
Kupegangi pergelangan tanganku yang masih nyeri akibat genggaman kuat Arga tadi disekolah, begitu kasar dia padaku hanya karena aku memanggil dia dengan menyebut namanya, padahal seharusnya aku yang lebih marah sama dia karena perselingkuhannya yang aku sendiri tidak tahu sudah terjalin berapa lama!!
Nyuuuuut!!
nyerinya tanganku tapi lebih nyeri lagi sakit di hatiku, Mungkin memang karena perasaannya sudah mulai berubah jadi diapun bisa berbuat kasar dan tega terhadap ku sekarang.
Aku jadi tidak habis pikir dengannya, kalau memang sudah tidak suka padaku mengapa masih harus berpura - pura baik selama ini?
Bahkan tadipun dia masih sempat ingin mengantarku pulang, padahal jarak rumahku kan lumayan jauh dari rumahnya, Apa sih yang sebenarnya dia inginkan dariku?!
Apa jangan - jangan sebenarnya dia sedang mencari waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini?
Bisa jadi saat ini dia memang sengaja mengikutiku karena tadi sudah terlanjur ketahuan belangnya dan nanti dia akan menyatakan "Putus!"
Karena sudah jelas dengan sikap kasarnya tadi, sepertinya dia memang sudah tidak punya rasa sayang terhadap ku lagi.
Yaah aku sadari, bahwa aku memang tidak seagresif Amira yang selalu berupaya mendapat apa yang dia mau. Ditambah gaya
Hidupnya yang berada dikalangan atas, mengenakan barang-barang brandit, kemana mana pake mobil mewah, dan pastinya dia adalah primadona disekolah.
Ku akui, sebenarnya kalau dia disandingkan dengan Arga yang juga salah satu cowok idaman disekolah, tampan, gagah, juga berasal dari keluarga kaya yang terpandang tentunya mereka sangat serasi, sangat jauh kalau dibanding kan dengan aku yang biasa-biasa aja.
UUUUUGH!
Rasanya ingin menangis di perjalanan ini, tapi itu tak mungkin aku lakukan disini!
Aku mampu menahannya sampai benar - benar menemukan waktu dan tempat yang nyaman untuk menangis sepuasnya, yaitu dikamar kusendiri.
Tetapi kalau saat bersama Kiki, aku tidak bisa menyembunyikan apapun darinya termasuk emosiku, mungkin karena sudah cukup lama menjalin persahabatan jadinya kami sudah sangat hapal sifat dan kebiasaan satu sama lainnya.
Tetapi aku sama sekali tidak menyalahkan keadaanku saat ini, malahan aku sangat bangga dan bersyukur dengan kehidupan dikeluargaku.
Dengan kedua orang tuaku yang sebenarnya juga berasal dari orang yang berada, Kakek dari papaku termasuk salah satu orang yang terkaya dipulau ini, beliau memiliki beberapa perusahaan tambang dan puluhan anak cabang diberbagai daerah.
Pada saat baru lulus kuliah, Papa memang sempat bekerja diperusahaan kakek, tetapi tidak sampai dua tahun Papa mengundurkan diri. Papa yang memiliki kepribadian mandiri lebih milih merantau kepulau jawa, merintis pekerjaan dari bawah hingga sekarang sudah memiliki perusahaan sendiri walau tidak sebesar perusahaan kakek.
Yaah, Kakek nggak bisa memaksa anaknya yang satu iti karena kakek sangat sadar kalau sifat keras kepala papa memang diturunkan darinya, dan sekarang diturunkan lagi padaku. Begitu juga dengan mamaku yang sebenarnya berasal dari keluarga yang cukup tersohor dinegeri ini, sebab mamaku adalah anak bungsu dari salah satu pejabat dinegara yang sudah menjabat lebih dari 25 tahun sampai saat ini, tetapi mama sama sekali tidak ingin memanfaatkan kedudukan Opah untuk bekerja dipemerintahan.
Mama malah memilih mengikuti Papa yang memulai hidup dari bawah, dimulai dari hobinya memasak dan akhirnya membuka usaha kuliner sendiri dari kecil - kecilan hingga sekarang menjadi toko yang berkelas.
Tetapi mama selalu mengajarkan gaya hidup sederhana, karena menurutnya apa yang sudah kita dapat sekarang bukan untuk dipamerkan, Kedengerannya sih kayak orang yang sok bijak, tetapi mama selalu mengingatkan bahwa apapun yang kita miliki didunia ini tidak ada yang abadi, jangankan harta atau kedudukan, bahkan hiduppun akan hilang.
Makanya dalam kehidupan sehari - hari dikeluarga kami, tidak pernah memaksakan diri untuk sesuatu yang memang tidak terlalu diperlukan. Aku menikmati gaya hidup seperti ini, bukan hanya karena sudah terbiasa, melainkan karena dengan kebiasaan seperti ini aku malahan jadi bisa bergaul dengan siapapun tanpa memandang status ekonomi atau kedudukan seseorang.
Tidak terasa sudah hampir dekat rumah, aku yang dari tadi memandang kedepan ojeg sesekali ingin sekali melihat memastikan apakah Arga benar - benar masih mengikuti atau tidak?! lalu aku pura - pura menunduk cuma untuk melirik kearah kebelakang, dan sekalinya dia sudah tidak ada
'Ah untunglah, mungkin tadi memang kebetulan searah saja!' gumamku sambil mengelus dada,
Jarak rumahku kurang lebih tidak sampai sepuluh menit lagi, akupun langsung mengambil uang dalam saku baju untuk menyiapkan ongkos.
Dengan posisi kepala masih menunduk, tiba - tiba ada sebuah motor melaju dengan cepat disebelah kiri ojegku atau lebih tepatnya dihadapanku.
Sebuah motor yang terlihat olehku baru bagian bawahnya saja, dengan suara mesin yang memang terdengar tidak begitu berisik sehingga aku pun tidak menyadari keberadaannya yang kini ternyata sudah dihadapanku.
"Perasaan didepan ku tadi gak ada motor deh, kok tiba - tiba ada yaa? apa mungkin aku nya aja yang gak sadar? ah memang nggak ada kok tadi!" tanyaku dalam hati, namun aku masih tidak berani mengangkat kepalaku untuk melihatnya.
"Mudah - mudahan itu bukan Arga, mudah - mudahan cuma sepatu dan ban motornya aja yang sama!" Harapku, Namun...
Tentunya rasa penasaran semakin menggebu ingin memastikan dugaanku benar atau salah, dengan rasa takut yang mengiringi aku mulai mengangkat kepalaku yang tertutup helm. Dengan perlahan terlihat sedikit demi sedikit mulai dari Ban motor, sepatu, celana...., pakaian...., dan .... helmnya!
DOEEEENK!!!!!
Dalam sekejap aku langsung melongo,
dengan posisi tangan kananku yang masih menempel didada memegangi uang dalam kantong baju seragam ku...
__ADS_1
GLEEK!!
seketika aku menelan liur yang terasa sangat menyangkut di tengah tenggorokanku!
"Di.. didii..diaaa....!" bisik bibirku begetar,
Ditambah kencangnya hembusan angin yang meniup ke wajahku menjadikan mataku yang sedang melihatnya terasa kering dan perih.
Bagaimana aku tidak terkejut, karena yang sedang aku lihat sekarang ini tidak sesuai dengan harapan ku sebenarnya! Dan kemungkinan besarnya lagi, bahwa hal yang aku takutkan akan terjadi hari ini juga.
Karena yang ada dihadapanku sekarang ini, tepatnya disebelah kiri dari ojekku adalah memang Arga! yang ku kira tadi sudah pergi dan tidak mengikuti lagi.
Saking kagetnya aku melihat dia yang tau - tau sedang beriringan motor dengan ojekku,
Sampai - sampai membuat tanganku yang sedang memegangi beberapa lembar uang reflek bergerak!
Lembaran uang yang memang sudah aku persiapkan untuk membayar ojek pun jadi terlepas dari tangan, lalu semuanya berterbangan melayang - layang tertinggal kearah belakang.
"Aaah uangku!!" Sontak aku terkejut melihat uang - uangku bertebaran dan tanganku langsung saja ingin menangkap mereka hingga aku lupa kalau diriku sedang diatas motor yang seharusnya tidak boleh banyak bergerak.
Akhirnya ojek yang aku tumpangipun jadi mulai kehilangan keseimbangan, motornya oleng melenggak lenggok ke kanan dan ke kiri membuat aku menjadi panik
"Aaach,, whaaaah..... whaaaah....!!!!!"
(Aduh, jatuh ini.!! pikirku)
Jantungku terasa mau copot, karena ketakutan setengah mati nggak karuan,
Namun beruntung motor ojek dalam kecepatannya tidak begitu laju dan pengemudinya dengan sigap menstabilkan keseimbangan motornya lagi lalu perlahan - lahan dia menepi dan langsung memarkirkan motornya disamping trotoar.
Tukang ojeknya pun langsung turun dengan kedua kakinya yang terlihat gemetar dia berjalan menuju kearah pohon yang cukup besar dan rindang disamping tetotoar jalan.
Lalu aku juga ikut turun dari motor, hanya saja aku tetap berada ditempat karena kakiku yang juga gemetar tidak sanggup lagi untuk berjalan kemana - mana.
Mengira bahwa barusan akan terjadi kecelakaan yang tidak diinginkan akupun jadi syok!
Aku yang menyadari diri bahwa kejadian barusan ini adalah kesalahan yang disebabkan oleh ku. Aku sudah siap menanggung resikonya, dan akan menerima jika sampai tukang ojek tersebut memarahi ku.
Rasa ngilu disemua sendi - sendi tulangku membuat aku tak mampu berdiri jadinya terjongkok lemas disamping motor, ditambah jantungku yang sudah berdebar - debar sangat cepat dari tadi menyesakkan napas didada
Aku perhatikan wajah dan penampilan tukang ojek tersebut, yang sedang ter'engah - engah bersandar dibawah pohon, pastinya sangat kaget dengan kejadian barusan yang hampir mencelakai kami berdua. Dia terlihat masih sangat muda, perkiraan baru berusia sekitar dua puluh tahun lebih, karena takut akupun langsung menundukan kepala tidak berani menatapnya lama - lama aku.
'Orang ini pasti bersifat emosian dan tempramental, dia pasti bakal memaki-maki aku disini tanpa peduli posisi kita berada dipinggir jalan seperti saat ini! karena kemungkinan besar sifatnya hampir sama dengan tetanggaku yang pemarahan itu!!' pikirku
(Dilain tempat: 'Haaaachi..!! kok merinding ya?')
"Daraaa..?!"
Aku segera menoleh kearah suara yang memanggilku, dan ternyata Arga yang pastinya telah melihat kejadian barusan.
Dia juga memakirkan motornya pas dibelakang motor ojek kira-kira hanya berjarak dua meteran, kaca helmnya yang terbuka membuat aku sangat jelas melihat wajah dinginnya dan sepasang mata yang sedang melihat kearahku dengan ekspresi datar sambil melepaskan pengait helm didagunya.
Kini dia mulai melangkah kan kakinya mendekati ku, hingga tanpa sadar aku terus memperhatikannya, karena disetiap satu langkahnya menambah rasa kengerian dipikiranku. Diriku yang sudah syok dan gugup, membuat aku hanya bisa meremas - remas jari-jariku tangan yang sudah sangat gemetaran dan terasa semakin dingin saat melihatnya menghampiri ku.
Kedatangannya yang semakin mendekat menambah rasa cemas karena aku sama tidak bisa menebak apa yang sebenarnya dia mau dariku sehingga masih saja mengikutiku, membuat aku jadi terus berfikir yang enggak - enggak duluan terhadapnya...
'Apa mungkin dia sudah tidak sabar ingin segera mengatakan :
"1.AKU SUDAH TIDAK SUKA KAMU!,
2.KITA SUDAHAN SAJA!
3.AKU SUDAH PUNYA CEWEK LAIN!, atau
4.MULAI SEKARANG KITA PUTUS!"
Aaagh! Pikiranku jadi tambah kacau,
__ADS_1
Belum lagi aku harus menghadapi tukang ojeg didepanku itu!
Begitu dia sudah tiba disampingku, dengan segera aku memalingkan menundukan kepalaku lagi, dia berjongkok disampingku membuat aku semakin ngeri, membayangkan apa yang sudah terjadi tadi disekolah.
Kutarik napas panjang, ku pejamkan mata rapat - rapat, dan mengepalkan tangan kuat kuat semua itu aku lakukan untuk mempersiapkan mental, walaupun rasa takut tetap saja menyelimuti perasaanku yang akan mendengar salah satu kalimat dari beberapa yang sudah aku duga sebelumnya. 'iiiiiiiiiiiiiiii'(ngeri duluan!!)
"Kamu nggak apa - apa kan beib?!"
"Haah?" Sontak aku langsung membuka mata kembali.
Lalu dia memegang tanganku yang jari - jemarinya sedang mendingin dan gemetar. Aku yang tadinya sudah bersiap untuk rasa kecewa, kini jadi berani menoleh dan melihat kearahnya.
Entah kenapa dia memperhatikan tanganku yang memar karena perbuatannya tadi dengan tatapan Menyesal, matanya yang bening tiba - tiba terlihat agak memerah dan mulai berkaca - kaca.
"Sakit banget yaa??.." tanyanya
Karena keheranan dengan sikapnya ini aku jadi tertegun, bibirku membisu jadi hanya mampu menjawab pertanyaannya dengan gelengan dan anggukan saja.
Namun ketika mulai mendengar suara tukang ojek yang mulai berbicara, rasa takutpun kembali menghantui.
'Aduh aku bakal dimarahi habis - habisan nih!'
Namun tiba - tiba .....
"Dek maaf ya, maaf saya tadi agak ngantuk jadi kurang konsentrasi!!"
Kata tukang ojegnya sambil memijat - minat kepalanya
Sontak akupun jadi melongo,
"Haaah! gak salah dengar??" gumamku dalam hati
Ucapannya barusan seketika meruntuhkan dinding mental yang sudah aku persiapkan dari tadi untuk dua orang didepanku ini.
Aku yang tadinya merasa sudah berada diujung tebing, tiba - tiba aku kadi merasa seperti sedang berada dipinggir pantai.
Ucapan mereka yang tadinya kupikir seperti hantaman badai petir justru malah seperti taman bunga.
Tetapi.... what..????!!!
Ngantuk?
Dia bilang bahwa tadi dia ngantuk??!
Kedua kaki dan tanganku yang masih gemetaran, ditambah badanku yang masih lemas, kini aku mendengar pengakuannya yang mengatakan bahwa dia "ngantuk?", tentunya rasa syok yang tadi mereda sekarang jadi semakin bertambah.
Dalam bayangan ku 'bagaimana cara dia mengendarai motor dengan keadaan mengantuk, apakah matanya sebentar bentar terpejam? dan bagaimana kalau dia tadi beneran sudah tertidur tak sadar kan diri? ya ampun aku nggak habis pikir! tapi mau gimana pun aku juga tetap bersalah, karena kecerobohanku tadi yang terlalu banyak bergerak saat mau menangkap uang ongkos yang terbang, jadi aku juga harus meminta maaf juga padanya!' pikirku
Namun Arga yang jelas mendengar pengakuan tukang ojeg itu langsung berdiri dengan ekspresi geram dan dia yang marah - marah duluan!
"APA? NGANTUK MAS?! bawa penumpang dalam keadaan ngantuk?! mau buat celaka orang?!..." Bentaknya
Aku yang melihat tukang ojegnya gugup karena Protes Arga padanya pun jadi nggak tega jadi ingin melerai, namun karena kondisiku juga masih syok dan belum sepenuhnya bertenaga lagi maka hanya tanganku saja yang mengoyangkan celana panjangnya Arga.
"Ga, Sudah Ga jangan marah, kan aku juga nggak jadi kenapa - napa..." Kataku, namun Arga sama sekali tidak memghiraukannya.
Kemudian aku berusaha bangkit dari jongkok ingin segera berdiri dengan cara tangan kananku bertupu memegangai lutut yang masih lemas, Arga dengan sigap membantu memengangi bahuku sambil berkata,
"Apa harus tunggu kamu kenapa - napa dulu baru boleh protes sama kelalaian orang?!!.." tanyanya sambil mengerutkan dahi.
"Tapi, dia kan sudah minta maaf, terus aku juga udah teledor!" jelasku
Aku yang masih dalam rangkulannya jadi tertegun saat melihat sepasang matanya sedang menatapku dengan sorotan khawatir terhadapku,
'Arga, kenapa? apa kamu masih peduli padaku? padahal kamu sudah menghianatiku dan pastinya sudah tidak ada rasa sayang lagi padaku bukan?' tanya ku dalam hati yang tentunya jadi bingung dibuatnya,
Lalu aku melihat ketukang ojek.
__ADS_1