pipinya yang memerah.
"Yaa malu juga kalau sampe dilihat orang, tapi, habisnya kamu juga sih gara garanya!" jawab Arga yang malah menyalahkannya
"Kok gara gara aku beib?"
"Habisnya dari tadi kamu bengong mulu, lagi mikirin siapa sih? kan aku nya ada disini!!"
__ADS_1