Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
#88. Kado Terakhir


__ADS_3

TOK TOK TOK! Suara ketukan pelan dari luar pintu kamar Dara.


Tuk!


Arga segera meletakan botol parfum yang dipegangnya, lalu bergegas menghampiri pintu dan membukanya perlahan karena takut Dara jadi terbangun dengan suara ketukan itu.


"Tuan muda, paman William (supirnya) menunggu tuan didepan katanya ada hal penting yang ingin dia sampaikan!" lapor Sovia dengan suara pelan,


"Baik, terima kasih!" Argapun langsung menutup pintu kamar lalu pergi keruang depan. Dilihatnya paman William pria separuh baya menunggunya sambil berdiri didepan pintu utama.


"Kenapa anda tidak masuk paman?" tanya Arga dalam bahasa Jerman


"Tuan, saya ingin menyampaikan sesuatu tapi tidak bisa disini!" sahutnya takut takut sambil menunduk. Arga yang bingung dengan sikapnyapun menoleh sesaat kebelakang arah pintu kamar Dara.


"Kita bicara disitu saja!" kata Arga mengajak paman William kepintu gerbang yang jaraknya ada sekitar tujuh meter dari pintu utama.


"Ada apa paman, kenapa anda terlihat cemas?" tanya Arga penasaran.


"Tuan muda sebelumnya saya benar benar minta maaf atas keteledoran saya!" ucapnya gugup gemetar dan semakin menunduk


"Ada apa paman? bicara saja terus terang, tolong angkat kepala anda!" pinta Arga yang mulai curiga, lalu paman William pun perlahan lahan mengangkat kepalanya


"Paman! ada apa dengan wajahmu?!" tanya Arga kaget saat melihat ada memar diwajah paman William, namun bukannya langsung menjawab paman William malah tiba tiba berlutut dihadapan Arga sambil menangis.


"Tu,tuan!! saya benar benar mohon ampun tuan... saya benar benar tidak sengaja, tolong tuan muda percaya sama saya, saya benar benar tidak tau kenapa hal itu bisa terjadi!" ucapnya meronta ronta dilutut Arga. Arga yang belum tau apa apapun jadi tambah penasaran, dia langsung jongkok dan membujuk paman William.


"Paman, bangun paman, cerita pelan pelan. Paman sudah bekerja dengan papah semenjak saya kecil, tentu saya sangat percaya sama paman! kalau gitu kita pulang saja kerumah agar paman bisa bercerita lebih leluasa." kata Arga berusaha menenangkannya lebih dulu supaya paman William lebih lancar saat bercerita.


Sesampainya dirumah Arga, paman William menceritakan kronologi kecelakaan yang terjadi tadi pagi saat dia sedang mengantar keluarga Dara kebandara,

__ADS_1


"APA MOBILNYA TERSEREMPET! TERUS GIMANA KEADAAN MEREKA SEKARANG?!" tanya kaget Arga dan mulai panik.


"Kata dokter mereka tidak apa apa tuan." seketika hati Arga agak tenang mendengarnya


"Tuan muda tolong percaya saya, saya sudah mengecek semua sebelum berangkat, dan saya sudah pastikan semuanya dalam keadaan aman. Makanya saya benar benar tidak menyangka kalau bannya tiba tiba pecah dan langsung......"


"Iya iya paman, saya sangat hapal kinerja kerja paman seperti apa. Silahkan minum dulu agar lebih tenang!" kata Arga memotong cerita karna paman William terlihat sangat syok.


'Kok bisa ya ban mobil itu tiba tiba pecah dengan mudah, kan baru saja diganti bulan lalu, dan paman William juga pasti sudah benar benar mengeceknya setiap mau pergi, kan gak mungkin dia mau kecelakaan dirinya sendiri!' gumam Arga dalam hati sambil berpikir pikir.


Dia merasa ganjal dengan kejadian kali ini yang menimpa keluarga kekasihnya, karna jelas jelas kualitas mobil beserta sparepart buatan jerman sudah diakui dunia.


"Terus keadaan semuanya apa benar benar tidak apa apa paman?" tanyanya lagi sambil beranjak dari sofa lalu mengambil mantel bersiap siap jalan


"Untuk perkembangan saat ini saya belum tau lagi tuan, karena setelah kejadian saya langsung diintrogasi dikantor polisi lalu langsung kesini. Tapi saya dengar kabar dari rumah sakit kalau nyonya Aina dan tuan Sultan hanya syok saja, tapi tuan Irvan yang dari saat kejadian hidungnya berdarah dan sampai siang tadi masih pingsan karna bagian yang terjadi serempetan itu pas dibagian pintunya, tapi untuk luka lain selain memar kata dokternya tidak ada!"


Dan sesampainya dirumah sakit Arga mendapati papah, ibu tiri dan beberapa ajudannya sudah berada disana dengan pakaian hitam dalam suasana berkabung.


"Papah? bukannya papa lagi diInggris, kenapa ada disini? dan... si,siapa.. siapa? siapa yang......" tanya Arga gugup sampai berkeringat dingin, namun papahnya tidak menjawab dan malah memejamkan mata seolah sulit untuk mengatakannya.


"Pa,paman... tolong jelaskan, bukannya tadi, paman bilang semuanya hanya terluka ringan... tapi, tapi ada apa disini?...." tanyanya kaku ke paman William yang berdiri tepat disampingnya, dan saat Arga menoleh sekalinya paman William pun sudah terdiam membantu menyaksikan suasana redup ini, dia terlihat sangat syok karena dia juga belum tau kabar terbarunya dari rumah sakit ini. Kemudian papahnya Arga memegangi dahi dan tau tau turun segaris air dari matanya.


"Tadi pagi kantor polisi memberi kabar kepapah kalau mobilmu ngalami kecelakaan yang sedang membawa tuan Sultan dan keluarganya, dan saat papa baru bersiap mau terbang kesini, rumah sakit memberi kabar kalau salah satu korban sudah meninggal. Kenapa ini bisa terjadi Arga? diKalimantan mereka bukanlah orang sembarangan, mau taruh dimana muka papah!" cerita papah menjawab pertanyaannya tadi dengan ekspresi tidak terima.


Arga mendengarkan cerita papahnya dengan pandangan kosong, dia memaklumi greget papahnya itu karena sudah hampir dua tahun ini mereka menghilang dari Indonesia, tapi sekarang malah ada kejadian buruk yang menyeret namanya yang tentu akan membuatnya malu.


Namun saat ini bukan urusan itu yang sedang dipikirkan Arga melainkan siapa yang ada dibalik suasana duka ini?


Dengan kedua kakinya yang baru sembuh, Arga pun takut takut mendekati ruangan yang pintunya tertutup rapat disamping papahnya.

__ADS_1


KRIEET!... Perlahan dia membuka karena tidak siap dengan apa yang akan dia lihat.


HIKSHIKS... Suara tangisan mamahnya Dara terdengar jelas didalam ruangan tersebut membuat suasana sepi tambah menegang. Selangkah demi selangkah Arga mendekati peti yang sudah siap ditutup untuk diterbangkan ke Indonesia. Peti yang berisikan pria yang sudah pucat pasi terpejam tersenyum damai dalam lipatan kedua tangannya. Pria yang selama ini menjaga Dara walaupun hanya dari jarak jauh. Pria yang baru sempat beberapa hari ini menemani keseharian Dara selama dia diJerman. Pria berwajah rupawan yang selalu menjadi panutan keluarganya. Pria yang baru tadi pagi berpamitan kepada Dara dalam manjaannya, namun tak disangka pemitannya itu adalah pamitan yang benar benar untuk yang terakhir kali, karena sekarang pria ini akan pergi untuk selama lamanya....


"Tante Aina..?" sapa Arga ragu ragu menyentuh bahu mamah pacarnya. Tante Aina yang sedang terisak ditepi peti mati itupun segera menoleh dan memeluk Arga yang sudah berdiri disampingnya.


Arga yang saat itu perasaannya bercampur aduk antara sedih, kesal, kecewa dan malupun hanya mampu membalas pelukan dari mamah pacarnya itu dengan diam tanpa kata. Dia bingung harus bertanya atau mengatakan apa saat ini, karena kecelakaan ini terjadi didengan mobil beserta supir pribadi atas permintaannya.


"Hiks... Arga, tante minta tolong sama kamu jangan kasih tau Dara atas kejadian ini karena tante takut dia tidak kuat menerima kenyataan pahit ini, kamu paham kan nak?"


"ii,iya tante, saya paham, saya akan menutupinya dari Dara..." sahut Arga yang pipi mulusnya sudah basah dibanjiri airmata saat ia mulai melihat peti.


'Semalam aku baru saja bercengkrama sebentar dengan beliau, tapi sekarang dia pergi? Kenapa, kenapa tiba tiba bisa ada kejadian begini? kenapa sampai ada nyawa terenggut dihadapanku saat ini?' gumam dalam hati Arga karena tidak menyangka


Beribu pertanyaan dalam lubuk hati Arga yang ingin sekali mengetahui penyebab terjadinya musibah besar ini, penyebab kematian ini. Namun tumpukan semua pertanyaan itu hanya mampu dia simpan dulu sampai nanti keadaannya sudah lebih tenang.


Dara tidak boleh tau? tentu saja untuk sementara waktu dia tidak boleh tau kejadian ini, karena apa yang bisa terjadi pada gadis itu sudah terbayang dampaknya. Yaah walaupun tidak akan mungkin menutupi semua ini selamanya dari dia, tapi biarkan lah dia sekarang


"merasa bahagia dalam kado besar terakhirnya!"


.


.


.


Cuplikan:


Irvan : Kamu tega Thor!! Hiks....

__ADS_1


__ADS_2