
Tidak sampai lima belas menit, mobil sedan milik Arga yang dikemudikan Edwardpun tiba dirumahnya.
Dara yang daritadi sudah menahan sesak didada, tanpa banyak basa basi langsung berpamitan pulang ke ibu tiri Arga,
"Tapi kamu kan belum sempat makan siang?" tanya si tante
"Terima kasih tante, tapi perut saya juga masih agak kenyang, dan karena tadi abis minum obat, jadinya sekarang sudah mengantuk sekali! lagi pula kak Sovia dan kak Edward bisa menemani tante dulu disini!" alasannya
"Aah tidak tidak, saya juga mau pulang bersama nona!" kata Sovia agak judes, dan kemudian Edward pun malah mengikutinya berpamitan.
"Yaa sudah kalau begitu, lebih baik kalian bawa saja semua makan ini, kalau dirumah sini juga siapa yang akan memakannya? soalnya didalam juga masih banyak makanan yang belum termakan, kan kamu tau kalau sekarang ini tante cuma tinggal sendirian saja!" bicaranya dengan ekspresi memelas seperti berharap ada yang bersedia menemani dia
"Kak Sovia dan Kak Edward disini aja dulu temani tante makan, biar saya pulang sendiri saja!" bujuk Dara karena tidak tegaan
"Ah tidak nona, saya mau ikut nona pulang!" sahut Sovia yang sangat terlihat tidak menyukai ibu tirinya Arga itu
"Mm....." Dara langsung berpikir karena tidak enak hati meninggalkan tante yang sudah banyak membelikan barang untuknya tadi
"Sudah tidak apa apa sayang, kamu langsung pulang saja sana, tadi katanya mau istirahat, tante juga mau panggil orang dekorasi buat nyiap nyiapin perlengkapan besok!
Oiya, ingetnya, pokoknya nggak usah ada yang ngomong kalau kita abis jalan, jadi barang barang itu jangan sampai ketahuan dulu sama Arga, biar besok kamu bisa kasih kejutan pas acara! ya kan?" bujuknya
"Iya tante, sekali lagi Dara ucapin terima kasih banyak untuk hari ini!" katanya sambil tersenyum lalu berbalik badan melangkah kerumahnya.
Saat melihat punggung Dara berlalu dari hadapannya, tiba tiba senyuman dibibir ibu tiri Arga itu luntur, dan Entah apa yang sedang dipikirkan wanita itu, raut wajah ramahnya dalam sekejap berubah sinis.
Sesampainya dirumah, Dara tidak lagi menghiraukan barang barang mewah dan makanan lezat tadi. Dia merebahkan tubuhnya keatas kasur dan seketika itu rasa sedih yang dari tadi ditahannyapun langsung pecah beriringan dengan airmata yang mulai merembes kedalam bantalnya.
"Hikshiks...."
Paula yang bingung melihat Dara pulang pulang menangispun langsung menanyakan kepada Sovia apa yang sudah terjadi dengan nonanya. Sambil menyimpankan barang barang belanjaan tadi kedalam lemari, Soviapun menceritakan semua kejadian dan omongan ibu tiri Arga terhadap nona kecilnya itu. Dan setelah mendengar semua cerita Sovia, Paula segera menghampiri Dara dan membujuknya agar tidak usah memperdulikan omongan ibu tiri tuan mudanya itu.
"Nona Dara, saya adalah orang pertama yang dipilih untuk merawat tuan muda. Jadi selama saya ikut dengannya saya sangat tau siapa saja yang dekat dengan dia, dan tuan muda itu tidak pernah sekalipun dekat dengan gadis lain sebelumnya, saya berani mejamin itu!" katanya sambil mengusap usap lembut punggung Dara
"Hiks tapi.. ta,tapi Lucy itu?" terisak isak
"Nona Lucy itu cuma anak dari temannya nyonya! saya tau kalau gadis itu memang sangat menyukai tuan muda, bahkan nyonya dan temannya itu sempat menjodoh jodohkan mereka berdua. Tapi, tuan muda tidak pernah menghiraukannya dan malah meminta kepada tuan besar agar cepat menguruskan kuliahnya diluar Amerika!" kata Paula menjelaskan
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Dara yang langsung menoleh kearahnya
"Iya nona saya tidak berbohong!"
"Tapi, saya dengar mereka mau ditunangkan?" cemberut
"Tidak nona, setau saya tuan besar hanya mengiyakan didepan nyonya, tapi sebenarnya dia tidak menyetujuinya karena tuan besar lebih mengutamakan masa depan tuan Arga!" sambungnya
"Terus masalah kecelakaan Arga, apa benar akulah penyebabnya?!" bibirnya menggetar getar
"Eeh... itu, saya sendiri kurang tau pastinya, tapi tuan muda tidak pernah sekalipun mengatakan kalau dia kecelakaan karena siapapun, dia hanya mengatakan kalau dia tertabrak motor saat menyeberang jalan didepan sekolahnya. Iya, dia hanya mengatakan itu saja! Nona, nona pasti sudah tau kan kalau tuan Arga kurang menyukai nyonya? (Dara mengangguk) itu karena nyonya sering berbohong! dia rela melakukan apapun demi tercapai tujuannya, bahkan dia tidak akan peduli kalau yang dilakukannya itu akan merugikan orang lain. Jadi saya sarankan ke nona, mulai sekarang nona tidak usah terlalu dekat dengan dia apalagi mempercayai omongannya, ya?" kata Paula berusaha meyakinkan Dara
Setelah mendengar penjelasan dari Paula, hati Darapun berangsur angur semakin lega, dia berusaha mempercayai Paula demi hubungannya dengan Arga tetap terjalin baik. Hanya saja dia masih merasa kecewa karena ternyata banyak sekali hal yang Arga tutupin selama ini termasuk masalah ibu tirinya itu.
"Bukan, bukan cuma Arga, tapi semuanya, iya semuanya! mereka semua banyak sekali menutupi kebenaran dari keadaanku yang lemah, menutupi dari ingatanku yang sedang pergi entah kemana, menutupi dari jiwaku yang sedang kosong!" gumam sedih Dara dalam hatinya.
Sorenya saat pulang kuliah, Arga langsung mampir kerumah gadisnya itu tanpa pulang lebih dulu kerumahnya. Ibu tirinya yang kebetulan sedang berada didepan rumahpun langsung merasa curiga :
"Loh tumben si Arga makirin mobilnya disana, kan biasanya kalau pulang dia langsung mandi dulu, ada apa ya?" gumamnya bertanya sendiri sambil berpikir pikir. "Jangan jangan si cewek penyakitan itu kumat lagi? atau jangan jangan dia mau mengadukan semua yang aku katakan tadi dimall? duh bisa marah marah lagi nih si Arga sama aku!" pikirnya mulai ketakutan.
Walaupun Arga tidak menyukai sifat ibu tirinya, tapi pria muda itu tidak pernah sekalipun mengadukan kelakuan dan kebiasaan buruk wanita itu ke papahnya. Dia tidak terlalu memperdulikan hubungan orang tua laki lakinya itu, baginya yang terpenting jangan usik mamah beserta adik dan juga jangan mencampuri urusan pribadinya termasuk masalah wanita pilihannya.
"Beib kamu nggak kenapa napa kan?" tanya Arga secara tiba tiba saat baru saja masuk kerumah Dara
"Emm.. maksudnya.. apa, hari ini kamu sudah benar benar sehat?" pertanyaan Arga terdengar sangat basa basi
"Aku... aku nggak apa apa, aku sehat sehat aja!" jawabnya menutupi kebenaran yang akhirnya mereka berdua jadi saling menutupi pertanyaan yang menggumpal dihatinya.
Tanpa sepengetahuan Dara, Edward yang selama ini menjalani tugas sebagai penjaga kemanapun dia pergi, ternyata sudah berbekal alat pelacak, recorder, dan juga mini camera yang akan selalu memantaunya.
Karena dari awal Edward sudah setia dengan Arga, maka setiap kali mereka habis jalan pastinya selalu memberi laporan ke bossnya itu. Dan begitupun dengan hari ini, setelah pulang dari jalan siang tadi, Edward sudah mengirimkan rekaman vidio dan juga rekaman suara hasil menemani Dara dan nyonyanya, maka dari itu Argapun langsung menemui Dara sepulang kuliah.
"Oke kalau Dara belum mau bercerita sekarang, mungkin dia masih bingung dengan semua yang terjadi. Jadi lebih baik aku biarkan saja dulu, kalau nanti sudah siap pasti dia akan bertanya sendiri padaku!" gumam Arga dalam hatinya
Hingga malam tiba, Arga yang masih penasaran dengan pertanyaan dan cerita dari Dara, membuat pikirannya jadi tidak bisa konsentrasi saat mengerjakan tugas kampus. Hampir setiap menit matanya melirik kelayar handphone berharap Dara segera menghubungi lebih dulu dan bercerita apa yang sudah terjadi, tapi harapan itu tidak juga kunjung datang hingga membuat dirinya mulai emosi.
TAK!!
Diletakan begitu saja pulpen ditangannya diatas buku lalu bergegas pergi kerumah Dara karena sudah tidak sabar lagi menunggu.
__ADS_1
"Arga, kamu mau kemana lagi malam malam begini?" tegur ibu tirinya yang sedang menonton tv diruang tengah.
Mendengar teguran itu Argapun langsung menghentikan langkah kakinya, namun pandangannya tetap kedepan tanpa menoleh sedikitpun ke sumber suara disampingnya itu.
"Ehem! Saya tidak keberatan dengan apapun yang akan anda lakukan dirumah ini termasuk pesta yang biasa anda buat seperti saat diAmerika. Tapi harus tetap anda ingat pesan yang pernah saya katakan dulu, jangan sekali kali anda mengusik apapun yang menyangkut hal pribadi milik saya, kalau tidak, anda pasti sudah tau sendiri kan apa akibatnya?!"
TAP TAP TAP!! setelah bicara seperti itu Arga pun langsung kembali melanjutkan langkahnya menuju rumah Dara.
TOK TOK TOK!! "Beib?" panggil Arga didepan pintu kamar pacarnya.
"Aah, Arga? tumben malam malam begini?" gumam Dara sambil turun dari ranjang karena sudah bersiap mau tidur, dia pun segera membukakan pintunya :
JEGLEK!! "Beib ada ap.... Mmmp...?"
Tiba tiba saja sosok pria rupawan yang sedang berdiri didepan pintu kamarnya langsung mencium sambil memeluknya tubuhnya dengan erat bagai singa menerkam mangsa. Saking cepatnya gerakan Arga, membuat Dara tidak sempat memberontak lagi, dan karena tidak kuat menahan dorongan kuat pacarnya, kakinyapun jadi melangkah mundur sampai ketepi keranjang.
Tanpa sedikitpun melonggarkan ciuman dan pelukannya, Arga menambah dorongan dadanya hingga membuat Dara terbaring diatas ranjang bersamanya, GRUB!!
Telapak tangan Dara yang kecil terus berusaha mendorong tubuh kekar Arga, namun bukannya melepaskan diri, tangan pria itu malah menangkap tangan gadisnya dengan cara menyelipkan jarinya disela sela jari Dara. Genggaman kuat jemari Arga membuat Dara sudah benar benar tidak bisa berkutik lagi darinya.
"Mmmp?.." teriakan berontak Dara tertahan ditenggorokannya karena Arga tidak memberi sedikitpun celah lidahnya untuk bergerak.
"Mmmm..aah!!" setelah melampiaskan emosi dengan ciuman kuat dari bibirnya, Arga pun mulai bertanya tanya lebih dulu ke gadis dibawahnya:
"Kamu kenapa sih nggak ngerti ngerti sama omongan aku?!" tanyanya dengan nada kesal
"Omongan apa beib?" tanya balik Dara karena bingung dengan sikap Arga yang tiba tiba, padahal tadi sore mereka baik baik saja sebelumnya. Dara berusaha menarik tangannya namun jemari Arga bertambah kuat menggenggamnya. "Beib lepasin tanganku!" pintanya
"Nggak! kamu harus ngomong dulu baru aku lepasin!" kata Arga mengancam dengan tatapan mata yang tajam menatap mata dan bibir Dara, ditambah lagi posisi tubuhnya semakin merapat diatas Dara yang membuat gadis itu semakin merasa gugup karenanya.
"Aa,aku harus ngomong apa beib? aku, aku beneran nggak paham apa maksudmu!"
"Kan aku sudah beberapa kali bilang sama kamu, apapun yang terjadi, apapun yang kamu rasakan kamu harus cerita sama aku! tapi kenapa sudah aku tunggu dari sore supaya kamu cerita tapi kamu belum juga ada cerita?!"
"Apa yang harus aku ceritain?" tanyanya ketakutan
"Kamu seharian tadi sudah diajak jalan sama mamahku kan?!"
"Loh kok kamu tau? tau darimana? siapa yang sudah memberi taumu?" tanya Dara bingung karena setau dia tidak ada yang berani melawan si nyonya besar.
__ADS_1
"Aku tau darimana itu bukan urusanmu, yang penting itu kenapa kamu nggak mau jujur kalau sudah disakiti mamah tiriku?"
"Akhirnya kamu ngaku juga kalau dia adalah mamah tiri, kemaren kemaren kenapa nggak jujur sama aku?" tanya balik Dara yang sontak mengejutkannya karena sudah keceplosan, kemudian Arga langsung melepaskan Dara dari cengkeramannya saat itu juga. Dia bangkit lalu duduk ditepi kasur, karena merasa sudah di-skakmat oleh Dara, membuat dia jadi sedikit kebingungan harus menjawab apa.