
"Kok kamu diem beib?" tegur Dara yang ikut bangkit dari tiduran sambil mengusap bibirnya yang masih basah dengan bahu tangan.
Dara sedikit bingung dengan sikap Arga yang selalu tiba tiba berubah, "Tadi sore biasa biasa aja, tau tau datang marah marah dan sekarang langsung diam! dia ini kenapa sih sebenarnya?" tanya Dara dalam hati, lalu tiba tiba Arga langsung menoleh kearahnya seolah olah ia bisa mendengar pertanyaan dalam hati Dara barusan.
"Aku bukannya diam beib, kan kemaren aku sudah bilang sama kamu, kalau aku cuma malas membahas masalah mamahku yang satu itu!" sahut Arga dengan senyuman tipis sambil tangannya mulai menjulur kewajah Dara yang kemudian mengusap usap bibir merah gadisnya itu dengan lembut.
Karena Dara sudah mendengar Arga berkata seperti itu, diapun jadi tidak berniat lagi ingin memperpanjang pertanyaan masalah wanita itu, namun bukan berarti ia sudah tidak penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi karena ekspresi murung Arga justru menambah rasa penasarannya.
"Sebenarnya ada apa sih sama mamah tirinya itu? walaupun bicaranya ceplas ceplos, tapi keliatan baik kok! buktinya aku sudah dibelikan banyak barang mewah sama dia!" gumam Dara dalam hati sembari melirik kelemarinya. "Tapi, kalau aku cuma nanya mamah kandungnya aja nggak apa apa kali ya? dan mudah mudahan dia nggak akan marah kayak tadi lagi!" gumam Dara dalam hati karena mengganjal satu pertanyaan dalam benaknya, kemudian iapun memberanikan diri untuk mulai bertanya:
"Mmm.. Beib! Jadi, yang bersahabat dengan mamahku itu adalah mamah kandungmu ya?" tanya Dara ragu ragu
"Iya sayang, mamah kita saling bersahabat semenjak mereka SMA, dan semenjak SMA juga kita pacaran. Buat aku ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan takdir!" ucap Arga sambil memperhatikan bibir Dara yang masih diusapnya, kemudian kepalanya mulai mendekat.
PLOK!! "Kamu mau ngapain lagi beib?!!" tanya Dara yang telapak tangannya spontan menahan wajah Arga sampai kepalanya mendangak keatas. "Tarikanmu yang tadi terlalu kuat, jadinya masih sakit tau!" dumel Dara sambil cemberut.
"ii,iya maaf, tadi aku kesel banget soalnya. Aku janji deh nggak bakalan ngulangin kayak gitu lagi!" kata Arga yang wajahnya masih ditahan Dara, kemudian gadis itupun langsung menurunkan tangannya.
"Aduuh.. sekarang udah galak cewekku ini! tapi, aku makin suka!" ucapnya sambil mencoba mendekati lagi wajahnya kewajah Dara kemudian mulai mengecup bibir gadisnya itu lebih lembut dan berperasaan.
Dan akhirnya, malam itu Arga tidak lagi menanyakan apapun kepada Dara. Walaupun Arga mendengar kata kata ibu tirinya itu hanya dari hasil rekaman Edward, namun hatinya bisa ikut merasakan sakit dan kecewa dengan ucapan yang terlontar dari mulut wanita itu. Maka dari itu dia tidak berniat lagi ingin membahasnya, terlebih Paula juga sudah melakukan tugasnya dengan baik karena telah membantahkan semua pernyataan ibu tirinya terhadap Dara. Dan dengan kata kata penyemangat dari Paula tadi akhirnya jadi memperkuat rasa cinta mereka berdua.
"Sayang, besok kerumah akunya tunggu aku pulang kuliah ya?" pesan Arga
"Emangnya kenapa, kok harus nunggu kamu dulu? kan rumah kita deket beb, cuma lima langkah?!"
"Loh kok, kamu tau sama lagu itu?" kaget dan curiga
"Hehehee.. Aku liat di utub!"
"Oalaah, bikin kaget aja! kirain udah pulih ingatanmu. Hmm.. Kamu mau aku nyanyiin lagu itu?"
"Mau mau!" bersemangat
"Ehem!! dengarin ya?" Darapun manggut manggut tidak sabaran. "Pacarku memang.....(nanana)".
Sambil mendengarkan Arga bernyanyi, lama lama Dara pun tertidur disandaran bahunya.
(Besok sorenya)
Arga yang biasanya sudah sampai rumah pada pukul empat sore, kini sudah pukul lima belum juga kunjung datang yang padahal katanya akan menjemput Dara untuk kerumahnya.
"Arga kemana ya? masa jam segini belum pulang kuliah sih? Apa sebaiknya aku telpon duluan aja? tapi, kalau aku telpon duluan takutnya pas emang dia lagi ada tugas tambahan!" gumam galau Dara sambil tidur tiduran menatapi layar ponselnya. "Aaah, mending aku mandi dulu aja deh, jadi pas dia datang tinggal jemput aku kerumahnya!" kata Dara yang langsung meletakkan handphonenya diatas kasur kemudian pergi kekamar mandi.
(Satu setengah jam yang lalu didepan kampus Arga)
Baru saja keluar dari kelas, Arga yang saat masuk jam kuliah tadi mengaktifkan mode silent dihandphonenya, tau tau mendapati sudah banyak miscall dilayarnya.
__ADS_1
Dengan segera iapun menelpon balik kenomor itu:
"Iya Hallo?.. Apa?.. Iya iya saya akan segera kesana, terima kasih!"
Setelah menerima telpon tadi, Arga segera berangkat ketempat yang telah diperintahkan barusan.
Setibanya ditempat tujuan, Arga yang memiliki kebiasaan tidak bisa diam lebih memilih mengisi waktu menunggunya sambil mengerjakan tugas dari kampus.
Hingga satu jampun sudah berlalu, dan tugas kampuspun sudah selesai dia kerjakan, namun orang yang ditunggunya belum juga kunjung datang.
"Kok lama banget ya? tadi katanya tiba sekitar pukul empat, tapi ini udah jam lima lewat loh, coba aku cek dulu deh!" Gumam Arga yang tidak sabar lagi menunggu.
Dia buru buru keluar dari mobil, kemudian berjalan menuju kepapan pengumuman,
"Loh kok? Waduh.. bisa lama lagi dong nih?!" gerutunya saat melihat jadwal pendaratan yang sekalinya tidak sesuai dengan jam yang seharusnya.
Dengan perasaan mulai tidak tenang, Arga kembali kedalam mobil berniat mengabari Dara kalau dia akan datang terlambat.
Namun ketika ditelpon, Dara tidak mengangkat nya bahkan sudah beberapa kali diulangpun masih tetap tidak dijawab.
"Dara ini kenapa nggak ngangkat telpon ku ya? lagi kemana sih dia?!" gumam Arga karna khawatir yang akhirnya diapun segera menghubungi Sovia.
"Nona Dara sedang mandi tuan!" jawab Sovia yang sedang merapihkan kamarnya.
"Oowh pantesan aja kalau gitu! yaudah, nanti tolong suruh hubungi saya secepatnya ya?"
Walaupun tau Dara sedang mandi, tapi perasan Arga terhadapnya tiba tiba semakin tidak enak. Dia merasa sangat khawatir terhadap gadis kesayangannya itu.
"Ada apa ya? kok hatiku gelisah begini pas inget sama Dara?" gumam dalam hatinya
(Dirumah Dara)
"Mana nona mu?" tanya ibu tiri Arga yang tiba tiba datang mencari Dara.
"Nona Dara sedang mandi nyonya!" jawab Paula seadanya.
"Ooh berarti dia belum siap? kebetulan sekali kalau begitu, karena saya berencana yang akan mendadaninya. Ayoo Paula, antar saya kekamarnya!" perintah wanita seksi itu yang selalu congak saat menyuruh.
KRIEEET!! "Eeh tante disini? sudah lama nunggu?" sapa Dara saat baru keluar dari kamar mandi namun sudah memakai tanktop dan celana pendek.
"Nggak sayang, tante baru aja datang, iya kan Paula?" jawabnya yang kemudian di iyakan Paula dengan senyum dan anggukkan. "Tante kesini mau ajak kamu kerumah, tante mau dandannin kamu biar tambah cantik! kamu nggak mau kan kalau sampai kalah penampilan dengan Lucy didepan Arga?" tanyanya yang membuat Dara langsung tercengang san menggeleng seketika.
"Nah begitu dong! ayo cepat bawa pakaian sama sepatu yang mau kamu pakai, jangan sampai ketinggalan perhiasannya juga ya?!"
Paula yang dari tadi standby disamping Dara, dengan cekatan langsung menyiapkan barang barang yang dimaksud.
Dara yang dari kemarin belum sempat membuka ketiga kotak sepatu itupun langsung merasa penasaran dengan model pilihan ibu tiri pacarnya.
__ADS_1
Dengan cepat tangan Paula membuka satu persatu kotak sepatu yang baru dia keluarkan dari dalam lemari Dara.
SREK! SREK! SREK!
"HAH?!!" Bola mata Dara langsung melotot lebar melihat ketiga model sepatu itu yang hanya berbeda warna dan coraknya saja.
"Loh kenapa Dara? kok keliatannya kaget, nggak suka ya?" tanya tante yang berdiri didepannya terheran heran saat melihat ekspresi Dara
GLUG!! tiba tiba saja tenggorokan Dara terasa kering yang membuatnya terpaksa menelan liur.
"Bu,bukan tidak suka tante! cuma... cuma, aku merasa belum pernah memakai sepatu tinggi seperti itu!" jawab Dara agak gugup karena merasa ngeri melihatnya
"Loh, kamu kan lupa ingatan, siapa tau waktu Di Indonesia dulu kamu sering memakai sepatu seperti ini, iya kan? Lagian ya Dara, kan kamu lihat sendiri kalau tubuh Lucy itu jauh lebih tinggi dari kamu, apa kamu nggak malu kalau nanti berdiri disebelahnya akan terlihat kuntet?!" tanyanya langsung to the point. Walaupun terdengar kasar, namun ucapan itu memang benar adanya
"ii,iya.. tante benar juga!" sahutnya Dara menerima kenyataan kalau tubuhnya memang kecil
"Nah gitu dong, masa mau kalah sama saingan sih? yaudah Paula, bawakan yang wasilver aja nih, keliatannya pas sama warna bajunya!" perintahnya yang langsung dituruti Paula.
Saking tergesa gesanya ibu tiri Arga mengajak Dara kerumah, sampai sampai gadis itu melupakan handphonenya yang tergeletak diatas kasur.
Setengah jam kemudian, Dara yang telah selesai dimake-up dan berganti pakaian baru, akhirnya harus mencoba memakai high heels 10cm yang sudah terlihat ngeri baginya.
Perlahan lahan ia mulai berdiri dengan dibantu Paula yang terus memegangi tangannya.
"Kalau nona tidak biasa, tidak usah dipaksa!" saran Paula karena cemas melihat Dara yang berdirinya goyang goyang tidak stabil.
"Kalau tidak dicoba dari sekarang ya kapan bisanya? kamu kan anak orang kaya dari keluarga tersohor, masa pakai high heels setinggi itu aja nggak bisa sih? jangan malu maluin nama keluarga dong sayang.. Hmm, Paula nanti tolong bantu pindahkan makanan yang diatas meja dapur kemeja prasmanan ya?! (Paula pun mengangguk)" ucap sindiran ibu tiri Arga justru membuat Dara termotivasi untuk tetap memakainya.
Setapak demi setapak dia melangkah menuju lokasi pesta. Lokasi yang selama ini dia hindari karena yang ada dirumahnya pun tidak pernah dia jamah kecuali terpaksa. Lokasi yang membuat detak jantungnya berdebar dengan cepat saat melihatnya. Lokasi yang membuat lututnya lemas saat dia mendekatinya.
Namun kali ini, lokasi yang menakutkan itu sekarang sudah didekor sedemikian cantik, yang membuat siapapun jadi betah saat berada disana. Yaa... lokasi pesta kali ini ada dihalaman samping rumah, tepatnya sekitar kolam renang!.
"Apa nona ada butuh sesuatu, biar saya ambilkan?" tanya Paula yang daritadi mengiringi Dara karena cemas melihat nona kecilnya kalau berjalan sendirian memakai sepatu setinggi itu.
"Mm.. sebenarnya saya sedikit kedinginan dengan hanya memakai gaun ini, jadi, saya akan merepotkan kak Paula untuk meminta tolong mengambilkan mantel dirumah!" jawab Dara segan sambil langkahnya menuju kursi paling ujung ditepi kolam renang.
"Hehehee... Ayolah nona kita sudah bersama selama berbulan bulan, apapun yang nona butuhkan adalah tugas kami (Sovia, Edward dan Mark), jadi buanglah kebiasaan sungkan seperti itu!" kata Paula yang sama baiknya dengan Sovia.
"Saya juga tidak tau kenapa, setiap kali bertemu orang yang lebih dewasa dari saya pasti rasanya tidak enak hati untuk meminta tolong!" ucapannya malu malu
"Hmm.. Saya jadi semakin paham alasan mengapa tuan muda sangat menyayangi nona!" ucap Paula sambil menggoda yang membuat Dara jadi tersipu malu.
"Saya mau duduk disini saja!" kata Dara
"Kalau gitu saya akan kembali kerumah dulu mengambilkan mantel untuk nona!" pamit Paula
"Nanti saja dulu kak! tadi kan tante sudah lebih dulu meminta tolong, jadi lebih baik kakak bantu tante dulu disini, setelah itu baru ambilkan mantel sama handphone saya!" sarannya
__ADS_1
"Baik nona!" Paulapun meninggalkan Dara yang tanpa pengawasan siapapun karena Edward dan Mark sedang merapihkan ruangan depan.