Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
Keputusan


__ADS_3


Kemudian saat sudah dibelakang pintu, dengan perasaan was was aku mulai membuka perlahan lahan dan benar saja apa yang dikatakan Doni barusan.


Aku benar benar melihat Arga yang masih menggunakan seragam sekolah tadi dan bahkan dia tidak pakai almamaternya, padahal udara diluar sudah cukup dingin di tambah lagi nyamuk yang bertebaran dimana mana.


Dengan perlahan aku mulai menghapirinya, meskipun dalam hatiku masih bertanya - tanya karena tidak percaya dengan apa yang kulihat dihadapanku sekarang ini.


Melihat dirinya yang ternyata sampai jam segini masih berdiri didepan rumahku, sambil bersandar disamping motornya yang masih terpakir tepat dengan posisi yang sama saat terakhir kali dia mengantarku tadi sore.


Hanya saja yang sudah beda adalah warna langitnya yang tadinya berwarna jingga sekarang sudah berubah menjadi gelap malam.


Dengan wajahnya yang memucat, dia menatapku tanpa ekspresi yang menjadikan aku bertambah bingung harus bertanya dan berkata apa. Rasa kesal dalam hatiku karena perbuatannya dengan Amira bercampur aduk juga rasa tidak tega melihatnyatnya sekarang ini.


Suara debaran jantungku mulai mengiringi langkah kaki yang semakin mendekatinya, dengan kaku bibirku berusaha mengeluarkan pertanyaan kepadanya.


"Kamu, Sejak kapan disini??" tanyaku.dengan harapan dia akan menjawab bahwa dia baru saja datang dari suatu tempat dan kembali lagi kesini.


"Aku menelpon dari tadi tapi kamu nggak angkat, chat ku pun gak kamu buka, aku butuh penjelasan mu!" dengan suara pelan dari bibir tipisnya yang mengering.


"Ma,maksudnya? kamu disini da...." perasaanku semakin nggak enak membuat lidahku jadi kelu


"Iya, aku disini sejak ngantar kamu tadi sore, alu mau nyelesain semua, aku nggak suka kalau punya masalah yang berlarut - larut!" jelasnya, sejenak kami saling memandang, kedipan matanya yang pelan ditambah paras wajahnya yang terlihat sudah lelah menumbuhkan rasa iba dihati,


CTAAAR!⚡


Aku sungguh terkejut karena kecurigaanku tadi ternyata memang benar, aku tahu sekarang ini sudah jam setengah sepuluh malam, dan dia sudah berada disini dari sekitar setengah enam sore tadi.


Tentu saja pengakuannya membuat aku merasa terpukul dan merasa bersalah, aku memang sedang berusaha menjauhinya tetapi aku juga bukan tipe orang yang setega itu membiarkan orang menunggu diluar sampai berjam - jam begini.


Tapi Karena masih marah dan pikiranku juga kacau, aku sama sekali tidak ada niat menawarkan dia masuk ke dalam rumah, walaupun aku tahu selain lelah dia juga pasti sudah sangat lapar dan haus, tapi itu tidak bisa menjadi alasan agar aku berbelas kasih padanya karena tentunya dia selalu bawa uang dan atmnya.


"Gimana aku mau ngasih penjelasan kalau satupun sms dariku aja belum kamu baca, tolong jelaskan sama aku kamu sebenarnya kenapa?!" tanyanya lagi, Aku memang sangat melupakan handphoneku seharian ini, dari mulai masuk kelas tadi pagi sampai sekarang pasti masih tersilent didalam tasku.


"Duh cuma gara gara sms belom dibaca aja kamu nungguin disini!! tadi aku udah tidur, nih gara gara kamu jam segini masih disini si Doni sampe bangunin aku, kamu pulang sana aku mau istirahat!!" alasanku dengan kasar dan sok cuek agar dia cepat pulang


"Gimana aku bisa pulang dengan tenang, kalau kamu marah sama aku tanpa alasan yang jelas!?" katanya sambil mulai berdiri tegap dihadapanku, sebenarnya aku gugup tapi aku berusaha tetap tenang.


"Apa katamu, aku marah marah nggak jelas? kamu beneran gak tau atau pura - pura nggak tau sih? kan seharusnya aku yang butuh penjelasan dari kamu, ada hubungan apa sih kamu sama Amira?!" tanyaku to the point dengan nada santai walaupun rasa sakit mulai terasa lagi dihati.


Dan karena aku tidak suka terlihat lemah didepan siapapun termasuk keluargaku sendiri, maka aku akan tahan emosiku supaya tidak menangis.


Dia menggelengkan kepalanya lalu menghela nafas,


"Huuuuft! Amira lagi Amira lagi, beib aku nggak ada selingkuh sama dia, memangnya kamu dengar dari siapa sih?" tanyanya dengan polos seolah olah tidak pernah berbuat apa apa


Perasaan ku yang tadinya tidak tega melihat keadaannya sekarang ini tiba tiba berubah menjadi risih, karena dia yang masih tidak mau mengakui.


Hubungan kami yang sudah setahun ini telah dia hianati dan yang paling tidak aku sangka dia memilih teman baik diantara kami yang menjadi orang ketiganya.


"Bukan dengar dari siapa siapa Ga! tetapi aku melihatnya sendiri kamu dan Amira disamping kelas belakang tadi siang, bahkan aku juga sudah dengar yang kalian bicarakan!" kataku jelasku


"Yaaa ampuuun, memangnya kamu lihat apa beib? kamu dengar apa?? aku memang ada ngobrol sebentar sama Mira, tapi kami ngobrol biasa aja dan aku nggak ada ngapa - ngapain sama Dia!" dengan ekspresi panik dia masih menyangkal ku.


__ADS_1


Sebenernya aku mau saja mengulang kata - kata Amira dengannya sebagai contoh, namun aku sudah terlanjur jijik untuk membahas masalah ini lagi.


"Sudahlah Ga, terserah aja katamu apa! aku nggak mau bahas lagi !" kataku yang sudah mulai menyerah


"Maksud mu apa beib?!" tanyanya sambil kedua tangannya ingin memegang bahuku, namun aku langsung menepisnya.


"Kamu masih nggak paham?!" tanya ku menekan


"Nggak, aku nggak mau kamu ambil keputusan yang salah, karena kamu cuma salah paham saja sama aku dan Mira!" katanya


"hah! salah paham?! salah paham gimana, ini bukanlah yang pertama dan kedua kali, kamu dan dia memang sering berdua'an, sebelumnya aku memang tidak ada curiga apa pun, tapi tadi siang apa?! Sudah Ga... aku malas!" nada bicaraku mulai meninggi lalu aku berbalik badan


"Aku sudah ilfil dengan sikapmu yang masih berusaha membohongiku, aku udah gak tahan melihat mukamu yang sok suci!" kataku sambil melangkah menuju pintu rumah dan memutuskan menyudahi masalah ini dengan memutuskan hubungan dengannya.


"Beib! tolong dengar penjelasanku dulu sebentar aja, aku akan jelasin semua!" panggilnya sambil mengikutiku


"Jangan panggil beib lagi! aku sudah nggak mau dengar panggilan itu dari mulut mu!!.. PERGI!!" Bentakku, namun dia masih saja melangkah maju


"Beib, kamu ini benar - benar sudah salah paham, semua ini tidak seperti yang kamu kira!" katanya memohon.


"Kamu waras kah Ga?! sudah kepergok masih aja nyangkal!! terus sekarang mau baruau ngejelasin, ngejelasin apa lagi? udah BASI! aku nggak menyangka sifat aslimu kayak gini!" kataku tegas namun suaraku mulai serak menahan tangis.


GREEB!


"Beib aku mohon, dengarkan dulu sebentar!" pintanya sambil menahan tanganku


"LEPAS!! AKU BILANG KAMU JANGAN MENDEKAT!!!" kataku membentak lagi lalu dia melepas tanganku


Langsung aku membuka pintu dan masuk dengan cepat lalu menguncinya,


"Beib dengarkan aku dulu sebentar aja, aku nggak ada ngapa - ngapain sama Mira tadi siang, kemaren, atau kapanpun!!" katanya dengan suara lirih namun tetap terdengar sangat jelas. Jangankan emosi, cara bicaranya saja tidak tinggi seperti tadi siang hanya, pastinya dia tidak mau terdengar ribut malam - malam didepan rumahku.


"Pulang sana Ga, aku tidak butuh penjelasan apa - apa, aku sangat ngerti kalau aku bukan apa - apa dibanding sama Amira, dia lebih cantik, dan memiliki latar belakang yang hebat, nggak kaya aku ini. Sebenarnya aku juga heran kenapa kamu nembak aku? padahal banyak cewek cantik yang suka sama kamu!" kataku sambil memejamkan mata,


"Beib, aku suka kamu apa adanya, buat aku kamu sudah yang paling cantik diantara yang lain, aku gak butuh materi ataupun latar belakang, aku suka sama kamu karena kamu baik, kamu sederhana, dan ku juga......"


"Sudah Ga! mulutmu nggak usah memuji - muji aku yang nggak sesuai sama hati kamu! kamu milih aku karena aku ini bodoh kan, jadi gampang kamu mainin?"


"Nggak beib nggak! aku beneran sayang sama kamu, sekarang kamu buka dulu pintunya ya, biar aku jelaskan semua kekamu! ayoo beib..."


'Apa yang aku lihat dan dengar tadi siang apanya yang salah? ditambah dia juga sudah maki - maki Kiki didepan banyak orang, kalau memang nggak ada apa - apa kenapa sampai emosi, dan sekarang seenaknya mau bujuk aku lagi terus nanti dia begitu lagi? nggak aku nggak bodoh itu, sudah cukup!' pikirku


Dengan ku bulatkan tekat dan mengumpulkan keberanian, sudahku putuskan apa yang harus ku lakukan, Sambil ku tarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan


HUUUUUFFT......


"Arga,nggak ada lagi yang perlu dibahas, sudah jelas semuanya..." kata ku dengan tenang dari balik pintu


"Lebih baik kita PUTUS!" lanjutku,


TOK - TOK - TOK!!! diketuknya pintu dengan cepat.


"Beib,, buka beib...!! apa - apaan ini beib, nggak bisa kayak gini!! buka pintunya, aku akan Jelaskan yang terjadi sebenarnya, beib buka dulu, ku mohon beib, dengerin penjelasan ku dulu dong!!" protesnya dengan panik sambil terus mengetuk pintu.


Aku yang sebenarnya juga masih tidak percaya dengan apa yang sudahku katakan barusan, entah kenapa aku jadi kecewa dengan diriku sendiri hingga tanpa sadar airmataku menetes.

__ADS_1


Kulepaskan tanganku dari daun pintu, tidak tahan lagi mendengan suara Arga yang terus - terusan memanggil akupun melangkah mundur menjauhi pintu.


"Sudahlah Ga, Pulang sana!!" Pesanku, kemudian aku berlari menaiki tangga menuju kamarku


Sesampainya dianak tangga terakhir aku berpapasan depan adikku yang baru saja keluar dari kamarnya, untungnya dia lagi sibuk dengan ponsel ditangannya jadi tidak melihat kalau aku sedang menangis.


"Oiyaa,, Kak barusan mama telpon!" panggilnya, lalu aku berhenti melangkah tapi tidak menoleh kearahnya.


"Mama bilang apa?"


"Mama bilang malam ini nggak pulang, dia masih bikin kue pesanannya tante Ria buat besok di......." belum selesai adikku menjelaskan aku langsung memotongnya.


"Iya." jawab singkat dengan posisi masih membelakanginya lalu segera aku masuk kekamarku karena aku tidak ingin siapa pun melihatku dalam keadaan menangis dan lemah.


Sesampainya didalam kamar aku bersandar dibalikbergetar pintu mengatur nafasku yang terasa berat, kurasakan seluruh tubuhku mulai dan lemas.


Dan akhirnya kubiarkan airmataku mengalir sepuasnya, benar - benar masih tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini, begitu banyak kejadian yang dilewati, kecewa, sakit, syok, dan tidak percaya dengan keputusan ku barusan, tiba - tiba aku merasa telah jatuh dari tempat yang tinggi lalu hancur berkeping.


Dalam sekejap kebersamaanku dengannya berakhir begitu saja karena orang lain, pikiran dan perasaan ku yang gelisah, kesal juga sedih menjadi satu membuat aku tidak berdaya dengan diriku sendiri.


'Aku harus apa? harus apa sekarang?' tanyaku sendiri


Tangisku yang terisak - isak menambah sesak didada, dan lagi aku mulai merasa pusing dikepalaku. Seluruh tubuhku benar - benar merasakan sakit tanpa bedarah namun semakin melemah dan tak berdaya.


Aliran darah terasa tersumbat menutup jalan diurat - urat, padahal detak jantung terdengar sangat kencang memompanya, tulang dan sendi terasa tak bertenaga membuat lutut gemetar.


Bahkan ketika hanya ingin menggapai bantal yang berada diatas ranjang aja, semua itu terlihat sangat jauh padahal cuma berjarak tiga langkah. Dengan pandanganku yang mulai kabur karena tertutup airmata, ku gapai bantal kesayangan.untuk menutupi wajah lalu berteriak didalamnya melampiaskan semua rasa yang mengganjal dihati.


"Yaa Tuhan tolong lah aku...." Teriak ku


Karena saat ini hanya Dia lah yang mampu menenangkan ku, akupun terus menyebut dan memohon ampunan dariNya dalam bisik kan ku yang lirih.


Hati ku yang sedang bergejolak tidak menentu arah nya, ada rasa sedang mendambakan seseorang, ada rasa membenci seseorang, ada rasa mempercayai seseorang, dan juga rasa kecewa kepada seseorang.


'Bukankah sebenarnya kau sedang berpikir tentang kata-kata terakhir untukku?


Maka aku yang telah mengatakannya lebih dulu, karena aku tidak ingin dan tidak sanggup mendengarnya bahkan untuk sedetik pun dari bibirmu.


Namun pada akhirnya kini aku yang sangat terluka, dan apakah aku akan terus hidup dengan membawa luka-luka ini?!


Kini dirimu akan menjadi sebuah kenangan dihadapan ku, namun cintamu yang dulu akan selalu bersamaku selamanya menemani hatiku yang kosong.


Walaupun mungkin suatu saat aku akan melihat kau bersama dengan yang lain,


Dan bagiku itu adalah sebuah hal yang paling kejam dalam kisah percintaan ku..


Dan untuk bayangan mu, pergilah! ku mohon jangan datang lagi pada ku....


Karena aku tahu bahwa satu per satu bagian dari dirimu akan meninggalkanku, bahkan sekarangpun aku mulai merasakan dinginnya sebuah kehilangan.


Seolah-olah sebagian dari tubuhku telah dibawa pergi dan apakah kau tahu ini sangatlah menyakitkan. Jadi, tolong kembalikan lah bagian dari diriku yang telah kau bawa pergi itu..!!


Terbesit sebuah ingatan yang telah lampau, dimana itu adalah saat - saat ketika kita saling tersenyum dengan lucu, bercanda, dan tertawa bersama.


Selalu melakukan hal apapun dengan selalu saling memberi kabar dan selalu membagi kebahagiaan kita bagai akan hidup bersama selamanya, meski kita tahu bahwa keabadian itu sebenarnya tidak lah ada.

__ADS_1


Kita yang terbiasa menyapa sinar mentari pagi dengan sapaan manis lewat ponsel, dan begitu pun mengantarkan malam yang gelap sebelum tidur untuk menyambut saat kita bila masih dapat melihat hari esok dengan semangat.


Namun sayangnya kita tidak pernah berpikiran dan merasa bahwa ternyata sebuah akhir itu begitu dekat dengan kita.


__ADS_2