
Paginya,
Irvan merasakan kesejukan embun meresap keparu parunya, begitu dingin, begitu menyegarkan, dan begitu menenangkan pikirannya, hingga saking nyamannya, sampai membuat dia tambah nyenyak diatas ranjang.
Namun tiba tiba dia tersadar kalau lengannya yang semalaman menopang kepada Dara, kini terasa begitu ringan.
"Mmm.. Dek?" panggilnya sembari celingukkan.
Dengan mata yang masih menyipit, dia mencari sumber masuknya udara sejuk yang dia rasakan sekarang ini yang sekalinya berasal dari jendela kamar yang sudah terbuka.
"Dara sudah bangun? tumben!" bisik sendiri kebingungan, karena semenjak sakit Dara selalu bangun agak siang.
Dalam semilir udara sejuk yang sedang ia hirup, terbesit aroma manis dan juga lembut yang sangat tidak asing baginya.
Yaa, tiba-tiba saja tercium bau kue yang sudah menjadi ciri khas buatan Dara yang sontak mengejutkan Irvan,
"Hah? apa mungkin Dara sudah..." dengan tergesa-gesa Irvan langsung keluar dari kamar Dara dan mendapati gadis itu sedang membuat sesuatu didapur.
"Dara? apa kamu....(ragu-ragu)" karena dipanggil, Dara menoleh kearah Irvan yang terlihat panik mendatangi dia.
"Aku kenapa kak?" tanya Dara penasaran karena pertanyaan kakaknya tadi terhenti.
"Aah, nggak apa-apa!" sahut Irvan tertegun saat mendengar Dara masih memanggilnya dengan sebutan kakak, kemudian dia langsung teringat dengan cerita Sovia yang pernah mengatakan kalau Dara memang sering belajar memasak masakan Indonesia.
"Kakak kenapa sih?" tegur Dara dengan suara lebih nyaring membuat Irvan tersadar dari lamunannya.
"Aah nggak apa-apa sayang, kakak nggak apa-apa!!"
"Nggak apa-apa apanya? jelas-jelas kakak aneh, datang kesini langsung manggil terus bengong!" celetuk Dara sambil meneruskan masaknya.
Tidak tau kenapa tiba-tiba mata Irvan jadi terpana memandangi Dara yang sedang sibuk dengan alat dapur ditangannya, ditambah lagi masakan yang sedang dimasaknya beraroma sangat sama dengan masakannya yang dulu sering dibuatnya. "Yaa ampun, aku sempat mengira kalau dia sudah pulih dari amnesia nya!" gumam Irvan dalam hati.
"Kakak kenapa sih pagi-pagi bengong terus? mending bantuin aku bikin sarapan nih biar cepet selesai!" tegur Dara yang lagi lagi mengagetkan lamunannya.
"Ooiya iyaa! kakak bantu apa nih?" tanya Irvan antusias langsung bersiap siap.
"Cuci tangan dulu lah!" perintah Dara melirik bingung melihat tingkah kakaknya pagi pagi sudah salah tingkah.
Limabelas menit kemudian hidanganpun siap, Dara yang terbiasa makan bersama dengan kedua kakak perawat dan pengawalnya langsung memanggil mereka bertiga yang sedang beres-beres rumah.
(Setelah berkumpul dimeja makan)
"Ngomong-ngomong, ini kan hari pertama kalinya kita sarapan bersama kak Leo, semoga kak Leo suka tinggal disini, makan bersama disini, dan juga bisa sabar menghadapi sikap saya!" kata sambutan Dara sembari mempersilahkan makanannya, pengawal baru yang dikirim papahnya Arga itupun merasa disambut hangat walau statusnya hanya untuk menggantikan Edward sementara.
"Terima kasih nona Dara, saya sudah tiga tahun selalu mengikuti tuan Arjuna kemanapun beliau pergi, tentunya saya sudah terbiasa menyantap beragam macam masakan dari berbagai kota bahkan negara yang beliau singgahi, dan saya akui masakan Indonesia seperti ini sangat cocok dilidah saya!" ucapnya memuji Dara.
"Benarkah? syukur kalau kak Leo suka!" sahut Dara merasa tersanjung. Senyuman manis dari Paula dan Sovia pun menambah keakraban diantara mereka.
(Sekedar pengingat: Dalam cerita aslinya mereka berbicara dalam bahasa Inggris, terlebih Leo adalah pengawal yang dibawa papahnya Arga dari Amerika)
Saat sedang asik sarapan dan bercengkerama, tiba tiba Dara baru sadar kalau dari tadi Irvan yang duduk disampingnya terus memperhatikan dia sampai hampir tak berkedip.
"Emm.. kak Irvan kenapa? kok ngeliatin aku sampe kayak gitu, ada yang aneh sama aku?" tanya Dara bingung sambil menunduk celingukan memperhatikan pakaiannya.
"Nggak ada, nggak ada yang aneh sama kamu! Justru kakak merasa kagum sama kamu, dalam keadaan yang lagi lupa ingatan seperti sekarang ini, tapi sikap dan kebiasaanmu nggak ada bedanya sama sekali dengan yang dulu!" jawab Irvan tersenyum
"Maksud kakak, kebiasaan asliku waktu diIndonesia memang seperti sekarang ini? memang suka masak?" tanyanya lagi ingin meyakinkan
"Iya sayang, kamu sangat senang memasak dan berbagi dengan yang lainnya, bahkan kamu sering masak untuk teman-teman mu yang datang kerumah!" jawab Irvan tersenyum tambah lebar membuat Sovia dan Paula jadi bangga memiliki majikan yang memang aslinya baik.
__ADS_1
Kemudian Irvan baru teringat lagi kalau belum punya pakaian ganti,
"Oiya Sovia, apa pakaian saya sudah selesai dicuci?" tanya Irvan yang kemaren sore pakaiannya diminta Sovia yang menawarkan diri ingin mencucikannya.
"Sudah tuan, tapi belum diseterika, apa tuan sudah mau mengenakannya?" jawab Sovia yang langsung meletakan sendok dan bersiap bangkit dari duduknya.
"Nanti saja Sovia! saya juga belum mandi, kita selesaikan saja dulu sarapannya, kalau menurut kepercayaan dikota saya, sangat tidak baik bahkan dilarang melakukan pekerjaan lain disaat sedang makan apalagi sampai meninggalkan makanan tersebut!" ucap Irvan menahan Sovia berdiri.
Sambil kembali duduk, Sovia langsung terkesima saat Irvan tersenyum ramah kepadanya,
"Yaa Tuhan, saya tidak percaya kalau ternyata selain kaya dan tampan, tuan Irvan juga sangat baik bahkan dengan pelayan seperti saya ini. Dan sekarang, saya lebih tidak percaya lagi kalau sampai saat ini dia belum memiliki seseorang kekasih! Atau jangan-jangan, apa mungkin benar yang Edward katakan waktu itu kalau tuan Irvan menyukai nona Dara?" gumam Sovia dalam hatinya sambil mulai meneruskan sarapannya.
"Aah tidak, saya tidak percaya akan hal itu! Saya sudah melihatnya sendiri kalau tuan Irvan memang sangat perhatian kepada semuanya, jadi tentunya sangat wajar kalau dia akan lebih perhatian lagi kepada nona Dara yang dianggap adiknya! yaa itu sangatlah wajar.
Hmm... Tapi, kenapa tiba tiba saya jadi... (matanya melirik ke Irvan yang sedang bercengkrama dengan Dara)" DEGDEG! DEGDEG!
Sambil mengobrol, Dara baru teringat kalau kakaknya akan pergi membeli barang-barang keperluan, tanpa ragu si adik langsung menawarkan diri ingin ikut dengannya :
"Oiya kak Irvan?" panggil Dara dengan suara pelan.
"Emm.. kenapa?" sambil menyuap makanan
"Semalam kan aku sudah nurutin kakak supaya tidur cepat, jadi entar aku boleh dong ikut kakak belanja? Ya, ya, ya?" bujuknya memasang wajah imut.
"Nurut? pura pura tidur sambil nangis kamu bilang nurut?" ucap Irvan mengungkit kejadian semalam yang dalam sekejap membuat pipi Dara memerah.
"Iiiih Kakak!....." merengek karena malu didepan banyak orang, tapi untungnya yang lainnya tidak mengerti yang Irvan dan Dara sedang bicarakan.
"Iya-iya boleh.." kata Irvan dengan senyuman lebar melihat tingkah polos gadis kesayangannya.
(Satu setengah jam kemudian)
Irvan yang sudah siap berangkat dari tadi, dengan sabar menunggu Dara disofa ruang tengah.
"Eh kak Irvan udah rapi?" tanya Dara yang baru keluar dari kamarnya.
Irvan yang seharusnya menjawab pertanyaan Dara, malah melirik sinis sambil mengangkat satu lengan lalu memperhatikan jam ditangannya itu.
"Mandi dan ganti pakaian sampai 1 jam?" kata Irvan yang kemudian menoleh memperhatikan penampilan Dara dari atas kebawah. "Sejak kapan kamu bisa pakai itu?" tanya sang kakak yang matanya tiba-tiba melotot melihat sepatu hitam yang dikenakan Dara.
Dara yang masih berdiri didepan pintu kamarnya seketika menunduk,
"Bisa pakai? Jadi, dari dulu aku memang gak bisa pakai ini kak?" tanyanya penasaran.
"Asal kamu tau aja, bahkan satu hight heels pun kamu memang gak pernah punya!" jawab jujur Irvan yang langsung mengubah raut wajah Dara menjadi layu. "Ganti dulu sana!" perintah Irvan sembari berpaling muka darinya.
Tak.. Tak.. Tak..! "Aku gak mau ganti, ini kan dari mamahnya Arga, aku tetap mau pakai supaya bisa!" sahut Dara yang mulai melangkah mendekati Irvan.
"Apa?! kamu mau......." Irvan menolehkan kepalanya lagi kearah Dara yang sedang berjalan oleng. "Ya ampun! jalan aja gak bener malah mau maksain pake sepatu kayak gitu?" tanya Irvan yang mulai kesal dengan sikap keras kepala Dara yang nggak pernah berubah.
"Aku ini harus sadar diri kak! aku tau kalau terlalu banyak kekurangan dihidup ku, tapi bukan berarti aku harus pasrah dan gak mau berusaha kan? (sambil duduk disamping Irvan) nanti, kalau Arga ninggalin aku karena semua kekuranganku gimana?"
Pertanyaan Dara barusan membuat kakaknya tambah kesal,
"Yaudah kalau masih tetap ngeyel, pakai aja itu! tapi jangan harap jalan sama aku!" Ucap Irvan sambil berdiri lalu mulai melangkah pergi.
"Looh? Kakak tunggu!..." Panggil Dara yang bergegas mengejarnya.
TAK TAK! TAK TAK!
__ADS_1
"Aaah!!.." BRUGK!!...
Irvan yang langkah cepatnya sudah dekat dengan pintu, kembali menoleh kebelakang saat mendengar teriakan Dara,
"DEK?!!" matanya terberlalak mendapati adiknya sudah dalam keadaan tersungkur dengan dagu yang menyentuh kelantai.
TAP TAP TAP!! kakinya berlari dengan cepat menghampiri si mungil.
"TUH KAN DIBILANGIN JUGA APA!!.." dumelnya sembari mengangkat tubuh Dara kemudian mendudukannya.
"Uuugh....." suara rintihan yang keluar dari bibir Dara yang tiba-tiba merembes darah dari sudutnya.
"Astaga dek ini darah dari mana? coba buka mulutmu!" pinta Irvan dengan ekspresi panik,
Dara pun menuruti perintah kakaknya untuk segera membuka mulut.
Dengan sangat perlahan dan sedikit bergetar, mulut yang semakin terbuka lebar itu memperlihatkan warna gigi yang sudah berlumuran cairan merah kental menggenang didasar, dan karena saking deras sampai mengalir keluar melalui sudut bibirnya.
Kemudian, tanpa merasa jijik sedikitpun Irvan mengusap darah itu dengan tangannya sendiri.
"Aaaw! sakit kak...." rintihan Dara membuat Irvan lirih medengarnya.
"Iya sayang iya, kakak cuma memastikan aja! (sambil memperhatikan dengan seksama sumber aliran darahnya) darah ini dari bibir bawah, pasti barusan kegigit pas lagi jatoh, ayoo kumur-kumur dulu!" ajak Irvan sembari siap berdiri. Namun saat melihat hight heels yang masih melekat dikaki Dara, dengan cepat dia membuka lalu menjauhkannya.
"Nggak usah lagi dipake-pake! bukannya baru kemaren kamu sudah celaka dengan sepatu itu!" kata Irvan mengingatkan sambil mengantarnya untuk berkumur di washtufel.
Setelah selesai berkumur, Dara yang masih merasa sayang akan hight heels nya itu menjelaskan,
"Bukan yang itu kak, tapi kemaren aku pake yang silver!" katanya yang membuat Irvan langsung mengingat vidio yang diliatnya kemaren.
"Ada berapa sepatu seperti itu yang dibelikan mamahnya Arga?"
"Tiga, satunya lagi warna merah!" jawab Dara jujur
"Kasihkan ke orang aja semuanya!" perintahnya
"Disini mana ada yang muat kak? kaki ku kan kecil!"
"Kalau gitu buang aja!"
"Jangan kak, mubajir!" sahut Dara menyayangkan benda itu membuat Irvan langsung terbakar emosi.
"MAU MU APA SIH DEK? UDAH CELAKA SAMPE DUA KALI KAMU MASIH MAU MENCOBANYA LAGI? BIAR APA? CUMA KARENA TAKUT ARGA NINGGALIN KAMU GARA-GARA GAK BISA PAKE HIGHT HEELS? APA ARGA ADA BILANG KAYAK GITU? KALAU MEMANG DIA BILANG BEGITU, LEBIH BAIK MULAI SEKARANG KAMU YANG TINGGALIN DIA!!"
Omelan Irvan barusan terdengar sangat nyaring hingga orang seisi rumah jadi penasaran ingin mengetahuinya.
TAP TAP TAP!
"Tuan, Nona, ada apa?!" tanya Sovia dan Paula yang berlari menghampiri dari ruang belakang.
Irvan yang masih emosi tidak memperdulikan kedatangan mereka berdua, bahkan tidak sedikitpun berpaling dari menatap tajam kearah Dara.
Namun tidak lama kemudian, dia tersadar kalau adik perempuannya itu terlalu sensitif dengan bentakan darinya.
Dan Saat melihat Dara terdiam dan pucat karena omelannya barusan, dalam sekejap emosinya menyusut.
"Dara, kakak.. (Zzzzrrrrt!! getar handphone disakunya menghentikan dia bicara) kamu ganti baju aja dulu, kakak mau terima telpon!" perintahnya karena baju Dara terkena tetesan darah.
Saat Irvan pergi kearah halaman belakang, Sovia dan Paula yang sudah berdiri disamping Dara pun segera mengantar nona nya kekamar untuk berganti pakaian.
__ADS_1
"Apa tuan Irvan memukul nona?" tanya cemas Paula yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Dara. "Terus, kenapa bibir nona agak bengkak, dan kenapa sampai ada tetesan darah disini (menunjuk baju yang ada darahnya) apa tuan Irvan memang pemarah seperti itu dari dulu?"
"Saya tidak tau, saya amnesia!" jawab Dara sambil menunduk lemas.