Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
Biang Masalah


__ADS_3


Tidak disangka pembicaraan kami dari tadi ternyata sudah didengar oleh Dinda dari balik pintu, dengan penuh emosi diapun langsung memaki - maki Amira karena merasa sudah dibohongi selama ini dengan chatingan palsu Arga, dan tidak ketinggalan dia juga langsung mengancaman akan menyebarkan foto - foto Amira yang sedang bermesraan dengan adik kelas sambil memamerkan handphone ditangannya sebagai alat bukti.


Melihat kelakuan Dinda seperti itu tentunya menambah panas hati Dara yang sedang emosi, ditambah karena handphone yang dipegang Dinda itulah sebagai sumber permasalahan, dengan langkah cepat dia merebutnya dari Dinda.


"Jadi gara - gara ini, kamu bisa seenaknya ngancaman Amira sampai bikin aku jadi salah paham sama dia?" tanya Dara sambil mengayun - ayunkan handphone tersebut,


*PRAAK!!!


Tanpa pikir panjang Dara langsung membanting hingga pecah dan


tidak sampai disitu, diapun mengeluarkan memori card lalu mematahkannya didinding.


CTAK!


"Uups!! maaf yaa Dinda, entar ku ganti handphonemu!" Ucap Dara sinis


Sontak mata Dinda terbelalak melihat apa yang Dara lakukan didepannya, kemudian dengan wajah garang langsung menerjang sampai hingga mereka terjatuh.


Kiki dan Amirapun tidak tinggal diam, Kiki langsung menarik Dinda yang sedang menindih tubuh Dara lalu dengan kuat tangan kanannya menampar Dinda hingga membekas dipipinya.


"Aku peringatin kamu ya Din! sekali lagi bikin masalah sama temen - temenku, mukamu bukan cuma aku tampar, kalau kamu mau deketin Arga harusnya kamu NGACA DULU!!" Ucap Kiki memperingatkan, lalu Dinda langsung pergi dengan ekspresi mendendam.


(Dara)


"Kamu nggak apa - apa Ra?" tanya Amira membantu aku berdiri sambil menepuk - nepuk pakaianku.


"Aku nggak apa - apa (tersenyum puas),


Amira, terus Arga ada dimana sekarang?" tanyaku antusias sambil kembali duduk.


Tiba - tiba wajah Amira berubah sedih,


"Masalah Arga aku kan sudah bilang dari Awal, kalau aku beneran nggak tau dia dibawa kemana sama papanya? tante Maria juga sampai sekarangpun belum bisa dihubungi, tapi bilang papaku kemungkinan Arga dibawa ke Amerika karena terakhir dengar kabar kalau papanya sedang mengembangkan perusahaan disana!" Jelasnya


"Jadi keadaan Arga seperti apa sekarang, kamu beneran nggak tau?!" tanyaku lagi


"Iya Ra, aku nggak tau, makanya setelah dia dibawa aku juga nggak masuk sekolah, aku terus kepikiran, ditambah aku juga nggak sanggup ketemu kamu! Jujur Ra, aku sebenarnya nggak sanggup kalau sampai dia kenapa - napa, karena aku sadar kalau akulah penyebab dari masalah kalian ini! Hiks.." jelasnya sampai menangis


Kemudian isi dikepalaku terasa melayang - layang saat mendengar penjelasan Amira barusan, rasa sedih dan emosi bercampur aduk hingga membuat aku hampir gila!


"HAHAHA!!.. Dari tadi aku ngedengin ceritamu, awalnya aku merasa ada harapan, sampai sempat semangat hidupku terasa sudah kembali lagi setelah mendengar pengakuanmu kalau kalian ternyata adalah saudara! saking semangatnya, aku bahkan merasa alam ini berpihak padaku!!


Hehehe, sekalinya, sekarang aku malah merasa separuh jiwaku benar - benar hilang dari tubuh! Hal yang sangat aku butuhkan sekarang ini hanyalah kabar keadaan Arga, tapi nyatanya? Hahahaaa!!" Kataku sambil tertawa stres karena airmataku tak berhenti mengalir.


"DARA!! Hiks.. Hiks... maafin aku, maafin aku Ra! (sambil memeluk)


kamu jangan begini, selama ini batinku juga tersiksa karena perasaan bersalahku, ditambah setiap melihat kamu yang semakin hari semakin gak bisa jaga badan sampai kurus begini, hatiku sebenarnya sakit Ra! makanya aku sering menghindari kamu tapi sebenarnya aku selalu memperhatikan kamu dari jauh, hiks! Aku sudah lama menunggu waktu ini agar aku cepat - cepat bisa mengutarakan semuanya!


Aku janji, aku sudah minta papahku agar mencari kemanapun keberadaan Arga, apapun keadaannya aku pasti cepat ngabarin kamu!" ucapnya


Didalam ruang osis ini kami bertiga saling berpelukan, membaur rasa bersalah, sedih dan malu atas kesalah pahaman yang terjadi selama berbulan - bulan.


Setelah kami menenangkan diri, Amira dan Kiki menawarkan diri ingin mengantarku pulang kerumah, namun sebelum itu Amira memberikan aku sesuatu yang dia keluarkan dari dalam tasnya.


"Dara, waktu sebelum Arga dibawa kan aku Sempet jenguk sebentar saat dia siuman, terus Arga ada titip ini buat kamu! waktu itu Arga bilang tolong ngasihnya kalau kamu sudah nggak marah lagi sama dia! dan aku pikir setelah kamu tau kebenarannya pasti kamu nggak bakalan marah lagi sama dia, iya kan? makanya hari ini aku bawa!" katanya sambil menyerahkan sesuatu milik Arga yang sangat tidak asing dimataku.


"Apa, Arga sempet siuman?" tanyaku


"Iya dia bicara dengan mata masih tertutup dan suaranya pun sangat pelan, setelah itu dia diam lalu aku dan kakak sepupuku cepat - cepat keluar dari kamarnya karena takut ketahuan papanya Arga!" jelasnya


Saat tanganku mulai menggapainya, entah mengapa jari - jemariku bergetar, lidahku yang ingin mengatakan sesuatu lagi malah terasa kaku, dan lagi - lagi aku tidak bisa membendung airmata yang biasanya kutahan.


'Arga, dimanapun kamu, aku mohon cepat kembali!' sambil memeluk almamater Arga yang waktu itu.


Dalam perjalanan pulang tidak tau mengapa semakin mendekat kerumah semakin tidak enak perasaanku,


"Dara kita cari makan dulu yuk?" Ajak Amira sambil menyetir

__ADS_1


"Aah makan? aku masih kenyang, kalian aja kalau mau, lagian dirumahku juga pasti ada makanan!" jawabku sambil terus meluk almamater Arga yang wangi parfumnya masih saja melekat, kemudian Amira dan Kiki saling menatap.


Setibanya dirumah, mereka berdua menemaniku sampai mamah pulang.


"Kiki, Amira sudah pada makan belum? kalau belum ambil sendiri didapur!" ucap mama menawarkan saat baru pulang


"Udah tante, baru aja selesai, tapi Dara nggak mau makan!" kata Kiki mengadu


"Ya begitulah, dirumah ini yang makan cuma tante sama Doni aja kalau Dara paling makan beberapa suap sudah selesai!" kata mama sembari duduk disampingku ikut nimbrung.


Sekitar satu jam mengobrol :


"Kih, dari tadi sibuk banget sama hape, lagi chating sama pacar ya?!" tegur Amira


"Bukan ini sama mas, eh! mamaku, iya ini mamaku dia ada pesen sesuatu!" jawab Kiki gugup sambil melirikku


"Kalau gitu pulang yuk?"


"Ayook!" Kikipun segera berdiri


"Kok buru - buru banget sih, kalian kan jarang kesini!" kata mama


"Iya tante lain kali kami mampir lagi, sekarang sudah mau senja!" ucap Amira sembari menyalami mama kemudian disusul Kiki, kemudian aku mengantar mereka sampai halaman.


"Dara sekali lagi aku minta maaf ya? dan juga aku terima kasih banget atas keberaniamu tadi, aku nggak nyangka loh kamu bisa marah kayak gitu! nanti hapenya Dinda biar aku yang ganti!" ucap Amira sambil memelukku.


"Iya sama - sama, aku juga tunggu kabar Arga dari kamu!" kataku, kemudian dia mengangguk sambil tersenyum sebelum masuk kedalam mobilnya.


Selepas mereka pergi aku melihat mobil dan motornya mas Irvan terpakir dihalaman.


"Mas Irvan lagi nggak Kerja ya? perasan dari tadi siang semua posisi kendaraanya nggak ada berubah!" gumamku sambil mendatangi rumah itu.


Perasaanku sekarang sudah sedikit lega setelah mendengar penjelasan Amira, dan sekarang aku mau cerita sama mas Irvan sekaligus minta maaf sama dia atas kata - kata kasarku waktu itu. Aku memang minta mas Irvan untuk jangan lagi mengurusin urusanku, tapi bukan berarti ingin putus tali silaturahmi dengannya.


"Ibu? Mas?" panggilku saat masuk kedalam rumah yang pintunya tidak dikunci dan langsung menuju kamar mas Irvan dilantai dua.


"Mas Irvan?" panggilku sambil mengetuk pelan.


"Dara, tumbem ndok cari Irvan?" tegur Ibu yang langsung keluar dari kamarmya


"Ah iya, mas Irvannya kemana kok nggak ada menyahut?" tanyaku


"Irvan lagi ngurus kerjaan DiJakarta, baru tadi pagi berangkatnya. Nanti ibu kasih tau kalau kamu nyariin dia!" ucap ibu tersenyum


"Eh jangan buk, jangan kasih tau mas Irvan kalau Dara cari dia, Dara cuma mau ada yang diomongin sedikit aja kok, tapi nanti aja kalau dia sudah pulan ! Yaudah Dara pulang dulu ya Buk!" pamitku sambil mulai melangkah


"Dara? (aku menoleh)


kamu jangan terus - terusan sedihan ya ndok, nggak kasihan kah sama mamah, sama ibu, semua yang sayang sama kamu, dan ...."


"Iya buk, Dara selalu berusaha semangat kok!


Buk, waktu itu Dara minta supaya mas Irvan jaga jarak bukan karena Dara marah atau bosen, tapi justru karena Dara nggak mau jadi penghambat rutinitas dan kebebasan mas Irvan hanya untuk menjaga sebuah lilin yang redup karena dia sendiri sudah seperti matahari buat semuanya!" Kataku yang mulai berkaca - kaca


"Tapi nak, Irvan itu selalu cemas kalau jauh sama kamu, dia selalu kangen pengen ketemu kamu, ibu sering mergokin dia sedang merhatiin jendela kamarmu!" cerita ibu bikin aku terharu


"Sebenarnya Dara juga kangen sama mas Irvan, karena setiap kali ada dia Dara sebenarnya merasa berarti, apalagi sama tingkah konyolnya yang selalu bikin Dara kesel sekaligus ketawa, merasa hidup Dara memiliki warna!


Dan sebenarnya belakangan ini Dara sudah mencoba untuk bangkit sendiri, tapi setiap kali mengingat bayangan Arga yang penuh luka karena Dara, kadang Dara berpikir kenapa nggak Dara aja yang ketabrak setidaknya luka yang Dara terima tidak sesakit seperti sekarang ini, yang walaupun tidak kelihatan diluar tapi dihati ini susah sembuh!" lanjutku sambil menunduk lalu ibu memeluku


"Kasih tau ndok, kasih tau ibu gimana caranya supaya kamu bisa kembali semangat lagi?" katanya


"Kalau memang ada hal yang bisa membuat Dara cepat lupa dengan semua kejadian itu, pastinya sudah Dara lakukan sejak awal, mungkin memang cuma butuh waktu buat mengikisnya, yang penting ibu dan yang lainnya bahagia pasti Dara juga ikut bahagia! Dara pulang dulu ya.." Jawabku sembari pamit.


sesampainya dikamar, aku berbaring disamping almamater Arga yang tadi kuletakan diatas kasur, kuraba dan ku bayangkan saat - saat dia memakai ini,


'Aku harus gimana ya.supaya cepat dapat kabar mengenai kamu?' pikirku


Senin Pagi :

__ADS_1


"Sayang, ini sudah seminggu loh dari kelulusanmu, apa kamu sudah dapet kampus yang dimau?" tanya mama saat kami sarapan


"Belum ada mah, aku nggak ada pikiran mau kemana - mana lagi, yang pasti aku bakal nggak bisa masuk kedokteran, Kiki sudah pindah kejawa kuliah dan tinggal disana sama neneknya, kayaknya aku mau ikut Amira aja kuliah di F"


"Apa?! kamu nggak salah nak? kamu nggak coba liat dulu di tempat lain?" tanya mama kaget


"Yaa aku nggak punya pilihan, disitu kan termasuk kampus terbaik dikota ini, lagian aku mau tetap deket sama Amira supaya bisa tau kabar Arga kedepannya! tolong ya mah temani aku daftar" pintaku


"Hmm.. nanti mama diskusikan dulu sama papa!" jawabnya seperti mengulur waktu


"Tapi mah kalau bisa sekarang aja, nanti keburu tutup pendaftarannya, soalnyakan disitu dibatasin jumlah siswanya!" jelasku


Beberapa detik mama menatapku seperti ragu, namun akhirnya diapun mengangguk,


"Aaah, Yaudah, abis sarapan kita langsung siap - siap!" akupun segera menghabiskan sarapanku.


Setibanya dikampus Amira-pun segera menghampiri kami yang baru turun dari mobil


"Akhirnya, nggak sia - sia aku merayu kamu! yuk aku temani mendaftar" ucapnya dengan penuh semangat


"Kalau gitu Dara ambil formulir aja duluan, mama mau ke mesin Atm dulu didepan!" kata mama


Dimeja pendaftaran:


"Hay! kamu ini Dara kan?!" tanya antusias seseorang yang belum pernah aku lihat


"I..iya! siapa ya?" jawabku heran


"Loh kak Betrand kenal sama Dara?" tanya Amira


"Mungkin Dara emang nggak kenal, tapi aku sangat mengenalnya karena sudah beberapa kali ngeliat dia sama papanya!"


"Papa?" tanyaku


"Iya, aku ini anak tem..."


"Kak Betrand ini anaknya yang punya hotel K!" sahut Amira


"Ssssssst! jangan ngumbar begitu Mira!" tegur Betrand terlihat tidak suka dengan ucapan Amira, lalu Amirapun langsung terdiam


"Aku anaknya pak Adrian temannya papamu, pertama kali aku liat kamu pas kamu lagi liburan sekeluarga dibalikpapan, terus beberapa kali kamu ikut papamu dalam pertemuan kerja, iya kan?!" tanyanya dengan senyuman ramah tak terlihat sombong


"Iya.." balasku tersenyum


"Nggak nyangka banget kamu bakal jadi adek tingkatku! ini tulis biodamu disini, dan ini persyaratan yang harus dikumpulkan!" ucapnya sembari memberi formulir


"Ayoo kita datangi mamamu Dara!" kata Amira sambil melirik sinis ke kak Betrand yang telah menegurnya tadi


"Amira, keliatannya kamu suka sama kak Betrand ya?" tanyaku menggoda


"Kok kamu bisa mikir gitu, emangnya keliatan banget yaa?" tanya Amira sambil memegang pipinya


"Abisnya kamu tadi semangat banget pas ceritain dia!" jawabku


"Masa aku begitu Sih? soalnya yaa rata - rata cewek dikampus ini siapa yang nggak suka sama dia! udah ganteng, tajir, pintar!" katanya membanggakan


"Whaaah cowok idaman dong! kirain cowok kayak gitu cuma ada difilm drama aja, tapi aku kok nggak tertarik sama dia!" kataku


"Lhooh memangnya Arga nggak termasuk cowok idaman?!" tanyanya mengingatkan, lalu aku melamun


"Eh maaf Dara, aku bukan bermaksud...."


"Nggak apa - apa, kamu bener kok, buat aku Arga itu cowok idaman banget, walaupun sikap dinginnya sering bikin aku takut tapi sebenarnya dia sangat baik!" jawabku tersenyum sambil mengelap ujung mataku yang berair


"Aku juga kangen banget sama dia, karena cuma dia sepupuku yang paling pengertian!" katanya sambil bersandar kepadaku


"Oiya! setelah nyerahin formulir, entar kamu aku traktir makan es paling enak dikampus ini! yuuk cepat datangin mamamu!" ucapnya mengalihkan topik pembicaraan sambil menarik tanganku


*maaf mengandung kekerasan fisik

__ADS_1


__ADS_2