Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
#91. Menjaga Jarak


__ADS_3

Setelah membicarakan masalah ini dengan kepala rumah sakit, para dokter yang menangani Dara pun akhirnya melakukan pengecekan ulang yang akhirnya memang ditemukan hasil baru yang sangat mengejutkan.


Karena kasus ini masih hangat jadi dengan adanya kerjasama antara pihak rumah sakit dan kepolisian setempat, melalui rekaman CCTV dari beberapa sudut ruang dan gedung, beserta ada juga laporan kehilangan seragam perawat, akhirnya hanya dalam tiga hari kasus inipun terungkap bahwa memang ada orang yang menyamar sebagai perawat telah masuk keruangan Dara yang dengan sengaja menukar obatnya dengan obat yang sangat berpantangan dari penyakitnya itu. Namun sayangnya sudah sampai satu minggu penyelundup tersebut belum juga bisa ditemukan dimana keberadaan dan siapa pelakunya.


Saat kejadian kecelakaan yang mengakibatkan kakek Sultan terkena serangan jantungnya, Irvan yang saat itu baru pulih dari pingsan mau gak mau harus berbagi darahnya untuk Dara yang jadi kumat karena syok melihat kepergian kakek tercintanya, kakek yang sekalinya memang sudah mempersiapkan kado besar untuknya, yaitu rumah mewah diJerman yang sekarang ini dia tempati beserta isi dan juga mobil.


Sekarang sudah sepuluh hari dari hari tragedi itu, tubuh lemas mereka berdua sudah berangsur pulih dan hari ini Dara sudah diizinkan pulang kerumah dengan syarat kontrol rutin seperti sebelumnya.


Walaupun Dara sempat diracuni obat namun karena penangan para dokter yang tepat akhirnya dia selamat dari maut. Hanya saja masalah keracunannya masih ditutupi darinya, saat itu orang orang sudah kompak berbohong tentang adanya orang yang ingin mencelakainya. Itu semua berdasarkan kesepakatan para dokter yang menanganinya demi menghindari syok dan traumanya kambuh kembali.


(08:00 Malam, diruang keluarga sambil duduk nonton tv)


"Pagi tadi aku baru aja keluar dari rumah sakit, masa besok kakak sudah mau pulang ke Indonesia sih?" tanya Dara dengan manja


"Kamu lupa ya? kan kamu sendiri yang sudah minta supaya kakak nemenin kamu satu minggu lagi, dan sekarang kakak malah sudah sepuluh hari disini, berarti sudah lebih dari nurutin permintaanmu kan, masa masih salah lagi?" sahut Irvan sambil membelai belai rambut gadisnya


"Tapi situasinya kan beda kak!" rengek Dara dengan mata yang mulai berkaca kaca karena lagi lagi jadi teringat alm.kakeknya


"Dek.... kok sedih lagi? sudah aah sini!" Tangan Irvan langsung menarik bahu Dara kedadanya. "Masa kakak mau pulang ditangisin gitu sih, jadi gak tenang nih!" kata Irvan lalu tangan Dara langsung melingkar kepinggang Irvan dan memeluknya dengan erat.


DEGDEG, DEGDEG!


Jantung Irvan seketika berdebar debar tidak nyaman. Walaupun dia sudah bertekad mengikhlaskan cintanya pada Dara untuk Arga, namun dilubuk hatinya yang paling terdalam dia masih tidak rela melepaskan Dara untuk pria lain. Mungkin setitikpun harapan tidak akan ada untuknya, tapi itu tidak sama sekali mengurangi rasa cinta dan sayangnya terhadap gadis didekapannya itu.


"Kakak aku takut, aku takut itu terjadi lagi, aku gak akan sanggup, kakak jangan kemana mana!" ucap Dara dengan suara lirih


"Sayang, kamu jangan mikir kayak gitu. Kamu kira hati kakakmu ini tenang meninggalkan kamu sendiri disini? asal kamu tau aja walaupun ada perawat dan Arga yang bakal ngejagain kamu tapi kakak masih khawatir dengan keadaanmu!" sahut Irvan yang hatinya semakin merasa tidak rela.


"Yaa kalau gitu kakak disini aja sampai hasil tes darah kita keluar dan nanti kita sama sama pulang KeIndonesia nya! kalau nggak besok kakak langsung aja bawa aku ke Indonesia, biarin aku nggak usah lanjutin penelitian darahnya yang penting aku terus sama sama kakak pasti nggak apa apa kan, dan kalau akan terjadi apa apapun kita bakal sama sama ngalaminnya, iya kan?!"


"DARA!!.... EEEEUUUGH!!" bentak Irvan gregetan sampai menggreget gigi atas bawahnya karena tidak tahan ingin menggigit. "AWAS!!" sambil tangannya membuka pelukan Dara yang melingkar dipinggangnya lalu beranjak dari duduk dan langsung melangkah kepintu depan.


BLAM!!


Karena terlalu marah Irvanpun ingin menyendiri, dia duduk diteras depan untuk sekedar meredakan emosinya.


"Dara... Kamu nggak tau aja kalau perasaanku sekarang ini lebih nggak tenang dari apa yang kamu pikirkan! kali ini aku bukan hanya cemas akan penyakitmu tetapi juga karena aku baru tau kalau ternyata ada orang yang berniat jahat sama kamu disini!" gumam Irvan sambil menjambak rambutnya sendiri. "Andai aku bisa memilih tentu aku akan lebih memilih menjaga dan membawamu kemanapun aku pergi!" lanjutnya

__ADS_1


Lalu tidak lama kemudian Irvan kembali berdiri dan berniat pergi kerumah sebelah, yaitu rumah Arga.


Setibanya disana, ia disambut baik oleh ibu tiri Arga yang memang kebetulan tidak ikut ke Indonesia bersama suaminya yang dari minggu lalu mengantar jenazah alm.kakek Sultan sampai kepemakaman karena mau gimanapun tentunya dia ikut merasa bertanggung jawab atas insident yang terjadi atas meninggalnya alm.kakek Sultan yang bersangkutan dengan mobil beserta supir putra satu satunya itu.


"Ayoo kak kita ngobrol dihalaman belakang aja kayak kemaren!" ajak Arga menuju kursi dekat kolam renang. Setelah mereka berdua duduk, Irvan tidak langsung bicara dan malah melamun didepan Arga.


"Ada apa kak, kok keliatannya serius banget!" tanya Arga karna melihat Irvan berwajah kusut tidak cerah seperti biasa


"Nggak ada apa apa Ga, tujuanku kesini sama seperti malam itu. Aku cuma mau bilang kalau aku titip Dara sama kamu!" jawabnya sambil memegangi kening


"Kak Irvan kenspa, lagi ada masalah sama Dara?" tanya Arga curiga


"Anak itu terlalu labil, bahkan saat dia lagi lupa ingatan seperti sekarangpun sifat kekanak kanakannya masih sama saja kayak dulu! dia gak pernah mau mengerti kalau orang lagi cemas mikirin keadaannya, dia malah selalu nambah bikin hati jadi khawatir!" curhat Irvan gelisah membuat Arga jadi terpancing ingin bercerita juga padanya


"Kak, kalau menurutku sebenarnya wajar aja kalau dia memiliki sifat seperti itu, jangankan dia yang keadaan fisiknya lagi gak baik, aku yang sekarang sudah sehatpun sering merasa jenuh dengan kehidupanku yang banyak aturan. Terkadang aku sempat berpikir ingin pergi jauh membawa Dara ketempat dimana aku gak diatur papahku. Tapi nyatanya aku masih belum mampu melakukannya, aku sadar sekarang ini masih berpangku sama papahku, dan dia juga sudah mengikat aku agar aku selalu menuruti kehendaknya, kalau nggak, maka mamah dan adikku yang diJakarta akan ditelantarkannya. Mungkin kalau aku sudah bisa berdiri sendiri pasti aku gak akan peduli lagi dengan ancaman itu!


Jadi sebelum kecelakaan disekolah dua tahun lalu, papahku memang sudah punya rencana membawaku ke Amerika, tapi aku menolak dan sempat beberapa minggu tidak kembali kerumah karna aku berlindung dirumah alm.nenek Fatma, dan waktu kecelakaan itu terjadi papah mengambil kesempatan membawaku pergi pada saat aku tidak sadarkan diri.


Dan dari situlah kehidupan terpurukku dimulai, saat aku sadar dalam keadaan fisikku yang nggak bisa apa apa, ternyata akupun sudah terpisahkan dari orang orang yang aku sayangi.


Sampai sekarang inipun aku belum ada sama sekali bertemu mamah dan adikku lagi, aku sudah rindu sama mereka!" cerita Arga sambil melamun.


Ditambah lagi aku juga tau kalau setelah kepergianku yang tanpa izin membuat Dara jadi mulai sakit sakit tambah parah, aku selalu memantau dia melalui sosial media dan saat itu aku ingin sekali memberi taunya kalau aku baik baik saja dan akan segera kembali padanya! tapi aku bisa apa? disisi lain aku terkekang, sedikit pun tidak boleh berkomunikasi dengan semua yang kukenal diIndonesia, papah selalu mewanti wanti jangan sampe ada yang tau keberadaan kami!.


Duuh Kak Irvan maaf ya? kakak udah kesini malah jadi dengerin aku curhat panjang lebar!" ucapnya seusai bercerita.


"Nggak apa apa Ga, aku malah senang kalau kamu mau terbuka sama aku. Setidak aku jadi merasa tenang karena tidak salah mempercayakan Dara sama kamu!" sahut Irvan tanpa ekspresi


"Iya kak tenang aja, aku pasti jagain dia dengan seluruh kemampuan ku, karena semenjak aku bertemu dengan dia lagi disini ya walaupun dia lagi tidak ingat apapun, tapi setiap bertemu dengannya selalu membuat semangat hidupku bangkit lagi, bahkan kehadirannya setiap hari bisa mengobati kerinduan ku pada Indonesia, salah satu nya dengan masakan yang dibuatnya!" kata Arga sambil tersenyum senang membuat Irvan jadi ikut tersenyum namun senyumnya Irvan terpaksa karena menutupi rasa cemburunya.


Kemudian Irvan langsung berdiri dan berpamitan, tapi sebelum dia mulai melangkah Irvan sempat mengatakan satu pesan lagi untuk pacar gadisnya itu.


"Arga, mungkin setelah besok aku pulang ke Indonesia aku nggak akan pernah lagi menemui Dara, walaupun ditiga bulan berikutnya sampai pas setahunpun aku akan berusaha menjaga jarak darinya. Tapi tenang aja, aku tetap akan kenegara ini untuk melanjutkan tes darahku untuknya." ucap Irvan kaku


"Loh kenapa Kak? kalau kak Irvan punya masalah sama Dara kan masih bisa dibicarakan baik baik terlebih kalian itukan sudah seperti saudara kandung sejak kecil, tapi kenapa cuma karena masalah sedikit kakak sampai tidak mau menemuinya lagi? itu nggak akan adil buat dia kak! bagaimana kalau suatu hari nanti ingatannya sembuh dan mendapati sikap kakak seperti ini padanya saat dia sakit! dia baru aja kehilangan orang yang disayangnya, masa sekarang kakak tega meninggalkannya juga!" protes Arga panjang lebar


"Kamu nggak ngerti Ga, dan gak akan pernah mengerti. Lagian setelah lulus kuliah aku akan segera menikah dengan wanita pilihan orang tuaku, jadi nggak mungkin aku akan selalu menemaninya lagi seperti sekarang. Jadi aku mohon, jaga dia baik baik!" ucap Irvan lalu melangkah pergi

__ADS_1


Arga yang dibuat bingung dengan sikap anehnya pun hanya mampu menjawab "Ya,baiklah!"


Arga tidak ingin menahannya lagi ataupun menawarkan mengantarnya pulang seperti malam itu.


FLASHBACK:


Jadi dimalam saat Irvan menemui Arga, pulangnya Argapun mengikutinya kerumah Dara karena sengaja ingin bertemu kakek berniat menawarkan mobil beserta supir pribadinya untuk mengantar mereka sampai kebandara karena dia sendiri pagi pagi sekali sudah harus berangkat kuliah.


Malam itu mereka sedikit bercengkrama yang tentunya kakek pun banyak berpesan pesan padanya. Namun siapa yang menyangka kalau pertemuan mereka malam itu adalah pertemuan terakhirnya. Maka dari itu, malam ini Arga sengaja tidak ingin menawarkan supirnya lagi untuk mengatar dia ke bandara jadi....


"Kak Irvan tunggu!!" panggilnya sambil menghampiri, Irvan yang sudah agak jauhpun langsung berhenti dan menoleh kearahnya.


"Kak Irvan, aku akan nurutin semua pesan pesan kakak tadi, tapi izinin aku sendiri yang akan mengantar kakak sampai bandara!" pintanya,


"Bukannya besok pagi kamu harus kuliah?"


"Nggak kak, besok aku mau jagain Dara aja seharian, soalnya aku takut dia kenapa napa lagi setelah kakak tinggal pulang seperti hari itu!" Irvan pun mengangguk menyetujuinya


"Kalau gitu besok antar aku lebih pagi lagi dari jam yang kemarin!" sahutnya lalu pergi.


Setelah Irvan sudah keluar dari rumahnya, ibu tiri Arga tiba tiba menghampiri Arga yang sudah bersiap mau kekamarnya.


"Arga, Irvan itu sebenarnya siapa sih? dengar dengar dia bukan saudara aslinya Dara, tapi kok orang tuanya ngijinin mereka tinggal serumah ya? apa pantes kayak gitu? kan kumpul kebo jadinya!" tanyanya usil


"Bukannya anda orang yang berpendidikan? tolong yaa anda jaga mulut sama bahasanya!" sahut Arga cuek sambil bersiap naik ketangga lalu tiba tiba berhenti sejenak,


"Ooiya, dengar dengar diIndonesia lagi viral sebuah sebutan buat orang yang merusak rumah tangga orang lain, anda kan orang yang suka cari berita, jadi saya minta tolong carikan istilah sebutan itu untuk saya, bisa kan?" ucap Arga lalu pergi kekamarnya


"Kurang ajar tuh anak! kalau bukan karna kamu pewaris utama seluruh kekayaan papahmu, pasti udah aku racunin dari dulu. Huh! liat aja nanti, kamu bakalan menyesal udah segala nyindir aku barusan!" gumam ibu tirinya mengancam dalam hati.


(Dirumah Dara)


Setibanya diruang tengah, Irvan mendapati Dara masih diatas sofa persis diposisi saat dia tinggal tadi. Dengan tv yang masih menyala, gadis mungil itu tertidur tanpa selimut maupun bantal.


"Loh.. Sovia kemana, apa dia sudah tidur duluan?" gumam Irvan tanpa berniat membangunkan apalagi memindahkan Dara kekamarnya.


Kemudian dia hanya melirik sekilas kearah Dara yang matanya terlihat bengkak sehabis menangis, lalu dengan acuh Irvan langsung masuk kekamar berniat ingin segera mengemasi barang barang bawaannya untuk besok pulang.

__ADS_1


"Besok pagi pagi sebelum dia bangun aku harus sudah pergi dari sini, aku nggak mau denger rengekanya menahanku lagi apalagi sampai melihat airmatanya terjatuh, bisa bisa aku nggak akan sanggup melangkah keluar lagi dari sini!" pikirnya sambil memelas.


"Maafin mas dek, mas melakukan ini justru karena mas sangat sayang sama kamu. Setelah mendengar cerita Arga tadi mas langsung tersadar kalau mas cuma akan menjadi pengganggu kalian nantinya, dan mas gak mau jadi penghalang kebahagiaanmu, jadi sekarang mas benar benar sudah putus akan berjaga jarak darimu demi menjaga perasaan Arga, perasaan ku juga perasaan calon istriku kelak!"


__ADS_2