Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
#96. Godaan Baru


__ADS_3

Dua minggu sudah berlalu, hari demi hari silih berganti, begitupun dengan perasaan sedih Dara yang saat mengingat sikap Irvan kepadanya tempo hari, namun siapa sangka setiap kali Dara mencium aroma parfum dan melihat boneka pemberian Irvan, pasti selalu merasakan aura kehadiran pria itu didekatnya.


Memang saat itu pertemuan mereka begitu singkat yang diakhiri menyakitkan, tapi tidak tau mengapa perasaan sedih itu kini malah berubah menjadi rasa rindu yang tidak jelas dihati Dara.


Saking rindunya sampai sampai seringkali saat Dara duduk didepan cermin kamarnya, ia melihat sosok bayangan kakak angkatnya dari pantulan cerminnya itu, sosok yang sedang berbaring diatas ranjang dengan posisi yang sama persis saat mereka tidur bersama malam itu.


Sesekali Dara memperhatikan handphone yang pernah dibantingnya.


Handphone yang saat itu menyimpan nomor telpon Irvan dan banyak foto kenangan mereka saat bersama.


Namun sayangnya, walaupun kini handphone itu sudah diperbaiki, tapi tidak ada satu fotopun yang tertinggal dimemorinya, begitu juga dengan nomor Irvan yang sudah sengaja dihapus oleh orangnya sendiri saat perjalanan keBandara waktu itu.


Memang sebenarnya bisa saja Dara meminta nomor Irvan dari mamah, Arga, atau yang lainnya, tapi untuk apa pikirnya? kalau orangnya sendiripun sengaja menghapus dengan tujuan agar mereka tidak bisa lagi saling berkomunikasi.


TOK TOK! KRIEET..


"Nona, apa nona sudah siap? tuan Arga dan tua Roy sudah menunggu didepan!" panggil Sovia yang sudah rapi dengan pakaian santainya.


"Iya sudah, tolong katakan sama mereka kalau saya hanya tinggal memakai mantel saja!"


"Baik nona!" sahut Sovia sambil menutup kembali pintu kamarnya.


"Kok perasaanku nggak tenang begini ya? padahal sore ini Arga mengajak kami semua piknik ketaman, seharusnya aku senang!" gumam Dara yang tanpa ia sadari warna kulitnya sudah menguning. Dan saat beranjak dari duduk, Dara melihat sosok Irvan sudah berdiri dihadapannya dengan wajah tanpa ekspresi.


"Kak Irvan?" sapanya, namun tiba tiba saja pandangannya langsung memudar dan semakin gelap, Syuuuuung.... BRUG!


Perbedaan waktu antara Jerman dengan belahan bumi Indonesia adalah seperempat hari, yang mana saat ini diBandung sudah pukul tujuh malam yang seharusnya Irvan sudah berada dirumah bukan dikantor seperti sekarang ini.


"Aduh! Kok perasaanku dari tadi nggak enak ya?" tanya pada diri sendiri


TOK TOK!


"Permisi pak Irvan?" sapa Melisa sekertarisnya


"Iya masuk Mel!" sahut Irvan dengan ramah, Melisa pun berjalan berlenggak lenggok menghampiri meja Irvan yang berjarak sekitar lima meter dari depan pintu yang membuat pesona gemulai tubuhnya agak lama terpandang, namun Irvan yang sedang fokus dengan dokumen ditangan tidak melirik sedikitpun kearahnya. "Ini pak pembahasan rapat untuk besok siang sudah saya susun dan semua bahannya sudah saya kirim kekomputer bapak!" kata Melisa


"Ooh iya taruh aja disitu nanti saya periksa!" sahut Irvan dengan masih tidak melihat kearahnya. Melisa yang selama ini selalu ingin mencari perhatian Irvanpun hanya diam menunggu bossnya itu melihat kearahnya. "Kamu tunggu apa? kamu sudah boleh pulang kok!" sambung Irvan yang sadar kalau Melisa masih diruangannya.


"Pak Irvan gak mau saya temenin aja pak? saya perhatikan sudah beberapa hari ini bapak lembur terus, apa nggak capek?" Tanya Melisa yang langkah kakinya mulai mendekati kursi Irvan.


"Tidak usah, terima kasih, lebih baik kamu pulang sekarang soalnya besok pagi kamu harus bantu mempersiapkan tempat untuk para dewan yang akan hadir!" Jawab Irvan yang wajahnya terlihat kusut karena lelah

__ADS_1


"Apa bapak yakin gak mau saya bantuin atau hanya sekedar memijat? saya bisa looh!" tanyanya berbisik disamping telinga Irvan yang sontak mengejutkan bosnya itu. Dan saat Irvan menolehkan kepalanya kearah Melisa, tau tau pose wanita seksi itu sudah membungkuk mengarah kepadanya yang membuat belahan dada besarnya jadi sangat terlihat jelas.


"ASTAGA MELISA APA APAAN KAMU? KELUAR DARI RUANGAN SAYA!!" bentak Irvan yang langsung berdiri menghindarinya.


Karena merasa gagal merayu, Melisa pun bergegas keluar kantor dengan rasa malu.


"Huuuuft!!... ada ada aja sih!" gerutu Irvan sambil kembali duduk dikursi kerjanya. "Ah, perasaanku juga kenapa jadi tambah gelisah begini?" gumamnya saat memandangi foto diatas meja


Besok paginya saat briefing selesai, Irvan menyampaikan satu peraturan baru dikantornya. Peraturan yang dikhususkan untuk seluruh karyawan kaum hawanya, yaitu :


"Mulai hari ini untuk semua karyawati, saya MEWAJIBKAN agar memakai pakai longgar tidak boleh press body, atasannya harus tertutup sampai dada dan bagi yang memakai rok harus dibawah lutut. Saya tidak mentolerir apapun alasan untuk pakaian ketat apalagi terbuka. Jadi bagi yang merasa berpakaian tidak sesuai aturan tadi, saya beri waktu satu jam dari sekarang untuk pulang berganti pakaian, bila tidak terima dengan aturan ini silahkan ajukan surat pengunduran diri, terima kasih!!" pesannya yang tanpa melirik sedikitpun kearah sekertasis yang berdiri tepat disampingnya itu.


Semua yang diruangan saling berbisik satu sama lain dengan teman disebelahnya, dan hampir semua karyawati berpakaian sesuai aturan kecuali Melisa.


Satu jam kemudian:


TOK TOK TOK!


"Masuk!" sahut Irvan dari dalam dengan tetap memperhatikan laptopnya.


TAP TAP TAP! suara langkah kaki terburu buru menghampiri mejanya.


"Maaf pak Irvan, apa bisa saya minta waktu bapak sebentar?" pinta Melisa


"Apa saat briefing tadi bapak menyindir saya? saya kan malu pak!" Irvanpun mengangkat kepala dan melihat kesekertaris dihadapannya yang sudah berganti pakaian sesuai aturan baru.


"Menyindir kamu? apa tadi saya ada menyebut nama kamu?"


"Bapak memang tidak ada menyebut nama saya, tapi tadi cuma saya saja yang harus pulang berganti pakaian!"


"Ooya? kenapa bisa begitu, apa yang lain tidak mau ikut aturan baru?"


"Bu,bukan begitu.. yang lainnya sudah berpakaian standar!"


"Bagus kalau begitu, jadi apa masalahnya?"


"Yaa justru karena cuma saya yang harus berganti pakaian, jadinya semua mata tertuju pada saya dan pastinya mereka juga sudah menyebar gosip tentang saya, saya kan malu pak!"


"Pheeww... saya gak paham dengan maksud kamu, jadi sekarang ini mau protesin apa? kamu kan sudah berganti pakaian, jadi apa lagi yang kamu khawatirkan?" tanya Irvan sambil berpaling kembali memandang layar laptopnya.


TAP TAP TAP!! tau tau Melisa berjalan mengitari meja bermaksud menghampiri kursi Irvan dan tanpa segan ia menangkap tangan atasannya itu. "Apa bapak benar benar gak pernah mengerti dengan tujuan yang saya lakukan selama ini?"

__ADS_1


"Mel apa maksudmu?!" dengan cepat Irvan menarik tangannya kembali


"Bapak ingin tau alasannya? Saya sudah menyukai bapak sejak awal saya masuk kekantor ini, saya sudah melakukan apapun supaya menarik perhatian bapak tapi kenapa sampai saat ini tidak sedikitpun bapak memandang saya?" ucap Melisa secara terang terangan yang membuat Irvan jadi kaget


"Melisa! saya tidak pernah membeda bedakan karyawan disini termasuk kamu. Lebih baik kamu cepat keluar dari ruangan ini atau tidak usah kembali lagi kekantor ini!" gertak Irvan karena ilfil


"Bapak rela memecat saya?"


"Kenapa tidak? saya lebih baik kekurangan karyawan daripada mempertahankan satu karyawan yang tujuannya bukan untuk kerja! silahkan keluar sekarang!" perintah tegasnya membuat Melisa jadi takut dan langsung berlari keluar ruangan sambil menangis.


TING!


Napas Irvan tersengal sengal karena emosi, dengan malas dia melihat notifikasi handphone yang barusan berbunyi.


"Ck! siapa sih nih?!" sambil membuka layar handphone yang pemberitahuannya satu foto kiriman dari Roy.


"Aah paling dia kirim foto lagi dirumah Dara!" gumamnya cuek tanpa membuka fotonya.


Tidak lama kemudian karyawan front officenya memberi tau kalau para atasan dari kantor lain sudah datang dan sedang menunggunya dilantai bawah :


"Oke oke, saya akan segera kebawah!" sahutnya terburu buru menutup laktop, dan saat ia mengemasi barang yang mau dibawa tiba tiba tanda peringatan di handphonenya berbunyi, TRET!!


"Waduh batre hapenya udah lowbat sekalinya!" gumam Irvan yang langsung mengecash kemudian meninggalkan handphonenya tersebut didalam ruangan.


Tanpa terasa haripun sudah semakin siang yang menandakan jam rapat kantor akan segera dimulai.


Irvan yang dari tadi menemani tamu undangannya masih belum juga kembali keruangan dan malah langsung memulai rapatnya setelah mereka makan siang.


(Dirumah Dara diJerman)


"Gimana kak Roy apa kak Irvan sudah membalas pesannya?" tanya Arga yang dari semalam tidak bisa tidur.


"Boro boro dibales, diliat aja belum! ditelponin juga gak diangkat angkat nih!" jawab Roy dengan nada jengkel sambil masih mengetik layar ponselnya


"Kayaknya kak Irvan itu memang sudah niat banget ya mau menjaga jarak sama Dara? sampe sampe sudah nyiapin darah cadangan segala kesannya kayak udah gak mau peduli lagi! Ya Tuhan kenapa harus cuma darah kak Irvan yang cocok buat Dara sih, kenapa nggak darahku aja?" tanya Arga sambil menatap kelangit langit membuat perasaan Roy jadi ikut lirih melihatnya


"Irvan, Irvan, kebangetan banget sih kamu tuh! terbawa perasaan boleh aja, tapi jangan dicampur adukan dengan kesehatan orang dong, kalau kayak gini sama aja kamu sedang mempermainkan nyawa orang! lama lama aku jadi kurang respect sama kamu!" tulis pesan Roy yang dikirim ke Irvan


"Apa saya langsung hubungin mamahnya Dara aja ya kak? tapi, beliau kan sebentar lagi mau ngurus empat puluh hari kakek Sultan, selain masih berduka pastinya lagi repot banget disana. Kalau aku kabarin keadaan Dara sekarang ini pasti cuma nambah beban dan juga permasalahan Dara sama kak Irvan bakalan jadi tambah besar kalau orang tua mereka sampe tau, iya kan?! Kira kira aku harus gimana dong kak Roy?" tanya Arga kelimpungan mencari jalan keluar


"Jangan Ga jangan! kalau bisa orang tua mereka jangan sampai tau dulu masalah ini. Bukannya apa, tapi kita harus bantu menjaga tali silaturahmi orang tua mereka, jangan sampai gara gara permasalahan anak jadi bikin para orang tua ikut berselisih!" pesan Roy

__ADS_1


"Itu juga yang sebenarnya sedang aku pikirkan kak!" sahut Arga sembari menguasap rambutnya


__ADS_2