
Dan yang pastinya, untuk kedepannya aku harus siapkan mental melihat dia berjalan, bergandengan, perhatian, berboncengan, dan semua hal lainnya yang biasa dia lakukan bersamaku akan dia lakukan bersama Amira atau mungkin cewek lainnya,
'Uuugh! baru membayangkannya saja sudah sangat menyakitkan!' gumam Dara dalam hati
Zrrrrrt Zrrrrrrt Zrrrrrt!!!
Layar handphone yang muncul nama dan foto Kikipun memecahkan lamunanku.
"Hallo Kih?" sambutku
"Dara beneran nih kamu nggak apa - apa? Sebenarnya dari tadi aku mau telpon kamu, cuma tadi pagi buru buru temanin mama kepasar, terus pulangnya langsung bantuin masak!" tanya kiki bernada cemas
"Iya Ki, aku gak apa apa kok, tenang aja! oiya mamahmu masak apa Kih?!" tanyaku mengalihkan topik
"Masak Gulai kambing, soalnya mau ada pakle ku (paman) datang dari jawa!!" jawabnya
"Wiiih enak tuuh, bagi bagi dong!!"
"Hahaa dasar tukang makan, gak bisa denger nama makanan, iya entar kamu kesini aja, nantiku bagi tulangnya, Hahahah" kata Kiki menggodaku
"iiih Jahat!!" sahutku
"Hahaaa becanda, becanda!! ngomong ngomong kamu sibuk ga? kita jalan yuk, kan buku paket buat soal UAN kita belum beli!" ajaknya
"Ayook, kita cari buku dimana?" jawabku bersemangat
"Kita ke Mall Lembuswana aja gimana?" sarannya
"Hmm boleh boleh, aku langsung siap siap dari sekarang nih entar kita ketemu disana yaa!" kataku
"Oke siap!!" Sahutnya sebelum kami menutup telpon.
Dengan cepat akupun segera mandi tanpa keramas, karena kupikir nanti bakal kotor lagi terkena debu jalanan. Setelah mandi aku segera berpakaian sederhana, memakai kaos ungu muda, sweeter abu - abu dan celana jeans hitam model pinsil, yaa karena celana itu yang paling cocok buat kaki pendekku. Tidak jarang aku suka merasa minder sama pacar, teman ataupun adikku Doni karena tubuh mungilku ini, kata mamah karena dari kecil aku sakit sakitan jadinya pertumbuhan badanmu terhambat.
Setelah rapi dengan tas slempang kecil yang hanya memuat bedak, dompet dan handphone, akupun segera menuju kekamar mama yang memang hanya bersampingan dengan kamarku.
TOK TOK TOK
"Mah?" Panggilku sambil mengetuk pelan.
"Iya Dara masuk aja!" sahutnya dari dalam
CKLEK!
Ku lihat mamah sedang duduk didepan meja rias, dengan balutan handuk yang mlilit dikepala menandakan kalau dia baru aja selesai mandi.
"Lhoo udah rapih banget gadis mamah, mau kemana?" tanyanya
"Dara mau beli buku soal soal ujian Mah." jawabku sambil mendekat
"Sama disiapa jalannya? terus uangnya masih cukup yang dari Papah?" tanya Mamah sambil mengeluarkan uang seratus ribu dari dompet lalu menyodorkannya padaku.
"Aku jalan sama Kiki mah, kalau uang sangu masih cukup buat seminggu lagi!" jawabku sambil menerima lalu mulai mencium pipi mama untuk pamitan.
"Hmmm.. sama Arga juga jalannya??" tanyanya yang lagi lagi ada nyebut nama Arga membuat aku bingung menjawabnya
"Ee.. Arga nggak ikut mah, aku berdua aja sama Kiki! Ya udah ya mah aku berangkat takut ditungguin, Daagh!!" jawabku terburu buru melangkah keluar menghindari pertanyaan mamah yang takutnya menyakut nama Arga lagi
Melihat tingkahku barusan, mamahpun sempat kebingungan.
Namun begitu sampai diluar pintu kamar Mama, aku baru teringat kalau sebenarnya tadi aku ada rencana mau minjem motornya.
Dengan perasaan ragu ragu, tanganku yang masih memegangi daun pintu kamar mamah, tadinya berniat ingin masuk kembali kedalam untuk meminta kunci, tapi karena takut Mama nyebut nama Arga lagi aku jadi mengurungkan niatku itu.
"Sudahlah nggak jadi aja pinjam motornya, daripada nanti banyak pertanyaan!" pikirku
akupun berlari kecil menuruni tangga menuju ke rak sepatu yang berada di samping pintu luar.. Ku pakai sepatu model balet saja biar agak santai dan nggak bikin pegel, soalnya kalau ke mall pastinya pengen keliling - keliling dulu, Maklum ABG hehehe...
Kemudian dengan semangat bersiap membuka pintu namun,
"Kakak!! Kakak mau kemana ?!" Panggilan Doni menghentikan langkahku.
"Mau ke Mall sama Kiki, kenapa?" tanyaku
__ADS_1
"Kakak nggak lupa kan mau bantuin aku?!" tanyanya melas.
"Iya inget, tapi nanti aja ya pas kakak pulang ya baru kita bahas!" jawabku, "oiyaaa cuciannya udah dijemurin belum?" teringat kalau tadi aku titip sisa kerjaan sama Doni.
"Udah beres kak beres semua..!" katanya sambil mengacungkan jempol.
"Yaudah, kakak berangkat dulu yaaah Dah!" pamitku sambil buru buru keluar
'Kalau nungguin ojeg dari sini takutnya lama, kalau gitu jalan aja dulu deh pelan pelan, siapa tau nanti ada yang lewat!' gumamku dalam hati sambil berjalan menuju gerbang. Ditengah perjalanan yang mataharinya mulai panas, entah kenapa pikiranku masih saja mikirin Arga yang bayangannya tidak bisa terhapus diotakku, sampai sampai membuatku tanpa sadar jadi melamun g
dijalanan.
TIIIIN...!!!
(tiba - tiba suara kelakson sudah berada persis dibelakangku)
"AAAAAA!!!" Teriakku sambil mau nutupi kelapa
Ciiiiiit! (suara rem)
"Kaget ya? Heheheee!!" tawa seseorang yang hampir menabrakku.
"Hah! Suara ini?" akupun segera menoleh
"YAA AMPUN SEKALINYA MAS IRVAN? NGGAK LUCU TAU BECANDANYA!" Bentakku karena kaget
Sambil mengendarai motornya Mas Irvan pun mendekat lalu tersenyum.
"Iya iya Maaf, Kok sampe marah kayak gitu sih Dek? Mas kan cuma becanda!" ucapnya. Lalu aku tertegun bingung karena biasanya aku nggak pernah apalagi sampe kasar, karena memang sudah terbiasa jadi korban keusilan dia dan Doni.
'Aduh, mungkin hari ini karena aku lagi sensitif kali ya?' pikirku, Huuuuft... kutarik nafas panjang untuk mengontrol emosi.
"Iya mas aku juga minta maaf, aku nggak marah, tadi cuma kaget aja! sudah yaa..." jawabku kaku sambil mulai berlalu melanjutkan langkah
CTAK! Dengan cepat mas Irvan menurunkan standar motornya
"Eeh dek kamu mau kenapa?" tanyanya sambil menarik lenganku yang memar
"AAAGH! sakit mas..." teriakku, sontak dilepasnya tanganku
"Nggak, nggak apa apa!" tolakku karena takut
"Coba mas liat sini, kalau gak mau kasih nanti mas tanya aja sama mamah ya?!" ancamnya, dia tau kalau aku sering menyembunyikan sakitku dari mamah, karena takut akhirnya terpaksa kusodorkan perlahan tangan lebamku itu sambil meringis ngeri. Dengan sangat hati hati diapun memegang memperhatikannya.
"Ini kenapa kok bisa sampe kayak gini? kamu abis jatoh lagi, apa abis ditabrak orang, atau abis...."
"Nggak mas nggak, aku nggak kenapa napa, cuma terpelintir aja!" bantahku menutupi kebenaran lalu menarik lagi tanganku itu.
"Kamu kenapa sih dek keliatannya murung banget? terus lagi mau kemana panas panas gini kok jalan kaki sendirian?" tanyanya perhatian namun sorotan sinar matahari yang silau membuat aku mulai pusing
"Aku mau kelembus cari buku sama Kiki..." jawabku sembari memegangi kepala yang kepanasan
"oowh.. kalau gitu sekalian aja, mas juga mau kekantor dideket situ." ajaknya
"Tapi mas aku gak bawa helm, soalnya tadi niatnya memang mau ojek aja!" jawabku
"Kayanya ada helm Ibu didalam jok, Mas liat dulu yaaah?!" katanya, kemudian segera membuka jok beserta penutup bagasinnya.
"Taraa...Nih, ada kan!" katanya sambil menyodor helm tersebut kehadapanku. Setelah memakainya akupun segera naik diboncengan motornya.
Selama diperjalanan sebenarnya banyak hal yang ingin aku tanyakan ke mas Irvan, dari mulai pertanyaan kapan dia pulang, kenapa dia tidak jadi keBandung, juga.... tentunya aku sangat penasaran ingin bertanya tentang apa saja yang dia bicarakan semalam bersama Arga sampai hampir subuh.
Tetapi semua pertanyaan itu hanya menumpuk diotakku, rasanya sangat sulit untuk menggerakan lidah terlebih lagi sepanjang jalan aku masih saja mengingat hal buruk yang dilakukan Arga padaku. Dan akhirnya sepanjang jalan aku hanya terdiam melamun, sampai sampai tidak terasa setengah jam berlalu tau tau sudah sampai didepan mall.
"Lhoooh udah sampe?!" tanyaku keheranan
"Kamu kemana aja Dek dari tadi?!" tanya Mas Irvan sambil menepikan motornya disamping trotoar.
"Kemana apanya mas? aku kan dari tadi dibelakangnya mas!" jawabku polos sambil turun dari motor
"Hehehee! Adek, adek... umurmu berapa sih, sudah dewasa kok masih aja lugu kayak gini!" ucapnya sambil cengar cengir
Sebenarnya aku bingung dengan ucapan mas Irvan, tapi kali ini aku lagi males banget mbahas apapun, pokoknya gak ada niat buat ngomong panjang lebar.
__ADS_1
"Dara?!" Panggil Kiki yang baru saja turun dari ojeknya dan langsung menghampiri kami.
"Hey.!!" Sahutku sambil membuka helm lalu segera mengembalikannya ke mas Irvan.
"Ini Mas, makasih ya aku udah dianterin. Oiyaa ngomong ngomong mas Irvan mau kemana?" tanyaku berniat basa basi pada ke mas Irvan, namun bukannya menjawab dia malah menatapku keherannan.
"Yaaa ampun dek, kamu lupa? tadikankan mas sudah bilang mau kekantor!" Jawabnya bingung.
"Ooh iya yaa, aku lupa heheee!" kataku sambil pura pura garuk kepala
Kiki yang berdiri disampingkupun tau tau ikut memperhatikan wajahku dengan tatapan serius.
"Dara kamu pucet banget, kamu sakit yaa?!!" tanyanya sambil menggenggam tanganku yang lebih dingin darinya
"Kamu lagi sakit dek? mas perhatiin dari tadi kamu pendiem banget nggak cerewet kaya biasanya!" Sahut mas Irvan menyambung pertanyaan Kiki yang bikin aku tambah pusing.
"Aaah masa sih? nanti kalau aku cerewet dibilangnya marah marah kayak tadi!" jawabku menyindir mas Irvan
"Yaaah lain juga kalau yang itu, maksudnya sepanjang jalan tadi kamu itu looh kamu diem terus, biasanya kan ngoceh sana sini!!" jelasnya
"Nggak ah, nggak ada apa apa, aku biasa biasa aja kok, mungkin agak cape aja tadi pagi banyak kerjaan dirumah!" jawabku sambil menebar senyum memaksa
"Mas Irvan nggak ikut dulu kah kedalam sama kami?" kataku basa basi mengalihkan topik, lalu Kiki langsung bingung dengan pertanyaan ku.
"Aaah nggak nggak, Mas ada yang mau diurus dulu, kamu lama nggak? nanti pulangnya mas jemput aja yaa?" tawarannya.
"Aku....."
"Iyaa Mas Irvan jemput aja!" sahut Kiki menyerobot jawabanku.
"Eeh nggak usah nanti ngerepotin, lagian takutnya kami lama, Mas pulang duluan aja!!" jawabku sungkan, aku menolak karena belum tahu akan pulang sampe jam berapa nanti.
"Nggak apa apa, kalau memang mas selesai duluan urusan kantornya, nanti Mas susul aja yaah!" katanya sambil mengusap rambutku.
"Iya sudah kalau gitu, mas kabarin aja kalau sudah mau jemput!" kataku yang nggak bisa menolak lagi karena sudah kehabisan kata kata, 'lagian bukan aku yang maksa minta dijemput!' pikirku
Kemudian dia menyimpan helm yang habiskan pakai tadi lalu mulai menyalakan mesin motornya sambil melambaikan tangan lalu pergi.
Aku dan Kiki pun langsung berjalan kedalam sambil membuat rencana yang tentunya sebelum mencari buku kami berkeliling mencari tempat makan siang dulu.
Sesampainya ditempat makan aku dan Kiki langsung duduk bersebrangan, tanpa banyak buang waktu langsung memperhatikan buku menu dihadapan kami.
Tiba tiba aku malah bingung mau pilih apa! apa mungkin karena perutku masih kenyang dengan sarapan pagi tadi, jadinya sekarang belum ada selera makan lagi. kulihat jam yang melingkar dilenganku sudah menunjukan jam satu lewat limabelas menit yang sebenarnya memang sudah masuk jam makan siang dan malahan sudah termasuk telat!
"Kamu mau pesan apa Dara?" tanya Kiki sambil bersiap mencatat pesanan.
"Aku, aku kayanya nggak makan, masih kenyang banget, minum aja deh!" jawabku sambil menutup buku menu ditanganku.
"Lho Loh, kenapa lagi ini? nggak boleh kalau cuma minum doang, pokoknya musti makan!" protes Kiki
"Beneran aku Kih lagi nggak pengen makan, perutku agak mual, jadi pesankan aku jus aja!" kataku
"Nggak pengen kenapa? tumben banget sih, disinikan banyak menu kesukaanmu, tuh lihat! nih, nih, nih !!" bujuknya sambil menunjuk nunjuk gambar makanan kesukaanku dibuku menu ditangannya.
"Begini aja sudah, kamu pesen duluan Kih entar kalau sudah datang dan menggiurkan aku baru pesen juga" kataku
"hmm, bener juga kata mas Irvan tadi kalau hari ini sikapmu memang aneh, padahal biasanya paling semangat kalau soal makanan! ya sudah mau jus apa?" tanyanya sambil mulai menulis pesanan
"Mangga aja" jawabku, Lalu iapun segera menulis beberapa menu pilihannya kemudian memanggil weaters yang sedang bersiaga didepan meja kasir.
"Mas!!" panggilnya sambil melambaikan tangan
Tiba - tiba suara bising disekitar membuat kepalaku jadi tambah pusing, hingga pandanganku pun mulai kabur. Kulihat weaters yang dipanggil Kiki mulai mendekat, namun mataku tak sanggup melihat yang inginku lihat, dan entah kenapa tiba - tiba aku merasa lelah serta mengantuk seperti tadi pagi padahal dirumah sudahku coba untuk tidur tetapi tidak bisa.
Tidak tahan menahan sakit dikepala, aku hanya menunduk mengarahkan pandanganku kebawah kemeja sambil menopang dahj dengan tangan, terdengar samar - samar suara Kiki sedang berbicara.
"Dara?!" panggil Kiki sambil menyentuhku
"Eeh!" sontak aku jadi terkejut, melihat dirinya sudah berada disampingku sambil tangannya merangkul bahuku
"Kamu beneran lagi sakit ya Ra? kenapa maksain jalan sih, mending tadi istirahat aja dirumah kan beli bukunya bisa besok besok lagi!" katanya sambil membujukku agar mau kembali pulang.
"Nggak apa apa Kih, beneran tadi cuma kecapean aja!" jawabku pura pura kuat yang padahal memang sudah hampir tidak kuat
__ADS_1
"Yaa ampun Dara, kamu ini sakit kok bisanya bilang nggak kenapa napa, nah kan pipimu aja udah lebih panas dari yang tadi, tangannya juga udah tambah dingin!" jelasnya sambil meraba suhu tubuhku
"Aku pusing sedikit jadi agak ngantuk, soalnya kurang tidur semalam gara gara...." ucapku terhenti karna sadar hampir keceplosan