
"MAS CARI PACAR AJA SANA BIAR NGGAK GANGGUIN AKU TERUS!!" kata ku tiba - tiba keceplosan karena risih.
Seketika Raut wajah mas Irvan langsung saja berubah menjadi datar seperti memikirkan sesuatu beban namun tangannya tetap menyodorkan sendok yang berisi jahe hangat lalu menyuapi nya pada ku, sambil melihat kewajahnya aku pun membuka mulut dan menelan air yang membuat tenggorokannku hangat.
Dengan diam ia terus menyendok lagi, entah mengapa aku tiba - tiba jadi merasa nggak enak hati karena sindiran ku barusan.
"Mas kok udah mandi? tadi katanya mau bantuin mama?!" Tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tadi jahenya tinggal seduh aja jadi bilang nggak usah bantu, jadi mas pulang sebentar mandi." Jawab nya dengan datar membuat aku menjadi semakin penasaran.
Aku sebenarnya memang sudah lama ingin tahu soal ini namun dia selalu ng'Les setiap kali di tanya masalah pacaran dan akhirnya karena sudah terlanjur keceplosan aku sekalian saja memberanikan diri bertanya sebabnya.
"Mas, maaf ya kalau aku tadi salah ngomong?!" basa basi ku sambil menyuap sodoran sendok dari nya
"Minta maaf kenapa?!" tanyanya masih dengan nada datar tetapi tangannya masih sambil terus menyuapi ku
"Yaa nggak tahu, abis nya mas tiba - tiba diem gara - gara aku nyuruh mas pacaran..?!" jawabku
"Nggak apa - apa, cuma mas males aja kalau ngebahas soal pacaran!" jawabnya agak ketus
"Loh mas sendiri selalu ngebahas masalah Arga!?" balas ku
"Yaa beda lah! mas cuma nggak suka kalau ngebahas soal pacarnya mas aja, kalau pacar orang sih biasa aja..!" jawabnya lalu menunduk kearah cangkir yang dipegangnya sambil mengaduk - aduk isinya dengan sendok
"Mmmm... Kalau boleh tahu,,," ragu - ragu namun tetap membulatkan tekad untuk bertanya
"Memang mas pernah ada masalah apa sama pacar?" pertanyaan ku sendiri membuat aku menjadi gugup karena takut menyinggung, namun sedikit lega karena rasa penasaran ku kini pasti sudah mulai terbongkar.
Tentunya aku sangat menanti jawaban atau cerita darinya karena setahu ku memang sampai saat ini mas Irvan belum punya pacar walaupun hanya sekedar PDKT pun belum pernah.
Tiba - tiba dia berhenti menyuapi ku dengan meletakan sendok didalam cangkir kemudian dia mulai beranjak berdiri dari kasur, sontak membuat aku jadi bingung kalang kabut.
"Mas?!!" dengan cepat tanganku meraih tangannya yang membuat dia berhenti bergerak. Apa aku salah ngomong lagi?! pikir ku.
"Apa Lagi? Mas mau pu...." belum selesai Mas Irvan berucap mama tiba - tiba masuk kekamar ku yang memang pintunya tidak tertutup dan sudah mengganti pakaian kerja, karena kaget aku pun melepaskan tanganku yang sedang menahan mas Irvan
"Dara, Mama tinggal dulu sebentar yaa sayang... ini Erni bilang (pegawai mama) ada orang mau pesan buat hari kamis, cuma dia bingung sama pesananya takutnya salah - salah jadi minta mama yang handle!" katanya sambil membelai rambut ku, mas Irvan pun melanjutkan langkahnya menaruh cangkir diatas meja
"Kalau memang mau ke dokter nya besok ya nggak apa - apa, dibawah sudah ada makanan, habis itu minum paracetamol, terus langsung istirahat ya!" ucapnya dengan cepat, akupun hanya mengangguk - angguk
"Van, jagain dulu sebentar yaa nanti mama usaha kan pulang cepat, soalnya Doni juga belum pulang, nanti kalau ada apa - apa cepet telpon mama ya...?!" pesannya ke mas Irvan
"Lho, memang Doni kemana mah?" tanya ku yang memang dari tadi tidak melihat anak itu.
"Tadi sih bilang nya pergi sama temennya mau beli bahan buat praktek prakarya, yaudah yaa mama sekarang berangkat soalnya lagi ditungguin nih!" pamitnya sambil mencium keningku
"Daagh!!" Katanya lagi sambil melambaikan tangan lalu dengan cepat melangkah pergi
Karena mama bicara nya terlalu cepat dan terburu - buru, mas Irvan sampe belum sempat menjawab apa pun tadi.
"Tadi mas mau bilang apa? mau pulang yaa?!" tanya ku yang masih canggung karena sikap diamnya.
Dia yang masih berdiri di depan meja belajar hanya melihat diriku dengan tatapan dingin, aku jadi semakin bingung masa iya aku cuma nanya gitu dia jadi tersinggung sampe aku benar - benar baru kali ini melihatnya sinis seperti itu.
__ADS_1
"Nggak, mas tunggu Doni aja dulu baru pulang." jawabnya datar yang bikin aku malah jadi tambah nggak enak, atau mungkin dia lelah karena habis kerja seharian terus sekarang malah disuruh jagain aku?! tanyaku dalam hati.
"Mas pulang aja nggak apa - apa, paling Doni sebentar lagi sampe. Aku juga sudah mau tidur kok!" kata ku basa - basi agar dia tidak terbebani dan bisa istirahat dirumahnya, walau sebenarnya rasa penasaran ku semakin menggebu karena sikapnya begitu namun seperti nya tidak perlu dibahas hari ini.
"Beneran nggak apa - apa kamu ditinggal sendiri?!" tanya nya menekan
"Iya nggak apa - apa, kunci nya taro ditempat biasa aja.." kataku sambil senyum memaksa lalu pura - pura merebahkan tubuh dari dudukku bersiap untuk tidur.
Akupun berbaring kesamping kanan membelakangi nya sambil memeluk guling, dari balik bantal ku dengar langkah kakinya menjauh dari kamar lalu turun ke lantai bawah.
"Mas Irvan nih kenapa sih? dari dulu setiap disinggung soal pacaran pasti langsung mengalihkan pembicaraan, sekarang aku ada sempat nanya sekalinya respon nya begitu banget, ada apa yaa sebenarnya?!" tanyaku dalam hati
"Aah sudahlah, lain kali aku tanya lagi kalau sudah agak tenang, pastinya bakal aku korek - kotrek sampe akarnya!" pikirku.
Sebenar nya aku belum ada rasa ngantuk, hanya saja pusing banget dikepala ku ini membuat mataku jadi panas dan berat, lama - lama ingin memejam walaupun belum mau tidur.
Samar - samar aku seperti mendengar suara yang tadi siang memanggil ku saat di parkiran mall.
"~Daraaa.... ~Daraaa... ~Daraaaa?!" suara nya sangat asing bagi ku, bergema menusuk telinga, dan aku seperti sedang berada didalam ruangan kosong sendirian.
Sayup - sayup aku membuka mata ku perlahan, suasana disekitar ku sangat sepi namun saat aku melihat bantal di depanku tiba - tiba bentuknya tidak seperti biasa nya, kali ini ia menjadi seram hingga menakuti ku, Sontak aku jadi kaget bukan main.
(Biasanya halusinasi ini terjadi pada sebagian orang yang sedang mengalami demam tinggi atau step)
"AAAAAAAAAAGH!!!!" Teriak ku ketakutan sampai dada sesak dan saat ingin berlari tetapi seluruh tubuhku kaku tak bisa digerak kan.
"Dek, kamu kenapa Dek? ayoo bangun!!!" Seketika aku pun membuka mata dan tersadar, tiba - tiba mas Irvan sudah ada di belakangku langsung membalikan tubuh ku yang tadinya masih dengan posisi miring lalu segera ku peluk erat.
"Kamu ngigau dek?!" tanyanya yang terlihat cemas,
Hoooos ~ Hoooos ~ (suara nafas ku terengah - engah seperti habis lari maraton)
"Kamu mimpi apa sih dek kok sampai ketakutan gitu?!" tanyanya lagi, sambil menyapukan keringat ku yang mengalir, namun aku sangat Sulit untuk menjelaskannya dengan kata - kata.
Kulirik jam yang menggantung di atas pintu kamar menunjukan sudah pukul dua pagi, yaaah ternyata beneran kalau barusan aku hanya bermimpi! perlahan aku berusaha menenangkan diri dari rasa takut.
"Mau minum? mas ambilin dulu yaa!" aku hanya mengangguk karena air minumnya hanya berada diatas meja yang memang biasa ku siapkan untuk dikamar agar tidak harus turun kedapur mengambil nya, jadi mas Irvan pun tidak perlu jauh dariku.
Dengan cepat aku menghabiskan satu gelas penuh yang dituangkan mas Irvan karena terasa sangat haus. Setelah itu mas Irvan kembali duduk di samping ku lalu aku memeluknya lagi karena masih merasa takut.
Perlahan - lahan aku bisa mengatur nafas dan mulai bisa berfikir kembali, dan baru menyadari ....
"Hmmm?! Mas bukan nya tadi sudah pulang?" tanya ku sambil mempertegas lagi mataku melihat jarum jam
"Tadinya memang mau pulang, tapi pas sampe dibawah Mas kepikiran kamu sendirian, jadi nonton tv aja sambil nunggu Doni, tapi sekali nya Doni ngabarin ke mama katanya malam ini nginep dirumah temennya sekalian ngerjain tugas bareng, lagian besok masuk sekolahnya siang katanya.." jelas mas Irvan membuat aku jadi sayup - sayup lagi
"Terus mama, sudah pulang belum?" tanya ku lagi sambil memejamkan mata
"Sudah tuh dari jam sepuluh,, sekarang ada dikamarnya.... Karena tadi sore kamu bilang mama sibuk akhir - akhir ini terus sampe sering lembur jadi yaa tadi mas bilang aja buat yang jagain kamu biar mama bisa istirahat, yaa kan?!" jelasnya yang membuat aku tenang.
"Terus mas belum tidur dong? mas Irvan kan seharian ini juga belum ada istirahat... aku nggak apa - apa kok nggak usah ditemenin" kata ku sambil mulai mengantuk lagi.
"Tadi mas tidur di kamar Doni, terus barusan denger kamu teriak jadi langsung kesini!" jawabnya
"Besok mas antar ke dokter yaa..? kan tadi janji katanya kalau belum sembuh mau di antar ke dokter..!" Tangannya dengan lembut membelai rambutku namun pertanyaan nya yang membuat aku menjadi gelisah.
__ADS_1
"Aku sudah sembuh mas!!" jawab ku pura - pura sehat sambil mata masih terpejam.
"Apanya yang sembuh?! tuh tadi mas periksa pake termometer nya Reza (adik mas Irvan yang ke dua) panas mu sudah sampai 38..!" katanya sambil menunjuk termometer yang ditaruhnya diatas meja, lalu aku pun mengintip dengan sedikit mata terbuka
"Aah rusak mungkin mas....?!" kata ku mengelak, lalu memejam lagi
"Mas ambilin nih, kita periksa lagi yaah!!" katanya sambil mulai beranjak
"Iya - iya percaya!" jawab ku cepat sambil menahan dirinya agar tidak berdiri karena posisiku sudah pewe, dan sebenarnya aku juga memang merasa bahwa seluruh tubuhku sangat panas.
"Kamu makan yaa? Kan dari tadi sore perut mu kosong looh..." Katanya
"Aku belum lapar... " jawabku pelan sambil menggeleng
"Kalau mas sendiri udah makan Memangnya?" kataku bertanya balik
"Kalau mas yaa nggak perlu kamu tanya, kalau lapar yaa mas langsung makan!" jawabnya dengan nada agak menyindir
"Kamu ini kenapa sih Dek, masa gara - gara masalah sama Arga nggak mau makan terus sampe sakit begini?!"
DEEEEG!!!!
Sontak saja mataku terbuka, pertanyaannya membuat dadaku langsung sakit karena mengingat kembali pada masalah itu lagi.
"Mas ini.!! sendiri nya nggak mau bahas pacarnya tapi nanya - nanya masalah pacar orang!" kataku sambil melepas pelukan ku, dan menyingkirkan tangannya yang merangkul ku, lalu aku berbalik memiringkan tubuhku lagi membelakanginya, perasaan galau ku jadi mulai timbul lagi sekarang.
"Lhoooh biasanya kan kamu juga cerita kalau ada masalah apa - apa..." ucapnya
"Bukannya tadi sore mas sudah ngebelain dia pas dimotor?! sudah lah mas aku malas ngebahas dia, kalau cuma mau ngebahas masalah tentang dia lagi mas jangan datangi aku, hiks" kataku cetus sambil menutupi muka dengan bantal karena sedikit terisak.
Hatiku langsung terasa nyesek kalau mengingat kelakuan nya Arga, kenapa harus dibahas lagi? pikir ku
"Kamu nangis kah dek?!." tanyanya sambil tangannya yang kusingkirkan tadi meraih ku lagi.
Aku hanya menggeleng kepala, rasa pusing ku pun mulai menjadi - jadi. Dengan kuat mas Irvan berusaha membalikan posisi ku dan memeluk ku lagi beserta bantal yang tidak ingin aku lepaskan untuk menutupi wajah ku.
Kini aku berada kembali di dekapannya, namun ada bantal yang mengganjal diantara kami.
"Udah dek, lepasin! kan cuma ada mas aja disini!" bujuknya sambil menarik - narik bantal yang menyelip, lalu aku melepaskan genggaman ku kebantal tersebut, kemudian aku mengumpati wajahku didadanya, dia tentunya sangat paham kalau aku paling tidak suka terlihat menangis didepan orang.
"Maaf ya, mas benar - benar nggak tahu kalian ini sebenar nya punya masalah apa, coba cerita pelan- pelan mas mau dengerin..." katanya
"Nanti aja mas, kepala ku pusing banget nggak tahan sakitnya..." jawabku kali ini jujur apa yang sebenarnya aku rasakan sekarang ini, sambil perlahan memejam kembali dengan sisa setetes airmata yang terjatuh kepipi.
Entah kenapa aku lagi lagi merasa sangat nyaman berada dipeluk kan mas Irvan, hingga kali ini tidak bisa lagi menahan rasa ngantuk ku, walaupun ada segumpal rasa kecewa terhadap perbuatan Arga yang sulit dikikis namun kini ada setitik rasa tenang yang begitu terang mulai menyinari hati ku ini.
Ditambah ada sesuatu yang sangat familiar yang selalu menempel di tubuh mas Irvan, yaitu wangi parfum yang tidak pernah dia ganti dari dulu dan bahkan Parfum ini adalah Parfum yang sama dengan yang aku pakai juga sampai saat ini.
Aku sangat ingat saat pertama kali membelinya, waktu itu aku baru masuk tahun pertama duduk di kelas tujuh atau kelas satu SMP. Aku lupa tanggalnya tetapi aku ingat hari itu adalah hari sabtu siang setelah pulang sekolah, Keluarga ku dan juga Keluarga nya mas Irvan mengajak kami berjalan - jalan ke pantai Manggar yang terletak di kota Balikpapan.
Karena jarak antar kota Samarinda dan Balikpapan saat itu masih membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam perjalanan dalam kecepatan sedang, itu pun belum di tambah macet di simpangan daerah Samboja.
(Kalimantan Timur)
__ADS_1