Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
.80. Nekat


__ADS_3


"BEIB!!" panggil Arga berharap dapat menahan langkah kaki Dara yang berlari menjauhinya.


Rasa gugup dan takut berkecimbuk dihati Arga, ini adalah kedua kalinya Dara salah paham sampai menimbulkan perselisihan diantara mereka. Arga sama sekali tidak menyangka kalau ucapannya tadi ternyata sangat melukai perasaan Dara, karena niat Arga berkata seperti itu bukan bermaksud menyinggung kelemahannya, melainkan hanya ingin mendengar kepastian cintanya.


Sambil berusaha mengejar dengan kaki lemah dan tongkat dilengannya, Argapun mencoba menghubungi anak buahnya yang belum juga tiba ditaman.


"Mark, Paula, dan yang lainnya kemana kalian semua, kenapa lama sekali sih kesininya?!" gumam Arga panik sampai tangannya gemetaran saat memegang handphone. Dia takut hal seperti dulu akan terulang lagi karena kecerobohannya, terlebih Dara belum tau sama sekali daerah taman ini yang berbatasan dengan hutan pinus disamping danau yang sedang dia tuju sekarang ini.


TAP TAP TAP!!


"TUAN ARGA TUNGGU?!" Panggil Edward yang sedang berlari tergesa gesa menghampiri Arga yang diikuti Paula dibelakangnya, namun mereka berjarak agak jauh karena lari Paula kalah cepat dari Edward.


HAH..HAH..HAH..


"Tuan Arga?" hah..hah.. belum sempat bertanya apapun, Arga langsung memerintah Edward yang agak terengah engah setelah berlari


"Cepat kejar, kejar Dara! dia barusan berlari kearah dipinggir danau ke arah hutan!" pinta Arga dengan wajah cemas yang sontak membuat Edward kaget dan langsung berlari kembali


"Tu, tuan muda, ada apa tadi menelpon?" Hah..hah... tanya Paula yang juga terengah engah baru tiba


"Paula! kamu juga cepat bantu Edward mengejar Dara, jangan sampai dia masuk kehutan!"


"Ta,tapi tuan muda?!" melihat kondisi Arga gugup dan kelelahan


"Tapi apanya? cepat Paula kalau dia sampai kenapa napa kalian semua kuganti (pecat)!" ucap kasar Arga karena emosi melihat Paula terlalu lama berpikir. Karena takut kehilangan sumber penghasilan, Paula pun langsung bergegas menuruti tuannya untuk menyusul Edward.


Paula dan Mark adalah orang kepercayaan pilihan Arga sendiri, mereka semua menuruti perintah Arga karena memang Arga sendiri yang telah menggaji mereka menggunakan jatah pribadi dari persenan perusahaan papahnya.


Begitu juga dengan Edward dan Sovia yang Arga rekomen beberapa waktu lalu, melalui ajudan kakeknya Dara dia meminta supaya dia sendiri yang memilihkan perawat dan bodyguard untuk Dara dengan alasan dia lebih mengenal orang yang dapat dipercaya dikota ini. Namun kakek Sultan sempat menolak mentah mentah, dia tidak setuju kalau Edward dan Sovia sampai Arga juga yang akan menggaji mereka, padahal tujuan Arga hanya ingin mereka berdua juga jatuh dalam kendalinya.


Selang waktu beberapa menit kemudian, Edward dan Paula saling melirik takut saat melihat Arga yang tertatih tatih menyusuli mereka dipagar pinggir hutan.


Dengan tatapan curiga saat melihat keduanya sedang saling memandang kebingungan dan memberi isyarat kedatangannya, Arga langsung celingukan melihat kearah sekitar.


"Mana, dimana Dara?" Pertanyaan Arga membuat Edward dan Paula langsung gugup seketika.


"Tu,tuan Arga tolong tenang dulu sebentar, pasti nona Dara masih disekitar sini dan saya juga sudah meminta bantuan teman teman saya yang lain, pasti sebentar lagi mereka akan segera tiba disini!" Jawab Edward berusaha menenangkan.


"Tenang? Kamu kira saya bisa tenang? Dara itu baru pertama kalinya kesini dan seperti apa keadaan dia sekarang kamupun sudah mengetahuinya, kalau sampai terjadi apa apa sama dia gimana mempertanggung jawabkannya?!" Ucapan Arga barusan membuat Edward langsung membayangkan bosnya yang diKalimantan yang tidak lain adalah kakek dari gadis yang kini sedang hilang.


Mengingat kebiasaan Dara yang sering menyendiri disaat merasa sedih, Argapun berpikir kalau kemungkinan besar gadis itu sudah menerobos pagar hutan yang tingginya memang hanya selutut orang dewasa saja.


"Edward kamu temani saya masuk kehutan, sedangkan kamu Paula tetap berjaga disini menunggu kabar dari kami sekaligus berjaga jaga siapa tau Dara akan lewat lagi disekitar sini!"


"Baik tuan muda!" sahut Paula menurut, kemudian Arga dan Edwardpun masuk kedalam hutan pinus yang batangnya sangat tinggi menjuntai.


Sekitar sepuluh menit mencari, Arga yang semakin tidak tenangpun meminta Edward berpencar kearah yang berbeda darinya.


"Tapi tuan muda kalau anda sendirian takutnya...." ragu ragu


"Jangan pedulikan saya, yang terpenting Dara harus segera ditemukan sebelum hari semakin gelap, dan kalau Mark dan teman temanmu yang lainnya sudah tiba suruh mereka langsung berpencar saja!" perintah Arga tanpa memperdulikan kelelahan kakinya.

__ADS_1


Saat jarak antara Edward dan Arga semakin menjauh, langkah kaki Arga yang dibantu satu tongkat langsung terhenti dibawah pohon yang sangat besar, perasaan was was mulai muncul ketika Arga dihadapkan dengan pohon pohon yang semakin besar dan rindang yang tentunya membuat hutan semakin gelap kedalamnya. Rasa cemasnya kini sudah beralih menjadi rasa takut, namun rasa takutnya itu bukan untuk dirinya, melainkan takut dengan segala kemungkinan yang ada didalam sana yang bisa membahayakan gadis lugunya tersebut.


"Dara, kamu dimana beib?" gumam Arga yang satu tangannya memegangi pohon besar disampingnya tersebut


SRRRKK!!


"Apa itu?!" tanya kaget Arga saat tiba tiba mendengar suara seretan daun kering didekatnya.


Dengan sangat perlahan dia mencari sumber suara dari balik pohon berbatang sangat besar disampingnya itu, rasa takut yang berkecambuk dipikiran parnonya namun masih kalah dengan rasa penasaran didalam hati. Semakin dekat dengan balik pohon yang ia kitari, semakin jelas pula terlihat apa yang sudah menjadi sumber suara tersebut yang membuatnya semakin gugup.


"HAH!"


Semua rasa yang dia rasakan barusan langsung berkumpul dikaki pincangnya menjadi tenaga untuk ia berlari.


(Dalam waktu yang bersamaan, di Bandung - Indonesia)


'Duh kenapa lagi aku ini? udah jam sebelas malam begini perasaanku kok tiba tiba gak tenang banget? kayak ada yang sesuatu yang mengkhawatirkan telah terjadi. Aaah ibu?!' gumam Irvan yang sedang mundar mandir didalam kamarnya, kemudian dengan segera ia meraih handphone diatas meja lalu menelpon ibunya yang berada diSamarinda.


TUUuuut..klik!


"Hallo Bu, ibu baik baik aja?" tanya Irvan to the point cemas


"Iya Van ibu baik baik aja, kamu kenapa?" tanya ibu tidak kalah cemas dan curiga saat menerima telpon dari anaknya ditengah malam karena tadi sore mereka berdua sudah saling bertukar kabar (saat ini diSamarinda sudah pukul 00.00WITA)


"Owh syukur deh kalau ibu gak kenapa napa. Aku juga nggak kenapa napa sih bu, cuma tiba tiba aja aku gelisah sampe gak bisa tidur!" jawab Irvan dengan nada bingung


"Kamu memangnya lagi mikirin siapa? siapa tau orang itu juga lagi mikirin kamu jadinya kalian saling kontak batin deh, soalnya biasanya sih begitu!" kata ibu


"Mikirin siapa? nggak ada!"


"Mana ada, cewek yang aku suka bukan orang sini bu!" sahut Irvan keceplosan membuat dia langsung menutupi mulutnya


"Jadi orang mana, orang Jakarta? atau jangan jangan orang Samarinda juga ya? dan karena kalian lagi jauh jadinya kepikiran terus?" tanya ibu semakin kepo membuat Irvan jadi salah tingkah


"Aaa.. sudah malam buk, besok pagi takut kesiangan, jadi besok lagi aja ya ceritanya, Dagh Ibu.." TUT!! buru buru menutup telponnya


"Owh anak ini kurang asem, udah ganggu orang tengah malem malah langsung kabur! hmm... kamu bersikap kayak gitu malah bikin ibu jadi tambah penasaran, siapa sih cewek yang pernah dia ceritain dulu itu? kayak apa sih orangnya yang udah bisa bikin kamu cuma suka sama dia?" tanya ibu sambil mikir mikir sendiri


(Dikamar Irvan)


"Aduuh ini mulut hampir aja!!" kata Irvan sambil nepuk nepuk bibirnya, kemudian dia duduk tepi kasur sambil mengingat ucapan ibunya barusan.


'Aaah... orang yang lagi sama sama mikirin ya? tapi siapa orang yang lagi mikirin aku? lagian aku juga lagi gak ada mikirin siapa siapa karna dari tadi cuma kepikiran sama Dara aja, bahkan setiap waktupun aku hanya kepikiran sama dia! tapi dianya kan gak mungkin lagi mikirin aku, boro boro bisa kontak bantin bahkan ingatpun nggak sama sekali sama aku!' gumam Irvan sambil menatap layar ponsel ditangannya yang berWallpaper foto Dara bersamanya


Sepintas teringat kembali kejadian kemarin saat dia bertukar kabar dengan bu Aina yang baru saja pindah kerumah barunya. Dia sempat saling menyapa dengan Dara yang membuat hatinya langsung bergetar bahagia saat mendengar suara gadis yang disukainya itu, namun dalam sekejap perasaan bahagianya langsung tumbang ketika Dara terdengar canggung dan memanggilnya dengan sebutan 'KAKAK'.


Asing dan sangat aneh terdengar ditelinga Irvan yang membuat dirinya jadi merasa tidak ada berarti lagi dimata Dara, kenangan mereka selama ini bagai tak bermakna sama sekali dalam hidupnya.


'Dara, apa sedikitpun kamu tidak ada ingatan tentang aku? setitikpun tidak tersisa kenangan kebersamaan kita dipikiranmu? mendengar suaramu yang sedang jauh disana bagai taman bunga bermekaran dihatiku, tapi bunga bunga itu layu dalam sekejap sebelum aku sempat menyentuhnya.


Rasa rinduku begitu mendalam sampai dengan semangatnya aku ingin sekali menelponmu walaupun aku tau itu akan menyakitkan karena kau tidak mengingatku, namun aku tetap nekat, dengan bekal menguatkan hati aku hanya berani menelpon tanpa vidiocall dan akhirnya aku tetap tidak kuat, aku ingin sekali berteriak padamu untuk memohon


"DEK TOLONG, SEDIKIT SAJA INGAT SAMA MAS!!"

__ADS_1


(JERMAN)


Arga yang sedang cemas mencari Dara yang dari tadi belum ditemukan, kini rasa cemasnya langsung menghilang berubah kaget saat dia melihat sesuatu dibalik batang pohon besar itu. Rasa kaget yang mendadak itu menjadikan dirinya lupa kalau kakinya masih butuh penopang, tanpa sadar dia menjatuhkan tongkat dari lengannya yang membuat dia langsung terjatuh lemas dibawah pohon tersebut.


SREET...BUG!! "AAGH!!" teriak Arga kesakitan.


"BEIB!!" panggil Dara panik.


Dara yang daritadi berusaha bersembunyi dibalik pohon besar itupun bergegas keluar dan menghampiri Arga yang sudah tergeletak diatas dedaunan kering, sambil berlutut dia buru buru membantu Arga duduk.


"Hehehe... akhirnya kamu mau keluar juga ya beib! aagh..!" kata Arga sambil nyengir bercampur merintih


Melihat pipi Dara lembab dan bulumatanya basah, seketika hati Arga langsung lirih karena teringat kembali kejadian satu setengah tahun yang lalu dimana waktu terakhir mereka bertemu saat itu Arga sudah membuatnya menangis persis seperti sekarang ini.


"Maafin aku beib, aku sadar udah bikin kamu selalu sedih selama ini, mungkin seharusnya aku memang gak usah muncul lagi dikehidupanmu yang sekarang sudah mulai tenang, mungkin seharusnya aku membiarkan kamu menemukan cinta lain diluar sana yang bisa lebih menjaga kamu, aku menyesal beib karna hari ini lagi lagi aku udah bikin kamu nangis gara gara kecerobohanku, aku gak bermaksud melukaimu, aku cuma takut kalau sampai berpisah lagi sama kamu!" ucapannya


Mendengar pengakuan Arga barusan, airmata Dara malah jadi semakin deras mengalir dipipinya yang membuat hati Arga jadi tambah tidak sanggup jauh dari pacarnya itu.


"Beib, walaupun kamu lagi tidak mengingat saat saat kita dulu, tapi apakah kamu masih bisa merasakan rasa sayangku terhadapmu?" tanya Arga dengan tatapan harap, sambil menunduk Darapun mengangguk


"Kalau gitu jangan nangis lagi ya sayang, coba lihat aku..." pinta Arga sembari tangannya membelai rambut depan Dara yang berantakan lalu mengusap pipinya yang basah.


"Aku cuma berpikir, apa yang kamu suka dari cewek sebodoh dan penyakitan kayak aku ini? sedangkan diluar sana pasti banyak cewek yang suka sama kamu yang lebih cantik dan sempurna dibandingkan aku!" tanya Dara dengan tatapan polosnya, Arga tersenyum lalu dengan gemas mencubit pipi Dara yang terlihat imut dihadapannya


"Justru yang aku suka itu yang kayak kamu ini! aku menyukai semua yang ada didirimu apapun itu, mau itu kebodohan ataupun segala macam kekuranganmu, aku hanya butuh ketulusan yang nggak pernah aku temui dari cewek manapun selain kamu, jadi kamu jangan pernah minder lagi dari aku!" jawab Arga meyakinkan


Desiran angin sore ditengah hutan itu menambah manis senyuman Dara yang rambut tipisnya melambai lambai kearah samping, begitu juga dengan Arga yang bolamata indahnya tersorot matahari jingga yang menambah sinar diwajah tampannya. Tatapan cinta dari keduanya membuat suasana hutan yang tadinya hanya terdengar suara gesekan dedaunan kini terdengar juga degubpan detak jantung yang berdebar debar didada mereka. Pandangan Arga yang tidak sedikitpun berpaling kelain arah kini semakin mendekat dihadapan wajah Dara yang pipinya semakin merah merona.


GLUG! tegukkan liur dari masing masing tenggorokan mereka menandakan kegugupan yang tak terhindarkan dari keduanya.


Dengan hati hati Arga mengecup tipis permukaan bibir Dara lalu dengan sangat perlahan mulai mengemut lembut bibir manis pacarnya itu, detak jantung Dara yang membuat tubuhnya semakin gugup tidak mampu lagi mengaktifkan fungsi otaknya untuk melakukan hal lain kecuali hanya memejamkan kedua matanya dengan pasrah.


Mungkin Dara memang tidak ingat, tapi Arga sangat tau kalau ciuman mereka saat ini adalah ciuman pertama masing masing dari mereka yang setelah sekian tahun berpacaran walaupun sempat terpisah.


.


.


.


Cuplikan:


Irvan : Lepasin aku Dra!


Indra : Kamu mau ngapain Van bawa bawa tali panjang begini?!!


Irvan : Aku mau bunuh diri aja, aku sudah gak dibutuhkan, aku sudah gak diingat!


Indra : Kamu jangan gegabah Van, masih banyak cewek lain yang mau sama kamu!


Rin kamu diem aja, bantu aku pegangin Irvan!


Rina : Udah lah Dra, biarin aja Irvan mau ngapain. Mendingan kamu temenin aku makan bakso yuk? aku lapar nih!

__ADS_1


Indra : Bakso?! oke oke aku mau, yuuk!


Akhirnya Indra pun meninggalkan Irvan sendirian bersama tali panjangnya disamping pohon toge.


__ADS_2