
"Van kamu kena tembak pas dimananya ini? Terus Dara gimana sekarang?" tanya mama panik sembari mengusap usap perban Irvan
"Apa bener Betrand anaknya Adrian pelakunya?!" tanya papa gregetan
Bla.. Bla... Bla.... (bertumpuk pertanyaan)
Irvan yang bingung harus menjawab yang mana hanya diam menunggu mereka berhenti bertanya, begitu juga dengan Adhi dan Amira yang sedang duduk hanya memperhatikan Irvan dikerumuni tumpukan pertanyaan dari orang tuanya tanpa bisa membantu apa apa.
"Irvan Jawab!!" pinta mereka kompak
"Iya iya aku jawab, tadi bilang dokter Dara dikasih obat tidur dosis tinggi yang efeknya hampir sama dengan biusan, tapi sekarang sudah dinetralisir, jadi tinggal tunggu dia sadar. Tadi setelah pelurunya dicabut Betrand langsung ditahan dikantor polisi, tadi kami bertiga juga sudah diintrogasi dan mungkin sekarang masih memeriksa karyawan hotelnya. Sebenarnya pah waktu kita kemall minggu lalu, saat itu aku lebam bukan karena jatuh tapi aku sama Betrand ...bla bla (Irvan menceritakan dari awal pertikaian, lalu dibantu Adhi dan Amira yang juga melengkapi ceritanya sampai kejadian tadi!)"
Selagi mereka masih bercerita tak lama kemudian sepasang suami istri separuh baya berpenampilan elegan datang menghampiri mereka.
"Mas Haris?" panggil pria kaya yang seketika itu disambut senyuman kaku papanya Dara
"Mas, saya mohon maaf sebesar besarnya atas nama keluarga akibat kelakuan putra saya, dan saya akan tanggung jawab sepenuhnya!" ucap pria itu yang sekalinya papa Betrand
"Iya pak, bu, saya juga mohon maaf atas kelalaian saya sebagai ibu yang kurang becus mengurus anak, hiks!!" ucap istrinya sambil menutupi wajah dengan tangan karena merasa malu yang seketika itu langsung dirangkul oleh mamanya Dara.
Dengan mata yang mulai berkaca kaca papanya Dara mulai bicara:
"Pak Adrian, kita berteman sudah sangat lama yang tentunya kita juga sudah saling mengenal satu sama lainnya. Saya juga tidak sepenuhnya menyalahkan bapak hanya saja sangat disayangkan kejadian ini pelakunya memang putra bapak. Dara itu adalah putri kami satu satunya, dia memiliki riwayat kesehatan yang kurang baik dari kecil, andai saja tadi dia lambat diselamatkan kakaknya mungkin saja ka....."
BRUK!!
"Mas Haris, saya mengerti dan saya benar benar mohon maaf!!" tiba tiba pak Adrian langsung bersimpuh lemas dikaki papa Dara sambil memohon dengan lirih
"Pak Adrian bangun pak, jangan begini, tadi saya kan sudah bilang nggak menyalahkan bapak sepenuhnya!!" sahut papa Dara sambil berusaha mengangkatnya
"Saya benar benar nggak tau harus gimana? sedangkan membalas budi dengan ayah andapun saya belum sanggup!" ucapnya dengan penuh penyesalan
"Sudah pak Adrian sudah, syukurnya putri saya masih selamat, tapi tolong bapak jangan bahas balas budi disini karena nggak pantas didengar yang lain! setidaknya pak Adrian dan istri sudah datang kesini membuat saya percaya kalau bapak memang punya beretikad baik!" kata papa Dara mempercayainya
"Iya Pak Haris, saya akan bertanggung jawab sepenuhnya, bahkan jika beberapa aset saya dimintapun akan saya berikan kalau itu bisa untuk menebus kesalahan anak kami yang tidak tau diri itu, saya dan istri sampai saat ini memang belum pernah menceritakan tentang masa lalu sama anak anak, namun kami tidak menyangka malah membuat sikap mereka jadi arogan!"
"Aah tidak, tidak perlu sampai segitunya, mungkin saya cuma minta pak Adrian membiarkan hukum berjalan seperti seharusnya agar Betrand dapat berpikir lebih baik kedepannya!" pinta papa Dara
"Kalau itu saya memang sudah berencana tidak akan mencarikan pengacara khusus untuknya, karena selama ini kami juga sudah kewalahan menghadapi anak pembangkang seperti dia, jadi ini juga termasuk kesempatan baik untuk membuat dia jera dan sadar!"
"Iya pak Haris walaupun awalnya saya keberatan, tapi setelah saya pikir mau sampai kapan dia begini, saya memang sudah salah karena terlalu memanjakannya dari dulu. Pak Haris, Bu Aina, kalau boleh izinkan saya menjenguk putri kalian?" sambung nyonya Adrian
"Iya iya, ayuu kami juga belum lama tiba dan belum sempat masuk, ayoo pah!!" kata mama Dara yang dari tadi ikut terharu
Saat yang lainnya sudah masuk kedalam, tiba tiba Adhi menahan langkah Irvan yang tadinya mau ikut masuk,
"Van, aku minta waktumu buat ngomong sebentar!" katanya sambil menuntun Irvan duduk dikursi
"Ada apa Dhi, keliatannya serius banget?" tanya Irvan heran karena baru kali ini melihat ekspresi sahabat genitnya itu tegang
"Van, aku minta tolong bantu aku rahasiakan identitas pekerjaanku yang satu itu sama temen yang lainnya?(intel)" pintanya
"Itu aja?" tanya Irvan, Adhi pun mengangguk
"Aaah kirain ada apaan, kalau masalah itu ya sudah pasti Dhi aku tutupin, sedikit banyaknya aku paham kok! yang aku paling kaget itu sejak kapan kamu dekat sama Amira, heh?" tanya Irvan menggoda
"Deket sih baru aja, tapi naksirnya sudah semenjak kamu minta aku nyelidikin tentang dia, waktu itu aku langsung kepincut saat itu juga!" jawabnya sambil garuk kepala karena malu
__ADS_1
"Tapi kan sekarang Amiranya sudah a...."
"Aku gak peduli Van, kalau memang aku dikasih kesempatan sama dia, aku bersedia kok jadi ayah dari anak yang dikandungnya!" jawab Adhi tanpa beban membuat Irvan melepas senyuman bangga padanya
"Hmmm Ngomong ngomong tadi aku gak liat Amira masuk kedalam, kemana dia?" tanya Irvan celingak celinguk
"Dia tadi bilang mau ketoilet, yaudah yuk, bukannya tadi kamu mau masuk kedalam?!" kata Adhi yang langsung beranjak dari duduknya
"Nggak jadi deh kita disini aja dulu, takutnya kalau sampe dilihat perawat didalam terlalu banyak orang pasti kita dimarahin!" Irvan membuat Adhi kembali duduk
"Oiya Dhi, aku mau tanya, kamu kan tadi sudah nembak kedua kaki Betrand, apa gak jadi masalah denfan pekerjaanmu pas diintrogasi tadi?" tanya Irvan penasaran
"Kamu gak perlu pikirin, itu urusanku sama atasan!" Jawabnya santai
"Terus Van, jadi apa rencanamu selanjutnya? kamu beneran jadi lanjut kuliah sama Dara diBandung?" tanya Adhi membuka obrolan baru.
Sepuluh menit setelah itu para orang tua yang tadi menjenguk Darapun keluar dari ruangan,
JEGLEK!!
"Irvan, Adhi dan .... Amiranya mana?" tanya papah Dara
"Lagi ketoilet pah, tapi..... kok lama yaa Dhi?" kata Irvan sambil menoleh ke Adhi
"Aah iya ya?!" sahut Adhi yang juga baru menyadari
"Yaa sudah nanti tolong kalian sampaikan aja kalau pak Adrian akan bertanggung jawab sepenuhnya atas kejadian malam ini. Tadi papah, mamah dan ibu juga sudah berunding tidak akan memperpanjang masalah ini karena mengingat pak Adrian masih berkerabat dengan kita, dan tentunya dengan catatan proses hukum Betrand akan tetap berjalan dengan normal, bagaimana Irvan, Adhi? apa kalian keberatan dengan keputusan kami? karena bagaimana pun selamatnya Dara ini berkat kalian!" kata papa yang seketika membuat Irvan dan Adhi jadi saling menatap sejenak lalu memberi kode,
"Iya pah, kami juga setuju kalau memang Betrand akan tetap diproses sesuai hukum. Tapi pak Adrian, Amira dia lagi ha..... Uuum!!." tiba tiba Adhi menutup mulut Irvan dengan cepat membuat papah dan yang lainnya bingung
"Aah nggak kenapa kenapa Om! Amira juga pasti setuju, iya, pasti!" serobot Adhi menutupi kebenaran sambil tangannya masih menutup mulut Irvan dengan kuat
"Oowh syukurlah kalau begitu, saya benar benar berterima kasih pada kalian semua karena masih mau mempercayai dan masih mau menjalin silaturahmi dengan keluarga kami!" Ucap pak Adrian
"Iya sama sama om!" sahut Adhi sembari melepas Irvan membuat Irvan ketinggalan obrolan
"Ya sudah kalau gitu kami pamit dulu karena masih harus kekantor polisi lagi, dan kalau ada apa tolong secepatnya hubungin saya ya pak Haris?!" pamit pak Adrian dengan mata membinar binar berpelukan dengan papanya Dara, kemudian bersalaman dengan mama, ibu juga Adhi yang disusu istrinya yang juga ikut terharu atas pemberian maaf dari keluarga Dara.
Namun saat menyalami Irvan, pak Adrian memeluknya dengan sangat perlahan karena mengingat cedera tembakan yang diberikan akibat anaknya tadi membuat pak Adrian jadi sangat tidak enak hati sama Irvan dan juga Ibunya.
"Pak Irvan saya minta maaf yaa atas kelakuan Betrand?!" bisiknya
"Iya pak Adrian saya maafkan, tapi tolong jangan panggil saya pak, saya juga masih anaknya papa Haris!" sahut Irvan sungkan
"Bisa aja kamu ini, siapa yang gak kenal sama Irvan sang pengembang usaha termuda diPropinsi ini!" ucap pak Adrian tersenyum bangga sambil matanya masih ingin mengatakan sesuatu namun dia harus buru buru pergi.
Setelah pak Adrian semakin menjauh, dan mamah papah Dara kembali kedalam ruangan, Amira pun datang menghapiri Adhi dan Irvan dengan wajah semakin pucat,
"Amira, kamu kenapa lama banget dari toiletnya dan kamu keliatannya kok jadi tamba pucet?" tanya Adhi sambil memperhatikan wajah Amira dengan seksama
"Ehm tadi agak ngantri ditoiletnya kak! oiya Dara gimana, sudah bangun belum? kita masuk yuk!" sahut Amira mengalihkan pertanyaan Adhi yang belum dijawabnya, kemudian dengan terburu buru dia masuk kedalam
"Amira kenapa Dhi? kamu abis berantem?" tanya Irvan bingung melihat tingkah Amira
"Nggak ada, kami biasa biasa aja kok tadi! kita kedalam juga yuk?!" kata Adhi lalu Irvan mengikuti
Saat masuk keruangan, mama menatap Irvan dengan wajah cemas kemudian menariknya menjauh dari Dara seperti menyimpan pertanyaan yang sangat penting,
__ADS_1
"Van, tolong kamu cerita sama mama dengan jujur!" bisiknya lirih
"Jawab apa mah? aku selama ini nggak pernah bohongi mamah!" jawab Irvan bingung
"Bisa aja kali ini kamu berbohong demi Dara! mama pengen tau apa yang sebenarnya terjadi dan apa tadi Betrand bener bener belum sempat......"
"Iya mah iya, Irvan berani bersumpah kalau Dara benar benar masih suci, Betrand memang susah sempat melepas pakaian luarny dan yang pasti sudah melihat tubuh Dara, tapi dia belum sempat "menyetubuhinya" aku brani jamin itu! kalau memang mama ragu, nanti mama bisa ajakan bawa Dara tes keperawanannya dirumah sakit lainnya setelah dari sini?" Jawab Irvan meyakinkan membuat mama jadi berpikir
"Begini Van, Mama sama papa sudah berunding barusan, demi ketenangan Dara kami rencananya tidak akan memberi tau dia tentang kejadian malam ini karena kebetulan Dara juga sudah tidak sadar sebelum kejadian, iya kan?" kata mama
"Terus alasannya apa, dia pasti nanya kenapa bisa sampai masuk rumah sakit dan nanya Betrand dimana?" tanya Irvan bingung
"Tentunya mama papa sudah pikirkan itu, kita ngarang cerita aja, kita bilang bahwa saat itu Dara sudah tidur didalam mobil dan dia tidak tau kalau mobil mereka kecelakaan saat jalan pulang, tapi orang yang nolong malah bawa mereka keBalikpapan dan berhubung Betrand juga sudah ditahan maka kita bilang aja kalau Betrand tidak kenapa napa jadi dia sudah dijemput pulang orangtuanya!" jelas mama
"Aku sebenernya bingung mah, lagian tujuannya buat apa nutupin kesalahan Betrand?" tanya Irvan
"Bukan demi Betrand Van, justru ini semua demi mental Dara, mama takut dia tertekan dan jadi trauma lagi seperti dulu lagi!" kata mama memelas
"Astaga! Iya Mah, mamah benar! gara gara terlalu emosi tadinya aku malah mau cerita sejujurnya supaya Dara kapok, sampe lupa kalau dia pernah mengalami trauma berat! oke deh kalau begitu, aku akan segera ngomong sama Adhi dan Amira tentang rencana ini sebelum Dara sadar!" sahut Irvan menanggapi lalu dia mengajak Adhi dan Amira keluar ruangan untuk membahas rencananya.
(Setelah berunding)
"Terus alasan luka dibahumu gimana Van?" tanya Adhi
"Hmmm... iya iya aku juga sempet bingung sih tadi, kira kira alasannya apa ya? soalnya kan kamu tau sendiri aku ini gak pinter pinter banget buat berbohong!" jawab Adhi membuat mereka bertiga berpikir
"Kalau bilang kamu kecelakaan gimana Van?" usul Adhi
"Gak bisa kak, buktinya apa? mobil kak Irvan baik baik aja dan lukanya cuma dibahu!" sahut Amira
"Kalau bilang dia kelahi lagi sama Betrand kayak waktu itu?" Usul Adhi lagi
"Itu tambah parah, dia pasti malah jadi khawatir sama Betrand dan juga bener kata Amira barusan gak ada bekas dibagian lainnya, kalau kelahi pasti ada memarnya!" jawab Irvan
"Yaaah kalau masalahnya itu karena lukamu cuma disatu tempat yaudah sini aku tambahin aja deh!!" kata Adhi konyol membuat Amira melotot
JEGLEK!
"Dara sudah bangun tuh! Gimana, kalian semua sudah rundingan belum? cepat masuk yaa.." kata mama berbisik kemereka bertiga dari pintu lalu menutupnya lagi
"Aduuh, apa dong Van alasannya supaya Dara nggak curiga?" tanya Adhi bingung
(Irvan : Thor bantu kasih alasan dong?
Thor : Aku juga dari tadi sudah mikirin Van!
Irvan : Aiis, Authornya lemotnya sama Dara, kayaknya Aku aja yang banyak mikir disini, udah deh mending aku yang jadi author!
Thor : Terus aku ngapain dong?
Irvan : Yaa tetap nulis, tapi jadi assistan ku!
Thor : ?????)
Sambil menatap Dara dari kaca pintu yang sedang dibelai mamanya, Irvan terus berpikir dan pastinya sudah beribu pertanyaan yang sudah berkumpul dibenaknya.
'Dek, kenapa kamu sampai berbohong hanya untuk diam diam menemui laki laki itu? Kenapa kamu tidak minta diantar? kenapa kamu diam aja saat dibawa jauh? kenapa telpon dari mas berkali kali kamu gak angkat? kenapa setelah itu handphonemu malah gak diaktifin? kenapa dek kenapa? mas ada salah apa sampe kamu gak percaya!!' gumqm Irvan dalam hati
__ADS_1