
Karena perasaan khawatir, Irvan nekat membuka tirai ruang ganti itu tanpa berpikir panjang.
SREEKKK!!
"Da, Dara?!...." panggilnya dengan nada cemas.
"Aah Kakak?!" Dara yang sedang berdiri didepan cermin, sontak berbalik badan menghadap kearah Irvan. kedua bola matanya sedikit terbelalak karena terkejut melihat tirai yang tiba-tiba terbuka cepat dan lebar, tentu dia bingung dengan yang kelakuan kakak nya.
"Ada apa kak? kok nggak nunggu didepan dulu?!" tanya nya lagi tambah penasaran.
Karena rasa khawatir, Irvan sama sekali tidak memperhatikan pakaian yang Dara kenakan sudah berganti apa belum karena dalam pikirannya saat ini hanyalah keadaan gadis itu.
Dan setelah melihat keadaan Dara baik-baik saja perasaan cemas Irvan pun langsung luntur dalam sekejap, namun timbul rasa malu yang seketika membuatnya jadi salah tingkah.
"Ma-Maaf dek, karena lama kakak kira kamu kenapa-napa jadi kakak eng......" namun belum lengkap memberikan alasan kepada sang adik yang untungnya tidak sedang tanpa busana, tiba-tiba muncul seseorang dari belakangnya.
"Permisi tuan?" suara ramah perempuan muda (dalam bahasa Inggris).
"Aah iya?!" Sahut Irvan panik karena takut dikira mau macam-macam diruang ganti wanita.
"Maaf sudah membuat tuan menunggu lama, tadi saya agak bingung memilihkan beberapa pasang sepatu, tapi dari beberapa yang saya bawakan ini mungkin saja ada yang cocok untuk dikenakan nona saat ini?" Kata pramuniaga yang dari tadi menemani Dara berganti pakaian, dia menenteng lima kotak sepatu dihadapannya.
Rasa panik dan terkejut yang bercampur aduk didada Irvan, membuat dia jadi sedikit linglung dengan ucapan wanita bule penjaga toko itu.
"Oh, iya iya!" Jawab nya sembari melangkah mundur dari ruang ganti tanpa mencerna kata-kata pramuniaga wanita tersebut. Tangannya yang dari tadi masih menggenggami tirai, dengan buru-buru dia tutup kembali tanpa berkata apapun terhadap Dara yang dari tadi memperhatikan tingkahnya dengan tatapan bingung.
"Kak Irvan kenapa ya?" tanya Dara dalam hati sembari matanya masih menatapi tirai yang sudah tertutup dihadapannya.
"Nona, silahkan dipilih sepatu nya, siapa tau ada yang cocok?"
"Ii.. iya!" sahut Dara yang langsung berpaling pandangan kearah wanita cantik penjaga toko yang sebelumnya sudah mengukur ukuran kakinya lebih dulu.
Diluar ruang ganti, Irvan yang terbentur rasa malu akibat kelakuannya barusan terus saja salah tingkah sendiri. Dengan kaki yang dilangkahkan mundar-mandir sambil sesekali tangannya menutupi wajah, bibirnya terus-terusan berbisik kumat-kamit.
"Yaa ampun... tadi aku ngapain sih segala nerobos buka kamar ganti? untung aja Dara nya pakai baju, kalau enggak, bisa-bisa dia teriak, terus dikira orang aku mau macam-macam, aduuuh!" mendumel dengan wajah memerah.
"Lagian penjaga tokonya tadi kapan keluarnya sih, kok aku gak liat ya?" Gumamnya keheranan sambil sesekali melirik tirai ruang ganti yang sedikit berkibas-kibas pelan.
"Iih..! Kok aku jadi kayak orang bodoh gini?" Ucap pada diri sendiri ketika baru menyadari kalau dari tadi kakinya tak berhenti mundar-mandir tak jelas.
Bruug!
Di tempatkan bokongnya pada bangku yang tadi dia gunakan untuk menunggu.
Sreeeek....
"Mari, silahkan nona!" ucap pramuniaga yang baru saja membuka kan tirai ruang ganti.
Dari balik tirai itu muncul bidadari mungil yang Irvan tunggu dari tadi.
Kletak.. kletak..
Dengan langkah pelan, Dara menghampiri kakak nya dengan malu-malu.
Minidress berwarna soft pink, ditambah ikat pinggang putih yang melingkar dipinggang rampingnya sebagai variasi mempercerah aura si gadis lugu itu.
"Sayang?...." Sapa Irvan yang baru saja duduk langsung berdiri kembali karena pangling.
"Mmm.... Gimana kak? serasi gak baju sama sepatu nya?" Tanya Dara dengan senyum keraguan.
"Cocok dek, cocok banget!" Jawab Irvan yang terkesima menatap nya. "Tapi... sepatu nya agak ber-hak, apa kamu bisa memakainya?" tanya Irvan agak cemas saat matanya tertuju dikaki Dara.
"Bisa kok kak, ini cuma 5cm tingginya!" Jawabnya tersenyum meyakinkan.
Senyum manis yang dilemparkan Dara kepadanya lagi-lagi membuat Irvan jafi kesulitan berkata-kata.
"Kakak? gimana ini, cocok nggak?" tanya ulang si mungil yang dari tadi masih merasa kurang yakin.
"Iya dek, cocok! yang penting kamu nyaman memakainya?" Jawaban Irvan barusan menambah merekah senyuman dibibir Dara.
__ADS_1
Melihat penjaga toko tadi keluar dari ruang ganti dengan membawa kembali kotak-kotak yang berisi sepatu lainnya, buru-buru Irvan memanggilnya.
"Nona, bisa kemari sebentar?"
"Iya tuan, ada yang bisa bantu?" Sahut nona penjaga yang sigap menghampiri dengan ramah.
"Apa sepatu didalamnya berbeda warna?"
tanya Irvan tanpa basa-basi.
"Silahkan tuan melihatnya sendiri!"
Pramuniaga tersebut berjongkok di hadapan Irvan, dia menjejerkan kemudian membuka semua penutup kotak sepatu itu satu-persatu bermaksud menunjukan langsung kepada Irvan.
"Dek, diantara sepatu ini apa ada yang kamu sukai lagi?" tanya Irvan kepada Dara yang dari tadi belum menurunkan senyuman nya.
"Mmm.. sebenarnya aku suka semuanya kak, selain nyaman dipakai, modelnya juga cantik-cantik, cuma yang paling serasi sama pakaian yang sedang aku pakai ini cuma sepatu yang ini!" Jawab Dara sambil menunduk melihat kearah kakinya yang melekat sepatu berwarna putih.
"Kalau begitu, nona, tolong antarkan semua sepatu ini ke meja kasir!" pinta Irvan tanpa banyak berpikir.
"Baik tuan!!" sahut nona pramuniaga yang dengan semangat segera menyusun rapi semua sepatu hasil pilihan nya tadi.
Menyaksikan sikap royal Irvan kepadanya, Dara yang masih sedikit canggung karena baru beberapa kali bertemu dengan Irvan semenjak amnesia, berpikir takut menjadi beban terhadap kakak angkatnya itu.
"Loh kak? tapi yang......"
"Sssssttttt!!... kamu menyukai semua itu kan?" tanya Irvan memotong ucapan Dara yang baru saja mau protes kepadanya, tapi Dara yang polos akhirnya hanya mengangguk malu-malu kucing.
"Kalau gitu kakak bayar dulu habis itu kita kebawah lagi (ketempat pakaian cowok tadi)" sambil berjalan pelan, Irvan menoleh ke arah Dara yang mengikuti dari samping kirinya.
"Dek, ngomong-ngomong ada yang kamu mau'in lagi nggak? mumpung kita disini dan biar sekalian dibayarnya!" tawaran Irvan sembari tangannya menunjuk ke arah barang lain disekitarnya.
Namun, bukannya menjawab tawaran yang sangat menggiurkan para gadis lain itu, dengan cepat tangan Dara malah kembali menggelayut dilengan Irvan persis seperti saat mereka tadi datang ke mall tersebut.
GREP!!
"Kamu kenapa dek?!" tanya Irvan yang sontak kaget dan langsung menghentikan langkah kakinya. Sejenak dia celingukkan karena bingung dengan tingkah adiknya yang padahal sudah berganti pakaian dan memakai alas kaki.
Melihat ekspresi kakaknya kebingungan, Dara langsung menggelengkan kepala,
"Kakak negatif thinking! memangnya kalau aku sudah pakai baju yang pantas buat jalan terus gak boleh lagi menggandeng tangan kakak?" Tanya balik Dara sambil manyun dibibirnya yang masih sedikit bengkak.
"Yaa bukan begitu, takutnya kamu gak percaya diri memakai pakaian pilihan kakak ini?!" tanya Irvan yang lengan kirinya digandeng erat oleh Dara.
"Enggak lah kak, Kok kakak sampai berikir seperti itu sih? misalnya tadi kakak tidak memilihkan yang ini, maka aku sendiri yang akan memilihnya, soalnya dari awal melihat aku memang sudah menyukainya!" Jawaban Dara yang membuat Irvan tambah bingung.
"Jadi kamu ngegandeng kakak bukan karena lagi merasa malu?" Ekspresi Irvan sedikit lega, lalu tangan kanannya menjulur ke kepala Dara, dengan penuh perhatian dia merapikan rambut gadis itu jari-jemari nya.
"Justru gandengan aku ini karena aku merasa seneng banget, memang sih karena aku sakit (amnesia) aku jadi banyak lupa segala hal. Tapi, nggak tau kenapa rasanya apa yang kakak suka pasti aku juga suka, dari situ aku sadar kalau ternyata banyak banget kecocokan diselera kita kak? apa kakak merasa begitu juga? atau mungkin dari dulu kita memang selalu satu selera?!"
NYUUUUUT!!.....
Mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Dara barusan hati Irvan langsung terngiuh haru.
Pertanyaan yang beruntun barusan pun membuat Irvan tersenyum dan menganggukan kepala.
Tangan kanannya yang sedang merapikan rambut si mungil langsung diturunkan nya.
"Iya, Kakak juga merasa begitu... Yaudah kalau kamu sudah nggak mau memilih, lain waktu kita bisa jalan-jalan lagi, ayook!" ajaknya sembari melanjutkan langkah yang sempat terhenti munuju ke kasir.
Kenangan mereka belasan tahun yang kini hanya berputar diingatan Irvan membuat matanya sedikit berkaca-kaca.
"Dek, kalau aja kamu tau, sebenarnya dari kecil hampir semua yang kita sukai memang banyak yang sama!" gumam Irvan dalam hatinya sembari melirik ke gadis yang sedang menyandarkan kepala dilengan kirinya dengan manja.
Setelah membayar semua barang belanjaan Dara, mereka berdua kembali ke toko yang berada lantai bawah dimana Irvan tadi belum menyelesaikan belanja nya.
Tap tap!...
Hanya selang waktu kurang lebih lima belas menit, CEO muda itu menghampiri gadis yang sedang duduk sendirian menungguinya dengan handphone ditangan.
__ADS_1
"Eeh!! kakak sudah selesai belanja nya?" tanya Dara yang terkejut karena tau-tau Irvan sudah berdiri dihadapan nya dengan sudah membawa tentengan brand toko ditangan kiri.
"Sudah, ayook?" Jawab Irvan sembari membungkuk kearah samping kiri Dara, dia berniat ingin meraih belanjaan yang berada tepat disamping Dara duduk.
"Jangan kak!" ucap Dara yang sigap merebut barang-barangnya.
"Loh kenapa?" tanya Irvan bingung.
"Biar aku bawa sendiri aja!" Jawab Dara yang jadi segan setelah melihat belanjaan Irvan lebih sedikit daripada belanjaan miliknya.
"Kamu kenapa sih dek? apa kamu marah karena kakak kelamaan?"
"Bu-bukan begitu, kakak nggak lama kok, malah cepet banget! cu-cuma, cuma...."
"Cuma apa?" desak Irvan dengan nada menekan menyela alasan Dara yang terdengar ragu-ragu.
"A-aku cuma gak enak aja, semua ini sudah kakak yang bayarin, masa kakak juga yang mau bawakan?" jawab Dara dengan ekspresi polos diwajah yang membuat Irvan jadi gregetan.
"Astaga Dara! apa yang kamu pikirin sih dek? selama ini kamu anggap aku ini siapa, orang lain? kakak ini adalah kakak mu walaupun kita gak sedarah! dan kamu ad....." GREP!!
Diposisinya yang masih duduk, Dara langsung melepaskan kembali semua belanjaan yang sempat direbutnya barusan, lalu dengan cepat tangannya melingkar ke leher Irvan.
Dia memeluk kakaknya yang masih membungkuk hadapannya. Dengan sedikit rasa gugup dia berusaha menenangkan Irvan yang nada bicaranya sudah terdengar geram.
"Kakak, bukan itu maksudku kak, kakak jangan salah paham! Kita memang terlahir dari orang tua yang berbeda, tapi dari awal aku bertemu kakak aku langsung bisa merasakan kalau kakak adalah orang yang paling dekat dengan ku, terlebih saat ini darah kakak juga sudah mengalir didalam tubuhku, jadi apa beda nya kakak adalah kakak angkat atau kakak kandung, sekarang kita ini sedarah bukan?" Ucap Dara dengan suara lirih karena takut Irvan marah apalagi sampai menjauh darinya lagi.
"Kalau kamu berpikir begitu kenapa masih merasa nggak enak?" tanya Irvan dengan nada yang masih jutek.
Sebelum menjawab, Dara melepas pelukannya lalu menurunkan kedua tangannya diatas paha, dengan erat dia mengepal telapak tangangnya kuat-kuat.
"Aku, aku cuma berpikir takut uang kakak jadi habis gara-gara aku!" jawabnya takut-takut sambil menunduk.
"Huuuufh....!!" Sambil menghela napas panjang, Irvan yang tadinya gregetan jadi langsung lemas setelah mendengar pengakuan polos adik lugunya itu, kemudian dia berjongkok dihadapan Dara yang masih duduk dibangku.
"Dara dengerin kakak baik-baik," ditaruh semua bukusan belanjaan miliknya disamping kiri,
kemudian dia menggenggam dengan lembut kedua tangan Dara yang masih mengepal diatas paha.
"Jangan kan uang yang kalau habis masih bisa dicari lagi, andai darah kakak yang akan habis pun, demi kamu kakak rela!" ucap Irvan dengan tatapan tulus.
Dara yang tadinya sedang menunduk langsung menegak kan kepalanya, kini dia bertatap muka dengan kakak yang dia kira hanya sekedar kakak angkat biasa.
DEGDEG-DEGDEG!!
Tiba-tiba detak jantung didadanya berdebar kuat dan cepat, dia terkesima dengan kata-kata yang Irvan ucapkan kepadanya secara terang-terangan barusan yang membuat dirinya tanpa sadar menjatuhkan beberapa tetes airmata karena terharu.
"Sa-sayang kamu kenapa nangis?" tanya Irvan yang jadi panik karena takut salah bicara.
"Kakak!!..." Lagi-lagi Dara memeluk Irvan yang sedang berjongkok didepan nya. "Apa begitu beratinya aku buat kakak?...hiks..." tanya Dara dengan suara berbisik.
Tanpa ragu Irvan pun segera membalas pelukan gadis kesayangan nya itu.
"Iya sayang dari dulu, sekarang dan sampai kapan pun kamu adalah seseorang yang sangat berarti buat kakak! asal kamu tau, setiap kali kamu sakit atau kenapa-napa, hati kakak menderita, bahkan tubuh ini pun jadi ikut mati rasa. Selama ini kakak rindu, sudah sangat rindu sama kamu sayang!!" pengakuan Irvan yang tidak terbendung lagi membuat Dara jadi tambah sesenggukkan dalam pelukan.
"Kakak, hiks-hiks!!... aku ingin cepat sembuh, aku ingin kembali ke kehidupan normal ku, aku ingin mengingat kakak seutuhnya. Aku mohon kakak bantu aku dan jangan sesekali meninggal aku lagi disini(Jerman), hiks!!..." permintaan Dara meluluhkan Irvan yang seketika itu juga mengangguk menyetujuinya.
"Iya sayang, kakak nggak akan kemana-mana lagi setelah ini tapi kamu juga harus sabar dan tetap berjuang untuk sembuh, jangan lagi malas periksa dan minum obat! Oke?" tanya Irvan membuat kesepakatan sambil jarinya buru-buru mengusap airmata dia yang hampir terjatuh.
Dara yang lugu pun langsung melepaskan pelukan, dia segera mengangguk mengiyakan kesepakatan dari kakaknya. Walaupun matanya masih membendung air yang siap jatuh, namun bibirnya sudah kembali tersenyum dengan manis.
"Udah jangan nangis lagi, nanti dikira orang kamu kenapa-napa. Ini sudah siang, kita titip dulu barang-barang ini kepenitipan abis itu kita cari makan yaa?" bujuk Irvan sembari menghapus pipi Dara yang basah, dia sama sekali tidak menunjukkan airmatanya yang padahal daritadi dia juga menangis dibelakang punggung adiknya itu.
Tanpa mereka sadari, ternyata diam-diam penjaga toko yang tadi melayani belanjaan Irvan sedang mengintip dari balik pakaian yang bergantungan.
Nona penjaga itu ternyata sedikit banyaknya tau bahasa Indonesia yang sedang Irvan dan Dara gunakan, karena mendengar dari awal, akhirnya membuat dia jadi ikut terharu karena paham dengan ucapan mereka.
"Yaa Tuhan, saya kira drama itu cuma ada didalam novel dan film saja, sekalinya didunia nyata pun ada?!" gumamnya berbisik sambil terus-terusan menahani airmatanya dengan tissue, sesekali dia mengambil cermin kecil dari dalam saku hanya untuk memeriksa make-up nya karena takut luntur.
Setelah mengeringkan airmata, Irvan membawa Dara ketempat makan yang masih didalam area Mall tersebut.
__ADS_1
Kurung waktu satu jam mereka selesai makan siang, lalu berniat berjalan-jalan sambil melihat-lihat barang yang mungkin diperlukan dirumah, dan sebelum pulang tidak lupa Dara pun berbelanja keperluan dapur, karena tanpa resep pun dia selalu ingin memasak, mungkin kebiasaan itu memang sudah melekat dinalurinya.