
"Mas ini aneh, Nggak jelas banget siih?!" kataku yang masih saja mendumel ke mas Irvan, saat baru duduk dijok mobilnya sambil menutup pintu.
"Iya, pas didalam tadi mas Irvan kok aneh banget, kita kan baru aja sampe kok tahu - tahu sudah ngajak balik?!" Sambung Kiki dari belakang ku yang juga keheranan dengan tingkah laku mas Irvan yang tidak ceria seperti biasanya.
"Nggak usah dibahas lagi aah, mas lapar udah nih, tuuh udah jam makan siang, kita cari makan dulu yuk?!" Kata mas Irvan mengalihkan topik pembicaraan sambil melihat jam tangannya, lalu seperti terburu - buru menyetir ingin segera keluar dari halaman rumah megah ini.
Rasa sakit akibat cengkramannya dibahuku tadi masih sangat terasa, karena kesal akupun nyeletuk kepadanya:
"Padahal tadi ditawarin makan sama kakaknya Amira nggak mau, sekalinya dia sudah kelaparan!!.." sindirku sambil menaikan alis dan bibir manyun, senyuman masam pun tak ketinggalan diakhir kata yang membuat aku terlihat sangat judes kepadanya.
"Yang aneh tuh kamu dek, kerjanya marah - marah terus tanpa sebab! kalau kurang kerjaan gih sana bantu ibu masak dirumah!! " balasnya menyindir sambil nyengir - nyengir
"Kok aku?! Mas ini looh yang salah, tahu - tahu tangannya mencengkram bahuku kuat banget, sampe ngilu rasanya..!" kataku sambil ngomel dan mijit - mijit persendian bahu yang masih nyeri karena rangkulan eratnya tadi.
"Yang mana? yang mana?!!" Candanya sembari tangan kirinya mencet - mencet sembarangan kebahu kanan dan kiriku
"Aah lepasin! Coba mas ini nyetir jangan sambil becanda!! memang mas yang aneh kok mau nyalahin orang, abis ngobrol sama cewek cantik bukannya seneng malah nyakitin orang!!" Ucapku sinis sabil menepis tangannya dipundakku.
Karena aku telah menyinggung dia dengan kakaknya Amira, tiba - tiba saja langsung membuat ekspresinya berubah menjadi terdiam seperti tidak senang.
"Udahlah Ra, mungkin mas Irvan cuma ada sesuatu yang nggak bisa diceritain...!" kata - kata Kiki yang selalu bijak menanggapi sesuatu saat melihat perubahan ekspresi mas Irvan seperti itu.
"Nhaaa betul tuh kata Kiki..!"sahut mas Irvan bangga karena merasa ada yang membela
"Huuuft... Yaa udah lah terserah aja!!" Jawabku pasrah sambil menghela nafas, kusandarkan tubuh sambil menatap keluar jendela, lalu tiba - tiba saja baru teringat sesuatu.
Namun karena sudah mulai lelah, akupun menurunkan nada bicaraku tidak kesal seperti tadi,
"Oiya mas, kan motorku masih ada dirumahnya Kiki, entar aku pulang sendiri yaa?!!" tanyaku datar
"Gampang aja itu, entar kamu pulangnya tetap sama mas, masalah motor nanti biar Reza aja yang ambilkan, temannya dia kan banyak!!" Jawab mas Irvan dengan santai, lalu akupun kembali menatap keluar jendela.
"Jadi kita cari makan dimana nih?!" tanya mas Irvan yang kupikir dia sedang bertanya kepada Kiki, namun beberapa detik tidak ada jawaban membuat seketika saja aku menoleh kearahnya tatapan matanya yang lurus kedepan jalan.
"Mas barusan nanya sama siapa?!" Tanyaku
"Hm?!!! Mas tanya kucing yang barusan nyebrang!!!" jawabnya nyeleneh dan terlihat kesal
PTH! Hahahaha...!!!
Tawa Kiki yang terbahak - bahak mendengarnya, namun aku sama sekali tidak mengerti apapun jadi bingung melihatnya
"Kenapa Ki?!!" tanyaku polos sambil bangkit dari sandaranku.
Ekspresi ku yang kebingungan karena tidak tahu apa yang dia tertawa kan dan mas Irvan pun terlihat cemberut, otakku sama sekali nggak bisa mikir apa yang sebenarnya terjadi.
"Hahahahaa... Aduh, sakit perut ku..!!" kata Kiki sambil mengusap airmata yang merembes karena tawanya yang terlalu menggelitik.
"Sudahlah Ki... Dia itu LOLA, orangnya memang ada disini, tapi pikirannya kemana - mana, jadi percuma ngomong sama dia nggak akan nyambung!!" celetuk mas Irvan yang kata - katanya sangat menyinggung kebodohanku.
"Aku sebenarnya pengen menjawab kata - katanya barusan, jelas - jelas tadi dia bertanya tanpa melihat ataupun sekedar melirik kesiapapun, jadi aku kan nggak tahu siapa yang dia tanya!
Misalnya aku langsung mejawab apa nggak bikin malu diri sendiri kalau ternyata pertanyaan nya dia tadi sekalinya ditujukan ke Kiki?!!
__ADS_1
Kok sekarang aku yang malah dibuatnya malu begini? Tapi aku malas berdebat apalagi ribut lagi, Biarkan saja mereka mau ngomong apa, aku akui aku memang sangat bodoh dan tidak pernah peka terhadap hal apapun, Sudah lah sekarang aku udah sangat capek!..." kataku dalam hati lalu duduk bersandar kembali sambil memandang keluar jendela.
.
.
.
.
.
"Kamu udah bangun?" terdengar suara yang sangat dekat padaku, perlahan - lahan aku mulai membuka mata yang sudah nampak bayangan seseorang dihadapan ku.
"Emh, Mas?" tanyaku dengan suara lirih juga mata yang masih sayup - sayup.
"Kita lagi dimana?" tanyaku saat mencium bau obat, memandang kelangit - langit ruangan yang asing, ditambah lagi aku merasakan tanganku seperti terikat sesuatu membuat aku curiga.
Dan benar saja saat aku menoleh ke sekeliling ruanngan dan tanganku, yang sekalinya aku memang sedang berada dirumah sakit dengan selang infusan sudah terpasang dibalik telapak tanganku yang seketika membuat aku merasa ngeri saat membayangkan jarumnya.
"Kok aku bisa disini? Bukannya kita lagi di....." tanyaku yang masih lemas, sambil perlahan menoleh lagi menghadap ke mas Irvan yang sedang duduk dikursi samping ranjangku.
"Udah, kamu istirahat aja, nggak usah banyak mikir apa - apa dulu..!" kata mas Irvan dengan lembut sambil membelai rambutku.
Mataku yang masih berat ini juga rasanya tidak tahan kalau dibuka terlalu lama, perlahan - lahan aku kembali memejamkan mata sambil otakku berusaha mengingat kembali apa yang terakhir kali terjadi sebelum aku disini.
Perlahan semua ingatan dalam memori diotakku pulih, aku mulai mengingat apa yang terjadi terakhir kali sebelum aku bangun barusan, begitu banyak pertanyaan dalam benakku namun sangat sulit diutarakan bahkan untuk mengeluarkan pertanyaan yang sedikit seperti barusan pun sudah membuat aku kelelahan.
Benar kata mas Irvan, lebih baik aku istirahat dulu agar tenagaku cepat pulih kembali.
(IRVAN, Semalam saat dikamar Dara)
Seperti ada yang bergerak - kerak diatas dadaku, dengan rasa ngantuk yang sangat luar biasa ku paksakan membuka mata hanya untuk memastikan ada apa sebenarnya diatas dadaku ini.
"Em? Mamah?!"
"Ssttt!! udah tidur lagi aja, mama cuma mau ngecek panasnya Dara aja..." Katanya dengan suara yang berbisik sambil tangannya meraba - raba kening anak gadisnya yang sedang terlelap dipelukan ku, lebih tepatnya Dara sedang tertidur diatas dadaku.
"Tapi Mah?!!" kataku yang langsung mau bangkit dari baringan diatas ranjang putrinya ini, jelas aku jadi nggak enak sama Mama saat melihat posisi kami seperti sekarang ini.
"Ssttt! udah nggak apa - apa, nanti dia malah bangun! Mama percaya sama kamu toh kamu juga udah kayak abangnya dari dulu, yang penting dia bisa istirahat biar cepat sembuh!" Kata mama yang menahan aku bangun, lalu dia keluar dari kamar membiarkan aku tidur dikamar Dara.
Memang dari kecil kami sudah terbiasa saling menginap dan tidur bersama beserta dengan adik - adik yang lainnya juga, namun sekarang usia kami sudah beranjak semakin dewasa yang tentunya harus mulai menjaga sikap, kedekatan yang berlebihan, karena mau gimanapun aku dan Dara tidak ada terkait hubungan darah sedikitpun, namun orang tua kami justru tidak mau kami saling menjaga jarak atau lebih tepatnya mereka mau kami tetap saling menjaga satu sama lainnya seperti saudara kandung.
Ditambah karena kondisi Dara yang memang sedang sakit hari ini, padahal beberapa tahun belakangan ini dia sangat jarang sakit kecuali batuk atau pilek.
Dan aku juga tahu ini disebabkan karena sesuatu yang sudah mengganggu pikirannya hingga merambat ketubuhnya.
Saat ini hati dan pikirannya bahkan lebih sakit daripada tubuhnya, walaupun aku sendiri belum pernah merasakan yang namanya patah hati, namun aku cukup paham bagaimana rasanya dikhianati oleh orang terdekat, terutama kekasih kita sendiri.
Yaaa, sebelumnya aku pernah melihat keadaan orang yang sedang merasakan sakit tanpa luka seperti ini, orang itu adalah Ibuku sendiri yang pernah di khianati oleh Bapak saat aku masih duduk dibangku SMK, saat itu jangan kan untuk mengurus rumah dan anak, mengurus diri sendiripun Ibu tidak berdaya, bahkan beberapa kali selalu mencoba bunuh diri yang untung nya selalu ketahuan dam dapat dicegah.
"Tidak! Aku tidak mau kalau sampai kejadian yang Ibu alami enam tahun lalu itu akan terjadi juga sama orang - orang yang aku sayangi lagi, seperti gadis didekapanku sekarang ini, Dara!
__ADS_1
Apalagi kalau sampai terjadi yang lebih parah dari itu, aku nggak bisa terima, aku nggak akan sanggup!!" Ucapku dalam hati sambil mempererat pelukanku padanya.
Mungkin mamah hanya berpikir yang penting saat ini Dara bisa istirahat agar demamnya cepat turun, namun bagiku bukan cuma butuh istirahat, melainkan Dara juga harus benar - benar diawasi dan ditemani untuk beberapa waktu ini sampai dia bisa melupakan perasaan nya pada laki - laki kurang ajar itu.
Dengan gemas ku menciumi rambut Dara yang sedang terlelap diatas dadaku, ku elus - elus lengannya yang memar, dengan panas suhu badannya sudah menembus kulitku, merambat kedalam organ tubuh yang membuat aku dapat merasakan panas hatinya saat ini.
Aku memang sudah tahu kalau Dara memang sedang berselisih paham dengan Arga pacarnya, namun tadi malam Arga tidak menceritakan inti permasalahannya saat duduk diteras bersamaku. Ditambah saat pulang dari mall tadi sore aku melihat bekas memar di pergelangan tangan Dara yang membuat aku tambah penasaran dengan yang terjadi sebenarnya.
Jangankan untuk bertanya sampai mendetail, baru sedikit saja menyinggung nama Arga emosinya sudah meluap - luap sampai dia muntah - muntah dimotor tadi!
"Aku: Enggak juga sampe segitunya kalee Bang?! Si Daranya kan memang lagi sakit!! lebay baget bang Irvan nih! (ngolok) 😅
Irvan: Autor protes mulu nih! orang lagi serius, dengerin aja ceritanya!! (ngomel - ngomel)😡
Aku: Iya - iya ampun bang, lanjut - lanjut!"😬
Eheem! Jadi gimana caranya supaya aku tahu? nhaaah untungnya aku ada kesempatan, sore tadi dia memintaku membalas kan sms dari Kiki, yang tentunya aku tahu kalau Kiki ini adalah satu - satunya sahabat Dara yang selalu tahu lebih dulu apapun yang terjadi padanya, dan dengan sedikit kata - kata pemancing akhirnya aku dapat mengetahui apa yang ingin aku ketahui dari anak kelas tiga SMA itu.
Awalnya aku sangat tidak percaya kalau Arga akan mengkhianati Dara, namun setelah nama Amira disebut sebagai perusak hubungan mereka, seketika saja aku langsung percaya.
Bukan tanpa sebab, melainkan Amira yang disebut - sebut itu aku curiga adalah Amira adiknya Prisilia teman kuliahku kemaren.
Aku ingin sekali mencari kebenarannya ini, agar semuanya cepat terungkap dan permasalahan nya juga cepat selesai. Mungkin aku akan minta tolong beberapa teman kepercayaanku agar ikut membantu mencarikan informasi disela - sela kesibukannya, yaa besok aku akan mulai menelpon mereka.
(Pagi harinya)
Aku terbangun karena gerakan Dara yang seperti sedang mencari sesuatu ditangannya, dengan kepala ku yang sedikit pusing karena semalam jelas kurang tidur, lalu aku menegur dia yang terlihat sedang kebingungan.
"Kenapa Dek, kok kayak orang bingung gitu sih, kamu cari apa di tangan mu?!" Tanyaku sambil memegangi dan juga ikut memperhatikan telapak tangan yang dari tadi dibolak baliknya..
"Es krimku mana?" tanya nya tiba - tiba.
"PHHTT!!" Sontak saja aku jadi tertawa dibuatnya, karena posisi kamipun masih diatas kasur dipagi buta ini namun dia sudah mencari es krim yang seolah - olah hilang dari tangannya.
Seketika saja Dara bangun dan duduk disampingku sambil berbisik sendiri sangat pelan sampai - sampai aku tidak bisa mendengar apa yang dia ucapkan.
Sesekali aku memejamkan mata, lalu membukanya kembali, rasa pusing dan ngantuk yang masih sangat menempel di kepalaku membuat aku sangat malas bergerak, tetapi rasa ingin mengawasinya lebih kuat dari semua rasa ini.
"Masih sakit kah dek?!" tanyaku yang memaksa kan diri untuk bangun kemudian ikut duduk disampingnya sambil tanganku memeriksa suhu tubuh mulai dari kening, pipi, dan tangannya.
"Sudah mendingan Mas..!" Jawabnya, kuperhatikan dia terkejut saat melihat jam yang menggantung didinding kamarnya sambil memijat kening dengan tangannya yang memar.
"Dek, pergelangan tanganmu ini kenapa biru? sebenarnya mas udah liat dari kemaren, tapi mau tanyain lupa terus, semalam pas kamu tidur baru mas perhatikan lagi ini ternyata memar ya?!!" Tanyaku sambil dengan hati - hati memegangi tangannya yang sakit itu.
"Ini... nggak apa - apa Mas, aku cuma keseleo aja kemaren!" jawabnya sambil menarik kembali tangannya yang sedang kupegang.
Diapun bergegas turun dari kasur dan bilang ingin pergi kesekolah, tapi aku melihat dia seperti sedang menghindari pertanyaan ku, yang justru sikapnya seperti ini malah membuat aku semakin curiga.
Namun saat aku cepat - cepat berdiri ingin mengejar dan menahannya, kepalaku tiba - tiba sangat sakit hingga akupun jadi terduduk kembali diatas kasur.
Pikiran was - was ku menepiskan rasa sakit kepala ini, memaksa kaki melangkah mendekati kamar mandi yang dia sedang berada didalamnya, kuajak dia bicara untuk memastikan dia baik - baik saja.
__ADS_1
Akhirnya dia mau walau dengan susah payah kubujuk dia agar hari ini tidak pergi kesekolah dan kuantar periksa kedokter jam sembilan nanti, karena aku juga sempet berpikir takut demam tingginya dia semalam disebabkan terkena DBD atau tifus seperti Reza dulu.
Diakhir kata dia mengusirku pulang, meskipun terdengar agak kasar ditelinga tetapi justru omelannya itu yang membuat aku jadi tenang daripada aku tidak mendengar suaranya sama sekali dari dalam sana.