
Sambil berjalan menuju ke halaman belakang, Irvan masih merasa ganjil dengan sikap Sovia barusan.
"Sovia kenapa ya, kok aneh banget? biasanya kalau ngomong ceplas-ceplos!" tanya Irvan dalam hatinya. Namun saat mengingat-ingat alasan Sovia yang menurut nya masuk akal, Irvan pun tak menghiraukannya lagi.
"Ah mungkin perasaan ku aja kali ya? Sovia kan memang gak terlalu pinter masak, jadi ya wajar aja kalau dia lagi kebingungan!" pikir Irvan menepis kecurigaannya tadi.
Di dapur, Sovia yang baru saja ingin merapihkan bahan makanan yang baru dibeli Dara tadi, tiba-tiba mendengar suara Leo sedang berbicara dengan seseorang diruang tamu, dan suara orang itu sangat tidak asing di telinganya.
Karena ingin meyakinkan suara orang yang di curigainya itu, Sovia pun segera mengendap-endap menuju ke ruang keluarga yang mana ruangan tersebut bersampingan dengan ruang tamu.
Kemudian Sovia mengintip dari balik tembok pemisah antara dua ruangan tersebut, dan dia pun benar-benar melihat seseorang yang tidak dia harapkan kehadirannya saat ini.
"Astaga!" gumam kaget Sovia yang sontak menutupi mulutnya yang refkek terbuka.
Sikap sigap Sovia dalam melakukan sesuatu, membuat bersiap-siap mencari alasan untuk mencegah orang tersebut menemui Dara, Namun sebelum memulai berpikir mencari cara, perawat itu segera menyembunyikan dirinya terlebih dulu dibalik tembok tepat dimana dia mengintip sekarang ini.
"Ya ampun! ternyata benar kecurigaanku barusan, suara itu memang suaranya tuan Arga. Aduh bagaimana ini? dia datang jam segini pasti karena nona Dara belum ada menemuinya seharian ini!" Kata Sovia didalam hati sembari menutupi wajahnya tangan.
Baginya, belum hilang semua rasa gugup karena berpapasan dengan Irvan didepan pintu kamar Dara, sekarang dia harus kembali menghadapi orang yang sudah memberinya peluang pekerjaan dirumah ini.
"Baru saja aku berhasil mencegah tuan Irvan, sekarang sudah harus menghadapi tuan Arga! apa kali ini aku akan berhasil ya?" kata Sovia dipikirannya saat dia mengingat kebiasaan Arga yang selalu ingin memastikan keadaan Dara walaupun dia tau kalau pacarannya sedang tidur.
Detak jantung Sovia berdebar-debar cepat memicu ujung jari-jarinya jadi gemetaran sampai mulai mendingin.
Kini Sovia benar-benar mulai kelimpungan, karena dari tadi menghadapi dua tuan muda yang tidak mudah dibohongi!
__ADS_1
Jika diantara mereka ada yang memaksa ingin melihat dan sampai tau keadaan gadis itu saat ini, tentu itu akan menjadi permasalahan besar baginya. Bukan sekedar takut pekerjaannya yang akan hilang, melainkan Sovia sangat takut kepercayaan yang sudah terjalin antara dia dengan Dara pastinya juga jadi terancam!
Sovia tidak ingin itu terjadi, sebab ia sangat menyayangi majikan kecil nya itu.
Saking bingungnya, perawat itu menyerengitkan dahinya seperti orang yang sedang sakit kepala.
"Sovia, sedang apa kamu berdiri disini?" tegur seseorang yang suaranya meletuskan rasa takut yang sedang dia pendam sendirian.
"AH!... Tu-tutu-tuan, Arga....?!"
Saking terkejutnya, bola mata Sovia sampai melotot sangat lebar sampai terlihat tak berkelopak.
Wanita berambut pirang yang sedang berpikir-pikir itu tidak menyangka kalau persembunyiannya dibalik tembok akan langsung ketahuan seperti ini, alhasil semua alasan yang sedang dirangkai dalam pikirannya seraya beterbangan keluar dari kepala.
"Sovia apa kamu sedang sakit?" tanya Arga yang bingung melihat sikap aneh Sovia.
"Tapi, wajah mu terlihat sangat pucat? apa yang mengganggu mu saat ini?" pertanyaan Arga membuat Sovia tertegun ketakutan sampai pupil matanya bergetar-getar, tentu hal itu malah menimbulkan kecurigaan dibenak Arga yang seketika itu langsung mulai panik.
"Sovia! apa ada yang terjadi disini? apakah Dara? apa ada terjadi sesuatu dengan Dara? dimana dia sekarang? apa dikamarnya?!" cerocos Arga sembari celingukan dan kakinya siap melangkah.
GREP!! "Titi-tidak tuan! tidak ada terjadi apapun dengan nona!!"
Arga langsung menghentikan langkah kakinya, kemudian menoleh kearah tangannya yang tiba-tiba digenggam Sovia, dan Soviapun jadi ikut menunduk melihat tangannya yang tanpa dia sadari telah reflek menggenggam tangan Arga karena bermaksud ingin menahan langkah tuannya itu.
"Ah! maaf tuan!" buru-buru dia melepas genggamannya.
__ADS_1
Karena kejadian barusan, Sovia jadi tambah gugup bercampur canggung, akhirnya Sovia melepaskan alasan yang sama persis dia katakan kepada Irvan tadi.
"Emm nona... Nona hanya sedang tidur dikamarnya, tetapi sepertinya dia sangat kelelahan karena dari pagi pergi belanja dengan tuan Irvan, dan dia berpesan agar siapa pun dilarang masuk ke kamarnya sampai dia bangun nanti!".
"Hm? Dia bilang begitu? Kok tumben!" Arga merasa bingung dan sempat tidak percaya.
Tapi saat melihat Sovia mengangguk kepadanya, Arga pun berusaha mempercayai perawat sekaligus pelindung pacarnya selama dia di Jerman ini.
"Owh baiklah, saya tidak akan mengganggu istirahatnya. Kak Irvan, dia dimana sekarang?" tanyanya celingukkan lagi.
"Kalau tuan Irvan, beliau baru saja pergi ke halaman belakang sambil menunggu nona bangun!" jawab Sovia dengan ekspresi masih takut karena menutupi keadaan Dara.
"Oo.. Baiklah, saya akan menyusul dia ke halaman belakang! (melangkah satu kali lalu berhenti). Tapi.... kenapa saya perhatikan kamu sangat gugup dari tadi? apa kamu yakin tidak ada yang terjadi, katakan jujur kepada saya?" tegur Arga secara terang-terangan dengan apa yang dia lihat dan nampak mencurigai sesuatu.
"Ti-tidak tuan muda, tidak ada apapun yang terjadi! saya... saya hanya sedang bingung memilih menu masakan untuk malam ini. Sebab, ini adalah yang pertama kalinya saya memasak ketika ada tuan Irvan dirumah ini!" jawab Sovia sambil berusaha keras memutar otaknya, dia mati-matian hanya untuk meyakinkan tuan muda didepannya.
Mendengar alasan Sovia, Arga yang tadinya sangat curiga pun langsung mengingat saat pertama kali Irvan datang ke Jerman ini, yang mana saat itu dia datang memang bersama-sama dengan bu Aina dan juga alm. kakek, dan saat itu juga hanya bu Aina yang selalu menguasai dapur dirumah ini.
"Owh ternyata itu yang sedang kamu khawatirkan? (Sovia mengagguk). Kamu tidak perlu mencemaskan hal itu, saya yang akan mengatur hidangan untuk malam ini!" kata Arga yang kemudian berlalu meninggalkan Sovia.
Melihat langkah Arga benar-benar menuju ke halaman belakang, detak jantung Sovia yang tadinya "dag-dig-dug" langsung berubah "nyeees" dalam seketika.
"Huuuuuft.... Ya Tuhan... Hamba sangat berterima kasih atas pertolongan mu lagi kali ini!" seru dalam hati perawat yang dari tadi sudah panas dingin dibalik tembok itu.
Setelah itu dia kembali lagi ke dapur untuk melanjutkan membokar isi belanjaan bahan masakan Dara.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong Paula dimana ya? kok dari tadi belum ada kelihatan?" gumam Sovia merindukan sahabat yang selalu disampingnya.