
"Ayooo Van!!" ajak Adhi antusias
"Ayo kemana?!" tanyaku bingung sambil mulai membuka Amplop yang dia berikan dia tadi
"Yaaa kedalam, kan disuruh Ibumu liatin Dara!!" katanya yang tanpaku sadari dia sudah membuka pintu ruangan Dara
"Eeh jangan, sembarang kamu!!" kataku sontak langsung menoleh ke dia dan menahan tangannya
"Udah telanjur nih, sekalian yaa, kan lihat doang, aku janji nggak macam - macam deh!!" rayunya sambil bermain alis naik turun
"Lihat aja yaa, awas macam - macam!!" kataku mengancam lalu melepaskan tangannya sambil mengantongi amplop tadi.
"Iya - iya, slow brooo... kayak aku ini buaya aja!!" sahutnya sambil melangkah pelan - pelan mendekati Dara dan aku pun mengikuti nya dari belakang.
"Dia lagi sakit apa Van, kok nggak dipindah keruangan?" tanyanya sambil tambah mendekat kesamping Dara
"Eeh sini - sini, jangan kesitu!!" kataku melarangnya yang semakin bertambah dekat dengan Dara
"Aku cuma mau lihat mukanya aja kok, siapa tahu kenal..!" alasannya tanpa sedikit pun menjauh dari samping Dara
"Sudah lihatnya kan? Ayoo keluar!!" kataku mulai cemas melihat kelakuan temanku yang satu ini, karena paling nggak bisa lihat cewek bening.
"Kamu ini Van, punya ade kayak begini disembunyikan!!" ucapnya sembari tangannya mulai pegang - pegang tangan Dara yang masih tertidur.
"Tuuh kan, malasnya aku sama kamu yaa ini nih, bahaya!" Ku sentil tangannya yang jahil itu
"Aduh!" dia tersentak sambil nyengir lalu menarik mundur lagi tangannya yang sempat menyentuh tangan Dara
"Dia sakit apa sih sebenarnya Van?!" dia memberi pertanyaan yang membuat aku merasa bersalah bila menyebutnya...
"Dia .....
Dia cuma tidur..." Jawabku pelan sambil menatap melas kewajah pucat yang matanya masih terpejam itu
"Jawab yang bener dong Van, ada apa sih? kalau dia cuma tidur kenapa pake selang?!" katanya sambil menoleh kearahku dengan tatapan serius, lalu...
"Naaah.... Siapa tahu kalau dicium langsung bangun..." ucapnya lagi yang langsung menyadarkan lamunanku saat melihat mukanya mulai mendekati pipi Dara
"EEH! jangan cari masalah disini kamu!!" tanganku sontak menjewer kupingnya lalu membawanya keluar
"Ampun Van, ampun! cuma becanda aja kok!" katanya sembari mengelus - elus kupingnya yang baru ku jewer itu,
"Aku tahu kamu cuma mau becanda, tetapi jangan sama Dara, aku nggak suka!
Mending kamu kerja lagi sana!!" kataku tanpa basa - basi mengusirnya, sambil mengeluarkan dompetku.
"Jangan gitu dong, kan yang diamplop tadi juga belum aku jelasin semua looh.!" bujuknya agar dia ku izinkan tetap disini
"Masalah itu gampang, nanti aku telpon kamu kalau ada yang aku kurang paham! Kamu lama - lama disini nanti Pelangganmu pada minggat!!" Alasanku sambil menyelipkan beberapa lembar pecahan seratus ribuan disaku jaket ojek onlinenya itu.
"Teganya Van kamu sama aku!! yaudah deh makasih yaaa, eemuuach!!!" katanya sambil memonyongkan bibir meng-kiss by kedepan pintu ruangan yang ada Dara didalamnya sambil senyum - senyum meledekku lalu melangkah pergi.
"Huuuuft...Ibu kemana sih, katanya ketoilet, kok lama banget!" Gumam ku sambil masuk kedalam.
Ku lihat jarum jam tanganku menunjukan sudah hampir pukul enam sore, tetapi kenapa Dara belum bangun juga, apa aku tanya lagi aja yaa sama perawat atau dokter nya? pikirku
Tidak lama kemudian Ibu datang bersama Reza.
"Lhooh Reza sudah disini?!" tanyaku keadik yang umurnya lebih muda satu tahun dari Dara
"Iya mas, tadi abis latihan sama kawan sekalian lewat jemput Ibu disini.. Gimana mbak Dara mas?" tanya adikku yang hobbynya berenang ini
"Yaaa gitu deh..." Jawabku menggantung yang maksudnya 'lihat aja sendiri!'
__ADS_1
"Emangnya Ibu udah mau pulang sekarang, tadi katanya mau tunggu Dara bangun?!" tanyaku ke Ibu yang kadang sangat bawel ini
"Iya maunya, habis Reza jemputnya kecepetan sih!" jawab ibu yang lagi - lagi maunya nyalahin orang
"Nggak ada hubungannya Bu, memang Daranya juga belum bangun mau diapain lagi..." kataku membela Reza
"Udah ibu ikut Reza pulang aja sekarang, kalau sampe kemaleman malah susah pulangnya.. Nanti kalau Dara bangun secepatnya aku kabarin keibu!" Jelasku membujuk Ibu
"Permisi, gimana nona Dara - nya, sudah ada perkembangan apa?" tanya Dokter yang tadi siang berserta satu perawat yang langsung mengecek kondisi Dara
"Belum ada Dok, baru saja saya mau datangin Dokter..." Jawabku cepat
Perawat dan Dokter itupun langsung memeriksa selang infus, oksigen, membuka kedua kelopak mata, tekanan darah juga detak jantungnya.
Sambil mencatat, perawat itu menyebutkan angka - angka yang aku nggak paham maksudnya.
"Kondisinya mulai stabil, mungkin sebentar lagi dia juga bangun, sebenarnya sudah boleh dipindah keruangan, tetapi takutnya dia jadi tetkejut, jadi ditunggu aja sebentar lagi, dan karena sudah mau pulanh... jadi kalau nona Dara sudah sadar panggil saja dokter yang bergantian shift sama saya."
Penjelasan Dokter barusan membuat aku lega
"Iya - iya Dok!" jawabku bersemangat,
"Yaa kalau gitu saya pamit dulu.." Ucap dokter sambil berjalan keluar bersama perawatanya
"Tuuh Bu, dengar sendiri kan kalau Dara sudah mendingan?!" kataku
"Iya sudah kalau gitu, Ibu pulang dulu dan besok bari kesini lagi, cepat kasih kabar ke Ibu yaa kalau dia bangun.." Pesan Ibu sembari membelai dan mencium kening Dara
"Iya Bu.." Sahutku, kudian Ibu dan Reza keluar, tinggal aku berdua saja sama Dara.
Aku kembali duduk dikursi yang sampingnya, mulai memeriksa isi amplop yang diberikan Adhi tadi, dan saat ku baca .....
"APA?!!! Jadi ternyata, sebenarnya mereka itu ...." Aku sangat terkejut saat melihat sebuah pernyataan yang aku baru tahu sekarang.
Ku baca dengan teliti semua lembaran yang bertulisan latar belakang dan silsilah keluarga Amira beserta saudara - saudaranya yang lain, juga beberapa lembar foto dan kebiasaan - kebiasaannya Amira.
PRISIL
Jadi awal mula aku mengenalnya Prisil adalah saat kami masih sama - sama kuliah, aku sangat ingat saat itu kami baru saja menyelesaikan ujian semester empat yang menandakan waktu normalnya masih butuh empat smester lagi agar kami mendapat gelar Sarjana.
Dari pertama berteman dengannya saat masih semester satu aku sudah mulai merasa kurang nyaman setiap didekatnya, dia selalu bersikap baik, bahkan saking baiknya dia selalu membawakan aku cemilan dan minuman favorit setiap harinya.
Dan dia hanya melakukan itu hanya kepada ku, lalu jika setiap ada tugas dari dosen, dia juga hanya ingin mengerjaannya berdua denganku.
Dulu aku memang selalu mendapat nilai IP tertinggi diKampus, dan dia menjadi nomor duanya. Awalnya aku sama sekali tidak ada kepikiran lain kepada dia, selain hanya ingin belajar bersama dan mungkin dia hanya ingin mendapat bimbingan dariku.
Namun setelah melewati semester empat itu, aku mulai mendengar desas desus kalau aku ada main dengan Prisil agar bisa mendekati Dosen dan Dekan yang memang masih ada hubungan keluarga dengannya, mereka bilang aku seperti itu agar bisa selalu mendapatkan nilai bagus.
Karena adanya Gosip itu membuat telingaku merasa risih, dan sifatku yang selalu to the point, membuat aku memberanikan diri dengan tegas menanyai kabar miring yang sudah beredar dikampus tersebut.
Saat itu didepan kelas, sebelum jam mata kuliah dimulai aku mencegat dan menanyainya, namun dia membatahnya, bahkan diapun sampai berani membawa nama Tuhan agar mendapat keparcayaan orang - orang disekitar yang melihat keributan kami saat itu.
Singkat cerita, Kami berduapun akhirnya dipanggil keruang rapat Dekan, dan Dekan tersebut tidak lain adalah adik dari alm.bu Fatma. Disana, selain Dekan Dan Dosen juga hampir semua staff kampus menyaksikan introgasi kami berdua.
Entah mengapa Prisil tidak henti - hentinya menangis tanpa sebab, karena sedikitpun aku tidak ada menyentuh apalagi sampai memukulnya, namun tidak disangka saat paman dari ayahnya itu menanyakan apa yang menyebabkan dia menangisan, Prisil pun memberi pernyataan bahwa aku .....
"Hik - hik Kakek! I irvan mi minggu la lu .... Hikhik ... a aku hikhik!! Huhuhuuu!!!" menangisnya tambah nyaring tersedu - sedu, yang membuat orang diruangan ini bisik - bisik saling menerka - nerka apa yang ada dipikiran mereka masing - masing.
"Tenangkan dulu dirimu, bicaranya tidak usah terburu - buru!" Ucap adik laki - laki Bu Fatma itu ke Prisil.
Sikap Prisil tersebut tentunya mengundang banyak perhatian terutama dosen wanita, dan beberapa dari mereka ada yang langsung menghampiri sambil memberikan minum serta semangat kepadanya.
Namun aku hanya duduk diam tidak sabar menunggu apa yang ingin dia katakan sebenarnya.
Beberapa saat kemudian, tangisan meweknya mulai mereda yang setidaknya dia sudah mulai bisa berbicara dengan suara yang agak jelas dan juga lancar, dan yang ditunggu - tunggu pun tiba, dimana dia akan memulai pengakuannya yang akan disaksikan semua orang yang ada diruangan ini.
__ADS_1
Sebelum mengeluarkan suara, dia pun terus saja menunduk seolah - olah masalah yang sedang dihadapinya sangatlah berat, hingga membuat dua Dosen wanita tetap menemani dikanan - kirinya
"Hikhik ... Mi minggu lalu Irvan ... Irvan menyu ruh saya .... U untuk ....meng....
menggugurkan anak kami!!" ucapnya
Sontak saja diriku terasa tersambar petir, suasana ruangan juga langsung bising dengan kasak - kisik dari mulut semua orang yang hadir.
"APA KAMU BILANG?!! APA MAKSUDMU BUAT PERNYATAAN SEPERTI ITU!!!" amuk ku yang langsung memuncak setelah mendengar kata - kata dari mulutnya barusan
Tanpa pikir panjan, tanpa peduli aku sedang dimana dan berhadapan dengan siapa, aku langsung saja membalik meja dihadapanku, dan beberapa orangpun langaung menahani tubuhku yang sedang ingin menghajar mulutnya yang sudah melontarkan tuduhan palsu kepadaku.
"PEREMPUAN KURANGAJAR!! APA MAUMU??!!! LEPAS! LEPASIN SAYA!! SAYA MAU ROBEK LIDAHNYA ULARNYA ITU!!! AAAAAGH!!" sekuat tenaga aku berusaha memberontak
Namun aku tetap saja kalah tenaga dengan tiga orang laki - laki yang menahani dan membawaku keluar ruangan rapat itu, kulihat mata liciknya melirik kepadaku seolah - olah berkata bahwa dialah pemenangnya!
Saat itu juga aku langsung dibawa kekantor polisi dan tak sedikitpun ada pembelaanku yang didengar disana, nyata semua karena kedudukan keluarga Prisil yang berpengaruh besar dikota ini, lalu aku pun menjadi tahanan beberapa malam.
Setiap saat polisi disana selalu memanggil untuk mengintrogasi dan memaksa aku mengakui perbuatan yang tidak aku lakukan, bahkan terlintas dipikiranku puntidak pernah sama sekali untuk melakukan hal itu kepadanya.
Walau akan disiksa sampai matipun aku tidak akan mengakuinya!
Bapak yang sangat percaya pada diriku pun sudah berupaya menyewakan pengacara, namun lagi - lagi uang dan kekuasaan yang berkata lain.
Tetapi pas satu minggu ditahan, tiba - tiba aku dibebaskan tanpa syarat dan alasan yang jelas. Dengan sangat terhormat aku jemput oleh kedua staff dari kampus yang sudah menungguku didepan kantor polisi dengan membawa mobil yang berlogo nama kampus.
Diperjalanan pulang, aku hanya diam tidak bicara atau bertanya satu kata pun, dan kedua orang yang duduk dibangku depanku juga tidak ada yang saling bicara selama mengantarku.
Aku tidak memikirkan apapun selain nama baikku yang pastinya sudah tercoreng dikampus, dan aku tidak akan kembali kekampus itu lagi walaupun hanya berkunjung sekalipun.
Sesampainya didepan rumah, kulihat dua mobil yang tidak asing sudah terpakir dihalaman, namun aku yang sudah sangat lelah tidak ada rasa ingin bertemu dengan siapapun terlebih kepada pemilik mobil - mobil tersebut, jadi aku memutuskan masuk kerumah memutar lewat pintu belakang dan langsung menuju kekamarku, karena saat ini aku hanya ingin secepatnya mandi puas - puas. Dan Ibu yang sudah sangat hafal dengan sifatku pun hanya diam saat melihat ku lewat didapur.
Sekitar lima belas menit aku berendam dibathtup dengan air hangat yang sudah ku tuangkan sabun aroma therapy untuk merelax kan otot dan pikiran ku yang sudah sangat kacau berantakan.
Ku usap perlahan bekas luka dan memar akibat perlakuan kasar yang hanya ingin memaksaku mengakui perbuatan bejad yang tidak aku lakukan.
TOK! TOK! TOK!
"Van? masih lama kah mandinya?" panggil ibu sambil mengetuk pintu kamar mandiku
"Iya Bu sebentar lagi, Mereka sudah pergi kah Bu?" Sahut sambil bertanya
"Belum Van, bilangnya mau ketemu kamu dulu baru mereka mau pulang..." Jawab Ibu dari balik pintu
CK, HUUUUUFT!!!
"Apalagi sih maunya?!!" Gumamku jengkel
"Iya sebentar aku turun Bu..." Kataku dengan terpaksa daripada menyusahkan orang tuaku lagi
"Iya sudah..." Sahut Ibu yang terdengar langsung keluar lalu menutup pintu kamarku,
Akupun langsung berdiri membilas sedikit bekas air sabun.
Setelah selesai berpakaian, dengan rasa yang masih malas untuk bertemu orang, akupun mendatangi mereka yang bilangnya sedang menungguku.
Sesampainya diruang tamu yang sudah banyak barang hadiah ditengahnya, tanpa banyak basa - basi aku langsung duduk disofa kosong paling ujung dekat Ibu Bapakku.
"Ada apa?" tanyaku singkat dingin dan tanpa ekspresi
Dan arah pandanganku pun mengarah kedepan meja, bukan kemereka.
"Van? Maafin aku Van? aku bukan bermaksud mau nyelakain kamu!!" Prisil dengan airmatanya langsung berlari bersimpuh dihadapanku sambil memegangi tanganku.
"APA - APAAN SIIH!!??" kataku membentak karena kaget dan kesal, segera aku menepis tangannya yang memegangi tanganku.
__ADS_1
"Sudah? cuma mau ngomong itu aja kan?! sekarang kamu bisa pergi dari sini!!" kataku mengusir kasar pada Prisil tanpa memandang kedua orang tuanya yang juga sedang berada didepanku sekarang ini.