
Hari seninnya,
Pagi - pagi sekali mas Irvan sudah datang kerumah katanya ingin mengantarku kesekolah, aku yang belum sempat meminta maaf sama dia atas kejadian saat dirumah sakit waktu itu (*senyum sama dokter Indra) jadi nggak enak kalau terlalu banyak membangkang padanya, jadinya aku nurut aja apa yang dia katakan karena itu juga saran yang Kiki sampaikan padaku.
Sesampainya disekolah,
Dari pagi sampai pulang aku belum ada ketemu sama Amira dan juga teman band-nya Arga, karena penasaran akupun mencari disetiap kelas mereka masing - masing.
Namun saat aku tanya sama teman sekelas Amira ternyata dia memang masih belum juga masuk sekolah.
"Dara?!"
"Aah Amira?!!" sahutku kaget melihat dia tiba - tiba datang kesekolah sudah sesiang ini tanpa makai seragam.
"Kamu lagi cari siapa?" tanyanya
"Aku cari kamu, aku mau nanyain kabar Arga! gimana keadaan dia sekarang? mama papanya nggak ada yang bisa dihubungin jadi aku nggak tau lagi harus tanya kesiapa!" kataku antusias
"Sudah terlambat Ra!!" Jawabnya tanpa ekspresi, sontak jantungku berdebar sangat cepat dan kuat
"Ma.. maksudmu terlambat apanya? MAKSUDMU APA?!!" tanyaku membentak sambil menggoyangkan badannya.
Sejenak Amira terdiam menatapku seperti sedang mempersiapkan kata - kata, kemudian tangannya memegang bahuku
"Dara, sebentar lagi ujian kelulusan, lebih baik kamu fokus belajar dulu, tentang Arga nanti kamu juga bakal tahu..." Jawabnya yang menggantung, lalu dia melepaskan tanganku dan pergi begitu saja.
"Apa maksudnya? hah..!" Gumamku sambil mundur selangkah karena lemas, sesak dadaku membuat aku mulai kesulitan bernapas.
Aku jadi terpaku setelah mendengar ucapannya barusan yang belum jelas apa maksudnya,
'Nggak, Arga nggak mungkin kenapa - napa! Arga pasti selamat! Arga pasti semakin sehat!' beribu prasangka memenuhi ruang pikiranku.
"Dara, kamu darimana aja daritadi aku nyariin kamu, lhoo kamu kenapa Ra?!" Tanya Kiki sambil buru - buru menghampiriku.
Setelah itu,
Hari - hari ku lalui tanpa adanya senyuman apalagi keceriaan, apapun yang dulunya menjadi hobby dan favoritku sekarang sudah terlupakan, sekarang aku sama sekali tidak ada semangat untuk melakukan apapun lagi.
Bahkan selera untuk memilih makanan yang aku sukaipun sudah tidak ada, jadi setiap hari aku makan hanya untuk sekedar menyambung hidup.
Selain itu, pekerjaanku hanya belajar untuk melaksanakan kewajiban sebagai murid dan anak yang akan melaksanakan UAN.
Sudah satu bulan, dan sampai saat ini aku belum juga mendapatkan informasi apapun mengenai kabar Arga, bahkan rumahnya pun sudah kosong, dan juga kedua orang tuanya sampai sekarang tidak ada yang bisa dihubungi.
'Arga, kamu dimana?' Gumamku dalam hati sambil melamun dimeja makan
"Dara? kok dari tadi makanannya cuma diaduk - aduk aja sayang?!" tegur mama
"Hah? (tertegun) aku makan mah..." sahutku sambil mulai menyuap sedikit demi sedikit, kemudian mama menggeleng sambil mengetik sesuatu dihandphonenya.
Tidak sampai lima menit mas Irvan datang dengan tergesa - gesa dan langsung duduk disampingku,
"Dek, kamu susah makan lagi? liat badanmu sudah tinggal tulang berbalut kulit gini!" katanya, lalu aku menoleh kearahnya.
"Mas mas, mau sampe kapan ngurusin kehidupan aku? kenapa mas nggak ngurusin diri sendiri, cari jodoh kek!!" ucapku ketus, sambil emosi ku letakan sendok lalu beranjak dari meja makan menuju kamarku.
Sesampainya dikamar aku langsung menutup pintu dan menangis diatas ranjang.
"HIKS.. HIKS.."
JEGLEK.....
BLAM...
__ADS_1
(suara pintu terbuka lalu tertutup kembali)
"Dek?" panggil mas Irvan sambil duduk di sampingku
"Hiks.. Ngapain kesini, nggak denger yang aku bilang tadi? kenapa mas nggak tersinggung dengan ucapan ku?! Hiks.." Lalu dia mengangkat tubuhku yang sedang tengkurap
"Sini mas jawab (sambil memelukku dari belakang)
Mas nggak akan tersinggung karena mas tahu adek ngomong kayak gitu disengaja, mas paham adek lagi butuh ketenangan, tapi cara mencari ketenangan justru malah bikin semua khawatir sama kondisimu, coba lihat pucatnya mukamu, kurusnya badanmu, ini namanya nyiksa diri dan kalau kayak gini terus sama juga nyiksa mas juga!" Katanya
"Nggak, aku nggak mau nyiksa mas, makanya kalau disuruh mamah atau ibu buat ngurusin aku harusnya mas jangan mau! aku sudah besar nggak perlu lagi dijagain!" balasku
"Tanpa mamah atau ibu suruhpun mas pasti datang liatin kamu setiap hari, dan itu bakal mas lakuin sampai kamu benar - benar bisa jaga diri sendiri! ....
Sudah sebulan kamu kayak gini terus, gimana mau ngadepin ujian sekolah besok? gimana mau ngadepin ujian hidup yang lainnya?!" Ucapnya
"A.. aku nggak tahu mas, aku nggak tahu harus gimana lagi, dengan kesalahan yang sudah aku buat sampi kini terus menghantuiku, aku nggak tahu kehidupanku selanjutnya seperti apa!"
kataku dengan tatapan kosong kedepan.
"Jangan kayak gitu dek, semua orang bakal melewati jalan baik dan musibahnya masing - masing, kalau kamu terus menyesali dan meratapi seperti ini kapan bahagianya?"
"Bahagia?! gimana aku bisa bahagia, sedangkang yang aku butuhkan sekarang ini hanya ingin tahu keadaan orang yang udah menolongku yang malah aku buat celaka, dan sampai saat ini belum juga ada kabarnya, pikiran negatif terus menekan batinku, membuat aku merasa menjadi seorang pembunuh! apa aku masih berhak buat bahagia?!" Ucapku
Lalu tiba - tiba ada air yang menetes dilenganku ....
"~Maafin mas ya dek.. (suaranya bergetar)
maaf kalau ternyata sampai saat ini mas masih banyak kekurangan, mas nggak becus jagain adek, nggak becus jadi seorang kakak yang baik, kalau memang kedatangan mas cuma nambah beban buat adek mas nggak akan ganggu lagi, (sambil melepaskan pelukannya)
yang penting kamu jaga diri baik - baik, sekali lagi maafin mas yaa dek!"
Dia mencium kepalaku lalu beranjak pergi.
'Mas, seharusnya aku yang minta mas, aku yang selama ini cuma jadi beban buat mas, mas itu sudah sangat sempurna dalam kehidupanku selama ini, tapi kesempurnaan itu justru terlihat tidak berguna kalau mas terus disampingku. Karena sekarang ini aku seperti gelas yang bolong, biarpun ditambal tetap tidak bisa menampung dengan baik, jadi mas nggak perlu lagi buang waktu dan tenaga yang berharga cuma buat jagain orang yang sudah nggak ada harapan bahagia kayak aku ini, karena hidupku kedepannya mungkin akan seperti mayat hidup..' Kataku dalam hati
Dua minggu sudah berlalu,
Hasil ujian yang keluar tiga hari lalu cukup memuaskan, yaa karena selama ini yang aku kerjakan hanyalah belajar, jadi isi otakku selain Arga yaa pelajaran, sudah beberapa bulan ini tidak sedikitpun aku mencari hiburan, sebab memang tidak ada apapun yang bisa bikin aku jadi terhibur.
Saat ini aku sedang berada aula pentas seni, yang mana setahun lalu ruangan ini menjadi tempat pertama kali Arga membuat aku menjadi malu dan geer setengah mati.
Sambil duduk aku menyaksikan pertunjukan yang ditampilkan diatas panggung, walaupun suasana sangat ramai dengan musik dan tepuk tangan namun bagiku semuanya hambar.
Bahkan Kiki yang dari dulu paling bisa menenangkan suasana hatiku tapi kali ini tak ada satu jurusnya yang mampu menghiburku, namun dia selalu berada disisiku selama disekolah untuk mengawasi setiap gerak gerik yang aku lakukan atas permintaan mama dan mas Irvan.
TAP! (tangan seseorang menyentuh bahuku)
"Dara, ikut aku sebentar yuk? Kiki juga" Pinta Amira yang tiba - tiba berdiri sudah disampingku, seperti bisu aku hanya menggangguk dan mengikutinya.
Padahal sudah hampir dua bulan semenjak hari itu aku dan dia tidak pernah lagi saling berteguran ataupun sekedar menyapa, namun entah ada apa tiba - tiba dia terlihat sangat genting terhadapku.
"Ayo sini .." katanya sambil membuka pintu ruang OSIS yang mana lagi - lagi aku berada diruangan dan suasana yang sama saat Arga menembakku yang tentunya membuat aku tambah rindu.
"Amira, apa maksudnya kamu bawa aku kesini?!" tanyaku merasa sedih
"Bukannya selama ini kamu mau tahu tentang Arga?!" sontak aku jadi antusias
"APA! gimana, gimana kabar dia sekarang?!" tanyaku sambil memegangi tangan Amira.
"Tenang dulu, kamu duduk disini.." katanya sambil menyiapkan bangku kepadaku lalu dia juga duduk dihadapanku namun Kiki hanya berdiri dibelakangku.
"Dengarkan aku baik - baik Dara (sambil menggenggam tanganku)
sebenarnya aku juga nggak tahu kabar Arga sekarang ini!" ucapnya mengecewakan
__ADS_1
"Jadi buat apa kamu bawa aku kesini?!" kutarik tanganku dari genggamannya
"Dara, dengerin aku dulu, aku mau menyampaikan pesan dari Arga!" seketika akupun langsung menatap serius kepadanya, Kiki yang tadinya masih berdiri langsung duduk disampingku.
"Amira, kamu serius? sela ini Dara sudah cukup menderita cuma gara - gara nunggu kabarnya Arga, kamu jangan mainin dia lagi!" Ucap Kiki tegas kepadanya
"Aku tahu kok kalau selama ini kalian sudah salah paham sama aku dan Arga, aku benar - benar minta maaf atas masalah itu karena sudah egois terhadap hubungan kalian, tapi aku juga terpaksa melakukan ini, dan ini juga termasuk permintaan dari Arga.." Jelasnya,
"Maksudmu apa? sedikitpun aku nggak paham ucapanmu!" kataku
"Jadi sebenarnya, aku sama Arga kami ini bersaudara (JLEB!!), papaku adalah kakak dari papanya Arga, yang lebih tepatnya kami berdua adalah sepupu sekali!"
"Apa, ka.. kalian bersaudara?!" tanyaku kaget, lalu dia mengangguk
"Amira, kamu jangan bikin lelucon, bagaimana bisa kalian bersaudara sedangkan nggak ada satu orangpun disekolah ini yang tahu!?" tanya Kiki mulai emosi
"Iya benar, selain aku dan om Darma disekolah ini memang tidak ada yang tahu siapa Arga yang sebenarnya.." Ucapnya, lalu aku langsung teringat sesuatu
"Foto! Kiki, foto yang dirumah alm.bu Fatma!" kataku mengingatkan Kiki
"Ah, jadi foto yang dibawah tangga itu?" tanya Kiki menoleh ke Amira
"Jadi kalian sudah lihat ya? iya itu adalah foto kami, foto khusus cucu - cucu almarhum yang tinggal diKalimantan.
Dulu keluarga kami sangat akur, tapi tau - tau dapat masalah yang cukup rumit sampai - sampai Papanya Arga tidak lagi mau lagi mengakui kami semua sebagai saudaranya, dengan kata lain dia memutuskan tali persaudaraan" ceritanya
"Kalian ini kan keluarga tersohor dikota ini, bagaimana bisa mendapati suatu masalah yang sampai memutuskan tali silaturahmi?!" tanyaku penasaran
"Yang aku tahu cuma karena dulu papaku menentang keras papanya Arga buat nikah lagi sampe - sampe tante maria pulang kerumah orang tuanya dijakarta, makanya adiknya Arga disekolahkan disana!." jawabnya mulai mengenang
"Kalau memang papanya Arga sudah mutusin persaudaraan, terus kenapa Arga sekolah disini, kan sekolah ini diurus sama papamu?!" Tanya Kiki
"Iya bener, dulu Arga memang sempat dilarang masuk kesekolah ini karena papaku adalah ketua yayasan nya,
tapi karena nenek adalah pemilik dari sekolah ini dan beliau yang meminta seluruh cucunya yang tinggal dikalimantan diwajibkan untuk bersekolah disini!
Sebab papanya Arga cuma memutuskan tali persaudaraan tapi tidak dengan orang tuanya, jadi dia tetap menuruti permintaan nenek!" jawabnya
"Tapi, bagaimana bisa selama bertahun - tahun sekolah disini kami semua nggak ada yang tahu status Arga yang ternyata juga cucu alm.bu Fatma?!" Tanya Kiki lagi
"Jadi begini, Papanya Arga mengijinkan Arga bersekolah disini tapi dengan satu syarat, yaitu dia minta agar latar belakang status Arga sebagai keponakan papaku dirahasia kan!
Dengan cara fotocopy'an kartu keluarga Arga tidak disimpan distaff sekolah, jadinya nggak ada yang tahu deh kalau aku dan Arga sebenarnya satu nenek, palingan orang taunya kami ini cuma sebatas teman sejak kecil, iya kan?!" aku dan Kiki pun langsung saling menatap setelah mendengar penjelasannya.
"Kamu inget gak kejadian dua bulan lalu, tepatnya pas nenekku meninggal? aku sama sama sepupuku yang lainnya sempat mencari tau kenapa Arga nggak masuk sekolah bahkan nggak datang saat pemakaman nenek, dan setelah aku mendapat info sekalinya Arga lagi dirawat dirumah sakit karena gejala tifusnya kambuh lagi!" Sontak aku terkejut
"Jadi dia beneran sakit, dan itu gara - gara aku!!" kataku sambil menutupi wajah dengan tangan menahan tangis merasa bersalah
"Daraa.." lalu Kiki mengusap punggungku karena dia tahu ceritanya.
"Aku yang sudah tahu kalau kamar Arga pasti bakalan dijaga ajudan papanya, tapi karena pengen banget ngejenguk aku sama kakak sepupuku yang lainnya cari cara, kami mengelabui penjaga terus sembunyi - sembunyi menjenguk Arga pada saat papanya tidak ada.
Arga cerita kalau papanya berencana mau membawa dia pindah keluar negeri, tinggal bersama ibu dan adik tirinya yang baru lahir.
Makanya pas keluar dari rumah sakit rencananya dia mau langsung ceritain semua kekamu, tapi .... belum sempet dia cerita kalian malah kecelakaan!"
Penjelasan Amira sekejap membuat aku gemetar, perasaanku hancur lebur berkeping - keping, lidahku tidak mampu lagi menampung kata - kata cacian yang begitu banyak untuk diriku sendiri.
"Selama ini aku sudah membenci dia tanpa alasan, padahal aku tau kalau sedikitpun sikapnya tidak ada yang berubah terhadapku.
Saat itu dia rela menungguku diluar rumah sampai subuh hanya ingin agar aku mendengarkan penjelasannya, sampai dia jatuh sakit, dan setelah sembuh dia kembali ingin memberi penjelasan padaku namun .... aku malah membuat dia kecelakaan karena kecerobohanku!" Kataku sambil merasakan sesak didada, seketika aku seperti kehilangan jiwa diraga ku
"Dara?!" panggil Amira dan Kiki
Mereka langsung beranjak dari duduk memegangi tubuhku yang mulai oleng, tangan sampai kakiku seketika berubah dingin
__ADS_1
"Amira, Kiki, A.. AKU.. AKU....."