Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
Melupakan Mu


__ADS_3

Aku dan Rina pun mulai saling bercerita mengenai hal yang lebih pribadi dari biasanya. Awalnya aku sangat kaget dengan pertanyaan darinya yang sontak membuat aku gugup untuk menjawabnya:


"Van, cewek yang kamu pernah ceritain yang udah bikin kamu berdebar saat dekat dan kepikiran saat jauh itu Dara kan?" tanyanya tanpa ragu


"Hah Rina, kok kamu.. kamu bisa mengira kayak gitu sih? kan aku waktu itu ngenalin Dara itu sebagai adikku, dan a..aku...." bingung


"Sudahlah Van ngapain lagi kamu berusaha tutupin itu dari aku? kan disini cuma ada kita berdua. Lagian sebenarnya aku memang sudah tau dari awal kok, dari pertama kali kamu bawa dia ketempat ku pas dia trauma karena kepergian Arga!" katanya


"Apa, dari pas dia ditinggal Arga? aah mana mungkin kamu bisa tau, bahkan aku sendiri pun belum menyadarinya!" balasku


"Tuuh kan jadi ngaku kan!" oloknya


"Aah sekalinya kamu cuma mancing aku aja ya? nggak nggak aku belum ngakuin apa apa!" bantahku malu malu


"Apaan sih kamu Van, sudah jelas jelas iya masih aja berusaha nutupin. Liat tuh mukamu aja merah kayak kebakar matahari! hahahaaa.. lucu juga yaa kamu kalau lagi jatuh cinta!" tambahnya mengolokku


"Iya deh BU DOKTER aku ngaku kalah, aku sadar gak bisa bohong sama kamu, puas!" sahutku pura pura kesal sambil menahan senyum


"Nah gitu dong kan enak didengernya kalau kamu ngakuin sendiri! jadi, apa nih, apa ada yang mau kamu curhatin sama aku gak sekarang? daripada uneg unegnya kamu tahan sendiri dan gak ketemu jawabannya nanti malah bikin kamu pusing terus uring uringan loh!" tanya dengan santai namun secara tidak langsung memaksa


'Benar juga katanya, aku gak bisa terus terusan memendam ini sendirian, aku memang butuh teman yang bisa aku percaya untuk masalah ini karena ini adalah kesan pertamaku dalam urusan percintaan, mungkin buat orang yang sudah berpengalaman ini cuma hal sepele tapi buat aku ini hal yang besar dan sangat penting untuk diperdalami, aku tidak mau kesan cinta pertamaku ini cuma akan menjadi kenangan yang mudah pudar tertiup angin waktu.'


"Rin, sebenarnya bukan aku gak mau ngaku tentang masalah perasaan ku ini, hanya saja aku sendiri juga masih kurang yakin apa ini benar benar yang dinamakan cinta sebagai kekasih atau aku hanya sayang sebagai kakak terhadap adiknya?" tanyaku ragu ragu


"Seperti yang udah aku bilang tadi Van, aku sudah tau perasaanmu semenjak pertama kali kamu bawa dia kerumahku! dari cara kamu ngomong sama dia, cara kamu memandang dia dan dari cara kamu menceritakan dia keaku, semua itu terlihat jelas!" katanya dengan yakin


"Ma..masa sih? aku aja baru mulai merasa pas belum la... HAh?!! iya iya aku ingat, waktu belum lama dia putusan sama Arga, waktu itu setiap aku liat dia nangis aku juga langsung ikut merasa sedih, jantungku berdebar debar pas liat muka polosnya berlinangan airmata bahkan aku sampe hampir saja menciumnya gara gara gak tahan liat bibirnya jadi merah sehabis nangisin Arga!


pikiranku saat itu pengen banget bikin dia tenang, pengen banget bikin dia merasa gak kesepian dan pengen ngasih tau kalau ada aku yang akan selalu disisinya, iya Rin kamu benar! saat itu aku bener bener gak ngerti karena aku nggak berpengalaman sama sekali dan aku... dan aku..."


"Iya iya sudah aku paham semuanya sekarang!"


"Tapi Rin, aku takut, apa aku salah kalau aku suka sama Dara, terlebih orang orang taunya dia adalah adikku? makanya aku ragu buat mengakuinya apalagi sama ibuku yang banyak protesnya!"


"Loh memangnya kenapa, toh kalian juga sebenarnya gak ada hubungan darahkan? ya gak masalah dong, lagian keluargamu dan keluarganya juga sudah saling sayang jadinya malah bagus gak ribet lagi untuk menyesuaikan, iyakan?" tegas Rina membangun kepercayaan diri


"Iya ya ngapain aku ragu? yang ada kedua orang tua kami pasti sangat setuju kalau kami bersama!" sahut Irvan sembari mengingat pujian yang diberikan kedua orangtua Dara kepadanya.

__ADS_1


"Tapi masalahnya aku sudah pernah mencoba sekali mengutarakan perasaanku sama dia sekitar dua minggu lalu pas papanya baru datang, ya tepatnya tengah malam setelah kejadian pertama kali aku kelahi sama Betrand!" cerita Irvan sambil memelas


"Terus, apa dia nolak kamu?" tanya Rina serius lalu Irvanpun menggeleng


"Dia nggak nolak!"


"Jadi dia nerima!" tanyanya antusias, lalu Irvan menggeleng lagi


"Nggak juga!" Rina langsung terlihat bingung


"Loh kok? nolak nggak nerima juga nggak apa maksudnya sih?!" Rina mulai sewot


"Yaaah kamu tau sendiri kan Dara itu kayak gimana lemotnya, ditambah didalam hatinya juga masih dipenuhi perasaan untuk Arga, jadinya gak nyambung alias gak peka sama ungkapanku sama dia!" Jawab Irvan putus harapan


"Yaa ampun, kalau gitu kan bukan berarti dia gak punya perasaankan sama kamu? cuma tunggu moment nya aja yang pas buat ngutarain perasaanmu itu, jadi jangan pesimis dong! terlebih ini kan cinta pertamamu kan, jadi harus dibawa tenang kalau terlalu buru buru juga malah gak bagus, kesannya memaksa dan terpaksa!" sarannya


"Tapi sekarang dia malah lupa ingatan! apa aku masih ada harapan supaya bisa mendapatkan hatinya? padahal sebelum dia kambuh aku baru aja denger sendiri kalau dia gak bisa jauh dari aku.. hiks.. se..sekarang... sekarang malah dia yang malah menjauh dari aku.. hiks..srrrk!" ucap Irvan sambil menahan tangis


"Sudah Van sudah, kalau kamu sedih apa kamu kira batinnya juga gak ikut sedih sekarang ini?"


"Maksudmu?"


"Terus masalah lupa ingatannya gimana? kalau menurumu apa dia bisa cepet pulih?" tanya Irvan cemas


"Kalau dari pengalaman kerjaku sih kasusnya Dara ini kan karena selain kekurangan oksigen dia itu trauma berat karena habis ditinggal Papanya ya? biasanya sih paling lama setahun atau dua tahun sampe perasaan sakit hatinya berkurang!" jawabnya enteng


"APA DUA TAHUN?!" teriak kaget Irvan


"Sssstttt.... gak pake toak juga kali!" sahut Rina melotot


"Itu baru perkiraanku Van, masalahnya sekarang ini dia kan lagi diperdalami masalah darahnya itu Rumah Sakit Charite Jerman atas permintaan keluarga Papahnya jadi mana bisa aku ikut terapi dari sini, terlebih lagi karena alasan traumanya yang udah bikin dia ngDrop, itu berarti daya ingatnya malah harus ditahan dulu untuk menghindari penyakitnya kambuh selama dia disana, karena kamu juga cuma dibatasin tiga bulan sekalikan mendonorkan darah buat dia selama disana!" penjelasan Rina malah tambah bikin Irvan pusing karena sedih


"Jadi kemungkinkan besar dia sembuh malah bisa lebih dari dua tahun ya? soalnya tadi siang mamahnya nelpon katanya untuk sementara ingatan tentang kehidupan dia di Indonesia memang tidak ditekan sama sekali, seperti katamu barusan, takutnya kalau ingatanya langsung pulih terus dia kumat karena tertekan masalah disini malah bisa bahaya, karena aku juga belum boleh mendonor darah dalam waktu dekat ini, kalaupun bisa pastinya butuh waktu lama buat nyampe disana! kok malah rumit begini sih, apa aku gak boleh jatuh cinta sama dia?" tanya Irvan pesimis


"Aduh Van kamu kok lembek banget ya sekalinya? semangat donk! kamu juga kan banyak kesibukan disini, selain pekerjaan kantor kamu juga mau nerusin kuliah kan, jadi apa yang kamu khawatirkan? sekarang ini kamu berdoa'a aja supaya kalau dia sembuh, ya sembuh segala penyakitnya, sakit darahnya, sakit lambungnya, sakit ingatannya, juga sakit hatinya! iya kan?" saran Rina menyemangati


"Iya bener, gak salah memang aku berteman sama kamu Rin! udah gih pulang sana, udah jam sembilan nih nanti mamahmu nyariin!" kata Irvan nyengir nyengir

__ADS_1


"Asem kamu ya? sudah tenang aja ngusir!"


.


.


.


(Pagi, Rumah Sakit Charite Jerman)


"Mah, Papah ku mana sih kok belum datang datang juga, kata mamah gak bakal lama dia datang? tapi udah mau seminggu ini nggak ada kabarnya, memangnya Indonesia itu jauh banget ya?" tanya Dara dengan kelupaannya


"Iya sayang nanti kalau jaringan telponnya sudah bagus Mamah telpon Papahmu ya? sekarang kamu gak usah pikirin itu, pikirin aja hal hal yang bikin kamu bahagia, ya?" saran Mamah Aina


"Maunya sih gitu, tapi dipikiranku gak ada sedikitpun ingatan yang bahagia. Aku cuma ingat aku bangun terus ada dirumah sakit, mana tuh? Sa..Sa.." mikir


"Samarinda!" sahut Mamah


"Oiyaa di Samarinda, terus tuh kita pindah kerumah Sakit Sing..." mikir


"Singapore!"


"Iya Singapur, dan terus kesini deh, jadinya ya ingatanku ya itu aja! aku yang dari kecil sampe besar segini gimana ceritanya mah? ayoo ceritain dong mah aku pengen tau deh!" rengekan Dara membuat Mamah bingung


"Aaaa..." Mama ragu ragu mau cerita karena takutnya ingatan Dara bisa pulih tiba tiba dan itu bisa membahayakan keselamatannya saat ini


TOK TOK TOK! KRIEET!


"Permisi, aku boleh masuk gak?" sapa pasien sebelah ruangan dengan kursi rodanya


"Hay boleh dong Cowok Indonesia, sini sini!" sahut Dara sumeringah sambil melambaikan tangannya. Mamah Aina pun dengan semangat membantu mendorongkan kursi rodanya mendekat ke ranjang Dara.


"Mamah keluar sebentar dulu ya sayang, mau liat Doni!" pamit Mamah tersenyum lebar meninggalkan Dara berdua


"Kok tumben sendirian, suster mu mana?" tanya Dara


"Ada dia lagi beresin kamarku, Beib kamu sudah sarapan belum, sudah minum obatnya belum?" tanyanya sambil meraih tangan Dara lalu menciumnya

__ADS_1


"Sudah kok, baru aja!


iih kamu ini perhatian banget sama aku, walaupun aku yang gak inget apapun yang sebenarnya, tapi nggak tau kenapa perasaan dihatiku mengatakan kalau aku ini memang beneran pacarmu Arga?"


__ADS_2