
Prov Dara/D
Pewawancara: Mutya/M (Penulis)
D: "Panggil saja namaku Dara,
tidak ada yang istimewa yang dapat aku ceritakan tentang kehidupanku, dan oleh sebab itu biarkan setiap lembar (episode) novel ini yang akan lebih rinci menceritakan kisah ku.
Pertama-tama, aku ingin semua tau bahwa Kiki adalah sahabatku mulai dari kami kelas satu SMP hingga saat ini sudah mau lulus SMA. Jadi, kurang lebih sudah lima tahun kami berteman dengan sangat baik.
Dia itu sangat pengertian, periang, pintar, dan kalau bicara sangat bijaksana. Pokoknya, dia tidak pernah membuat orang disekitar akan merasa bosan saat bersamanya.
Tetapi, walaupun dia sangat menyenangkan seperti itu, ada satu hal yang aku heran sama dia, yaitu, sampai saat ini dia tidak pernah pacaran bahkan sekedar PDKT pun belum pernah sama sekali!"
M: "Apa Kiki... ma'af sebelumnya, jelek?"
D: "Bukan, bukan karena wajahnya jelek atau bahkan punya kekurangan lainnya,
malahan, Kiki sahabatku ini termasuk didalam lima gadis cantik disekolah!
Banyak cowok-cowok yang naksir sama dia, tetapi sampai saat ini belum ada satupun yang berhasil mendekatinya."
M: "Kalau begitu, apa Kiki sombong dan terlalu pemilihan?"
D: "Bukan juga, dia sama sekali tidak begitu! dia sangat baik kepada semua orang, bahkan karena pembawaannya yang ramah dan netral, Kiki selalu menolak cowok dengan alasan yang tidak pernah menyinggung perasaan mereka.
Makanya, walaupun banyak cowok yang dia tolak tetapi mereka tetap saling berteguran dan malahan ada yang masih sering menggodanya!"
M: "Kalau begitu, apa alasannya?"
D: "Hmm... Sayangnya, untuk alasan kenapa dia belum mau pacaran, dia tidak pernah mau terbuka dengan siapapun, termasuk kepadaku bahkan kepada orang tuanya, dan aku benar-benar tidak tau kenapa dia begitu, karena setiap ditanya dia hanya akan menjawab:
'Aku bukan nggak mau pacaran, cuma belum ketemu sama orang yang cocok!'
Yaa.. selalu itu-itu saja jawabannya.
Padahal cowok-cowok disekolah kami ini kurang apanya lagi? coba bayangkan, mulai dari yang ganteng, yang gagah, yang tajir melintir, bahkan ada juga yang super lengkap!"
M: "Super lengkap? itu maksudnya apa Dara?"
D: "Jadi, ada beberapa cowok disekolah kami ini yang selain wajahnya tampan, penampilan keren, dan kaya raya, mereka juga adalah pewaris tunggal dari perusahaan keluarganya!"
M: "Woow..! Saya aja, mau dapat yang ganteng dan kaya sudah susah banget! Kok ini malah ditolakin Kiki sih? mencuriga kan!"
D: "Nah itu tuh! gara-gara selalu menolak cowok, sampai-sampai tidak sedikit orang yang "mungkin" merasa iri sama dia, sering ada yang nyebar-nyebarikan omongan yang bukan-bukan. Misalnya, ada yang bilang Kiki itu cewek aneh, cewek tidak normal (Lesby), dan dugaan lainnya yang tidak enak didengar.
Tapi, karena demi menjaga tali persahabatan kami, aku tidak pernah lagi peduli ataupun mengungkit-ungkit masalah dia mau pacaran atau tidak!
Aku pikir, mungkin memang dia belum siap atau belum mau menjalin hubungan dengan seseorang pria, dan itu adalah urusan pribadinya. Bagiku, yang terpenting saat ini dia bahagia dengan dirinya!"
M: "Tapi apa kamu tidak merasa risih atau khawatir orang lain akan mencurigai kamu saat bersamanya?"
D: "Tidak sama sekali, malahan aku yang sudah terbiasa dengan dia yang seperti ini, justru jadi merasa nyaman dengan status ke'jomblo'an nya yang membuat dia selalu ada buat aku tanpa harus berbagi waktu dengan pacarnya! Hehehe.. Apa aku terdengar egois?"
M: "Sedikit, tapi tidak masalah kalau dia tidak merasa rugi, Hehehe...! Ngomong-ngomong, apa rumah kalian saling berdekatan?"
D: "Tidak, malahan selama bersahabat dengannya, Kiki baru beberapa kali main kerumahku, dan itu pun kalau lagi ada sesuatu yang mendesak.
__ADS_1
Soalnya jarak rumahku lumayan jauh dari sekolah atau rumahnya yang harus menempuh kurang lebih satu jam perjalanan, itu pun perjalanan yang sudah menggunakan kendaraan.
Sedangkan jarak rumah Kiki hanya sekitar 100meter saja dari sekolah, jadi malah aku yang lebih sering mampir kerumahnya bahkan hampir setiap hari setiap pulang sekolah!"
M: "Hampir setiap hari? Loh kenapa, apa orang dirumah mu tidak mencari kalau kamu tidak langsung pulang?"
D: "Justru orang dirumah sudah hapal kebiasaan ku yang jarang langsung pulang kerumah, soalnya dirumah ku selalu sepi tidak ada orang. Papaku kerja diluar kota dan pulangnya tidak tentu, bahkan sering sampai lebih dari sebulan baru pulang, itupun pas ada moment penting misalnya ada yang lagi ulang tahun atau pas hari besar lainnya, bahkan sudah dua bulan ini malah belum ada pulang sama sekali!"
M: "Owh gitu.. kalau Ibu mu kemana, apa dia tidak marah dengan kebiasaan mampir mu itu Dara?"
D: "Kalau Mamaku, dia itu sangat pengertian, lemah lembut, bahkan hampir tidak pernah marah, tapi sayangnya dia selau sibuk dengan toko kue nya yang dia buka sejak enam tahun lalu, tepat nya saat aku baru duduk dibangku SMP.
Aku masih sangat ingat saat papa membelikan mama ruko dipinggir jalan dekat perumahan kami, katanya sih itu hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang ke 15."
M: "Lima belas? kalau boleh tau, umurmu sekarang berapa, kok enam tahun lalu ulang tahun yang sudah ke lima belas?"
D: "Umurku sekarang jalan delapan belas tahun. Jadi dulu itu, saat mereka sudah menikah, aku agak lama baru hadir, yaa papah kan jarang pulang, hehee..!"
Mutya: "What?.. Hahaha.. kamu terlihat polos tapi paham ya?"
D: "Tidak, tidak! (malu) Ayo kita kembali bahas rumahku yang sepi! (mengalihkan topik)
Jadi mamaku itu hampir setiap hari selalu berangkat dari pagi setelah selesai masak untuk aku dan adikku, lalu pulangnya sampai hampir larut malam, bahkan kadang-kadang dia lembur kalau lagi banyak pesanan. Karena kesibukannya itu, sampai-sampai ditoko bagian belakang ada kamar khusus buat mama istirahat."
M: "Jadi kamu kesepian dong?"
D: "Iya... dan jujur aja, kadang aku merasa sedih karena kurangnya perhatian dari orangtua ku!" (memelas)
M: "Tapi tadi kamu bilang ada adik mu?"
D: "Iya, aku punya satu adik laki-laki, dia itu pintar, mandiri dan berpikiran dewasa, hobby utamanya adalah game! cuma dia sering sekali menjahiliku, apapun yang ada di diriku pasti tidak pernah luput dari komentar usilnya! tetapi walaupun begitu, dia memiliki sisi lain yang sangat pengertian dan penyayang."
D: "Dia baru kelas dua SMP tapi perginya dari pagi sampe sore, soalnya dia itu sangat aktif! dia banyak ngikutin kegiatan eskul dan juga mengikuti beberapa les bahasa yang jadwalnya seminggu tiga kali. Makanya kalau aku pulang siang hari, pasti sering sendirian dirumah jadinya bete.
Sebenarnya banyak tetangga disekitar rumah, bahkan yang didepan rumah sudah seperti keluarga sendiri, tetapi mereka juga punya kesibukan setiap harinya. Jadi itulah alasan aku selalu mengulur waktu buat pulang kerumah."
M: "Kenapa kamu tidak bantu mamah mu saja? kan enak buat mengisi waktu sekalian buat belajar!"
D: "Aku sih maunya begitu, setiap hari bantuin mama ditoko, tapi kalau keseringan mama bilang tidak enak sama para karyawannya, seolah-olah aku seperti mengambil alih atau ngurang-ngurangin pekerjaan mereka yang membuat mereka terkesan tidak berguna saat jam kerja!"
M: "Bener juga sih, jadi serba salah ya?.. Oiya, denger-denger pacarmu namanya Arga? ceritain tentang dia dong!"
D: "Tentang Arga? (sedih)
Mmm... sebenarnya aku sedang tidak ingin mengingatnya, aku lagi patah hati karena dia.
Dan ternyata seperti ini ya rasanya?
Uugh sakitnya tuh disini!"
M: "Loh kok kayak judul lagu sih? Hehee..!" (canggung)
D: "Iyaaa, rasanya susah diungkapin!
Seperti tak bisa bernafas padahal penuh dengan udara, tak bisa bicara padahal lidah sangat lentur, dan tak bisa mendengar padahal suara begitu bising.
Tulang-tulang terasa rapuh, urat dan sendi terasa lemah, pikiran pun kosong bagai lupa ingatan.
__ADS_1
Andai bisa lupa ingatan, aku cuma mau lupa sama bagian itu, yaa bagian yang ada DIA-nya!!
Dan yang menambah rasa sakitnya itu, karena tadi tidak sengaja memergoki Arga sedang berduaan dengan Amira..." (Menunduk)
M: "Mmm... Ngomong-ngomong memangnya Amira itu siapa? kok kamu malah memelas begitu mukanya, kenapa tidak kamu labrak aja mereka berdua?"
D: "Amira itu juga termasuk cewek dalam lima tercantik disekolah kami, dulu saat baru masuk disekolah ini, kami adalah teman sebangku di kelas IB sedangkan di Kiki IA.
Kemudian sejak saat itu aku dan dia jadi berteman cukup baik, walaupun tidak seakrab seperti dengan Kiki, tapi kami selalu kompak mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan tugas sekolah.
Hanya saja, semenjak naik ke kelas dua, kebiasaan itu semua mulai berubah, karena kami sudah berbeda kelas dia dikelas IIB sedangkan aku dikelas IIA, dan semenjak itu juga kami jadi jarang ngobrol seperti dulu lagi kecuali hal yang berhubungan dengan tugas OSIS.
Namun tadi siang, dengan mata kepalaku sendiri aku melihat dia sedang berduaan dengan Arga, dan juga dengan sangat jelas aku mendengar dia secara terang-terangan menggoda Arga yang sudah hampir dua tahun menjalin hubungan berpacaran denganku, diapun sangat tahu hal itu.
Dari dulu aku memang biasa saja kalau melihat mereka sering ngobrol berdua, karena memang Arga dan Amira sudah saling kenal lebih dulu sebelum sama aku, mereka itu sudah satu sekolah sejak SMP, jadi kupikir wajar aja kalau mereka saling berteman atau bahkan bersahabat seperti aku dan Kiki.
Dan bisa dibilang kalau Amira jugalah yang sudah memperkenalkan aku sama Arga untuk yang pertama kalinya, tapi Amira bukan mak comblang diantara kami, Karena Arga sendiri yang mendekatiku tanpa bantuan siapa pun!"
M: "Wooow keren! Boleh diceritain dong gimana pas pertama kali deket nya?" (senyum berharap)
(Ragu-ragu) "Mmm... Boleh, jadi awalnya begini :
Saat itu pas baru naik kekelas dua, Amira terpilih menjadi ketua OSIS yang baru, karena yang lama sudah harus fokus mempersiapkan diri untuk ujian kelulusan tahun depan, lalu tanpa lewat pemilihan, dia langsung menunjuk aku sebagai wakilnya, namun karena aku masih malu-malu jadinya aku menolak tawaran itu.
Lalu terpilihlah Donita dari kelas IIC yang kebetulan adalah anak dari salah satu guru berprestasi disekolah ini, namun Amira tetap meminta aku ikut kedalam organisasi jadinya dia menempatkan aku sebagai sekretarisnya. Dia bersikap seperti itu mungkin karena Amira sangat tahu kalau hasil pekerjaanku selalu teliti, jadinya dia tetap memaksa aku ikut sebagai anggotanya.
Sedangkan Kiki, dia malah kurang suka ikut bergabung dalam organisasi seperti itu, dia lebih memilih menekuni seni lukis sebagai ekskul nya.
Waktu itu, seperti biasa disetiap tahun nya, sekolah kami akan mengadakan pesta pelepasan kelulusan untuk anak kelas tiga. Dan kami para anggota OSIS yang baru pastinya jadi sangat sibuk walau sudah dibimbing anggota Osis yang sebelumnya.
Aku sebagai sekertaris pun tentu tidak luput dari tugas yang menumpuk untuk membantu anggota lainnya, dan salah satu tugas utama ku adalah menyusun urutan acara jadinya lebih banyak bekerja di lapangan, besama para calon penampil.
Dan untuk mengisi acara perpisahan nanti, Arga dan teman satu band nya juga akan tampil diatas panggung, jadi, yaa bukan cuma satu atau dua kali kami saling bertemu, bahkan hampir setiap dia latihan di aula.
Arga itu terkenal sangat dingin sama orang asing atau sekedar teman biasa, tetapi kalau sudah dekat dan berteman baik dengan nya, dia itu sangat pengertian bahkan perhatian, makanya kadang kami saling bekerja sama menyelesaikan suatu pekerjaan yang belum tuntas, walaupun ekspresi wajah dingin nya tetap menakutkan dan menyegankan bagiku!
Malah lebih tepatnya dia yang sering membantu pekerjaanku, karena sebenarnya pekerjaan dia hanya latihan dengan group band nya saja.
Namun suatu hari, ada kejadian tidak terduga dan benar-benar tidak diinginkan telah terjadi, sang bendahara kami baru saja mengalami musibah kecelakaan lalu lintas yang mengharuskan dia dirawat dirumah sakit dalam waktu yang cukup lama.
Jadi, mau nggak mau aku menghandle sisa pekerjaannya.
Karena ketua dan wakilnya sudah sangat sibuk mundar-mandir dengan tugasnya, dan waktu yang tersisa juga hanya tinggal tiga hari lagi, kami pun jadi kewalahan siang malam sebab banyak pekerjaan yang aku bawa harus di sekesaikan dirumah!
Singkat cerita,
Saat itu aku sedang merapikan semua catatan keuangan beserta nota-nota belanja diruang properti, semua itu adalah hasil dari laporan keuangan yang harus segera diserahkan kepada ketua panitia sebagai laporan anggaran sebelum hari H.
Kebetulan, Arga yang baru selesai latihan langsung menghampiri dan duduk disampingku.
"Eh Arga, Kebetulan kamu datang aku titip ini sebentar yaa? aku mau ketoilet dulu!" kataku
"Iya sudah sana!" sahutnya santai
aku yang sudah menahan ingin buang air kecil, segera berlari dan menitipkan semua kertas yang begitu sangat berantakan beserta buku catatanku kepadanya.
Sesampainya ditoilet sekalinya banyak yang mengantri, yaa maklum soalnya kan lagi pada berkumpul untuk latihan bersama.
__ADS_1
Selang waktu sekitar sepuluh menit aku kembali lagi keruangan properti tadi untuk melanjutkan pekerjaanku yang tinggal sedikit lagi, Namun apa yang aku dapati?!
Ruang yang tadinya berantakan dengan sisa properti panggung dan alat lainnya beserta buku catatanku kini tiba-tiba menjadi kosong hanya sisa debu saja.