Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
APA - APAAN KAMU INI?!!


__ADS_3


"Jadi rencana kalaian mau kemana dulu ini?!" tanyaku sambil memperlambat laju kendaraan yang sedang kubawa sekarang ini.


"Rencananya kami mau kerumah Neneknya Amira, sekalinya dia adalah pemilik dari gedung sekolahan kami dan tadi malam beliau meninggal tapi,,, tapi sekarang pasti kita sudah ketinggalan sama rombongan guru yang mau pada kesana..." Jawabnya memelas, kayaknya dia baru tahu kalau Amira itu cucu dari pemilik sekolahnya.


"Owh kesitu, yaudah,," Jawabku sambil mulai menaikan gas mobil menuju kearah rumah yang dia maksud.


Dan tanpa disangka karena kejadian ini aku sekarang jadi sudah mendapat jawaban dari apa yang sedang aku butuhkan melalui temanku Adhi.


"Memangnya mas tahu rumahnya dimana?!" Tanyanya seolah - olah dikota ini tidak ada yang mengenal Bu Fatma.


Lalu Akupun menjelaskan sedikit garis besar tentang sosok Alm.Bu Fatma, dan benar saja dugaanku tadi, ternyaya Dara baru saja tahu kalau salah satu orang berjaya dikota ini adalah nenek dari temannya yang bernama Amira, sebab kalau dia sudah tahu pastinya dia bukan hanya kenal tapi juga akan tahu dimana rumahnya, pikir ku.


Setelah selesai aku menberi penjelasan, kemudian Kiki bertanya mengapa aku ada disini, untuk apa, dan bagaimana aku bisa tahu bahwa Dara sedang dirumahnya?


Yaaa, karena sebelumnya aku memang jarang mengantar ataupun menjemput Dara kesekolahnya, apalagi semenjak Dara berpacaran sama Arga, keliatan ada dirumahnya pun kalau sudah malam saja.


Dan semua pertanyaan Kiki barusan itu membuat aku kembali mengingat tujuanku tadi pagi dan akupun menegur Kiki yang tidak amanah dengan sms yang sudah ku kirim dari tadi pagi kepadanya, dan dia langsung terdiam menampakan wajah merasa bersalahnya.


Lalu dengan sigap Dara membela sahabatnya, dia menyebutkan berbagai macam alasan kepadaku, juga menceritakan kronologi kenapa sampai sesiang ini baru sempat memberi kabar padaku.


Dia berbicara panjang lebar dengan penuh rasa percaya diri, padahal sebenarnya dia juga punya salah padaku yang sudah dilupakannya, yaaa dia kan sudah melanggar janjinya dengan ku tadi pagi!


Tapi lupakan saja sudah, yang penting sekarang dia sudah bersama ku dan aku lihat keadaannya pun sudah lebih baik.


Ku dengarin semua cerita dan alasannya sampai sampai habis, namun salah satu dari alasannya adalah dia sempat kesulitan mencari teman - temanya DIA.


DIA? siapa yang dimaksud dengan DIA? atau jangan - jangan ...


"DIA?!! ARGA maksudnya?" Tanyaku hanya untuk mastikan rasa penasaranku.


Namun dengan cepat dia membuang pandangan menghadap kejendela yang berada tepat disamping kirinya, tanpa sedikitpun jawaban atau kata dari mulutnya untuk menjawab pertanyaanku barusan.


Namun dengan sikap diamnya yang seperti itu pun aku jadi tahu siapa DIA yang dimaksud, tidak sengaja aku melihat wajahnya dari pantulan kaca jendela, sesuatu yang terlihat berkilau jatuh kepipinya.


"Apa dia sedang mengangis? Astaga apa aku sudah salah bicara?!!" Ucapku dalam hati


GREEEP!!!


Tanpa banyak pikir tangan kiriku langung meraih bahu kemudian menarik dirinya hanya untuk melihat wajahnya, namun saat kutarik dua malah langsung menyembunyikan wahahnya kepelukanku, kukurangi kecepatan laju kendaraan yang sedang ku bawa.


"Kalau mau nangis, nangis aja jangan ditahan!!" Kataku berusaha menenangkan dirinya.


"Hik - Hik!! nggak mas, aku nggak mau nangis, apalagi nangisin dia! Hik - Hik!!" Jawabnya membantah, namun suara lirih dan tetesan airmatanya yang menjawab isi hati sebenarnya.


Begitu deras airmata yang dia keluarkan hingga kurasakan rembesanya dikemeja bagian dada kiriku.


"Apa - apaan sih mulutku ini, sampai hal kecil begitu aja harus aku tanyakan lagi!


Kenapa juga mulutku ini sampai menyebut nama Arga, sama saja aku mengulang kejadian semalam!!

__ADS_1


Bukannya bantu bikin dia lupa dengan laki - laki itu, sekarang malah bikin dia jadi merasa sakit hati lagi!


Bodoh! dasar bodoh! kakak macam apa aku ini? mungkin aku pantas mendapat kan predikat kakak terbodoh didunia ini!!!" Pikiranku memarahi diri sendiri yang menjadi gugup menghadapi tangisan gadis kecilku ini.


Kiki pun berupaya membantu menenangkan Dara dari belakang, namun aku sangat tahu sifat anak ini yang selalu berusaha menahan emosi batinnya sendiri hingga membiarkan penyakit hati menggerogoti kesehatannya kelak.


Setelah dari sini aku akan segera membawanya kerumah sakit, bukan hanya sekedar periksa kesehatan, tetapi aku juga akan carikan dokter psikolog terbaik untuk membantunya, entah dengan trapi, meditasi, yoga atau apalah, yang penting agar kedepannya dia dapat belajar mengendalikan emosi pikiran dan jiwanya.


Sebenarnya wajar aja kalau dia masih labil dalam mengontrol emosi, selain karena usianya yang memang masih sangat muda, namun kesibukan kedua orang tuanya yang membuat dia jadi kurang mendapat perhatian dan pembelajaran hidup dikesehariannya.


"Dek, jadi nggak ke rumah Bu Fatma?" tanyaku sambil mengusap - usap punggungnya, namun dia hanya menjawab dengan anggukan saja.


"Kalau gitu hapus dulu airmatamu, mas sudah mau parkir." kataku sambil melepas pelukan dan membiarkan dia mengeringkan airmatanya.


Kupakirkan mobil dibarisan paling ujung dari deretan mobil yang sudah parkir lebih dulu, kubiarkan mesinnya tetap menyala agar uap ac tetap menghembus selama Dara masih membenahi dan menenangkan diri.


"Mas ada cermin nggak?!" tanyanya, sembari merogoh - rogoh isi tasnya.


"Tuuh kaca spion disampingmu gede!!" kataku berusaha menggodanya sambil menyampingkan badanku menghadap kearahnya, tapi karena masih kesal diapun menanggapi candaan ku dengan mengomel dengan suara seraknya.


Awalnya aku ingin menurunkan sun visor yang berada tepat diatasnya, namun Kiki lebih dulu menawarkan kotak bedak yang sedang dipakainya.


"Hmmm cewek, mau melayat aja dandan dulu?!" gumam dalam hatiku saat melihat Kiki sedang memoles bedak dipipinya.


Namun kuperhatikan Kiki terlihat sangat gelisah, dengan terburu - buru ia memberikan sebuah kotak bedak becermin beserta se-pack tisue basah kepada Dara, lalu keluar dari mobil lebih dulu meninggalkan kami dengan alasan ingin menemui beberapa temannya yang sudah datang lebih dulu, namun perkiraanku berbeda.. "Kurasa dia dari tadi sudah kebelet mau ketoilet!" 🤔


Dara terlihat sangat antusias saat melihat kotak bedak yang sudah berada ditangannya, dan memang sudah menjadi kebiasaannya setiap habis menangis dia akan segera mencari benda pecah belah itu untuk melihat keadaan wajahnya sebelum dia tampakkan keorang lain.


Ku perhatikan dengan seksama wajahnya yang selalu dia sembunyikan disetiap sedang atau sesudah menangis itu, tanpa mengalihkan pandanganku dari tatapan matanya, tanganku mengambil selembar tisue basah pemberian Kiki barusan, lalu ku usapkan perlahan kewajah imutnya yang memerah itu.


Awalnya aku hanya tidak mau kalau dia terus - terusan merasa malu memperlihatkan wajahnya yang habis menangis kepadaku, padahal sudah dari kecil kami selalu bersama jadi untuk apa lagi dia masih malu menangis didepanku?


Namun saat kulihat sebuah wajah dengan mata yang masih sedikit berkaca - kaca ini justru membuat aku terkesima melihatnya.


"Selama ini aku tidak pernah menyadari kalau ternyata Gadis kecil dihadapanku ini sungguh manis, bahkan setelah dia habis menangispun justru merah merona dipipinya membuat dia lebih cantik!" pikirku


Denyut nadi dilehernya yang bersentuhan dengan tanganku terasa begitu kuat, hingga aliran darahku pun ikut tertular mengalir deras sampai kejantung.


Sinar matanya yang dari tadi menatap mataku membuat aku tiba - tiba merasa gugup, dan aku sama sekali belum pernah merakanan debaran seperti ini sebelumnya.


Semakin kuperhatikan keseluruh sisi wajahnya, dan akupun terpaku saat melihat warna merah muda dibibirnya pun mengalahkan warna merona dipipinya yang membuat aku jadi sangat gemas ingin segera menyentuh dan menggigitnya, dan semakin mendekat semakin kuat hasratku ingin merasakan bibir manisnya itu.


Tanpa berkedip, kutatap terus matanya yang mulai memejam saat wajah kami sudah sangat dekat saling berhadapan, saking dekatnya hingga hembusan napasnya pun dapat kurasakan menyentuh dibibirku ....


"IRVAN!! APA - APAAN KAMU INI?!!" teriak suara didalam hati yang seketika saja menghentikan gerak majuku yang hampir saja bibirku sudah menyentuh bibirnya.


Akupun segera mundur lagi dari posisi itu, wajahnya yang sangat hangat dengan mata yang memejam masih ku pegangi dihadapan ku ini.


Ku telan liur yang menyangkut ditenggorokan, tak sengaja kulihat lalu kuambil perlahan secuil tisue yang masih menempel di bulumatanya.


Karena gugup dan tegang, dengan spontan aku melontarkan satu kalimat yang mengolok dirinya, awalnya kupikir hanya untuk mengalihkan dan menghilangkan rasa canggung diantara kami yang menggetarkan jari - jari tanganku, namun tidak sangka olokanku itu justru membuat dia jadi meraju dan ingin segera menghindariku, namun dengan cepat tanganku kembali menahan dirinya yang sudah membuka kunci ingin keluar dari mobil.

__ADS_1


Kurasakan perasaanku yang semakin bergejolak ini tidak rela dan tidak bisa terima kalau sampai dia memiliki beban dihidupnya, kemudian ...


Kubuat janji dengannya setelah dari sini, mencari tempat yang nyaman agar dia bisa mencurahkan semua kegundahan yang membenak dihati dan pikirannya, dengan bisu diapun mengangguk dengan polosnya membuat aku lagi - lagi merasa gemas kepadanya.


Ku kecup keningnya seperti biasa tetapi entah kenapa rasanya kali ini sangat berbeda dari biasanya, kali ini seperti ada aliran listrik yang menyengat dadaku.


Dengan segera akupun menarik kunci yang membuat mesin beserta ac-nya langsung berhenti berdesir, lalu aku langsung turun dan keluar dari mobil. Beberapa menit ku tahan diriku dibagian belakang mobil hanya untuk sekedar meredakan debaran dijantung juga getaran diujung jari - jari.


Sungguh aku tidak mengerti pada diriku kali ini, mengapa tiba - tiba rasa sayangku sangat kuat dan berbeda padanya, aku ingin selalu dekat dengannya bahkan sampai ada rasa ingin mencium bibirnya juga.


Sambil kudekap bibirku dengan tangan, kuingat lagi apa yang barusan hampir ku lakukan padanya.


"Jangan gila Van, dia itu sudah seperti adikmu sendiri, jangan mengambil keuntungan dari keadaan lemahnya yang dia alami sekarang ini, walaupun kamu benar - benar gila sekalipun!" Lagi - lagi ada suara dihati yang memarahi diriku, membuat aku jadi merasa bersalah.


Debaran didada sudah mulai mereda, dan akupun baru tersadar bahwa Dara tidak juga menampakan diri yang menandakan bahwa dia belum keluar dari mobil.


Dengan sedikit cemas aku segera mendekat kearah pintu disebelahnya lalu kubuka dengan cepat namun kudapati dia sedang .... terkejut! duduk dengan posisi yang masih sama seperti saat ku turun barusan.


"Apa barusan melamun? apa yang dia pikirkan? apa dia tahu kalau aku tadi ingin mencium nya?!" tanya ku was - was dalam hati, takut dia marah karena kelancanganku.


Lalu saat dia turun dan melihat kesekeliling, dia bersikap polos seperti biasa, dan malahan tangan dinginya yang pucat menggandeng tanganku, ini mengartikan bahwa dia tidak sadar kalau tadi aku hampir saja menciumnya.


"Huuuuft, syukur lah ...." pikirku


Lalu dia pun tidak berhenti bertanya sambil terus mengoceh sepanjang jalan dari parkiran hingga kerumah yang menurut ku bentuknya seperti kue tart itu.


Sesampainya didalam, aku bertemu dan berteguran dengan banyak orang yang aku kenal termasuk partner kerja, juga teman kuliahku yang kebetulan mereka sama - sama sedang melayat kerumah yang aku pernah kudatangi ini.


Mungkin karena sudah merasa jenuh mendengarkan obrolanku bersama teman - teman, Dara pun meninggal kan aku disaat aku sedang betegur sapa dengan cucu pertama alm.bu Fatma yang tidak lain adalah teman kualiahku sekaligus kakak kandung Amira yang sudah menyakiti hati Dara.


Awalnya aku selalu memperkenalkan Dara sebagai adikku bila ada yang bertanya, dengan tujuan agar teman - temanku akan berprilaku sopan atau bahkan melindunginya dimanapun mereka bertemu dengan Dara, tetapi justru Dara malah mengaku kalau dia hanya sebatas bertetangga denganku, yang membuat dia bisa bisa menjadi angin lewat bagi teman bahkan Prisil yang bermuka dua pun akan memandangnya sebelah mata.


Namun tidak aku sangka justru Dara malah berpamitan denganku dengan alasan ingin mencari Amira!


Apa?! nggak salah dengar?!


Ku pikir dia minta diantar kesini cuma mau ikut dengan teman lainnya yang ingin melayat, tapi setelah sampe sini dia justru mau cari Amira yang jelas - jelas sampe sekarang pun dia masih menangis yang disebabkan kelakuan Amira dengan Arganya!


Karena suasana yang ramai jadinya akupun tidak bisa menahannya, yang padahal sebenarnya saat mengobrol dengan Prisil pun cuma sekedar basa - basi. Dari dulu Prisil selalu membuat aku tidak merasa nyaman didekatnya, bahkan sampai menjadikan aku merasa gerah diruangan mewah ber-ac tiga ini.


Segera aku menghindar dari Prisil lalu kembali mencari Dara, iya aku beneran mencari Dara dan Kiki untuk segera mengajaknya pulang! aku tidak suka berlama - lama satu tempat dengan prisil wanita kurang ajar itu.


Dikrumunan tamu dan para krabat Almarhum, beserta murid - murid yang masih memakai seragam yang sama dengan Dara, menjadikan aku agak kesulitan mencarinya dari jarak jauh.


Setelah sempat berkeliling, akhinya aku menemukan mereka yang justru sedang terharu sambil tberpelukan bertiga dengan Amira yang entah mengapa aku sangat emosi melihat fenomena itu!


Sambil mengepalkan tangan karena gregetan, aku bertanya - tanya dalam hati:


"Ada apa dengan pikiran Dara ini? mengapa dia bisa dengan mudah merasa haru bahkan rela dipeluk oleh teman yang sudah menghianatinya? Aku sungguh tidak habis pikir dengan kepolosannya itu!" Dumelku dalam hati


Tanpa memperdulikan perasaan Amira, akupun memanggil Dara dan segera mengajaknya untuk segera kembali pulang, dan tanpa aku sadari ternyata daritadi Prisil selalu mengikuti kemanapun aku melangkah.

__ADS_1


__ADS_2