Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
Aku Yang Tidak Becus


__ADS_3

"Adiknya mas ini juga mengalami Dehidrasi, warna kulit yang memucat juga cekungan matanya sangat terlihat jelas kalau dia kurang minum dan juga kurang istirahat, sebaiknya dia opname dulu untuk beberapa hari kedepan, saya khawatir takutnya terjadi pengentalan darah yang bisa membuat dia jadi kejang - kejang bahkan bisa terkena strouk!" Jelasnya


"Tapi kan adik saya masih remaja Dok, masih sangat muda untuk terkena penyakit seperti itu..!" tanya ku merasa ganjal


"Iya memang, ini biasanya terjadi pada orang diatas tiga puluh tahun, tapi tidak menutup kemungkinan anak - anak dan remaja pun bisa terkena, semua tergantung pola hidup kesehariannya!" Ungkapnya dengan tatapan menekan seolah - olah kesehatan Dara tidak pernah diperhatikan oleh keluarga, dan itu memang benar.


"Baiklah Dok, Kalau gitu kapan dia dipindah keruangan?" pertanyaan ku menyudahi pembahasan ini.


"Tunggu sampai dia sadar dulu baru bisa dipindah, perkiraan mungkin sore baru bisa sadar, karena sekarang ini fungsi syaraf diotaknya masih melemah, jadi tolong dijaga aja dulu yaa..." Pesannya


"Yaaa baik Dok, terimakasih, kalau begitu saya keluar dulu..." pamitku


"Iya silahkan..." sahutnya sambil tersenyum


Satelah keluar dari ruangan Dokter, aku segera berjalan mendatangi ruang IGD.


Ku buka pintu berwarna putih itu, kulihat Dara yang biasanya cerewet dan keras kepala kini terbaring tanpa sedikitpun suara darinya, selang infus dan oksigen yang sudah terpasang melintasi kulit pucatnya kini yang akan membantunya bertahan, semua ini mengartikan bahwa keberadaanku disampingnya selama ini juga tidak berguna.


Kudekati Kiki yang sudah berada disampingnya sedang menyelimuti tubuh yang masih memakai seragam sekolah itu.


"Gimana mas? apa kata Dokter?!" tanya Kiki, memecah renunganku


"Eeh... Dokter baru ngasih dugaan sementara aja, nanti dicek lagi setelah Dara bangun, tapi apa yang Dokter bilang tadi memang ada miripnya sih sama yang Dara alami..." jawabku, sambil mengamati wajah Dara dari samping ranjang


"Kiki, kamu pulang aja dulu istirahat, bilang Dokter kemungkinan nanti sore Dara baru bisa bangun..." Saranku pada Kiki bukan maksud mengusir


"Tapi mas, aku juga mau tahu keadaan Dara!!" dia berkata seakan sedang tidak percaya padaku untuk menjaga Dara


"Nanti mas bakal kabarin ke-kamu secepatnya kalau Dara sudah sadar, setidaknya tidak sampe berJam - jam!" Balasku menyindir


"Iya - iya, sudah..." sahutnya menanggapi ucapan ku barusan sembari mengambil tasnya


"Kiki makanan yang tadi, mie sama kuahnya dipisahkan!?" tanyaku memastikan


"Iya..!"


"Kalau gitu kamu bawa aja semua, daripada mubajir disini..." kataku menawarkan


"Mas Irvan gimana? tadi katanya lapar?!" Dia bertanya balik


"Kalau mas gampang aja, bisa pesan online aja nanti!" sahutku


"Owh, yaa sudah,, ini uang yang tadi mas!" katanya sembari menyodorkan uang yang tadi aku kasih


"Buat ongkosmu aja Ki, soalnya mas nggak bisa nganterin kamu!" ucapku


"Iyalah mas, masa Dara mau ditinggal, kalau gitu makasih yaa,,, INGET! jangan ditinggal lagi Dara-nya, janji??" pesannya menekan sambil jari telunjuknya menunjuk kearahku


"Iya Ki, mas janji..!" jawabku sambil tersenyum, lalu dia-pun pergi


Aku duduk dikursi sebelah kasur Dara, sambil mengetik nama penyakit yang disebut Dokter tadi dihandphone, berniat mencari tahu detail lewat paman Gugel.


Kubaca dengan seksama apa yang dijelaskan paman Gugel mengenai nama penyakit tadi, disitu menyebutkan beberapa gejala, misal :


Kualitas tidur berkurang


Kondisi ini juga dapat memengaruhi kualitas tidur Anda. Anda mungkin akan terbangun dari tidur dengan kondisi kelelahan meskipun Anda sudah tidur dengan cukup. Hal ini biasanya disebut dengan tidur nonrestoratif.


Sakit kepala


Selain kelelahan dan kaku otot, Anda juga mungkin sering merasakan sakit kepala, mulai dari yang bersifat ringan hingga berat. Terkadang, rasa sakit juga disertai dengan mual dan muntah.


Yaaa, akupun mengingat kembali semua hal yang dialami Dara baru - baru ini, dan gejala yang disebutkan banyak kesamaan dengan kondisinya.


Penyakit ini memang tidak fatal yang menyebabkan sampai kematian, hanya saja membutuhkan perawatan dan terapi rutin yang cukup lama, tapi dirumahnya selalu sepi, siapa yang akan memperhatikannya?


"Dia masih muda, tetapi sudah mengalami hal kayak gini..!" sambil telapak tanganku memegangi kepalaku yang ikut pusing membayangkan rasanya.



JEGLK!!! (suara daun kunci)


"Van??" panggil mamah yang sudah tiba dan juga

__ADS_1


"Irvan! kamu ini gimana sih jagain satu adik aja nggak becus!" Dumel Ibu yang tiba - tiba menyerobot dari belakang mama, dengan segera aku berdiri menghampiri nya..


"I- iya Bu, jangan ngomel disini ayoo kedepan..." kataku sembari mengajak Ibuku kedepan ruangan, ku tinggalkan Dara bersama Mama dan Doni didalam.


"Kamu bilang tadi pagi katanya Dara mau dicek aja, kok malah masuk kesini??" kritik Ibu yang langsung saja mengecap ku jelek kalau ada apa- apa sama anak gadisnya yang didalam itu, aku pun hanya menunduk.


"Ibu ini selalu saja,,, siapa juga yang mau kalau Dara sakit, aku memang sudah mau bawa dia periksa, tapi tadi rencananya mau makan siang dulu dan sekalinya Dara tidur!" Jelasku


"Tidur? kamu kira dia cuma tidur?! Ibu sama Mamah barusan aja nanya sama Dokter yang tadi periksa Dara, dan dia mengalami hal yang lebih serius daripada sekedar tidur!!" Kata Ibu menekan ku


"Iya Bu, tapi yang dikatakan Dokter juga baru dugaan sementara, Dokter belum bisa memastikan..!"Jawabku membela diri sambil menenangkan Ibu, padahal aku sendiri juga lagi khawatir.


Setelah aku lahir, Ibu dan Bapak memang berencana ingin punya anak perempuan, akhirnya mengangkat Dara sebagai anaknya sebelum mereka memiliki anak perempuan kandung sendiri.


Tetapi, setelah Reza dan Yudha lahir mereka belum juga dikasih anak perempuan, hingga


Bapak keburu meninggal keinginan itupun belum tercapai, jadinya sekarang ini Dara itu jadi anak perempuan satu - satunya Ibu.


Dan aku selalu disalahkan kalau terjadi apa - apa dengan Dara, padahal tanpa disuruhpun aku juga akan tetap menjaganya.


Tapi bukan berarti sikap ibu itu karena tidak menyayangi kami anak laki - lakinya, tapi yaa namanya Dara berbeda sendiri dirumah, bahkan diblok perumahan kami Dara adalah anak perempuan satu - satunya...


"Udah Bu, ini semua bukan salah Irvan, dia sudah jaga Dara siang malam kok!" Sambung mamah yang keluar tiba - tiba dari IGD langsung membelaku.


"Jangan dibela terus Mah, tuman nanti!!" kata Ibu, lalu ibu tergesa - gesa bergantian masuk kedalam.


"Sudah Van, jangan diambil hati kata - kata Ibumu.. Mama percaya kamu sudah benar - benar jagain Dara!!" Ucap mama menenangkanku yang dari tadi selalu menunduk karena disalahkan Ibu.


"Iya mah, maafin Irvan yaa mah..." Jawabku memelas merasa bersalah


"Sebenarnya ini juga salah mamah kok Van, Dara itu memang sudah sakit - sakitan dari bayi, dulu dia lahir prematur, cuma sampe sekarang memang nggak ada yang tahu, kecuali keluarga aja, karena kamu juga keluarga, sekarang mama kasih tahu..." Kata Mama sambil tersenyum padaku membuat aku merasa berarti buat keluarga mereka.


"Apa Ibu sudah tahu mah?!" tanyaku


"Tahu kok! kan waktu Mamah melahirkan Dara, kita sudah bertetangga, cuma yaa waktu itu kamu masih umur empat tahunan, jadinya yaa belum ngerti apa - apa.." jelasnya


Suara Mamah yang lemah lembut membuat siapapun merasa nyaman saat didekatnya, hanya saja dia selalu sibuk dengan urusan ditoko, itu salah satu alasan yang membuat Dara jadi kurang perhatian selama ini, ditambah Papah yang belum tentu sebulan sekali pulangnya.


Tetapi mau gimana lagi kalau memang jalannya begitu, tidak bisa disalahkan juga..


ZRRRT!!! ZRRRT!!! (getar handphone ku)


Segera ku merogoh kantong depan celana ku,


"Adhi?" Gumam ku


"Mah, aku terima telpon dulu..!" pamitku sama mama yang dihadapan ku, mamahpun mengangguk


"Hallo Di?" sahutku sambil berjalan keluar dari rumah sakit.


"Van aku lagi ada waktu sekarang, kamu lagi dimana?" kata Adhi dari seberang telpon


"Anuu Di, aku lagi jaga adikku dirumah sakit C, kalau kamu yang kesini bisa kah?!" tanyaku


"Owh bisa - bisa! kebetulan aku lagi dideket situ, entar habis ngantar pelangganku telpon lagi kalau sudah sampe disitu!"


katanya.


"Oke siap aku tunggu, makasih yaa sebelumnya!" Ucapku


"Aah apa sih, Kayak aku siapa aja kamu nih!!" Sahutnya menanggapi santai


Lalu aku kembali kedalam, ku lihat Ibu, mamah dan Doni sedang berdiri membicarakan sesuatu disamping depan pintu IGD.


"Lhoo, Kok pada diluar?" tanyaku


"Kamu sudah makan belum Van?!" tanya Ibu yang sudah tidak marah lagi kepadaku


"Belum.." jawabku sambil menggeleng


"Kita cari makan didepan yuk?! biar Mamah sama Doni yang disini..." Ibu mengajakku


"Mamah sama Doni kenapa nggak ikut juga?!" tanyaku

__ADS_1


"Tadi pas kamu telpon, Mamah sama Doni baru aja selesai makan, gih sana makan dulu nanti kalau kamu sakit siapa lagi yang bisa jaga Wedok Ibumu!" Sahut Mamah


Lalu, akupun bersama Ibu hanya berjalan kaki mendatangi rumah makan Padang yang berada tepat didepan rumah sakit ini.


Setelah selesai memesan, ibu menunggu aku duduk, sepertinya ada suatu hal penting yang ingin dia bicarakan padaku, akupun duduk disampingnya.


"Van, kira - kira kapan kamu KeJawa buat ketemuan sama anaknya om Santoso? kemarin dia nelpon lagi tuh!" tanyanya yang sekalinya ingin membahas masalah pertunanganku


"Nantilah Bu, akukan belum siap, lagian aku masih mau jaga Ibu dan adik - adik disini.." jawabku sambil mengambil sebungkus kerupuk didepanku lalu menyemilnya


"Yaa.. ibu juga sebenarnyaa nggak mau maksa, apalagi kalau sampe kamu nikah cepat - cepat! Ibu maunya kamu jagain Wedok Ibu dulu, kan kamu tahu sendiri pergaulan sekarang disini kayak apa?!" Ucap ibu mengutarakan isi hati yang khawatir sama Dara


"Aku belum ada kepikiran sampe nikah sih Bu, kalau pun nikah aku mau-nya tetap disini, sedangkan om Santoso maunya aku menetap disana! jadinya aku ......" Jawabku


"Iya Ibu paham kalau kamu sayang sama kami disini, tetapi kepergian Bapakmu juga meninggalkan hutang yang cukup banyak diBank, kalau nggak cepat - cepat dapat bantuan, bisa - bisa usaha Bapak yang diwariskan kekita juga terancam!


dan juga Bapakmu sudah terlanjur membuat janji sama temannya itu, buat ngejodohin kamu sama salah satu anak gadisnya.." Kata ibu mengingat kan semua alasan itu


hmm..Huuuuft... (aku menghela nafas)


"Iya Bu, nanti aku pikirkan lagi, untuk sekarang ini Ibu berdo'a aja mudah - mudahan dalam beberapa waktu kedepan usaha bapak masih bisa terkendali.." ucapku yang merasa berat meninggalkan kota ini.


Setelah makan, kami kembali mendatangi Mamah dan Doni diruangan Dara.


"Kok cepet banget makannya?


emm..Van maaf, mamah titip Dara dulu yaa, mamah lagi ditunggu pelanggan yang tadi malam, nggak tahu ini tiba - tiba katanya ada yang mau diubah!!" kata mamah sembari berdiri dari kursi


"Iya mah, nanti kalau sudah pindah kekamar aku kabarin, kalau Ibu gimana?" kataku yang langsung menoleh ke Ibu


"Ibu disini aja deh jagain Dara, setidaknya sampe dia bangun baru ibu bisa tenang, nanti pulangnya Ibu minta jemput sama Reza aja.." Jawabnya


"Yaudah kalau gitu, saya titip Dara, saya duluan ya mbak?!" pamit mama sambil cepika cepiki sama ibu, dan mereka berdua tidak ada lagi rasa sungkan karena umur mereka memang hampir sama.


"Oiya mah, aku bisa titip sesuatu?"


tanyaku


"Bisa aja kalau sekalian lewat..." responnya


"Kalau gitu aku sekalian keparkiran ambil barangnya dulu dimobil.." kataku


"Yaudah yuuk..."


Aku, Doni dan mama sama - sama keparkiran, aku cuma mau titip berkas kerjaanku tadi pagi yang tinggal diserahkan kesekertaris, dan kantornya satu arah sama jalur yang mamah akan lewati.


Tidak sampai setengah jam setelah itu Adhi menelpon kalau dia sudah dirumah sakit, dan aku menunggunya didepan ruang IGD.


"Woooy Brooo!!!" Sapanya sembari mengangkat tangan kanan, spontan akupun membalas lambaiannya


"Adekmu yang mana yang sakit? Reza apa Yudha?!" tanyanya sambil berusaha mengintip kedalam, lalu aku menghalanginya


"Bukan dua - duanya, ini adikku yang perempuan... udah nggak usah lihat - lihat!!" kataku karena dia agak selenge'an jadinya nggak aku kasih masuk.


"Haaah, ade cewek? kok aku nggak tahu kalau kamu punya adik cewek?!!" tanyanya antusias


"Sifatmu mesum, jadinya dia aku sembunyikan!!" Jawabku sambil becanda,


"Kurang asem! eh iya niih yang kamu butuhin.." dia menyerahkan sebuah amplop coklat


kami berteman sejak SMK tapi beda sekolah, bertemu saat sama - sama daftar untuk mengikuti pemilihan tim sepak bola antar provinsi, dan semenjak itu aku dan tigabelas teman lainnya menjadi sahabat dekat. Kami semua tidak sama dari segi asal suku, pendidikan, latarbelakang dan ekonomi, tetapi kami selalu punya keahlian masing - masing yang biasa kami lakukan untuk saling membantu sama lainnya.


Dibanding kan dengan teman sekolah satu kelas, aku lebih dekat dan lebih percaya sama mereka.


"Eeh - eeh.. siapa ini namanya? lama nggak lihat sampe lupa namanya!" Tegur ibu yang muncul dari balik pintu


"Saya Adhi, Tante apa kabar?" jawab Adhi sambil menyalami tangan Ibu


"Oiya... Adhi... tante baik, kamu gimana? sekarang tinggal dimana? kerja dimana? sudah nikah belum? anaknya berapa?" tanya ibu beruntun sampe Adhi garuk - garuk kepala.


"Jawab tuuh!!" kataku sambil nyengir


"Jawab yang mana dulu yaa?!!" Guraunya, Ibu pun tertawa ngeliat tingkah nya.

__ADS_1


"Kalau jawabnya masih bingung, Tante tinggal dulu dah mau ketoilet, Van tolong liatin Dara yaa?!" kata ibu sambil berjalan


__ADS_2