
"Apa - apaan Prisilia ini tahu - tahu sudah dibelakang ku aja lagi, terus berani - beraninya dia memotong pembicaraan ku dengan Dara, kurang ajar!! Dara tidak boleh berlama - lama disini, kalau tidak wanita disamping ku ini akan semakin memanfaatkan kepolosan Dara!" Emosiku semakin memuncak yang akhirnya dengan tegas mengajak Dara dan Kiki segera pulang.
Dan lagi - lagi Prisil masih saja mengikuti saat aku sudah mendekat kepintu keluar dari rumah ini, karena terlalu gregetan akupun tidak sengaja melampiaskan kejengkelanku dengan *** kuat bahu Dara yang sedang ku rangkul disampingku, lalu tidak lama suara handphone ku berdering yang langsung saja aku mengangkatnya.
Karena sambil menerima telpon dari Adhi yang mengatakan bahwa dia sudah mendapat semua info yang aku butuhkan, aku sampai tidak sadar kalau tanganku masih saja *** bahu Dara sampai parkiran, dan tentunya dia terlihat marah sambil meronta - ronta kesakitan namun dari tadi tidak aku hiraukan.
Dengan segera aku melepaskan tanganku dari bahunya , ku tinggal dia berjalan menuju mobil, membuka pintu lalu masuk dan duduk didalamnya. karena tadi tidak konsentrasi aku nggak tahu seberapa kuat tanganku sudah menggenggam bahunya sampai dia meringis kesakitan seperti itu.
Aku sudah meminta maafpun tapi dia terus saja mengoceh marah - marah, ditambah lagi dia dan Kiki terus - terusan mendesak agar aku menjelaskan kenapa tadi ingin segera pergi dari rumah mewah itu.
Kuliha wajahnya yang semakin memuncat, namun Dara terus saja mengajak bdebat dengan ku sampai dia pun menyindir ku dengan Prisil yang menurutnya cantik dan baik, padahal Dara nggak tahu aja siapa Prisil itu sebenarnya!
Setelah kalah berdebat, lalu diapun seperti meraju, dia mulai diam sambil bersandar dan melihat kearah luar jendela membelakangiku.
Saat aku memutuskan ingin mengalah darinya, akupun duluan bertanya mau makan apa dan dimana, namun hanya Kiki saja yang menjawab dengan jawaban "terserah", sedangkan dia tetap diam tak menjawab sepatah katapun, lalu aku berusaha memanggil, namun dia tetap juga masih diam, kemudia Kiki mengintip dari sampingnya memastikan mungkin dia tertidur, tapi sekalinya
"Dia lagi melamun mas ...." bisik Kiki dari belakangku, namun tidak lama kemudian tiba - tiba dia memutar wajah dan bertanya.
"Mas nanya sama siapa?!" tanyanya dengan polos
"Jadi, dari tadi aku ngomong sekalinya dia memang tidak ada ngedengerin yaa? apa sih yang dia lagi pikirain? jadi bikin aku jengkel aja!" pikiranku yang memang masih emosi karena Prisil, kemudian aku menjawab dengannya dengan cetus
"Nanya sama kucing nyebrang!!" Seketika Kiki menertawai jawaban ku barusan yang membuatnya jadi tersinggung.
Dengan ekspresi bingung, dia seperti sudah sangat lelah karena tidak lagi mau bicara apalagi ngoceh seperti tadi, sambil menghela nafas dia kembali diposisi semula bersandar menatap ke jendela.
Karena aku dan Dara saling terdiam, jadinya akupun hanya bertukar pendapat dengan Kiki untuk mencari tempat makan yang akhirnya dia mengatakan ..
"Ke Warung Mie ayam pak De aja mas, kalau disitu Dara pasti nggak mungkin nolak, lagiankan dari sini juga sudah dekat, iya kan?!!" Sarannya sembari dia mengintip Dara dari sampingnya.
"Mas Irvan, Dara tertidur sekalinya?!" kata Kiki berbisik
"Kalau gitu biarin aja dulu, semalaman dia kurang nyenyak juga tidurnya.. " respon ku saat melihat kulit putih kemerahanya yang tadi kini pucat menguning, namun ku kira cuma warna pantulan dari cahaya matahari aja.
Saat mobil sudah terpakir ditempat makan yang disarankan Kiki, Dara yang masih tertidur membuat aku tidak tega untuk membangunkan nya.
"Kiki, kamu pesankan aja dulu yang biasa Dara pesan, nanti kalau sudah siap baru dia dibangunin!" pesanku pada Kiki,
"Kalau mas Irvan mau pesan apa?" tanyanya
"Samain aja deh.." jawabku
"Oke deh kalau!" lalu Kiki segera turun dari mobil dan menghampiri pegawai warung makan itu untuk memesan.
Aku yang masih tidak tega membangunkan tidurnya Dara pun, akhirnya memutuskan membiarkan dia tetap tidur didalam mobil dengan membuka sedikit jendela untuk fentilasi udara, lalu sengaja ku mematikan mesin mobilnya agar dia nanti tersadar sendiri kalau ac-nya sudah tidak lagi menyala.
kemudian aku turun menghampiri Kiki yang sudah menempati kursi dibagian depan sedang sibuk dengan ponsel ditanganya.
"Lhoo mas Irvan, Dara nya mana? masih tidur?!" tanya Kiki saat dia melihat ku datang sendirian.
"Iya, biarin aja dulu, ac-nya juga sudah dimatiin." jawabku sembari bersiap duduk didepannya
"Lhoo kok ac- nya dimatiin mas? jangan, nanti dia sesak gimana?!!" protesnya sambil berdiri melihat kearah mobil yang hanya terlihat bagian belakangnya saja, karena bagian depan mobilku terhalang oleh mobil parkir lainnya.
"Mana kuncinya mobilnya?! sini biar aku bangunin aja dia!" kata Kiki sambil menadahkan tangan
"Biarin aja dulu dia tidur, jendelanya sudah dibuka sedikit kok cukup buat dia bernafas, nanti kalau makana sudah siap baru dibangunin !!" Kataku cuek sambil mengeluarkan hape dari kantong celana ingin memeriksa email masuk, dan aku lupa kalau handphone Dara ternyata masih bersama ku.
Karena tempat makan ini lumayan terkenal dan kami juga datang pas jam makan siang, jadinya cukup lama jadinya pesanan kami.
Kiki terlihat mulai cemas dan sangat gelisah dikursinya menunggu pesanan tiba sebab dia ingin cepat - cepat membangunkan Dara yang tertidur sendirian didalam mobil, namun aku yang tahu Dara kurang tidur justru ingin dia cukup waktu untuk beristirahat.
Lima belas menit berlalu dan pesanan Kiki yang tadi baru saja tiba diatas meja kami, dengan cepat Kiki langsung menadahkan tangannya bermaksud meminta kunci mobil.
"Iya sebentar.." kataku sembari berdiri dan merogoh kantong celana
__ADS_1
"Nih, jangan lupa dikunci lagi ya..." pesan ku sambil memberikan kunci, lalu duduk kembali
"Iya, tenang aja!" Jawab Kiki lalu berjalan cepat menuju parkiran yang berada didepan. Dan sekitar tiga menit kemudian, saat aku sedang minum..
ZRRRRT!!! ZRRRRT!!!
Handphone Dara yang masih kubawa bergetar.
"Haah Kiki?!!" Gumamku heran
"MAAAAS KESINI CEPETAN!!!!" teriak Kiki didalam telpon yang padahal posisinya cuma sekitar delapan meter dari didepan sana.
Segera aku berdiri menghampiri salah satu pelayan warung makan tersebut,
"Mas tolong jaga sebentar makanan kami dimeja itu yaa!" kataku sambil memberinya uang jaminan seratus ribu Rupiah.
Akupun berlari mendekati mobil diparkiran, dengan penuh rasa penasaran apa yang membuatnya panik barusan!
Saat baru tiba dibelakang mobil aku berhenti sejenak, Ku lihat pintu bagian Dara sudah terbuka, Kiki berdiri disamping joknya dengan wajah panik.
"Mas Irvan!!" panggilnya dengan mata yang berkaca - kaca,
"Ada apa Ki?!" tanyaku sambil melangkah pelan mendekatinya dan aku tidak mau ada pikiran yang aneh - aneh dengan keadaan Dara, karena aku sama sekali tidak mengharapkannya.
Kulihat Dara yang masih tidur dengan warna wajah dan kulitnya memang beneran menguning, rembesan keringat dingin yang becucurah dari dahinya.
"Dara nggak bangun - bangun Mas, sudah kupanggil - panggil, sampai ku goyang badannya, ta - tapi masih nggak ada respon!!" Katanya dengan suara yang mulai serak, dan akupun langsung memegang tangan Dara yang malah dingin setelah ac-nya ku matikan.
Segera ku periksa nafas dan denyut nadinya yang masih ada namun sangat pelan.
"Ki, minta pesanan tadi di bungkus aja, mas putar mobil dulu!" Kataku sembari memberikan selembar uang seratus ribu lagi untuk jaga - jaga takut kurang.
"Jangan panik Van!!" Gumam ku sambil mengatur nafas panjang agar tetap tenang.
Kupasangkan safetybelt, menutup dan mengunci pintu bagian Dara dan memutar mobil mengarah kejalan, lalu Kiki dengan bukusan ditangannya berlari masuk kedalam mobil.
Aku tidak berfikir lagi ingin mendatangi rumah sakit yang memang sudah aku rencanakan untuk memeriksa kesehatannya, tapi kali ini aku hanya berfikir untuk sesegera mungkin mendapatkan rumah sakit atau klinik yang terdekat agar dapat diberikan pertolongan pertama untuknya dulu.
Segera ku bukakan safetybelt dan mengangkat tubuhnya sendiri keatas brankar, dengan didampingi Kiki Dara pun dibawa kedalam sementara aku memakir mobil ditempat yang sudah disediakan.
Rasa panik dan cemas menghantuiku membuat kakiku berlari sangat cepat mendatangi ruang IGD itu.
KLAK! - KLAK! - KLAK! -KLAK!!
(suara langkah kaki berlari)
"Kiki?!!" panggil ku melihat dia terduduk didepan ruangan yang pintunya tertutup itu.
Dengan tas dan bungksan makanannya yang ditaruhnya dilantai menepi kedinding lalu dia berdiri dihadapan ku, airmatanya yang sudah membasahi pipinya membuat rasa cemasku semakin menjadi - jadi...
BRUUK!! (suara tubuhku terjatuh)
Tahu - tahu dengan sangat kuat Kiki mendorongku sampai aku jatuh kelantai!
Bukan karena aku tidak menahannya, tetapi karena kakiku sudah sangat lemas, dan aku juga tidak menyangka dia berdiri hanya untuk mendorongku.
"Ini salahnya mas Irvan, perasaan ku memang sudah nggak enak saat lihat Dara tertidur, tetapi mas malah ninggalin dia sendiri didalam mobil bahkan mas sudah ngelarang aku buat ngebangunin Dia! sekarang apa yang terjadi, DIA BUKAN SEKEDAR TIDUR KAN??!!!" suaranya membentakku memecahkan ketenangan disekitar IGD hingga beberapa perawat yang sedang berlalu lalangpun sempat menengok kearah kami.
Perlahan aku bangkit, aku berdiri didepannya yang sedang menunduk sambil menutupi wajahnya yang sedang menangis..
"Iya Ki, mas minta maaf...." ucapku
Hik - hik... Sssniffhht! - sniiiffhht!!
(Kiki berupaya menghentikan tangisannya)
sambil berjalan mundur menyandarkan punggungnya kedinding
__ADS_1
"Kan... aku sudah kasih tahu sama mas dari kemaren kalau Dara lagi sakit,..." katanya pelan sambil menghapus airmatanya
"Iya Ki, mas juga tahu kalau Dara sakit, dari kemaren mas nggak ada ninggalin dia sama sekali kok, semalam juga dia demam tinggi, makanya mas mau jemput dia buat periksa kedokter..." jelasku sambil ikut menyandarkan badanku kediding disampingnya, lalu aku mengambil handphone untuk segera memberi kabar ke mama.
TUUUUT.... TUUUUT.... KLIK!!
"Hallo Van?" suara mama dari seberang sana
"Mah,, Da - Dara mah ....." Kataku takut - takut
"Iyaa Dara kenapa Van??" tanya mama
GREEP!!!
"HALLO TANTE?! tan, Dara masuk rumah sakit sekarang masih di-IGD!!!" Ucap Kiki dengan lancar kepada mama setelah merebut handphone dari tanganku.
"Lhoo? bukannya Irvan memang mau bawa Dara periksa, kok malah masuk IGD??!!" tanya mama yang suaranya sedikit terdengar dari handphoneku yang volume panggilanya memang tinggi.
"Ceritanya panjang tante, pada intinya ini salahnya mas Irvan!!!" Ucap Kiki yang langsung saya membuat mataku terbuka lebar, seluruh tubuhku mulai bergetar lagi seperti tadi, tapi kali ini bukan karena hasrat melainkan karena ketakutan.
"Oiya tan, kami dirumah sakit C, iya - iya tante sama - sama!!
Nih mas hapenya!" kata Kiki sambil mengembalikan handphone tanpa melihat lagi kearahku.
Aku jelas tidak bisa membantah penyataannya tadi, karena memang benar apa yang dia adukan kepada Mama kalau yang terjadi pada Dara akibat kelalaian ku, dan
Akupun hanya bisa terdiam menyesali ketidak pekaanku.
JEEGLEK!!! (suara daun pintu diturunkan, lalu ada seseorang perawat yang keluar dari dalamnya)
"MBAK, GIMANA KEADAAN ADIK SAYA?!!" tanyaku panik, mendekatinya
"Mas kakaknya pasien didalam?!"
tanya perawat itu kepadaku
"Iya, iya saya kakaknya!!" Jawabku cepat
"Dia masih diperiksa Dokter, kalau gitu mas ikut saya dulu buat ngurus administrasinya..." katanya
"Oiyaa - iyaa..!" jawabku lalu mengikuti langkahnya.
"Astaga kok aku bisa sampe lupa buat langsung ngisi Administrasinya?!" gumamku dalam hati.
Sesampainya dimeja depan, aku segera mengisi formulir yang sudah disiapkan, tidak lama kemudian perawat yang tadi keluar dari balik pintu sebuah ruangan pas disamping meja depanku ini, dia memanggilku untuk menemui dokter yang memeriksa Dara barusan diruangan tersebut.
"Permisi Dok, ini keluarga pasien di-IGD tadi..." kata perawat itu saat mengantarku sampai pintu, lalu dia langsung keluar lagi.
"Silahkan Duduk..." Kata Dokter pria setengah baya yang sedang duduk didepanku dengan lembaran kertas didepannya.
"Gimana adik saya Dok?" tanya ku tanpa basa - basi lagi sambil mulai duduk
"Kalau hasil tes keseluruhan kemungkinan baru minggu depan keluarnya, tetapi untuk dugaan sementara,,
ini baru menurut dugaan saya yaa mas?!" aku manggut - manggut
"Adiknya mas ini terkena fibromyalgia!" ucap dugaan sementara nya
"Fibromyalgia? sakit apa itu pak?!" tanyaku yang memang baru pernah dengar.
"Fibromyalgia itu semacam gangguan yang memengaruhi otak dalam memproses rasa sakit pada tubuh. Kondisi ini ditandai dengan rasa sakit muskuloskeletal atau tulang dan otot yang menyebar, disertai dengan kelelahan, perubahan suasana hati, rasa kantuk, dan masalah dalam mengingat." Penjelasan dokter
"Penyebabnya Dok?!" tanyaku lagi antusias
"Umumnya muncul setelah terjadi trauma fisik, operasi, infeksi, atau adanya stres psikologis. Namun, dalam beberapa kasus, gejala-gejala ini dapat muncul secara bertahap tanpa adanya peristiwa atau kondisi tertentu yang menjadi pemicu.
Penyakit ini membuat tubuh menjadi jauh lebih sensitif. Bahkan, bisa merasa kesakitan hanya dengan sedikit sentuhan. Kondisi ini disebut dengan hiperalgesia atau allodynia." Jelasnya lagi, dan aku merasa memang seperti ada kesamaan yang dialami Dara
__ADS_1
"Tetapi inikan baru perkiraan saya, nanti Dokter spesialis yang mengecek lagi setelah dia sadar dan lebih pastinya setelah hasil tes darahnya keluar.." katanya sambil menulis - nulis dibuku
"Terus Dok, jadi sekarang gimana keadaannya, apa dia belum juga bangun?!!" tanyaku mulai cemas