
"Van aku pamit mau langsung kerja ya, itu diinfusnya sudah sekalian aku kasih obat penetral supaya efek obatnya cepet hilang, paling sebentar lagi Dara bangun!" kata Indra sambil menghampiri Irvan yang sedang berdiri didepan mesin cuci
Srrrrk aah! (menarik napas dari hidung yang tersumbat karena habis menangis)
"Iya, makasih yah!" sahut Irvan dengan sedikit senyum memaksa
Puk puk!
"Sabar ya Van, kondisi adikmu pasti bisa sembuh kok yang penting kamu harus bantu dia mengubah pola hidup, terutama bantu dia perhatikan waktu makannya jangan sampe telat telat lagi, dan untuk sementara ini dia cuma bisa makan makanan yang lembut misalnya bubur atau roti dan hindari dari makanan asam apalagi pedas!" pesan Indra sambil menepuk pelan punggung Irvan
"Aaah iya aku bakal ingatin semuanya, nanti aku bikinin dia bubur!" sahut Irvan yang bulumatanya masih basah
"Memangnya orang tua Dara kemana Van, kok dia lagi sakit begini malah sendirian aja dirumah?" tanya Indra bingung
"Sebenarnya ada cuma waktunya yang gak ada, kalau jam segini mamahnya masih jaga toko dan papahnya tadi bilang lagi ada urusan yang kemungkinan bakal.pulang malam!" Jawab Irvan sedih
Saat melihat Irvan menangis, seketika itu juga hati Indra langsung tersentuh saat tau keadaan musuhnya itu jauh dari perkiraannya selama ini ditambah lagi kondisi keluarga dan kesehatan Dara yang tidak semanis parasnya.
"Van, aku minta maaf ya kalau dari dulu selalu salah paham sama kamu, setelah hari ini tolong izinin aku bantuin kamu jaga Dara, aku bakal menganggap dia seperti adikku sendiri karena aku ngerti apa yang lagi kamu rasain sekarang!" kata Indra perhatian
"Hmm? Pasti kamu lagi ingat sama Indri ya Dra?" tanya Irvan, lalu Indra tersenyum sebagai jawaban iya
"Terus luka dibahumu gimana nih, mau aku bantu gantiin perbannya?"
"Nggak, nggak perlu aku bisa sendiri kok, udah gih sana nanti kamu telat kerjanya!" jawab Irvan agak gengsi
"Van Irvan, sudahlah gak usah sungkan kita ini udah bukan bocah kayak dulu lagi! Heeh...Ya sudah kalau gitu, nanti kalau dia bangun cepat tanyain apa keluhannya ya jadi aku bisa cepat pikirkan tindakan selanjutnya dan kalau ada apa apa tolong cepat kabarin atau langsung aja kerumah sakit!
sekarang ini aku sudah jadi dokter yang memang tujuannya supaya gak ada Indri Indri yang berikutnya!" ucap Indra lalu pergi
Irvan dan Indra sama sekali tidak menyangka kalau hari ini mereka jadi saling sepaham satu sama lain karena diluluhkan dengan keadaan Dara yang mengingatkan Indra pada adik kembarnya yaitu Indri yang mana pada saat kelas satu SMK mendadak mengeluh sakit dibagian perutnya namun saat diperjalanan menuju rumah sakit nyawanya sudah tidak tertolong lagi, Dan karena sebab itulah Indra yang satu SMK dengan Irvan yang tadinya masuk jurusan komunikasi malah berubah haluan jadi bertekad akan masuk fakultas kedokteran setelah lulus nanti.
Semenjak kelas satu, Irvan dan Indra sudah bersaing dalam peringkat nilai, hanya saja kepintaran dan ketampanan wajah Indra selalu membuatnya sombong disekolah terlebih karna banyak gadis yang justru mengejar ngejarnya sampai Indra dinobatkan sebagai Dewa Tertampan disekolah, berbeda dengan Irvan yang justru mendapat julukkan si kutu buku yang tidak pandai bergaul dengan perempuan.
__ADS_1
Sebelumnya Irvan dan Indra tidak pernah bermusuhan kecuali sebatas pesaingan peringkat, namun suatu hari ada gadis pindahan dari luar kota bernama Siska yang paras cantiknya menjadi idaman hampir semua cowok satu sekolah tidak terkecuali Indra. Bahkan bagi Indra, Siska ini adalah satu satunya perempuan yang bisa membuatnya langsung jatuh cinta dalam pandangan pertama yang jauh berbeda dengan gadis lainnya yang tergila gila dengan Indra, justru Siska selalu menghindari Indra setiap kali didekati.
Hari itu rasa percaya diri Indra yang setinggi bukit membuatnya tanpa ragu mencoba untuk yang pertama kalinya lebih dulu mengungkap perasaannya kepada seorang gadis yaitu Siska, namun bukannya balasan cinta yang dia dapat melainkan sakit hati dan juga rasa malu yang luar biasa saat Siska menolak mentah mentah "tembakan" Indra itu, bahkan dengan blak blakan Siska malah mengatakan kalau dia sangat tertarik terhadap Irvan yang selalu serius belajar dan rajin berolahraga yang memang saat itu Irvan sedang serius menekuni dunia sepak bola bersama teamnasnya, bagi Siska sosok Irvan yang tidak pintar menggombal itu jadi terkesan keren dan tidak murahan! JLEEB!!
Jadi semenjak itulah rasa kecewa Indra pada Siska dia lampiaskan ke Irvan, dia selalu menganggap Irvan itu adalah laki laki munafik, walaupun sebenarnya Indra tau kalau Irvan tidak pernah menanggapi perasaan Siska terhadapnya. Namun Irvan yang dari muda sudah sibuk dengan banyak kegiatan tidak pernah menghiraukan tuduhan yang dilontarkan Indra kepadanya karna menurutnya cuma buang buang waktu dan mengotori pikiran.
Karena mereka berdua adalah siswa yang jenius, maka mereka tidak pernah ribut atau berkelahi menggunakan fisik melainkan saling berlomba mendapat nilai terbaik, dan karena Irvan tetap menjadi yang selalu unggul jadi memancing kata kata ketus dari mulut Indra sampe sekarang, yaa itulah sebabnnya kalau setiap kali mereka berdua bertemu pasti saling sindir menyindir tanpa sebab!
Tapi walaupun "Playboy" Indra tidak pernah menyakiti hati perempuan yang mengejar ngejarnya, karna mereka sendirilah yang mendekat diri ke Indra yang memang sifat aslinya adalah cowok yang tidak tegaan, perhatian dan penyayang terlebih kepada Indri adik kembarnya semasa masih hidup.
GRAAAP! (Suara seprei digibaskan)
Irvan yang baru saja selesai menjemur seprei terlintas ingatan masa masa kelam yang dulu dia alami lima tahun silam dimana saat itu Bapaknya juga sempat selingkuh dengan perempuan jalanan, dan saat kuliah dikampus F dia difitnah, ditahan polisi, yang membuat dirinya terpaksa pindah ke Bandung jadi jauh dari keluarga dan tidak lama dia pindah bapaknya meninggal dunia karena kecelakaan, dia sangat ingat bahkan semua rasa sakit itu masih membekas sampai sekarang.
Namun tiba tiba dia tercengang saat mengingat keadaan dan perasaannya saat itu dia bandingkan dengan keadaan Dara sekarang ini,
"Dulu waktu bapak main perempuan aku sudah sangat marah, ibupun sempat mau bunuh diri padahal tidak sampai menikah apalagi sampai punya anak dengan perempuan nakal itu, tapi Dara dan mama? tadi saat dia menceritakan kelakuan papahnya dia terlihat tenang dan hanya sedikit kecewa bahkan gak sama sekali terlihat dendam apalagi niat mau berontak, apa karena dia itu terlalu sabar atau memang sudah mengalah? Belum lagi masalah penyakitnya, masalah Arga yang masih hilang, kelakuan Betrand semalam pastinya dia itu.... oiya Dara kan nggak tau dan bener kata mamah kalau bisa Dara jangan sampe tau kelakuan Bertrand terhadapnya!" Gumam Irvan kebingungan memikirkan Dara yang terlihat tenang dalam menghadapi masalah yang bertubi tubi menimpanya
Tidak lama kemudian,
JEGLEK KRIEET!
Karena takut terulang lagi seperti tadi, Irvanpun memutuskan mulai sekarang akan pelan pelan membuka pintu.
"Dek kamu sudah bangun, sudah lama bangunnya?" tegur Irvan saat medapati Dara sudah membuka matanya, sambil membawakan secangkir susu Irvan pun menghampiri Dara berniat menyuapinya.
Saat mendengar pertanyaan Irvan barusan bukannya menjawab Dara malah terlihat bingung, sambil memegangi dahi dengan kelopak matanya yang masih agak sayup sayup memandangi Irvan.
"Dek kamu masih pusing ya, maafin mas ya? nih mas buatin susu, kata Indra perutmu kosong! memangnya tadi pagi gak sarapan?"
"Hm, Indra siapa? kamu juga siapa? aku in...."
KLENTING KLENTING!! PRANK!!
__ADS_1
Irvan yang sedang memegang cangkir beserta sendok tiba tiba bergetar sampai sampai cangkir tersebut terlepas dari tangannya, dalam sekejap lantai kamar Dara pun berantakan dengan serpihan gelas keramik dan lengketnya susu.
Mata Dara yang tadinya masih sayup langsung terbelalak, bukan karena cangkir yang jatuh melainkan karena kedua mata Irvan meneteskan airmata yang langsung terlintas sebuah ingatan pahit yang ada pada mimpi buruknya tadi,
'Airmata mas Irvan?'
Tanpa pikir panjang, tanpa memperduli pecahan keramik dan tanpa peduli infusan ditangannya Dara langsung bangkit dari kasur berlari memeluk Irvan yang tiba tiba kaku.
"Mas, mas Irvan aku cuma becanda mas!" pengakuannya yang mengagetkan
"HAAH?!" Dengan cepat Irvan mengangkat tubuh mungil itu lalu mendudukannya ditepi kasur
Irvan yang masih bisu langsung berjongkok memeriksa dan membersihkan telapak kaki Dara yang tertusuk dan tergores pecahan keramik yang dia jatuhkan barusan.
"Mas aku... aa.. aku tadi tuh, aku cuma mau balas ngerjain, tapi kenapa mas Irvan nangis?!" tanya Dara gugup
Seperti yang Irvan pikirkan tadi, bahwa gadis itu seperti mati rasa, dia sama sekali tidak ada meringis ataupun mengeluh sama sekali dengan luka dikulitnya yang mulai bercucuran darah yang mana dia malah menatap Irvan dengan tatapan cemas.
"Dek, kakimu banyak luka begini pasti sakit banget kan?" tanya Irvan memastikan sambil mencabuti pelan pelan puingan beling yang menempel
"Nggak terlalu, cuma perih perih sedikit aja! Udah mas gak usah bersihin nanti biar aku cuci kaki aja" jawabnya meremehkan
'Bagaimana bisa, sedangkan kalau teluka sedikit aja aku langsung meringis tapi anak ini kok gak menunjukan rasa sakit sama sekali? kayaknya ada yang gak beres sama Dara, tapi aku harus nanya masalah ini sama siapa ya?' gumam Irvan dalam hati sambil memperhatikan telapak kaki Dara yang darahnya semakin banyak
"Mas kok bengong? sudah awas dulu sana biar aku bersihin dulu lantainya!" kata Dara sambil turun dari ranjang bersiap memungut puing
"Gak usah dek biar mas aja yang bersihin, tanganmu kan lagi diinfus jadi jangan dikasih banyak gerak dan telapak kakimu juga belum diobati!" sahut Irvan menahannya sambil merasa ngeri saat melihat Dara menapakan kakinya tanpa rasa ragu
"Mas Irvan marah ya gara gara candaanku barusan? jangan marah dong mas, maafin aku ya, aku beneran cuma ma...."
"Iya dek iya mas gak marah, mas tau adek cuma mau balas ngerjain dan jujur aja kamu udah bikin mas kaget karna aktingmu sudah sukses, puas?" sahut Irvan menyindir namun tatapan matanya cemas
"iiih mas ini!!..."
__ADS_1