
"Lhoooh kok?!!" ucapku kebingungan sambil membolak - balikan telapak tanganku yang ternyata tidak ada sesuatu apapun yang aku genggam.
"Mas Irvan, kok kita ada disini?!" sambil mataku melirik kesetiap jangkauan mata kearah kamarku dengan posisi ku masih menyandarkan kepala didadanya mas Irvan.
"Kenapa Dek, kok kayak orang bingung gitu sih, lagian kamu cari apa sih ditanganmu?!" Tanya mas Irvan sambil memegangi dan memperhatikan telapak tangan ku.
Segera aku duduk ditempat dari baringku, ku pegang dan ku rasakan senut pusing yang masih berputar - putar dikening ku, perlahan - lahan semua ingatan mulai pulih dan berkumpul lagi menjadi sebuah memori yang utuh diotakku, dan kini aku baru tersadar apa sudah yang terjadi sebenarnya.
'Huuuuhft... Barusan aku cuma mimpi ya?!' tanya ku dalam hati sambil menghela nafas.
Dan tentunya dalam seketika aku merasa sangat kecewa karena semua hal menyenangkan yang terjadi barusan ternyata hanyalah sebuah mimpi tentang kejadian masa lalu membuat aku sampai mengigau!
(Emmm selain Dara, apa ada yang pernah mengalami hal seperti itu? mimpi seperti nyata?!)
Sebenarnya rasa ngantuk yang hinggap masih sangat melekatkan kelopak mataku untuk dibuka, bahkan rasanyanya ingin sekali berbaring dan menarik selimut kembali, namun kicauan burung didepan jendela terlanjur merusak rangakaian mimpi terenak yang barusan masih mengambang diingatanku.
"Masih sakit kah dek?!" tanya mas Irvan yang juga ikut bangun dan duduk disampingku sambil tangannya memeriksa suhu tubuh mulai dari kening, pipi, dan tanganku.
"Sudah mendingan Mas..!" Jawabku sambil menoleh kearah jam dinding yang jarumnya sudah menunjukan pukul setengah enam pagi, dan aku langsung ingat kalau hari senin ini banyak sekali tugas disekolah yang menanti bahkan aku juga harus segera mengembalikan sesuatu ......
"Dek, pergelangan tanganmu ini kenapa biru? sebenarnya mas udah liat dari kemaren, tapi mau tanyain lupa terus, semalam pas kamu tidur baru mas perhatikan lagi ini keliatannya habis memar ya?!!" Tanyanya sambil memegangi tanganku yang masih sedikit ngilu dan lebam karena genggaman kasar Arga hari sabtu kemarin.
"Ini... nggak apa - apa Mas, aku cuma keseleo aja kemaren!" Alasanku sambil buru - buru membuka selimut yang masih menutupi perut hingga kakiku.
"Iya keseleo kenapa, kan pasti ada sebabnya?!" lalu segera turun dari tempat tidur untuk menghindari mas Irvan dengan beragam pertanyaan itu.
"Eeeh kamu mau kemana?!!" Tanyanya lagi yang selalu berupaya mendapat jawaban detail dari setiap pertanyaan yang dilontarkannya.
Namun untuk pertanyaan yang satu ini tentunya membuat aku menjadi risih, karena mengingatkanku pada pengkhianatan yang Arga lakukan terhadap ku. Tanpa memberi sedikitpun penjelasan, aku segera masuk kekamar mandi dan langsung menutup pintunya.
BLAAAM!!!
"Yaudah kalau nggak mau cerita yaa nggak apa - apa, kamu siap - siap aja mas mau pulang mandi dulu, nanti jam sembilan mas jemput yaa...?!" kata mas Irvan yang suaranya berada tepat dibalik pintu kamar mandiku ini.
"Mau jemput kemana lagi? aku mau berangkat sekolah!!" Jawabku agak kesal, tanpa membuka pintunya yang padahal aku belum ada ngapa - ngapain didalam.
"Lhooh kok mau sekolah, badanmu aja masih anget gitu loh?! yang penting diperiksa kedokter aja dulu, takutnya kena DBD atau kena ti...."
"Iya, iya sudah nanti mas jemput aku jam sembilan kan? sekarang mas pulang aja dulu aku mau buang air!!" jawabku menyeka ucapannya yang belum selesai, namun aku hanya berbohong supaya dia berhenti berbicara panjang lebar yang terdengar sangat risih ditelingaku dan juga agar dia segera keluar dari kamarku.
"Iya sudah yaa mas pulang dulu!" pamitnya
"Iya!" jawabku singkat
Aku tahu kalau sikapku ini sangat kasar kepadanya bahkan bisa dibilang bahwa aku sangat tidak tahu diri dengan apa yang telah dia lakukan padaku sepanjang waktu belakangan ini, tetapi
'Nggak bisa kah bahas yang lain yang nggak ada kaitannya sama Arga?' tanyaku sendiri,
__ADS_1
pertanyaan mas Irvan tadi yang membuat aku jadi kembali teringat dengan masalah ku bersama Arga.
Sembari berdiri didepan cermin, sejenak aku memperhatikan wajahku lalu segera mencucinya diatas washtufel kemudian menyikat gigi, iya aku belum berani mandi karena airnya masih sangat terasa dingin saat tersentuh kulit dan aku tidak mau mengambil resiko yang bisa membuat aku menjadi sakit lebih lama lagi.
Walaupun badanku terasa masih kurang sehat, tetapi almamater Arga yang masih tersimpan didalam tas sekolah ku menjadi sumber rasa bebanku selama dua hari ini, karena dimanapun dan apapun yang aku lakukan bila mengingat tentangnya lagi akan langsung rusak mood baik ku! apalagi saat baru bangun tidur seperti ini rasanya jadi merusak suasana pagi yang seharusnya disambut dengan cerah!
Maka dari itu walaupun badanku sedang tidak fit, aku harus tetap pergi kesekolah hari ini juga agar segera mengembalikan almamater itu, walaupun kemungkinan besar hanya akan aku tititipkan saja melalui temannya karena aku sudah tidak ingin melihat bahkan bertemu dengannya!
Selesainya keluar dari kamar mandi aku pun langsung menyiapkan seragam yang akan kukenakan hari ini, namun sebelum kupakai kupastikan dulu keadaan yang belum tentu aman, jadi aku mengintip dari balik gorden kamarku, mengamati kearah sebuah kamar yang posisinya juga sama - sama ada dilantai dua, dan kamar itu berada persis diseberang kamarku ini.
'Yaaa, itu adalah kamar mas Irvan yang rumahnya memang berdiri tepat berhadapan dengan rumahku. Kini aku hanya ingin memastikan kalau jendela kamarnya sudah terbuka berarti dia memang benar - benar sudah pulang kerumahnya.
Kemudian seketika aku menjadi sangat bersemangat, karena yang aku intip saat ini sudah melebihi dari yang aku harapkan, yaitu aku bukan hanya melihat jendela kamarnya yang sudah terbuka, bahkan akupun melihat dirinya kini sedang duduk dibalkon depan kamarnya sambil membaca sesuatu dengan secangkir kopi favorit diatas meja, yaah aku sangat hapal jika dia sedang seperti itu pastinya dia sangat sibuk bahkan tidak akan menghiraukan keadaan sekelilingnya.
Bergegas aku mengganti pakaianku dengan seragam sekolah berwarna putih - putih yang memang dikhususkan untuk setiap hari senin, ditambah dengan dasi beserta topi untuk pelengkap upacara, sedikit polesan bedak diwajah dan dua semprotan parfum, tidak ketinggalan dengan sweater yang wajib aku kenakan kemanapun aku pergi.
Setelah berpakaian akupun segera menyiapkan buku yang semalam belum sempat aku siapkan untuk hari ini.
"Sudah! mumpung mas Irvan lagi sibuk, aku harus cepet - cepet nih!" gumamku sambil berlari keluar dari kamar menuju kelantai bawah.
Kuhampiri mama sedang sendirian berada didapur terlihat baru saja selesai membuat sarapan
"Lhooh Dara kamu mau sekolah? memangnya sudah sehat kah?!" Tegur mama yang baru saja meletakan sepiring wafel besar diatas meja makan, lalu ia mendekat dan langsung menempelkan telapak tangannya didahiku.
"Sudah kok mah aku sudah sehat, kan sore kemarin aku sudah minum wedang jahe buatan mama yang selalu manjur!!" kataku memuji sambil menebarkan senyuman merona agar mama tidak curiga dan khawatir lagi.
"Irvan mana?" tanya mama sambil menyiapkan sepotong wafel dan segelas susu dihadapan ku.
"Loh bukannya mas Irvan sudah pulang dari tadi, barusan aku lihat dia lagi duduk dibalkom kamarnya!" Jawabku
"Masa? tapi mama dari tadi disini nggak ada ketemu sama dia?" tanya mama bingung
"Mungkin sebelum mama turun dia sudah pulang duluan, soalnya tadi sekitar setengah enam kami bangun terus dia langsung pulang!" jelasku tanpa memberi tahu rencana mas Irvan yang akan menjemput dan mengantarku kedokter jam sembilan nanti.
"Ooh pantesan aja kalau gitu, soalnya mama bangun sudah hampir jam enam tadi. Oiya, Semalam pas mama pulang dari toko lihat kamu tidurnya gelisah banget, dipegang badannya panas, Irvan sampe lari - lari ambilin temometer dari rumahnya, terus pas dia periksa suhu badanmu sudah terlalu panas katanya, dia bilang harus segera dibawa kedokter takut tifus atau DBD kayak Reza dulu, Jadi semalan kamu sudah mau angkat sama dia tapi kamunya terus - terusan ngomong nggak mau, mama juga bingung, mau telp papa juga pastinya nyuruh bawa kamu kedokter!!" cerita mama
"Lhoo masa aku ada bilang gitu mah??!" tanyaku karena beneran nggak inget sama sekali dengan yang terjadi semalam sebelum mas Irvan ikut baring disampingku,
"Iya, kamu itu loh ngerengek - ngerengek nggak mau dibawa kedokter!" jelas mama menekankan kejadian yang aku beneran nggak inget sama sekali.
"Nah terusnya gimana lagi mah?!" tanyaku sembari pelan - pelan menghabiskan wafel manis buatan mama.
"Yaa mama bilang, Ya udah Van besok pagi aja diantarnya daripada ngamuk - ngamuk!!"
cerita mama sambil sedikit nada bicaranya mengolok aku
"Terusnya gimana lagi?" tanyaku yang tambah penasaran
"Mama lihat Irvan itu udah khawatir banget sama kamu, yaa kamu tahu sediri emosinya pas dulu Reza kena DBD sudah sampe kejang - kejang terus bilangnya dokter harapannya kecil buat sembuh, untungnya aja waktu itu masih ada alm.Bapak yang megangin Irvan, kalau nggak ya sudah banyak belur tuh doternya!!" cerita mama yang mengingatkan kejadian tiga tahun lalu.
__ADS_1
Saat itu Reza adik kedua mas Irvan itu terkena DBD dan sudah sangat kritis hingga membuat kami semua sedih karena hampir kehilangan dirinya.
"Terusnya dia bilang mama istirahat aja, biar dia yang jagain kamu,, yaa awalnya mama nggak tega karena mama tahu kalau diakan baru aja pulang dari Bandung terus langsung ngurus kantor Bapaknya dari siang, tapi dianya yang maksa! yaudah jadinya mama istirahat!" lanjut cerita mama, lalu akupun jadi terdiam tidak ada tanggapan apapun lagi sambil melahap potongan terakhir wafelku.
"Tapi pas mau subuh mama ada bangun sebentar cuma mau cek panasnya badan kamu, ternyata sudah agak mendingan sih, dan barusan mama pengang juga beneran sudah turun panasnya ya?!" mama menambah ceritanya namun terlihat agak keheranan dengan drastis turunnya suhu badan ku yang mungkin terlalu cepat dipikirannya.
"Iya mah.. makanya nggak usah aja aku diantar kedokter, kan udah sehat!!" kataku membujuk mama walaupun sebenarnya masih terasa sedikit pusing, mungkin hanya karena aku habis cuci muka tadi jadinya suhu panas dikulitku jadi mereda.
Mendengarkan semua cerita mama barusan, aku jadi menyesal karena sikap kasarku terhadap mas Irvan tadi pagi, yaa ku akui dibalik kejahilannya namun mas Irvan itu memang sangat penyayang apalagi terhadap keluarga. Tapi, untuk saat ini kumohon jangan menyinggung apapun yang ada hubungannya dengan Arga, karena hal itu bisa langsung memperburuk mood ku!
Tak terasa aku sarapan sambil berceritaan sama mama ternyata jam sudah menunjukan pukul enam lewat lima belas, yang menandakan aku harus segera berangkat karena jam masuk sekolah ku pas pukul setengah delapan, belum lagi perjalananku dari rumah yang memakan waktu lewat dari setengah jam itu juga belum ditambah macet pas lampu merah, Aaaah untung saja sebentar lagi aku lulus dan tidak bersekolah sejauh itu lagi.
"Mah, hari ini aku bawa motor yaa soalnya takut terlambat kalau naik angkot atau ojek!" kataku sambil terburu - buru menghabiskan susu yang sudah mama tuangkan tadi lalu dengan cepat mencium pipi kanan kirinya
"Iya sudah, tapi hati - hati yaa dijalan, jangan ngebut!!" pesan mama memberi izin
"Iya mah!" Sahutku dengan tergesa - gesa memakai helm, mengambil kunci motor lalu memakai kaos kaki serta sepatunya.
Saat mulai membuka pintu, aku sedikit mengintip dulu kearah depan rumah mas Irvan terutama keatas balkon depan kamarnya, terlihat sedikit kaki yang posisinya masih sama duduk diatas sana dengan buku yang menutupi wajahnya.
Bergegas aku menaiki motor yang posisinya memang sudah mengarah kejalan dari halaman rumah, dengan cepat aku memutar kunci dan segera menyalakan starternya.
NGEEENG!!!!
'untung suara motor matic baru tidak terlalu nyaring bunyi mesin dan knalpotnya! Hehehee' kataku dalam hati, dengan jantung yang agak bedebar - debar ku lajukan sedikit lebih kencang saat melewati depan rumahnya.
Ku fokuskan pandanganku kejalan, tanpa sedetik pun mataku melirik kearahnya yang entah dia sadar atau tidak kalau barusan aku sudah lewat persis dibawahnya.
Sesampainya didepan gerbang perumahan aku mulai mengurangi laju kecepatan motorku, lalu segera mengikuti arus jalur jalan raya bersama dengan kendaraan lainnya.
Sedikit rasa pusing yang masih menghinggap dikepalaku membuat aku jadi sangat berhati - hati dalam berkendara, ditambah karena suasana jalananpun sudah mulai padat, yaa maklumlah setiap hari senin pasti kayak gini.
Hanya saja kok rasanya ada yang ketinggalan ya?
"Aduuh aku lupa pake masker, ini nih akibatnya gara - gara tadi kucing - kucingan sama mas Irvan jadi sampe lupa!" gumamku sambil menutup kaca helm karena debu dan asap knalpot mulai membuat perih dimata dan sesak saat bernafas.
.
.
.
"Wiuuh, Untungnya nggak terlambat!" ucapku dalam hati setelah melihat masih banyak murid yang berseragam sama dengan ku masih berlalu lalang disekitar sekolah.
Namun sesampainya disekolah aku sangat terkejut karena mulai dari depan pagar hingga masuk kehalaman sekolah dipenuhi pemandangan yang tidak biasa,
karangan bunga dukacita pemberian dari beberapa perusahaan dan beberapa yayasan ternama dikota ini berpajangan dimana - mana seperti ada orang penting yang telah meninggal didalam sekolah ini.
"Siapa yang meninggal? kok sampe menuhin halaman begini karangan bunganya?"
__ADS_1