Cinta Terlarang Sang Dara

Cinta Terlarang Sang Dara
Terharu


__ADS_3

"Dara gak ikut makan Van?" tegur Ibu saat melihat Irvan turun sendiri


"Dia udah tidur bu!"


"Loh kok cepet banget?" tanya ibu bingung


"Biarin aja mbak kalau dia tidur biar ngurangin sedikit bebannya, ayo Van cepat sini duduk makan nanti keburu kemaleman, abis tu kita periksa lukamu ya!" kata mamah


"Kok gak ada yang bilang sih kalau mas Irvan kena tembak, gimana mas ceritanya? aku mau dengar!" tanya Doni antusias


"Sssttttt!... ceritanya lain kali aja, takut tiba tiba kakakmu denger gimana!" Bisik Irvan sembari melirik tangga, lalu Doni manggut manggut menurut.


"Oiaya Mah, kayaknya dalam waktu dekat ini aku akan mempercepat bawa Dara pindah keBandung walaupun belum waktunya masuk kuliah!" kata Irvan menceritakan rencananya


"Mmm.. boleh malahan bagus lagi, jadi sebelum dia masuk kuliah dikampus barunya ajak dia dulu mengenal lingkungan disekitar sana, kan kamu tau sendiri dia itu sering lupa arah jalan!" kata mama mengingatkan


"Tapi menurut saya, lebih bagus lagi kalau kamu juga ikut Aina kan mumpung Doni masih liburan, sesekali kamu refresing sama anak anakmu!" sambung Ibu mengusulkan


"Iya mah aku mau!!" kata Doni antusias


"Anuu... tapi tok....." ragu ragu


"Udah kamu gak usah pikirin toko dulu, nanti saya bantu setiap malam tutupin kasir dan tokonya! yaa?" ibu memberi solusi


"Bener tuh mah, aku bakal bawa kalian jalan jalan ketempat bagus disana biar Dara dan Doni juga bisa sedikit menenangkan pikiran mereka setelah kejadian ini!" bujuk Irvan mengatasnamakan anak


"Iya sudah kamu atur aja Van!" jawab mamah menyetujui


"ASIIK!!!" sorak Doni kegirangan.


Setelah selesai makan malam, mamah menjenguk Dara yang sedang tidur dikasurnya. Dengan tatapan tidak tega dia membelai rambut putri sulungnya itu, sesekali airmatanya menetes karna tak terbendung lagi lalu bibirnya bergetar,


"Sayang, maafin mamah ya? mungkin mamah bukanlah ibu terbaik yang bisa jaga kamu duapuluh empat jam setiap harinya, tapi kasih sayang dan perhatian mamah selalu tertuju buat kamu. Jangan diambil hati kata kata papah yang mengungkit kelemahanmu, dia itu nggak pernah tau, nggak pernah merasakan apa yang kamu rasakan, mamah percaya Tuhan punya rencana baik untuk kesabaranmu!" bisiknya sambil mencium kening Dara yang matanya masih terlelap.


Tanpa mamah sadari sekalinya Irvan dan Ibunya sudah berdiri didepan pintu kamar Dara, dengan tatapan sedih mereka berdua memerhatikan bu Aina yang sedang tersedu meratapi nasib putri malangnya.


"Eh mbak, Irvan?" tegur mamah saat dia menoleh baru saja ingin keluar dari kamar Dara.


"Aina kamu jangan sedih terus karna mikirin suamimu, nanti anak anak jadi sakit!" pesan ibu


"Aaah iya mba saya bukan sedih karna mas Haris, saya justru sedih karena nasib Dara yang terlahir sakit sakitan sampai sampai papahnya aja mengeluh, apalagi orang lain? saya ragu apa dia nantinya akan dapat suami yang bisa sabar menerima keadaannya?" ucap bu Aina pesimis


"Astaga bu Aina jangan ngomong gitu, pamali! Dara itu manis, baik dan pintar, pasti banyak yang mau sama dia!" protes Ibu

__ADS_1


"Iya mah aku juga sss....." sambung Irvan namun ragu ragu mengakui perasaannya


"Kamu juga kenapa?" tanya Ibu penasaran kelanjutannya


"Aku juga... aku juga gak setuju mamah ngomong gitu! buktinya Arga sama Betrand bisa sampe nekad demi Dara, iya kan?" jawab Irvan tanpa menyebutkan dirinya juga.


"Bener tuh kata Irvan, bahkan diluar sana masih banyak yang kekurangannya lebih dari Dara tapi mereka masih tegar menjalani kehidupannya! jadi kita jangan sampai meruntuhkan semangat Dara, tapi justru harus bantu dia memperkuat kepercayaan dirinya!" nasihat ibu membangkitkan optimisme


"Iya iya, terimakasih sekali lagi... kalau bukan adanya mbak sama Irvan saya nggak tau lagi harus gimana..."


"Mamah nih ngomong apa sih kayak kita orang lain aja, mending sekarang mamah cepat istirahat biar tenaga dan pikiran mamah cepat relax lagi. Dan selagi Dara masih tidur aku mau ganti baju dulu dirumah, tapi pintunya jangan dikunci yaa mah soalnya nanti aku balik lagi buat nemenin Dara makan malam!" pesan dan pamit Irvan


"Tapi Van lukamu belum diobati?" kata mamah


"Aku bisa sendiri kok mah!"


"Ya ampun Van, kehadiranmu disini memang seperti malaikat, mamah bersyukur banget bisa dekat dengan keluarga kalian!" ucapan mamah bikin ibu tersentuh


(Dirumah Irvan)


"Za, kamu abis pake mobil mas lagi ya?" tanya Irvan ke Reza saat mendapati posisi parkir mobilnya menghadap terbalik


"Sebentar kok mas, aku cuma main footsal aja tadi!" sahut adiknya


"Masalahnya bukan sebentar atau lama Za, tapi kamu itu belum punya SIM A, kalau sudah bikin terserah kamu mau bawa kemana aja malah ibu bakal beliin!" jelas kakaknya


"Nggak mau ah nanti kamu ngeluyur terus sama pacarmu bawa bawa anak orang sembarangan!" sahut ibu menolak


"Aah ibu ini pilih kasih, giliran kebutuhan mas Irvan aja langsung dibeliin tanpa mengungkit masalah pacar, masa aku harus jomblo abadi kayak dia!" kata Reza membandingkan


"Siapa bilang mas mu jomblo? wong dia udah ada jodohnya diJawa, tinggal tunggu aja kapan dia mau jemput!" kata Ibu mengingatkan membuat Irvan jadi risih


"Apaan sih ibu ini aku gak minat!" sahutnya lalu berlari kekamar


BLAM! menutup pintu


"Jodoh, jodoh, jodoh! ini udah tahun berapa masih dijodoh jodohin!" dumel Irvan sambil membuka baju yang ada bercak darahnya


'Kenapa sih setiap orang dimuka bumi ini harus dapat masalah yang gak bisa dihindari?' gumamnya sembari mengganti perban lukanya, setelah selesai dia berniat merebahkan sejenak tubuhnya sebelum kembali kerumah Dara


'Aaah masa sih aku gak punya kesempatan untuk mendapat jodoh yang aku mau?


Nggak, aku kan belum mencoba lagi, siapa tau setelah keadaan hati dan pikiran Dara sudah lebih tenang dan dia juga sudah agak melupakan perasaannya sama Arga, mungkin suatu hari nanti dia akan peka terhadap perasaanku.

__ADS_1


Tadi aja buktinya dia mengakui kalau dia gak bisa jauh dari aku, itu kan artinya dia ingin hanya aku yang ada disisinya!' gumam Irvan jadi tersenyum sendiri saat mengingat semua ucapan Dara tadi kepadanya.


.


.


.


(Dirumah Dara)


"Hoaaams!!.... ngantuk banget, main hape aja ah dikamar!" kata Doni yang sedirian diruang keluarga lalu mematikan PS nya.


Sebelum naik kekamar, kebiasaan rajinnya selalu memeriksa ulang jendela dan pintu takut ada yang belum terkunci.


'Hmm tuh kan, kebiasaan!' CEKLEK!!


gumamnya saat mendapati pintu depan belum dikunci


"Loh Doni kamu belum tidur?" tegur Dara


"Ini baru mau naik kekamar, kakak sendiri kenapa bangun tengah malam begini?" tanya balik Doni sambil melihat arah jarum jam yang sudah menunjukan pukul duabelas malam


"Kakak cuma mau ambil minum soalnya teko dikamar lupa diisi! yaudah gih tidur nanti sakit lagi kalau keseringan begadang." ucap Dara bernada lemas


"Kak tadi kata mas Irvan aku sama mamah bakal ikut jalan jalan Ke Bandung dalam waktu dekat ini, jadi kakak jangan sedih dan jangan sampe sakit!" kata Doni dengan semangat


"Oh ya, mamah mau? terus tokonya gimana?"


"Bilang ibu nanti ibu yang bakal bantu ngawasin sekalian tutup kasirnya!"


"Oowh syukur deh kalau gitu! nanti selama kakak nggak ada kamu harus bantu mamah ya Don, karena sekarang cuma kamu harapan mamah dirumah ini!" pesan Dara yang hendak pindah ke Bandung dalam waktu cukup lama


"Iya kak tenang aja, aku pasti bantu mamah!"


"Dan satu lagi pesan kakak! kalau sudah dewasa nanti kamu punya keluarga, kamu harus setia, harus sayangi keluargamu apapun alasannya! paham?" ucap Dara menekankan


"Iya kak aku paham, aku juga nggak mau kalau anak anakku nanti bernasib sama kayak kita gini! sekarang kakak jangan sedih lagi yaa?" kata Doni sambil memeluk kakaknya yang seketika menyentuh perasaan Dara.


"Iya Don terima kasih, kakak sekarang jadi bisa tenang ninggalin mamah sama kamu disini!! dah, sekarang masuk kekamar mu gih!" ucap Dara tersenyum sambil menghapus airmata yang jatuh karena terharu.


Setelah selesai minum diapun kembali kekamarnya.


Ingatan tentang masalah yang ingin dia lupakan malah semakin kuat membenak pikirannya, semua ucapan, kata kata, ekspresi, hingga perlakuan kasar papahnya terus saja menghantui bagai kapal ditengah laut yang diterpa badai dari segala penjuru.

__ADS_1


CEKLEK!!


Perasaan kacau menutupi akal sehat yang hampir tidak mampu lagi mengontrol gerak tubuhnya. Barusan, karna melamun dibalik pintu tanpa dia sadari tangannya telah memutar kunci pintu kamar yang padahal tidak pernah dia kunci sebelumnya.


__ADS_2