Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
#102. Firasat Teguran


__ADS_3

Irvan berjalan tergesa gesa dari teras depan menuju kekamarnya, dengan cepat menyambat ponsel yang tergeletak diatas meja kerja lalu membuka layarnya.


Diwajahnya sangat terlihat jelas kalau dia sedang merasa was was dengan kemungkinan yang terjadi setelah mendengar cerita dari si Mamang tadi.


Dengan hati mulai berdebar debar, Irvan mulai membuka notifikasi beberapa pesan dan email yang banyak masuk.


Namun dalam hitungan detik, ekspresi cemasnya itu berubah menjadi kaku setelah ia selesai membuka semua notifikasinya.


Tidak tahu kenapa, dia merasa agak sedikit kecewa karena sekalinya tidak ada satupun pesan yang berhubungan dengan Dara, tapi disisi lain hatinya juga ada perasaan senang dan lega karena dia tidak mendapat kabar yang dia khawatirkan dari tadi.


Sambil masih menscroll pesan pesan yang terakhir masuk, mendadak ibu jarinya berhenti menggulir layar tepat diatas sebuah nama. Dia langsung tertegun karena tiba tiba saja teringat kembali ucapan dari seseorang yang baru dua hari lalu telah mengatakan kata kata kasar kepadanya.


"Apa jangan jangan si Roy beneran marah dan dia beneran nggak mau lagi menghubungiku?" gumamnya bertanya sendiri.


Kemudian terbesit sebuah kecurigaan didalam batin sensitifnya karena


semenjak pagi itu, dimana yang hari sebelumnya Irvan telah meninggalkan handphone diruang kantor selama seharian penuh, yang membuat dia tidak tau sama sekali kalau sudah banyak pesan dan panggilan masuk dari Roy telah terlewat, akhirnya sejak itulah hingga sekarang ini Irvan belum berani menghubungi sahabatnya yang berada diJerman itu.


Bukan karena Irvan tidak mau menelpon balik atau sekedar berkomentar pada pesan kirimannya, tetapi waktunya sudah sangat terlambat untuk membalas dan membahas masalah itu, makanya Irvan lebih memilih diam.


Diamnya Irvan saat ini, karena dia sangat paham dengan sifat Roy yang paling tidak suka menunggu dan menunda, jadinya dia juga tau kalau saat ini Roy pasti sudah sangat kecewa kepadanya, tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau kecewanya Roy itu bisa sampai berhari hari begini yang belum memberikannya kabar lagi.


"Hhuuuufft.. (menghela napas)


aku nelpon dianya nanti aja deh kalau kira kira emosinya sudah mereda. Kalau sekarang percuma juga, pasti dia gak bakalan mau denger apapun alasanku!" ucapnya memelas.


Irvan memang sudah berniat ingin menghubungi sekaligus meminta maaf atas kejadian saat itu yang sudah membuat Roy jadi salah paham kepadanya. Ya, kesalah pahaman diantara mereka memang sangat jelas sudah terjadi!


"Kalau dia memang marah besar padaku, apa mungkin sampai kejadian apapun yang terjadi sama Dara dia tetap nggak mau ngasih kabar ke aku?" pikirannya langsung kembali cemas.


"Aah, nggak nggak! pasti memang nggak ada terjadi apa apa sama Dara, aku nggak boleh mikirin yang aneh aneh lagi tentang gadis itu, aku yakin kalau saat ini dia pasti dalam keadaan baik dan lagi bahagia bersama Arga!" bisik dibibirnya berusaha menepis pikiran negatifnya barusan.


"Aku berharap kalau perasaan yang lagi tidak tenang dihatiku saat ini cuma perasaan lain yang sebenarnya sedang aku rasain... yaa, aku memang sedang merindukannya, dan akan selalu merindukannya...!" membatin dalam hati berusaha menepis rasa cemasnya.


Tidak tau kenapa tiba tiba matanya ingin sekali melihat kearah jam diatas meja kerja, kemudian didalam pikiran ia menghitung perbedaan waktu antara Bandung dengan waktu diJerman saat ini,


"Sekarang baru jam setengah tujuh sore disana!" ucapnya sambil masih menatap ke arah jam. Kemudian secara tidak sengaja dan tanpa ia sadari tau tau ibujarinya menyentuh kenomor Roy yang saat itu juga langsung menyambungkan panggilannya, KLIK!


Tuuuut...


"ASTAGA!!"


Dia kaget karena sadar tidak sengaja terpencet nomor Roy, dan karena terlalu kagetnya itu dia malah melempar handphonenya keatas kasur. Syuuung... PUK!!

__ADS_1


Tuuuuut... Suara sambungan masih terdengar, kemudian, KLIK!


"Hallo?.. " telah terdengar suara Roy yang sudah mengangkat telpon ketidak sengajaannya itu.


GREEB!


Terpaksa Irvanpun mengambil kembali ponselnya dan mulai berbicara pada Roy karena takut sahabatnya itu jadi tambah marah lagi kalau dia langsung putuskan sambungannya,


"Ii,iya Roy... apa kabar?" tanyanya basa basi


"Kenapa?" tanya Roy singkat dan ketus


"Mm... kamu masih marah? aku, minta maaf atas kejadian hari itu waktu itu aku......"


"Sudahlah Van kamu nggak usah basa basi! aku sudah beberapa kali kasih peringatan sama kamu kalau yang namanya nyesel itu pasti datangnya belakangan, tapi kamu apa?


Hari ini kamu baru balik menghubungi aku setelah beberapa hari lalu Dara kumat! maksudmu apa? apa kamu cuma mau tanya kabar adikmu itu apakah sudah nggak ada (mati) apa belum, Hah?!!" ucap kasar Roy yang sontak menggugurkan semua rasa angkuh dan kepercayaan dirinya selama ini.


"Aku paling nggak suka ya Van sama orang yang selalu mengatakan menyesal setelah dia diberi peringatan! Jadi mulai sekarang semuanya terserah kamu, aku akan jalani peranku sebagai kakak angkatnya Dara yang baru walaupun darahku nggak bisa menyelamatkan hidupnya, tapi setidaknya aku akan hadir setiap kali dia membutuhkan perhatian seorang kakak. Karna bagiku, yang terpenting itu adalah menyelamatkannya bukan mencemburuinya! Sudah yaa." KLIK.


Sedikitpun Roy tidak memberi Irvan kesempatan untuk menjelaskan, yang membuat Irvan jadi terperanga karenanya.


Dengan perasaan perih dihati setelah mendengar kata kata sahabatnya barusan, Irvan kembali meletakkan handphonenya diatas meja kemudian duduk ditepi ranjang sambil melamun.


Tumpukkan perasaan gelisah dan sedih membuat tubuhnya lemas tak bertenaga. Rasa lelah dan mengantukpun mulai menghinggapi. Walaupun bayang bayang Dara beserta suara panggilannya terus saja terngiang menghantui, namun rasa mengantuknya kini membiarkan jiwanya pasrah dan tenggelam dalam bayang gadisnya itu.


Paginya dalam keadaan masih sangat mengantuk Irvan mematikan alarm diponselnya tanpa melihat layar.


Dengan teruyun uyun sempoyongan ia berjalan menuju kekamar mandi untuk segera mempersiapkan diri memulai aktifitas seperti biasanya.


Tidak sampai duapuluh menit dia sudah rapih dan wangi dengan parfum kesayangannya yang sama dengan parfum Dara.


"Aduuh.. udah lewat jam tujuh nih, kayaknya sarapan dikantor aja deh!" gumamnya sambil mengemasi alat alat kantor yang masih berserakkan diatas meja kerja.


Zrrrrtttt... Zrrrttt....


Getar handphonenya yang terpampang foto Indra.


"Ada apa pagi pagi begini nelpon? Klik, Hallo Dra?"


"Van kamu sudah buka vidio yang aku kirim subuh tadi belum?! durasi vidionya terlalu singkat, terus bagian mukanya juga kurang jelas, dan pas aku mau cek kebenarannya sekalinya akun sumbernya sudah diblok, jadi aku sama sekali gak dapat keterangan pastinya, tapi karena sempet curiga makanya aku langsung save terus kukirim kekamu soalnya vidio itu cuma sempat beredar beberapa menit aja dan sekarang sudah dihapus seluruh publik, tapi aku harap itu bukan dia....."


"Tunggu tunggu! aku sama sama sekali nggak paham maksudmu, ngomongnya cepet banget sih?!" keluh Irvan memotong cerita Indra yang terdengar nyerocos hingga membuat kepalanya pusing karena sudah kurang tidur

__ADS_1


"Aduuh, mending kamu liat aja dulu deh, aku juga nggak berani nyebut karena takutnya salah dan aku harap itu memang salah! udah yaa aku mau pulang dulu niih, tadi abis masuk shift malam soalnya!" kata Indra yang bicaranya terburu buru dan tanpa ada kejelasan maksud dari ceritanya, dan tau tau dia sudah menutup telponnya tanpa mengucap salam apapun membuat Irvan jadi kebingungan sendiri.


"Apaan sih si Indra tuh? ngomong kok nggak jelas banget! Vidio? vidio apaan juga yang dia maksud, Hah!" dumel Irvan karena merasa Indra cuma membuang buang waktunya yang sudah hampir terlambat untuk kekantor. Namun karena penasaran, iapun tetap membuka vidio yang Indra maksud tadi.


Vidio yang cuma berdurasi tidak lebih dari lima detik, namun terlihat jelas diantara krumunan wanita wanita berpakaian glamor itu ada sesosok gadis remaja yang bagian wajahnya terhalang orang lain, namun sudah cukup jelas bagi Irvan walau cuma melihat bentuk tubuh dan lokasi kejadiannya saja.


Lokasi yang sangat tidak asing itu sudah Irvan datangi beberapa kali dan bahkan ia singgahi dimalam terakhirnya sebelum pulang ke Indonesia.


Begitu pula dengan gadis yang sedang dikrumuni banyak orang itu, sangat terlihat jelas pakaian yang dikenakannya sudah basah kuyup dengan high heels dikakinya, tubuh mungil itu tentunya Irvan sangat hapal siapa dia.


Seketika itu alis Irvan langsung mengerut dengan kedua bola mata bergertar getar.


ups! satu tangannya menutup mulut yang jadi terperanga saat memutar vidio singkat itu.


Namun tidak tau apa yang ada didalam pikirannya saat ini, tiba tiba saja dia malah langsung me-nonaktifkan handphone kemudian pergi keluar dari kamarnya.


Dan saat ini waktu diJerman masih menunjukan pukul duabelas malam yang mana suasana jalanan dikota Berlin sudah mulai sepi, begitupun dengan suasana didalam rumah sakit Charite tempat Dara dirujuk dari Singapore waktu itu.


Didalam ruang tertutup, Arga yang dari tadi sore setia menunggu Dara siuman, dibibirnya tak berhenti memanjatkan do'a dan pujian syukur. Disisi lain kecemasannya, dia juga merasa bahwa Tuhan masih mengirimkan malaikat untuk gadis didepannya.


Yaa, untung saja pada saat itu papahnya sempat melihat Dara yang baru saja tenggelam kemudian dengan cepat menyelamatkannya, dan juga berkat kesigapan Paula yang tepat memberikan pertolongan pertama, akhirnya kini sudah tidak ada hal lain yang serius terhadap Dara, namun emosi papahnya yang sedang duduk diluar sudah meluap luap siap meletus.


Kltek.. Kltek...


Terdengar suara langkah kaki dari sepatu wanita pelan pelan mendekati kursi tempat dimana papanya Arga sedang duduk.


"Mau apa kamu kesini?" tanya cetus pria yang tampannya menurun ke Arga itu.


"Sa,sasaya.. aa.."


"Besok pagi kamu harus sudah kembali keAmerika, jangan sampai siang hari saya masih melihatmu disini. Kamu sudah tau kan akibatnya?!" ancamnya tanpa menoleh sedikitpun kewanita itu.


"Ta,tapi pah? salah mamah apa? Dara itu kan tercebur sendiri!" ucap istri mudanya membela diri.


Mendengar bantahan itu, papahnya Arga yang sudah sangat syok dan emosipun langsung berdiri, kemudian menoleh sambil menatap tajam kearah wanita yang pintar bersilat lidah itu.


"Kamu bertanya apa salahmu?" tanyanya sambil berjalan pelan pelan mulai menghampiri. Krteg krteg!!


Dalam seketika wanita itupun mulai gugup sampai berkeringat dingin saat mendengar gigi suaminya menggeretak greget seperti sedang mengumpulkan tenaga sebelum melakukan sesuatu.


"Pp,pah....?" Mata wanita itu menyerengit ngeri ketika melihat tangan suaminya mulai terangkat tinggi, dan saat itu juga dia menutup mata mempersiapkan diri untuk menerima rasa sakit.


"PAPAH!!" panggil Arga yang tiba tiba muncul dari balik pintu kemudian dengan cepat berlari dan langsung menangkap tangan papahnya yang sudah terayun.

__ADS_1


"Papah tenang dulu pah, jangan sampai main tangan!" tegurnya.


__ADS_2