
"Uhuuk-Uhuk!!"
Suara batuk yang Dara tahan malah membuat dadanya semakin terasa ditekan.
Bulat mata imutnya yang tadi sudah sayup, kini melebar dan berkaca-kaca.
Dara sama sekali tidak ada niat ingin memanggil siapapun untuk dimintai pertolongan, gadis mungil itu malah berpikir takut merepot orang lagi gara-gara penyakitnya yang tak kunjung sembuh.
"Uhuk-uhuk!! aduh.. kenapa rasanya semakin sesak?!" tanya si lugu pada dirinya sendiri, matanya melirik ke segala arah dan berusaha berpikir mencari cara.
Karena mulai panik, detak jantungnya terpicu menjadi lebih cepat yang akhirnya malah membuat rongga paru-parunya tambah menyempit. Tentu saja hal itu mengakibatkan rasa sesak napasnya semakin bertambah juga.
Namun sikap optimis yang Dara miliki membangkitkan semangat hidupnya kembali, gadis itu tidak ingin menyerah, sebab ia tidak mau mengecewakan usaha orang-orang yang menyayanginya selama ini.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki saat ini, Dara berusaha menyeret tubuhnya menuju ke tepi ranjang disebelah kanannya, yang mana disitu memang tersedia sebuah tabung oksigen miliknya.
Tangannya yang sudah gemetaran ia julurkan untuk meraih selang bening yang bergantung disamping tabung, tapi rasa pusing karena otaknya sudah kekurangan oksigen, menjadikan gerak tangannya tak mampu ia kendalikan secara normal sesuai kehendak nya.
"Loh tanganku ini kenapa? aku mau arahkan ke kiri tapi malah belok ke kanan, aneh!" tanya Dara dalam hatinya.
CEKLEG..!!
Tiba-tiba handle pintu kamarnya terbuka.
"Nona sedang apa?" Gumam Sovia dengan tatapan bingung.
Saat melihat gerak-gerik Dara berada dipinggir kasur yang bukan tempat biasanya, Sovia pun jadi merasa curiga, sebab dia sangat tau kebiasaan majikannya itu yang tidak mau menempati sisi sebelah kanan ranjang nya, kecuali sedang ada bu Aina atau Irvan berada disampingnya.
SRAAAK...!! TAP-TAP-TAP!!
Tanpa banyak berpikir, Sovia segera meletakan barang-barang ditangannya keatas lantai begitu saja, kemudian dia berlari menghampiri Dara yang terlihat sedang ingin menggapai sesuatu.
"Nona sedang ap... Hah, Nona?! Non...."
"Sssssttt....!!"
Dara mengacungkan telunjuk didepan bibirnya untuk menghentikan ekspresi Sovia yang sudah hampir berteriak.
Tentunya perawat berambut pirang itu jadi sangat terkejut saat mendapati wajah majikannya yang tadi dia lihat segar bugar tiba-tiba sudah pucat membiru seperti orang yang sedang tercekik.
Dengan gerak tangan yang memang sudah terlatih, Sovia pun sigap menangani Dara yang sedang kesulitan bernapas. Dibaringkan tubuh si gadis dalam posisi nyaman, dipasangkan selang dihidung, lalu diputarnya regulator dengan tekanan yang sesuai dengan kebutuhkan Dara saat ini.
Tindakan Sovia yang cepat dan tepat waktu, akhirnya menyelamatkan Dara yang tadinya sudah hampir pingsan.
Setelah napas nya mulai lancar kembali, Dara meminta Sovia agar tidak mengatakan kepada siapapun tentang kejadian dan keadaan dia saat ini.
Namun karena permintaan Dara terdengar tidak wajar bagi Sovia, perawat muda itu tidak langsung menggiyakan permintaan majikannya tersebut dan tanpa sungkan diapun menanyakan alasannya terlebih dulu.
Sambil menatap lurus kedepan. Gadis yang suaranya masih lemas itu mulai memberi tau dan juga menceritakan secara jelas tujuannya, yaitu apapun kondisi nya, selama dia masih bisa menahan dan menangani sendiri penyakit nya, dia tidak mau lagi merepotkan siapapun. Dan dia juga mengatakan bahwa tidak ingin terus-terusan membuat keluarga beserta pacarnya menjadi sering cemas atas kesehatan nya.
Terutama kepada Irvan, walaupun kakak angkatnya itu terkadang bersikap keras, tetapi Dara sangat tau bahwa yang Irvan lakukan semata-mata hanya demi dirinya.
Bahkan sekarang ini Dara sudah semakin merasa kalau Irvan bisa rela melakukan apapun untuknya, maka dari itu mulai saat ini Dara berniat tidak mau mengeluh akan rasa sakitnya didepan orang, terutama Irvan.
__ADS_1
"Aku tidak mau orang-orang yang aku sayangi lama-lama akan menjauh karena mereka bosan dengan diriku yang penyakitan seperti ini, atau bahkan bisa celaka seperti yang sudah terjadi dengan Alm.kakek saat itu!" Kata Dara dalam tatapan kosong dimatanya.
Airmatanya pun jatuh ketika mengingat kembali kenangan Alm. kakek Sultan yang selalu memanjakan nya, kakek yang selalu memenuhi semua kebutuhan dan perawatannya, yang masih Dara tidak sangka kalau pertemuannya saat itu adalah pertemuan terakhir mereka.
Maka dari itu Dara tidak ingin membuat keluarganya jadi mundar-mandir hanya karena mencemaskan dirinya yang masih menjalani perawatan di negara Jerman ini, dia takut kejadian seperti itu terulang lagi saat mereka berada dijalan.
Saat ini Dara benar-benar trauma dan kecewa kepada dirinya sendiri.
"Hiks-hiks... Seharusnya manusia penyakitan seperti aku ini tidak pernah terlahir dimuka bumi ini! Hidup yang bisanya cuma nyusahin orang, untuk apa? hiks..!"
Sadar dengan ucapan Dara karena sindiran ibu tirinya Arga tempo hari, membuat Sovia yang sudah seperti kakak baginya pun menjadi cemas bercampur kesal.
"Cukup nona, jangan bodoh seperti ini!" kata Sovia yang gregetan dengan pola pikir Dara yang polos dan mudah terhasut.
"Hiks-hiks... Tapi, tapi memang benar kan semua yang aku katakan? Terkadang, didalam hatiku pun berkata kalau lebih baik aku tidak perlu ada lagi didunia ini karena hidupku ini cuma........"
"Nona cukup! kalau nona masih saja terus berbicara sembarangan, sekarang juga saya akan melaporkan semua ini ke tuan Irvan!" gertak Sovia.
Ancam perawat yang tidak kuat melihat majikannya menghina dirinya sendiri, akhirnya berhasil membungkam mulut Dara yang mengoceh tanpa dipikirkan dulu.
"Hiks... terus aku harus bagaimana lagi? aku benar-benar sudah tidak tau apa yang semestinya aku lakukan. Aku hanya berharap semuanya tidak akan pernah pergi lagi dari ku! Hiks-hiks..!"
Melihat Dara sengsenggukan, perasaan Sovia yang tadi sempat terpancing emosi jadi luluh kembali. Sovia sangat paham dengan apa yang saat ini sedang Dara rasa dan pikirkan. Selain karena fisik lemahnya yang selalu sakit-sakitan, gadis inipun kadang kala selalu terlihat kesepian dirumah ini.
Karena iba, Sovia pun segera berupaya menenangkan dan memberi semangat kepada Dara yang jiwanya sedang kacau.
"Nona, walaupun kita baru bersama beberapa bulan, tetapi saya sudah sangat mengenal nona luar maupun dalam. Saya tau nona adalah gadis baik yang tegar dan kuat!
Dan saat tangisan Dara berhenti, efek dari obat yang dia minum tadi mulai bereaksi yang menimbulkan rasa mengantuknya kembali lagi.
"Satu syarat? Katakan saja syarat itu!"
Suara lemas dan mata yang mulai kembali sayup, menambah kesan pasrah pada diri Dara terhadap apapun. Sebab dalam pikirannya dia mengira kalau Sovia mungkin hanya akan meminta suatu barang atau kenaikan gaji dari mamanya.
Dan saat mata Sovia berubah serius menatap Dara, perawat itu pun mengungkapkan permintaannya.
"Nona, tolong izinkan saya agar bisa selalu ikut bersama nona kemana pun nona akan pergi. Bagaimana?"
"Apa, hanya itu?" Sovia mengangguk. Terlintas sebuah ingatan kejadian tadi pagi saat dia baru mau berangkat ke Mall bersama Irvan, yang mana Sovia sempat menawarkan diri ingin ikut, tetapi Irvan menolak nya mentah-mentah.
Dan karena sudah sangat lelah juga tak sanggup lagi menahan kelopak matanya, Dara pun tak mau ambil pusing.
"Baiklah, aku setuju! mulai sekarang kemanapun aku pergi kak Sovia akan ikut bersamaku!" Kata Dara tersenyum tipis.
Setelah menjawab permintaan perawatnya, otak Dara tak mampu lagi merespon apapun selain rasa ingin tidur yang tak tertahan kan. Rasa ngantuk yang tadi sempat tertunda karena dia sesak napas, ditumpuk lagi barusan habis menangis yang membuat energinya benar-benar terkuras habis.
"Nona, permintaan saya itu termasuk kalau nanti nona pulang ke Indonesia!" kata tambahan Sovia.
Senyum merekah dibibir Dara meluntur dalam sekejap beriringan dengan terpejamnya mata yang sudah tak mampu dia tahan lagi.
Perlahan tapi pasti, akhirnya mata si mungil yang bulunya masih basah itu tertutup juga.
Dara yang sebenarnya masih ingin mengobrol dengan Sovia, hanya dalam hitungan detik sudah tertidur pulas, bahkan dia tidak sempat mendengar jelas kata terakhir yang Sovia ucapkan barusan!
__ADS_1
Sebelum meninggalkan kamar nona nya, dengan telaten Sovia menyelimuti dan memperbaiki sedikit posisi tubuh Dara agar pernapasannya tidak terganggu selama dia tidur.
"Kalau tuan Irvan menganggap nona sebagai adik kandungnya, saya pun bisa melakukan hal yang sama!" bisik Sovia sambil memperhatikan wajah Dara yang masih pucat.
Kemudian perawat itu menerus kan kembali pekerjaan yang sempat tertunda, yaitu merapikan belanjaan Dara yang tadi dia letakan dilantai.
Namun, karena takut membuat Dara jadi terbangun, dia pun melakukan gerakannya dengan sangat hati-hati dan pelan.
Setelah semuanya sudah selesai dirapihkan, Sovia berniat ingin segera meninggalkan kamar tersebut.
Dibukanya pintu secara perlahan-lahan lalu berjalan mundur sambil menutupnya kembali. CEKLEK!
Baru saja menutup pintu, tiba-tiba Sovia terkejut dan langsung berbalik badan, sebab tanpa disengaja dia merasa telah menyenggol sesuatu dibelakangnya yang sekalinya adalah Irvan dengan sebuah buku ditangan kirinya.
"Aah?!.. Ma-maf tuan, saya tidak sengaja!" ucap Sovia agak gugup.
"Kamu habis apa dikamar Dara? Apakah dia terbangun lagi?" tegur Irvan yang juga baru saja keluar dari kamarnya.
"Ti-tidak tuan! barusan saya hanya menaruh barang-barangnya nona saja!" jawab Sovia sembari menunduk karena takut ketahuan kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu.
"Saya ingin melihat keadaan Dara sekalian menemani nya sampai dia bangun!" kata Irvan sembari tangan yang kanan menjulur ke handle pintu kamar adiknya.
Sontak jantung Sovia jadi dag-dig-dug mendengar Irvan ingin masuk kekamar Dara yang mana gadis itu sedang terpasang selang oksigen dihidungnya, tentunya hal itu membuat pikiran Sovia kalang-kabut mencari alasan yang cepat dan tepat.
"Ah tuan maaf!" dengan sangat cepat tangan Sovia menghalangi tangan Irvan yang sudah hampir meraih handle pintu tersebut.
"Ada apa Sovia?" tanya Irvan bingung. Sovia pun langsung memutar otak.
"Emm... Begini tuan, tadi saat saya didalam nona Dara sempat terbangun sebentar. Dia hanya menitip pesan agar siapa pun dilarang untuk masuk kekamarnya sampai dia bangun nanti!" kata Sovia.
"Ohya?" Irvan menarik kembali tangannya, lalu dia mengingat kalau tadi adiknya itu memang sedang butuh banyak istirahat. Dan akhirnya dia pun jadi mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam.
"Ooh baiklah, saya akan ke halaman belakang saja!" Kata Irvan yang kemudian berjalan melewati depan Sovia.
Saking tegangnya, perawat yang masih berdiri didepan pintu tersebut nampak kaku disekujur tubuhnya, dia tidak berani menegakkan kepala jadinya hanya melirikan mata kepunggung pria yang mulai menjauh darinya itu.
"Huuuuuft... Hampir saja!" bisik Sovia sembari mengelus dadanya.
Tidak disangka Irvan yang baru berjalan beberapa langkah tiba-tiba menolehkan kepala sambil memperhatikan Sovia yang menurutnya sedang bertingkah aneh.
"Ada apa Sovia? mengapa kamu terlihat tegang?" tanya Irvan merasa curiga lalu berbalik badan.
"Ti-tidak tuan! saya hanya sedang bingung memikirkan menu masakan untuk malam ini, saya belum tau selera tuan!" Jawab Sovia gugup, terkejut bercampur takut, namun alasan yang dia berikan terdengar masuk akal bagi Irvan.
"Tadinya saya ingin makan masakan Dara, tapi sepertinya dia sedang tidak enak badan dan tidak akan memasak untuk malam ini. Kamu cukup masak yang praktis saja. Kalau malam hari saya hanya makan sedikit!" pesan Irvan yang kemudian kembali lagi berbalik badan dan berlalu melanjutkan langkahnya.
Mendengar kata-kata Irvan barusan, Sovia jadi meyakini penilaiannya selama ini terhadap Irvan.
"Hmm.. Memang benar yang dikatakan nona Dara, bahwa tuan Irvan seperti nya agak sulit untuk dibohongi. Tapi, saya jadi merasa bersalah karena telah membohongi orang sebaik dia!" Kata Sovia didalam hatinya yang terselip niat ingin jujur terhadap Irvan.
Namun, saat Sovia kembali memikirkan perasaan Dara, dia pun jadi mengurungkan niatnya itu lagi. Sovia berpikir kalau sampai Irvan melihat keadaan Dara didalam, pasti akan menjadi sebuah pertanyaan besar untuknya, sedangkan dia juga sudah berjanji kepada Dara bahwa dia tidak akan memberi tau kepada siapapun tentang kondisinya saat ini.
"Ya Tuhan saya harus bagaimana? disisi lain saya harus berusaha menjaga nama baik dan kepercayaan sebagai perawat. Tapi disisi lain saya tidak tega mengabaikan perasaan nona yang mudah tertekan, bahkan kalau sampai nona stress penyakit darahnya bisa kambuh lagi!" Gumam Sovia dalam penuh kebimbangan.
__ADS_1