
"Iya aku juga berpikir seperti itu, tapi aku ragu - ragu buat cerita ke Dara, soalnya........."
"Jangan Van, kamu jangan ceroboh! bukannya apa, cuma takutnya kalau kamu yang cerita terus nggak sengaja bocor darimana malah jadi berabe, apalagi usahamu juga masih terhubung kerja sama dengan perusahaan neneknya, kalau cuma putus kontrak mungkin masih bisa dipikirin jalan keluarnya tapi kalau sampai kamu dituntut karena dianggap nyebarin berita yang nggak bener gimana? walaupun sebenarnya kamu memang kamu tau, masalahnya dikota ini keluarga mereka bukan orang biasa - biasa!
yaudah sekarang Dara- nya mau aku tes dulu supaya tau penanganan gimana!" kemudian Rina mengajukan beberapa pertanyaan yang dijawab sangat singkat oleh Dara
"Van, aku kasih tau kamu apa aja yang harus dilakukan sama orang dirumah, sekalian aku kasih vitamin juga obat penenang dosis rendah, tapi kalau sudah membaik obatnya jangan dikasih lagi yaa.." pesannya
Setelah dari Rumah Rina, aku segera membawa Dara pulang kerumah, mengajak makan dan memberinya obat tadi.
Kemudian saat dia sudah tidur, akupun mulai menceritakan semua permasalahan Dara ke Mama yang seketika itu membuat mama langsung menangis mendengarnya.
"Mama sadar kalau selama ini mama terlalu sibuk sampai kurang perhatian sama Dara dan Doni, dan mama juga sebenarnya..... hiks!" segera aku ambilkan tisue
"Sudah mah, semua orang pasti bakal ngalamin hal sulit semasa hidup, mungkin karena dari dulu Dara terlalu dimanja jadinya sulit buat nerima cobaan!" kataku
"Tapi setidaknya dia jangan terus kesepian dan nggak punya tepat buat curhat, iya kan?!" jelas mama
"Iya mah, aku juga nggak akan menjauh dari dia selama dia belum pintar buat jaga diri. Dan tadi dokter Rina juga berpesan untuk saat ini dia jangan lepas dari pengawasan, soalnya umuran segitu masih labil belum terlalu bisa mikir mana yang benar dan salah, bisa - bisa nanti dia me....."
"VAN!! jangan lanjutin! Hiks.. mama tau mamah salah, tapi jangan bikin mama tambah takut.. Hiks..!" ucap mama sambil menutupi wajahnya
"Mah, mamah jangan terus menyalahkan diri sendiri, Irvan juga selama ini kurang memperhatikan keluarga terutama adik - adik!" kataku menyesal
"Nggak Van, kamu sudah sangat baik, terlebih kamu masih sangat muda tapi malah harus menanggung beban menjadi kepala rumah tangga dirumahmu, ini salah mama yang nggak bisa jaga papah jadinya...... hiks hiks!!" tangis mamah makin tersendu - sendu sontak membuat aku bingung sekaligus curiga.
"Mah?.. ada apa sama papa..?" tanyaku ragu - ragu tapi penasaran
"Nggak ada apa - apa Van, mama mau kekamar mau istirahat dulu sebentar!" ucap mama yang langsung pergi kekamarnya
'Papa? apa jangan - jangan?! ah, mudah - mudahan kecurigaanku salah!' gumamku, kemudian aku pulang kerumah dengan membawa beribu pertanyaan dibenakku.
Didalam kamar, aku yang tadinya ingin beristirahat malah jadi terus terngiang ucapan dokter Rina yang menyarankan supaya Dara dijauhkan dari hal yang berhubungan dengan Arga selama Arga belum ada kabarnya, metode ini bertujuan agar Dara bisa mulai mengikis perasaan bersalahnya terhadap Arga sebab kalau ini terus berlanjut bisa mempengaruhi belajarnya, apalagi Ujian Nasional sudah semakin dekat!
Sorenya setelah aku mandi akupun kembali kerumah Dara untuk memulai rencana yang disarankan.
Mama yang tadi sedihpun sekarang sudah kembali memasang wajah ceria untuk membangun semangat dalam diri Dara.
Hari demi hari dilalui dengan terus berusaha membuat Dara bahagia, mama yang biasanya pulang malampun kini setiap sore pasti sudah dirumah dengan selalu menyiapkan makanan kesukaan Dara, begitupun dengan aku yang selalu membantunya belajar dan bahkan aku sampai dilarang ibu tidur dirumah setiap malamnya.
(Jangan2 bang Irvan dibuang secara halus 😅)
Namun sepertinya usaha itu semuanya sia - sia, dengan tubuh yang semakin kurus dan kantung mata yang semakin membiru, setiap harinya Dara tetap saja menanyakan tentang kabar Arga padahal kami sudah berupaya mengalihkannya, hingga waktu bergulir sampai sebulan dimana senin besok Dara sudah akan mulai Ujian.
"Van, lagi sibuk nggak? sudah lebih dari sejam Dara belum selesai makan." kata mama lewat sms
'Astaga anak ini!' aku yang belum yang baru saja pulangpun langsung berlari.
Sesampainya disana ku lihat Dara sedang duduk termenung dimeja makan dengan makanan yang masih banyak dipiringnya.
"Dek, kamu susah makan lagi? liat badanmu sudah tinggal tulang berbalut kulit gini!" tegurku, kemudian dengan mata sinis dia menjawab:
"Mas mas! mau sampe kapan ngurusin kehidupan aku? kenapa mas nggak ngurusin diri sendiri, cari jodoh kek!!" ucapnya ketus, lalu berlari kekamar meninggalkan makanannya.
BLAM!!! (suara bantingan pintu)
'Sabar Van, Dara itu sengaja mau nyakitin kamu cuma supaya dia nggak diawasin!' ucapku dalam hati, kemudian aku mengejarnya
__ADS_1
JEGLEK.....
Saat membuka pintu kulihat dia sedang menangis dia atas kasur.
"Dek?" panggilku sambil mendekatinya
"Hiks.. Ngapain kesini, nggak denger yang aku bilang tadi? kenapa mas nggak tersinggung dengan ucapan ku?! Hiks.." tanyanya, lalu kuangkat badan kurusanya sampai terduduk
"Sini mas jawab!" kataku sambil memeluknya dari belakang.
Akupun mulai jelaskan kalau ke khawatiranku padanya lebih besar daripada rasa kecewa atas kata - katanya barusan, terlebih aku tau kalau tadi itu sengaja dia ucapkan agar aku marah dan menghindarinya.
Kemudian dia mengaku kalau dia memang ingin membuat aku agar tidak lagi datang mengurusinya, dia bilang kalau dia ini sudah besar, sudah bisa jaga diri sendiri dan mampu mencari ketenangannya sendiri.
'ketenangan yang bagaimana maksudnya? yang ada dia sudah menyiksa dirinya sendiri dan menyiksa batin setiap orang dirumah ini!' ucapku dalam hati
Lalu dia dengan terang - terangan meminta aku agar menolak setiap permintaan mama atau ibu apabila disuruh menjaganya, awalnya aku membantah walaupun tanpa dimintapun aku akan tetap menjaganya sampai dia bisa bahagia. Namun, dia malah mengatakan :
"Bahagia?! gimana aku bisa bahagia, sedangkan yang aku butuhkan sekarang ini hanya ingin tahu keadaan orang yang udah menolongku yang malah sudah aku buat celaka, dan sampai saat ini belum juga ada kabar tentangnya, pikiran negatif terus menekan batinku, membuat aku merasa telah menjadi seorang pembunuh! apa aku masih berhak buat bahagia?!" Ucapnya yang seketika itu membuat hatiku tergores, aku merasa kalau selama ini usahaku memulihkannya benar - benar tidak ada arti baginya
"~Maafin mas ya dek.. (tiba - tiba menetaskan airmata)
maaf kalau ternyata sampai saat ini mas masih banyak kekurangan, mas nggak becus jagain adek, nggak becus jadi seorang kakak yang baik, kalau memang kedatangan mas cuma menambah beban buat adek mas nggak akan ganggu lagi, (sambil melepaskan pelukanku)
yang penting kamu jaga diri baik - baik, sekali lagi maafin mas yaa dek!"
Ku cium kepalanya lalu kembali pulang.
Kali ini aku benar - benar merasa sudah gagal,
'Apakah perhatian dan kasih sayangku belum cukup memulihkan lukanya? atau mungkin dihatinya tidak ada rasa sayang untukku?' pikirku yang seketika membuat batinku melemah, lalu aku masuk kerumah dengan perasaan remuk.
kemudian kami duduk dikasur.
"Bu... untuk sementara aku nggak bisa antar jemput ataupun ngawasin Dara..." kataku
"Lhooh kenapa? apapun yang dia ucapkan jangan kamu ambil hati, dia itu cuma lagi terguncang emosinya!" kata ibu berusaha menenangkanku
"Iya aku paham bu, aku nggak sakit hati atas ucapannya bahkan kalau sampai dia memakipun aku akan biasa aja. Tapi tadi dia bilang kalau semakin aku jagain maka dia semakin nggak bisa mencari ketenangan!" ceritaku
"Aduuuh Van! pikir dong kalau sampe dia ngomong begitu apa nggak semakin mengkhawatirkan? jangankan dia yang masih muda, ibu yang sudah banyak anak aja butuh waktu bertahun - tahun untuk memulihkan perasaan kecewa!" Jelas ibu sambil gregetan kepadaku
"Terus aku harus gimana bu? aku bukannya nggak cemas bu, tapi ibu lihat sendiri kondisinya dia sudah sebulan inipun belum ada perubahan, dan tadi secara nggak langsung dia ngancam kalau aku terus - terusan ngawasin dia maka dia nggak akan membaik! !" Jelasku sampai meneskan airmata
"Ya ampun, maafin ibu nak! (ikut menangis)
ibu nggak bermaksud menyalahkanmu, tapi ibu cuma terlalu khawatir sama Dara, dia itu rapuh karena perhatian dan kasih sayang keluarganya tidak lengkap seperti kamu dulu yang masih sempat diurus bapak setiap hari!" kata ibu yang langsung menyadarkanku
"Iya ibu benar, aku yang diurus bapak dan ibu setiap haripun kadang masih merasa kurang perhatian karena terbagi oleh adik - adik, dan kata - kata ibu barusan membuat aku tersadar ternyata keadaanku masih lebih baik daripada Dara!" ucapku sambil menghapus airmata
"Setidaknya kehadiran kamu walaupun hanya sebatas tetangga dekat tetapikan bisa mengisi kekosongan hidupnya, menggantikan sosok ayah yang jarang ditemuinya, sosok kakak yang dibutuhkannya. Jadi gimana, kamu masih mau mengabaikan dia?" tanya ibu
"Iya bu aku akan memperhatikannya, tapi untuk sementara aku akan jagain dia secara nggak langsung, soalnya aku nggak mau dia jadi risih karena kehadiranku, aku akan minta temanku buat ngojek khusus antar jemput dia, dan disekolahnya pun aku akan minta tolong sahabatnya agar terus mendampingi kemanapun dia pergi!" Jelasku, lalu ibu mengangguk dan tersenyum
"Iya apapun caramu, ibu percaya sama kamu, kalau gitu ibu kebawah dulu yaa..." sambil berdiri lalu pergi
Kemudian aku berjalan keteras balkon kamarku, menyandarkan diri dipagar sambil kembali memikirkan kata - kata terakhir yang Dara ucapkan tadi dan entah kenapa hatiku masih terasa sakit, bukan karena kata - katanya melainkan karena ketidak berdayaanku terhadapnya.
Aku tidak tahu harus bagaimana agar dia bisa sedikit saja melupakan Arga agar kondisinya bisa kembali pulih.
__ADS_1
Gelapnya awan mendung dan rintikan hujan diluar sini menggambarkan suasana hatiku yang kini sedang rapuh, yang aku baru sadari bahwa ternyata kehadiranku selama ini tidak pernah berarti baginya...
'Rintikan gerimis tipis yang terhembus angin kini hinggap dimataku yang sedang mengingat senyumanmu yang dulu berseri dipenuhi dengan rasa cinta,
Aku hanya berharap agar engkau akan menjadi orang paling bahagia di dunia ini, dalam pelukan saat kita saling berjanji akan selalu bersama
Mungkin kali ini aku terlalu egois
mengharapkan engkau akan menjadi milikku utuh selama-lamanya, apakah karena aku sudah merasa kalau kau adalah cinta terakhirku?
Namun kali ini aku hanya akan menyalahkan air hujan yang sudah melunturkan perasaan itu darimu, dan aku menjadi sangat sedih.
Rasanya seperti dunia telah meninggalkan kita dan engkau menghilang disuatu tempat aku tidak dapat menemukannya.
Mungkin engkau akan menertawakannku jika tau aku mengatakan seperti ini.
Aku tau kalau aku terlalu banyak meminta padamu, namun saat ini aku berharap andai kita bisa kembali lagi seperti dulu yang selalu bersama - sama dalam suka duka'
(Aduh, Bang Irvan lagi Galau ðŸ˜)
.
.
.
.
Dua minggu setelah itu,
Dimana sampai saat ini aku memenuhi permintaannya yang tidak akan menampakan diri didepannya, namun terkadang aku bersembunyi memperhatikannya.
Aku tau kalau hari ini Dara sedang menghadiri acara perpisahan disekolah. Beberapa hari lalu aku diberi tau mama kalau nilai ujiannya cukup bagus yang bahkan sangat cukup apabila dia ingin melanjutkan cita - citanya yang ingin menjadi dokter.
'Hanya saja aku sangat ragu akan hal itu, mengingat kalau Dara sangat takut dengan yang namanya darah!'
Dan anehnya, sampai saat ini jangankan aku, bahkan mama pun belum tau Dara ingin melanjutkan kuliah dimana, karena setiap ditanya mama jawabnya selalu 'belum mikirin!', padahal untuk pendaftaran kuliah sudah dibuka dari sebulan lalu.
Siang ini, aku akan berangkat keJakarta dan Bandung untuk mengurus perpanjangan kontrak kerja sama dengan beberapa perusahaan disana yang mungkin butuh waktu kira - kira sebulan.
Karena aku belum tenang awalnya aku ingin mengulur waktu atau meminta tolong sama om ku saja untuk mengurusnya, namun setelah berdikusi dengan ibu dan juga mama, mereka malah mendesakku pergi dengan beribu alasan yang sebenarnya terdengar tidak masuk akal ditelingaku.
"Kamu berangkat aja Van, kalau bisa lebih dari sebulan juga nggak apa - apa!" kata mama
"Waduuuh! siapa yang ngawasin Wedokku nanti? apalagi dia belum daftar kuliah!" protes Ibu sewot
"Masalah Dara nggak usah dipikirin, yang penting kerjaan kantormu yang disini bisa dihandle, dikirim lewat email kayak dulu waktu masih kuliah diBandung! nah jadi kamu santai - santai aja dulu disana, kan selama disini jangankan buat cari hiburan, yang ada istirahatnya aja kurang!" Saran mama
"Tapi mah...." bantahku
"Udah nggak usah tapi - tapian! dengerin saran mama, apa salahnya kamu refresing, nanti keburu kriput sebelum tua mau?!" ucap mama menakuti
"Kalau mamahmu sudah bilang begitu ya apa salahnya..?" ucap Ibu mendukung
"Haduuuh! Ya sudah nanti aku berangkat, tapi setelah selesai kerjaan disana aku mau-nya langsung kembali kesini, aku nggak ada niat mau berlibur kalau keadaan Dara aja masih murung kayak gitu!" kataku, lalu dengan malasnya pergi kekamar dan mulai mempersiapkan keperluan yang akan dibawa dalam koper.
'Apa beneran nggak apa - apa ya?' gumamku sambil memperhatikan jendela kamar Dara yang tirainya melambai - lambai keluar karena tiupan angin seolah - olah itu seperti tangan Dara yang sedang melambai kepadaku.
Seketika itupun aku menelan liur yang mengganjal ditenggorokanku, sambil merasakan dadaku yang mulai sesak karena akan pergi dalam waktu yang cukup lama meninggalkan dirinya.
__ADS_1