
CTAAAR!!!
Bagai petir menyambar telinga,
Penjelasan pak Haris barusan membuat semua yang disitu terperanga mendengarnya, dan kali ini bukan hanya tidak menyangka akan pernyataannya, terlebih karena mereka menyaksikan sendiri seorang ayah dengan tega menjatuhkan harga diri anak gadisnya yang padahal belum sampai terjadi 'seperti itu'.
"BOHONG DEK BOHONG, PAPAH KAMU NGGAK ADA LIHAT KEJADIANNYA, KENAPA TEGA BERBOHONG!!" teriak Irvan membantahkan. Degub jantungnya berdetak kencang karena takut adiknya itu syok bahkan bisa sampe ngDropnya kumat.
Dengan bibir bergetar dia berusaha meyakinkan Dara yang jadi terdiam agar tidak mempercayai ucapan papah dihadapannya,
"Dek kamu jangan percaya dek papah......"
"Sssstttt...!" tangan Dara menahan Irvan bicara
"Apa cuma itu aja pah? apa ada karangan cerita lainnya yang bisa bikin aku beneran kaget?" tanya Dara dengan santai menanggapi ungkapan papahnya barusan, dan tentu saja sikapnya itu membuat pak Haris jadi bingung.
"Kenapa kamu gak percaya? Itu sudah cerita yang sebenarnya!" ucap papah berusaha menyakinkan
"Pah, sejak kelas satu SMP aku sudah mengikuti ekskul PMR, bahkan cita citaku dari dulu sebenarnya pengen jadi dokter yang tentu sedikit banyaknya aku sudah pernah mempelajari tentang medis dan juga tau tentang 'sex'!. Jadi gimana aku bisa percaya kalau Betrand sudah meniduri aku kalau keadaan 'punyaku' aja masih baik baik tanpa ada rasa risih atau sakit sedikitpun. Aku saranin ya pah, kalau mau ngarang cerita yang bikin greget itu harus yang bagus!" kata Dara meremehkan karena tidak percaya.
Namum saat Dara berpaling hendak menjauhi papahnya dia melihat ekspresi Mamah dan Ibu terdiam menunduk menggambarkan ketidak berdayaan diri seolah membenarkan cerita pak Haris tersebut, kecuali Irvan yang justru tersenyum sambil mengangguk kepadanya.
'Kenapa wajah mereka berdua murung? apa mungkin benar yang dikatakan papah barusan kalau aku sudah ditidurin Betrand? nggak, aku nggak percaya, mas Irvan malah terlihat senang mendengar bantahan ku barusan, lukanya itu pasti akan menjawab kejadian yang sebenarnya, aku yakin bahwa aku masih perawan!' gumam Dara meyakinkan diri berusaha menepis kecurigaannya
SET! dia kembali menolehkan kepala kearah papahnya.
"Pah aku mau tanya tiga hal, aku harap papah akan jawab dengan sejujur jujurnya dan setelah ini aku janji kalau kami orang dirumah ini nggak akan mengganggu kebahagian yang papah sudah temui disana!" kata Dara menawarkan kesepakatan
"Hm silahkan!" respon papah menyetujui dengan senang sambil melihat jam ditangannya
"Yang pertama aku mau tau alasan kenapa papah sampai tega menghianati mamah?
__ADS_1
yang kedua, kenapa sikap papah tiba tiba berubah dalam sekejap?
dan yang terakhir... kenapa... kenapa papah mau bikin aku sakit hati, apa aku ada salah yang gak bisa papah terima? jawab!" tanya Dara penasaran
"Owh itu aja? oke kalau kamu memang mau tau papah akan menjelaskan semua alasannya. Asal kamu tau aja Dara terutama kamu Aina! saya ini laki laki normal, saya butuh pendamping yang saya bisa 'temui' bukan hanya sebulan sekali bahkan kadang sampai lebih, sedangkan kamu nggak bisa meninggalkan tokomu walau cuma sehari demi menyusul saya, iya kan?" kata papah menjawab pertanyaan pertama yang membuat mamah diam menunduk
"Kalau untuk masalah emosi, itu karena papah lagi tertekan dengan ibu tirimu yang dalam beberapa hari ini terus saja mendesak agar papah cepat pulang keJakarta sampai mengkait kaitkan pekerjaan kantor. Jujur aja istri baru papah itu sebenarnya partner bisnis papah yang mana orangtuanya sudah banyak menanam modal diperusahaan dan diumurnya yang bisa dikatakan sudah lebih dari cukup untuk punya anak dia malah tidak pernah memikirkan untuk mencari pasangan, lalu orang tuanya mendesak supaya papah segera menikahi anak perempuannya yang sempat dicap perawan tua itu dan mengancam kalau papah menolak mereka akan memutuskan kontrak bisnis yang tentunya akan berdampak buruk bagi perusahaan!" jelasnya
"Tapi kenapa harus papah yang jelas jelas pria sudah berkeluarga? kenapa gak menjodohkan anaknya dengan laki laki lain?!" tanya Dara bingung
"Itu karena papah......" mikir
"Alaaaah gak usah cari alasan pak Haris, pasti sampean juga yang mau karena kegatalan kan!" celetuk ibu membuat papah tertunduk malu
Namum pernyataan papah yang ini justru membuat Irvan langsung mengingat perjodohan dia yang sudah diatur alm.bapaknya kepada gadis yang sama sekali belum pernah dilihatnya diJawa.
"Bukan cuma itu, papah emosi juga karena kamu! papah sudah bosan dengan masalah yang kamu buat ditambah dengan kabar penyakitmu yang aneh aneh, apa kamu gak capek jadi orang penyakitan? apa gak bosen minum obat? bahkan semenjak kamu putus sama pacarmu dari setahun lalu kamu sudah berapa kali keluar masuk rumah sakit? saya cari uang bukan cuma buat biayain rumah sakitmu! apa kamu bisa menjelaskan semua itu? atau kamu mau membantah dan bilang kalau mamahmu sudah mengada ngada tentang penyakitmu supaya bisa dapat uang lebih?!" tuduhan pak Haris tanpa ragu ke anak dan istrinya
"Bagus kalau kamu sadar diri!" jawabnya sinis, Dara terdiam sambil melangkah mundur. Ungkapan papahnya kali ini yang justru membuatnya jadi merasa tersambar petir!
TAP! dengan sigap Irvan menahan punggung Dara agar dia tidak jatuh
"DASAR KURANG NGAJAR KAMU HARIS! sudah gak pernah ngurusin anak sekarang malah berani beraninya ngomong seolah olah kamu yang capek! kalau kamu memang lebih sayang uangmu baiklah, saya akan hidupi sendiri anak anak tanpa meminta uangmu sepersen pun! tapi ingat, kalau sampe terjadi apapun denganmu dimasa depan jangan sekali kali kamu cari mereka, CAMKAN ITU!!" bentak mamah sakit hati saat mendengar suaminya menyalahkan Dara atas penyakitnya yang dia derita karena keprematuran saat lahir.
Brrmmm.... (suara mobil berhenti diluar rumah)
"Haah sudah kan? Terserah kamu Aina kelanjutnya mau seperti apa saya tunggu kabar keputusanmu secepatnya!" ucap papah sambil mengangkat kopernya lalu keluar rumah mendatangi taxi yang sudah dia pesan dari tadi.
"Aina, Aina yang sabar yaa.. Saya bisa ngerasain yang kamu rasain, saya yakin suatu saat nanti dia pasti akan kembali dan menyesalinya. Yang penting sekarang kamu harus kuat demi anak anakmu, dan jangan takut saya pasti selalu nemenin kamu disini!" pesan Ibu sambil mengusap usap punggung mamah yang terlihat syok melihat putrinya dijatuhkan orang yang seharusnya melindunginya.
"ii..iya mbak, saya pasti kuat, saya pasti kuat!... makasih ya mbak!" sahut mamah lirih namun bibirnya berusaha tersenyum dalam pandangan kosong menatap Dara, lalu ibu memeluknya agar dia tabah.
__ADS_1
Mendadak suhu tubuh Dara mendingin ditambah warna kulitnya langsung berubah pucat pasi seperti mayat, membuat Irvan seketika itu cemas.
"Dek?" panggil Irvan takut takut
"Aku.... aku mau tidur dulu, aku ngantuk banget!" kata Dara sembari melangkah sempoyongan mendekati tangga
"Tapi dek kamu belum makan, belum minum obat!" Irvan mengingatkan
"Iya mas, pasti nanti aku makan, tapi sekarang aku mau berbaring dulu!" sambil perlahan menaiki anak tangga menuju kamarnya
Ibunya Irvan yang saat itu mengerti kalau bu Aina juga sedang sakit hati hingga tidak mampu mengeluarkan kata kata penenang untuk putrinya, dia langsung memberi kode ke Irvan untuk mengawasi Dara sementara dia sendiri mengawasi bu Aina agar tidak sampai berpikir ingin berbuat macam macam, dan Irvan pun berlari ketangga mengikuti Dara dari belakang
"Biarin Irvan yang nemenin Dara mending sekarang kita kedapur datangi Doni, tadi kamu belum sempet makan kan Aina? kamu jangan sampe sakit yaa!" Bujuk Ibu, lalu bu Aina mengangguk.
"Ayoo kita lanjutin makan malam kita yang tertunda!" seru bu Aina ke Doni, walau sudah tidak selera untuk makan, namun sikap tegar bu Aina dia tunjukan ke putranya agar terlihat semua masalah ini akan segera terlewati.
(Dikamar Dara)
Karena lemas, begitu sampai dikamar Dara langsung duduk ditepi kasur,
"Dek, makan mu mas bawain kesini aja ya? mas suapin gimana?" tanya Irvan yang berjongkok dihadapannya
"Gak usah mas aku lagi capek, sekarang cuma mau tiduran sebentar aja kok, nanti kalau sudah agak mendingan aku turun kebawah ambil makan sendiri. Mending mas aja yang sekarang turun makan duluan sekalian temanin mamah sama Doni dibawah. Mas Irvan jangan sampe sakit ya, kalau mas sakit siapa lagi yang akan nemenin aku? dan nanti izinin aku ngobatin lukanya mas ya?" tanya Dara sambil menebar senyuman tipis dibibir pucatnya, lalu dengan lembut mengusap pipi Irvan yang matanya sedang menatap kedirinya dengan tatapan cemas,
"Iya dek," sahut Irvan membalas senyuman.
Darapun langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur dan dengan perlahan matanya terpejam .
Tanpa ada rasa curiga, Irvan menyelimuti tubuh Dara yang semakin dingin karna hembusan ac.
"Sayang kamu jangan takut, mulai sekarang mas akan selalu nemenin dan memperhatikan kamu lebih dari biasanya Yaudah mas turun duluan yaa..." ucap Irvan sambil menempelkan ciuman kecil dirambut Dara, dalam sekejap gadis itupun langsung tersenyum dalam pejamannya.
__ADS_1